
Kanaya bergerak mengambil beberapa sayur dan bahan lainnya untuk memasak. Memang dirinya jarang sekali memasak jika tidak lengang. Namun kali ini spesial, Reyhan akan mengunjungi rumahnya, kebetulan Reyhan datang dan pas sekali untuk makan siang. Kali ini Kanaya memasak capcay dan udang goreng crispy, ia bergerak mengenakan celemek dan segera membuka kunci pintu rumahnya agar nanti ketika Reyhan datang ia bisa langsung masuk tanpa Kanaya harus berlari tergopoh-gopoh kedepan rumah.
Tangannya dengan lihai memotong beberapa sayuran dan ayam yang sudah disiapkan, tak lupa Kanaya juga mengupas udang untuk kemudian digoreng bersama dengan tepung. Tak butuh waktu lama setengah masakannya sudah hampi jadi, dan yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Terdengar suara pintu terbuka dari pintu rumahnya.
"Sayang" suara itu membuat Kanaya yang kini sibuk menumis sayuran menoleh sejenak dan tersenyum lembut kala kedatangan Reyhan sudah berada di ruang tamu.
"Iya sayang, masuk aja! aku lagi masak dibelakang!" teriak Kanaya membuat Reyhan tersenyum seraya melangkahkan kakinya mengikuti aroma wangi dari masakan calon istrinya tersebut.
Reyhan tau Kanaya hanya sendiri di rumah, itu berarti mereka bisa leluasa bermesraan dan pacaran tanpa ada gangguan manapun. Reyhan melangkah mendekat, ia memeluk pinggang Kanaya dan meletakkan dagunya dipundak Kanaya yang kini tersentak seraya membulatkan matanya.
"Wangi banget masakan kamu sayang, aku jadi laper" bisik pria itu membuat tengkuk Kanaya meremang.
"Kak Reyhan ngapain disini? duduk aja dulu, sebentar lagi mateng kok" seru Kanaya membuat Reyhan masih betah memeluk pinggang gadis itu dengan erat membuat Kanaya geli dibuatnya. Untung saja capcay yang ia masak tinggal menunggu matangnya saja. Jika tidak pasti ia akan cemberut pada kekasihnya satu itu.
"Nanti kalau kita udah nikah, terus kamu masak kaya gini aku bakal gangguin kamu terus" ujar Reyhan manja dengan sesekali menjilat telinga Kanaya membuat gadis itu geli dibuatnya.
"Kenapa gitu?" tanya gadis itu membuat Reyhan semakin jahil dengan mengeratkan pelukannya membuat telinga Kanaya memanas dan memerah.
"Aku kalo pagi minta jatah 'itu' buat sarapan" bisik pria itu membuat wajah Kanaya memerah. Seketika Kanaya menghentikan aktivitas masaknya dan mematikan kompor untuk kemudian dirinya membalikkan tubuhnya menatap Reyhan yang kini tersenyum jahil padanya.
"Ngeselin banget sih!" kata Kanaya seraya mencubit perut Reyhan membuat pria itu meringis kesakitan.
"Aw! kok dicubit sih sakit tau sayang" kata Reyhan seraya menampakkan wajahnya yang mengembung dengan matanya yang ia buat puppy eyes. Benar-benar seperti anak kecil, namun Kanaya tidak semudah itu dirayu apalagi oleh seorang bayi besar seperti Reyhan. Kanaya melanjutkan cubitannya dan sedikit menggelitik perut pria itu membuat pria itu mundur.
"Aduh Nay geli tau"
"Biarin, salah sendiri mesum! nih rasain, rasain!" kata Kanaya seraya terus menggelitik perut Reyhan sampai-sampai pria itu berlari kearah sofa depan demi menghindari tingkah jahil dari kekasihnya itu.
"Ampun sayang, aku kan cuma bercanda" kata Reyhan yang kini kegelian oleh gelitikan dari Kanaya. Ia ingin menghindar lagi, namun sayangnya tepat dibelakangnya sudah ada sofa yang otomatis jalan buntu baginya. Reyhan ambruk disertai dengan Kanaya yang tak sengaja jatuh di dada bidang pria itu membuat mereka bertatapan lama.
Jantung Kanaya berdetak kencang tatakala wajah Reyhan berada didepan matanya. Posisi mereka begitu dekat hingga membuat keduanya bisa mendengar deru nafas satu sama lain. Kanaya mendekatkan wajahnya semakin dekat, ia menutup matanya seraya semakin mendekatkan bibirnya ke wajah pria yang kini tersenyum seraya ikut memejamkan matanya itu.
"Ya ampun Kanaya!" teriakan itu membuat keduanya terperanjat dan membelalakkan matanya tatkala mendengar suara asing. Kanaya mengangkat pandangannya, ia buru-buru bangkit ketika mama dan papanya kini memandangi keduanya dengan tatapan amarah.
