
Langkah gadis itu santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku untuk mengurangi hawa dingin yang semakin memeluk tubuhnya.
Falery mengantri untuk membeli coklat hangat, dirinya berdiri tepat dibelakang seorang pria yang lebih tinggi darinya.
Matanya menatap sekeliling, memandangi Ice Factory ditempat ia singgah.
"Terimakasih" ujar seorang pria yang membawa nampan berisi tiga cup minuman hangat tepat di depan gadis itu.
"Falery?"
Suara itu begitu merdu, membuat Falery melayang dibuatnya. Pandangannya menjurus pada Yasya yang kini tepat berada dihadapannya. Pandangannya yang begitu teduh dan nyaman tak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun.
"Aku sudah membeli minuman hangat, mari kita kembali" ujar Yasya membuat Falery semakin gugup. Gadis itu hanya terdiam dan mengangguk, mengikuti langkah Yasya dan berjalan dengannya.
Tiada yang dapat ia utarakan saat ini, dekat dengan Yasya saja membuat hatinya bahagia tak terkira dengan senyuman yang ia sembunyikan sambil sesekali melirik pria yang kini berjalan disampingnya.
"Sejak kapan kau kenal dengannya???"
Pertanyaan itu membuat Falery tersentak, ditatapnya wajah Yasya yang kini juga menatapnya. Gadis itu mendadak murung dengan wajahnya yang mencoba untuk tenang.
"Aku mengenalnya sejak masuk kuliah, tiga tahun lalu"
Yasya mengangguk, lalu pria itu berhenti dan menyodorkan minuman hangat itu untuk Falery. Gadis itu mengambil salah satu coklat kesukaan yang sangat ia rindukan.
"Terimakasih..." ujarnya dan dibalas senyuman oleh Yasya.
'hanya dengan melihat senyummu saja aku sudah bahagia Yasya. Senyuman yang sangat aku rindukan saat kau terakhir memberikannya padaku...' gumam Falery dalam hatinya.
"Kau suka coklat?"
Pertanyaan itu membuat Falery mengangguk dan menyesap coklat itu perlahan sambil melanjutkan jalannya bersama Yasya.
" Jika kau sedih, atau hatimu begitu kacau, coklat ini dapat menenangkan mu... mungkin tidak akan menyelesaikan masalah, tapi secangkir coklat dapat menghilangkan stress dalam fikiran mu" ucapan Falery membuat Yasya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Krakkk...
Tanpa sengaja dua minuman hangat yang ia bawa terjatuh dengan pandangannya yang sendu menatap Falery.
"Yasya kau..."
Falery menggantung kata-katanya kala Yasya kini berada dibelakangnya. Berdiri mematung dengan kedua minuman yang berserakan dibawahnya.
Falery menaikkan sebelah alisnya, ditatapnya Yasya yang memandangnya tanpa mau mengalihkan pandangan pada dirinya.
"*T*au nggak pak, kalo bapak lagi sedih, galau atau hati pak yasya lagi kacau, coba deh minum coklat ini, pasti bapak bakal rilex lagi... mungkin nggak akan menyelesaikan masalah, tapi coklat dapat menghilangkan stres lo pak"
Suara itu terngiang begitu saja dikepalanya. Sebuah ingatan indah tentang Reyna saat pertama kali dirinya merasakan cinta pada gadis itu.
"Kau kenapa Yasya?"
Yasya hanya terdiam dengan pandangannya yang masih sama pada Falery yang kini mulai mendekat kearahnya.
'Reyna?'
"Aku... aku tidak apa-apa.. tiba-tiba saja, aku mengingat sesuatu.. uh aku akan membeli minuman hangat lagi" ujar pria itu yang hendak membalikkan tubuhnya namun dicegah oleh Falery.
"Tidak perlu... kau kembalilah... Sarah pasti menunggumu, aku yang akan membeli untuk kalian"
Falery segera melangkahkan kakinya menuju gerai minuman hangat kembali tanpa memperdulikan Yasya yang kali ini menatapnya tanpa henti dengan pandangan berharap.
Yasya menghembuskan nafas panjangnya. Matanya berkaca-kaca merasakan kerinduan pada Reyna yang sangat ia cintai. Pandangannya kearah Falery seperti ingin menyentuh punggung Reyna yang telah pergi dalam hidupnya.
Falery tanpa sadar menitikkan air matanya, air mata kesedihan yang harus ia terima oleh kesalahan yang ia buat sendiri.
"Maafkan aku Yasya... tapi ini adalah jalan satu-satunya agar kau keluar dari masa lalu yang menjebakmu bagaimanapun juga kau harus bangkit" gumam Falery dengan lirih dan tangisan yang tak dapat ia tahan sedari tadi.
Falery kini telah membawa nampan berisi minuman hangat untuk mereka. Gadis itu menatap punggung Yasya yang duduk memandangi banyak orang yang bermain ice skating dihadapannya.
Gadis itu ikut duduk dengan memberi jarak pada dirinya dan Yasya yang kali ini beralih menatapnya.
"Kenapa kau tak ikut?"
Entah mengapa pandangan Yasya pada Falery terlihat berbeda setelah pria itu menjatuhkan minuman tadi. Yasya lebih sering diam daripada membuka suara.
"Aku ingin melihat permainan Sarah dari sini" ujar Yasya dengan senyum manis, membuat Falery ikut tersenyum meski berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini.
"Dan kenapa kau juga tak bergabung dengan sahabat mu??" Falery menyunggingkan senyumnya, pandangannya mengedar ke segala arah, menatap keramaian orang-orang disana sambil sesekali menyesap coklat hangat ditangannya.
"Aku tidak bisa main ice skating... sudah berulangkali kak Zayn mengajariku, tapi mungkin aku memang tidak bisa" ujar Falery dengan senyuman tulusnya, membuat Yasya ikut tersenyum.
"Kau bukannya tidak bisa, hanya saja belum bisa, mau ku ajari??"
Tawaran Yasya membuat Falery tersentak dan mengangkat sebelah alisnya. Ada perasaan gugup kala Yasya mengajaknya bicara, ingin rasanya ia memeluk pria yang kini berada disampingnya. Ingin ia mengatakan betapa rindunya ia. Namun apalah daya, dirinya sudah tidak ada artinya lagi dalam hidup Yasya.
"Terimakasih... tapi sebenarnya aku tidak menyukai keramaian"
Yasya menatap sendu kearah Falery yang kini tersenyum kearah Sarah yang melambaikan tangan padanya.
"Kamu kenapa Reyna?" Reyna tetap menggeleng dengan wajahnya yang ditekuk.
"Saya tidak suka keramaian pak" ujarnya membuat Yasya tersenyum dan mengacak rambut Reyna dengan gemas.
"Baiklah... kita cari tempat lain saja"
Bayangan itu kembali lagi, setelah sekian lama ia mencoba untuk melupakan. Yasya benar-benar dibuat bingung oleh perasaannya sendiri.
"Tidak mungkin..." ucap Yasya sambil memandangi Falery, membuat gadis itu menoleh.
"Kenapa tidak mungkin?"
Yasya menggeleng, berulangkali dirinya mengingat sesuatu yang seharusnya tidak ia ingat. Rasanya disampingnya seperti ada Reyna meski sebenarnya itu Falery, Falery yang jelas-jelas bukan Reyna.
'Dia hanya mirip Yasya...' ujarnya dalam hati.