"Mama!" Kanaya dan Reyhan buru-buru bangkit dari posisi mereka yang kini seperti ketahuan basah sedang mencuri. Jantung Kanaya berdetak kencang mengingat kejadian barusan, sedangkan Reyhan hanya bisa menghela nafasnya seraya tersenyum pada kedua orangtua Kanaya yang kini menatapnya dengan penuh menyelidik.
***
Suara ketukan pintu dari rumah minimalis itu terdengar kala Reyna, Zayn dan papanya tengah menyantap makan siang saat itu. Reynaldi hendak bangkit, namun dengan cepat Reyna buru-buru menyentuh pundak pria paruh baya itu untuk duduk kembali.
"Papa lanjut makan aja, biar Reyna yang bukain pintu" kata Reyna membuat Zayn hanya melirik sekilas seraya menggeleng. Sedangkan Reynaldi kini duduk kembali di posisinya semula.
Reyna berjalan perlahan menuju ambang pintu yang tampak masih diketuk oleh seseorang dibaliknya. Dengan cepat Reyna membuka pintu itu dan tersenyum ketika menyambut tamu dari luar.
"Mau cari sia-pa?" suara Reyna tiba-tiba melemah dan senyumnya yang tadi terlihat ceria kini seolah memudar dan ia mengalihkan pandangannya pada pria yang kini mengerutkan keningnya menatapnya.
"Siapa Rey?!" teriakan Reynaldi bahkan tidak digubris oleh gadis itu yang masih diam mematung dan mendapat tatapan dingin dari pria yang kini membawa beberapa bingkisan ditangannya.
"Reyna" suara itu membangunkan lamunan Reyna kala Reynaldi menepuk pundaknya dan tersenyum ramah pada Hengky yang kini menatap tak suka pada kehadiran Reyna.
"Eh nak Hengky, ayo silahkan masuk! bukannya dia sahabat kamu ya Rey, kok kaku gitu" kata Reynaldi membuat Reyna menyembunyikan perasaannya yang kini berkecamuk tak karuan.
Hengky kembali tersenyum ramah, sambil sesekali melirik Reyna yang masih diam menunduk tanpa berekspresi. Setelah dipersilahkan masuk oke Reynaldi, Hengky kini duduk diruang tamu seraya berbincang-bincang ringan.
"Baru pulang dari luar negeri jadi tambah gendutan aja kamu" kata Reynaldi yang kini menyeletuk membuat Hengky terkekeh.
"Om bisa aja, oh ya, ini sedikit oleh-oleh dari Paris" kata Hengky seraya menyerahkan bingkisan berwarna merah itu pada pria yang kini tersenyum padanya.
"Repot-repot segala, nggak sekalian bawa menara Eiffel buat om pajang dibelakang rumah?" pertanyaan itu membuat Hengky tertawa renyah. Tiba-tiba saja tawanya kini terhenti kala Reyna datang dan membawa nampan berisi teh untuk mereka.
Tiada kata yang terucap dari mulut Reyna, ia hanya menunduk tanpa ekspresi seraya bangkit dan hendak menuju kembali ke dapur.
"Reyna, mau kemana? nggak mau ngobrol dulu sama Hengky? kalian udah lama nggak ketemu lo?" Reyna hanya melirik Hengky sekilas. Dengan tatapan Hengky yang begitu dingin mana mungkin Reyna berhadapan langsung dengannya? mengingat tempo hari Hengky menghakimi dirinya membuat Reyna masih enggan untuk membuka percakapan.
"Papa lanjut aja dulu, aku sama kak Zayn masih banyak tugas sebelum ambil cuti" kata Reyna seraya melangkah meninggalkan keduanya. Hengky hanya bisa menyembunyikan perasaan penasarannya sekarang. Ia lebih memilih bungkam daripada harus menyinggung masalah Reyna yang membuatnya banyak sekali terfikirkan seribu pertanyaan.
"Biasa, dia mau nikah lusa jadi deadline beberapa hari ini" kata Reynaldi seraya memberikan kartu undangan dan mengarahkannya pada Hengky. Hengky yang mendengar itu hanya bisa membulatkan matanya. Sama sekali tak menyangka, setelah kedatangan Reyna yang begitu banyak rahasia, kini ia harus dikejutkan dengan kabar bahwa Reyna akan menikah.
Hengky mengambil kartu undangan itu, dan betapa terkejutnya ia melihat nama siapa yang terukir menjadi pasangan dari Reyna. Hengky berdehem, ia mencoba untuk menutupi perasaannya yang sudah berkecamuk sedari tadi.
"Oh ya om, kak Reyhan mana?" Reynaldi mengernyitkan keningnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Reyna dan juga Hengky?, sepertinya Hengky enggan membahas Reyna, bahkan Reyna sendiri seperti menghindar dari sahabatnya itu. Padahal jika Reynaldi ingat, Hengky pernah bercerita bahwa hubungan mereka sangat baik dulu.
"Reyhan keluar, biasa lagi libur" kata Reynaldi menjawab sekenanya, karena memang Reyhan tadi pamit untuk main kerumah temannya.