
"Udah lama ya kita nggak ngobrol kaya gini" seru gadis yang kini menatap sahabatnya yang tengah asyik menyeruput jus jambu kesukaannya itu. Reyna mengangguk, ia menatap sahabatnya itu lamat-lamat, Kanaya memang dari dulu sudah cantik, bedanya dulu ketika ia SMA wajahnya masih imut. Tapi sekarang banyak perbedaan dari gadis dihadapannya itu pantas saja Reyhan tergila-gila, bisa Reyna tebak pasti banyak sekali dari kaum Adam yang mengidolakan sosoknya.
"Gimana hubungan lo sama abang gue?" tanya Reyna membuat Kanaya berdehem seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Kini mereka tengah nongkrong disebuah cafe, kebetulan tanggal merah membuat hari mereka agak senggang. Setelah beberapa hari keduanya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, termasuk Reyna yang kini mempersiapkan acara pernikahannya yang tinggal menghitung hari saja.
"Kapan nikah?" lanjutnya membuat Kanaya menelan ludahnya. Sebenarnya ia juga menunggu Reyhan menemui orang tuanya, tapi karena papa dan mamanya sedang dinas ke luar kota, mereka masih saling menunggu.
"Lo sendiri gimana sama pak Yasya, sampek mana persiapan buat nikah? hem ternyata jodoh nggak kemana ya. Guru magang lo embat juga" ceracau Kanaya seraya tertawa renyah membuat sahabatnya itu tersenyum lembut seraya menahan dagunya diatas meja.
"Gue nanya kok lo yang balik nanya sih"
"Kak Reyhan belum ketemu orangtua gue, mama sama papa lagi dines ke luar kota. Daripada nanya yang belum pasti mending bahas lo yang udah mau buka lembaran baru" jelas Kanaya yang kini menyandarkan punggungnya dikursi seraya menatap sahabatnya itu dengan tawa kecil.
"Bukannya gue nggak mau cerita nih ya, cuma perjuangan gue sama Yasya itu kalo diceritain nggak bakal ending sampek dua hari kedepan" seru Reyna seraya menyantap kentang goreng dihadapannya. Reyna dari dulu memang tidak berubah, bahkan kini Kanaya tau pasti dibalik kebahagiannya yang sekarang banyak duka yang ia lalui sebelum dirinya bisa bersatu dengan Yasya.
"Dulu aja gue pernah tuh naksir sama pak Yasya, lo bilang malah gue yang lebay. Terbukti siapa yang lebih lebay diantara kita berdua" kata Kanaya seraya tertawa renyah lagi membuat Reyna memanyunkan bibirnya.
"Ya kali gue naksir sama guru yang udah hukum gue bersih-bersih perpustakaan segedhe itu, mana nggak boleh istirahat lagi. Siapa coba yang bakal nyangka kalo dia bakal jadi calon suami gue" ingatan Reyna menerawang. Memang salah satu yang ia ingat ketika pertama kali bertemu Yasya adalah hukuman itu. Hukuman yang membuatnya semakin kesal saja pada sosoknya.
"Rey, Rey lo itu ya lain di kata lain dihati"
"Yang pasti kisah cinta lo nggak serumit kisah cinta gue" Tiba-tiba Reyna terfikirkan sesuatu yang membuat dirinya tersenyum penuh makna menatap sang sahabat. Ide brilian muncul ketika ia memikirkan tentang kakaknya satu itu.
"Lo bisa nggak bantu gue?" kata Reyna dengan senyuman yang mencurigakan membuat Kanaya menaikkan sebelah alisnya.
***
"Dari mana aja kamu?" pertanyaan itu membuat Kanaya memberontak, ia mengibaskan tangannya untuk melepaskan cengkraman dari Angga.
"Bukan urusan kamu, aku capek aku mau istirahat" ujar Kanaya dengan cuek seraya melangkahkan kakinya. Namun belum sempat gadis itu menjauh Angga tiba-tiba menarik paksa lengan Kanaya membuat gadis itu menabrak dada Angga.
"Kamu kenapa sih Ga! aku capek, kamu nggak malu apa dilihat tetangga ha?!" teriak Kanaya penuh emosi. Tak dihiraukannya beberapa orang yang berlalu lalang menatap keduanya dengan tatapan heran.
"Kamu pasti baru keluar sama cowok itu lagi kan? aku itu calon suami kamu Nay, kamu nggak bisa ngehargai aku gitu?" Kanaya memijit pelipisnya, Angga benar-benar membuat gadis itu pusing. Awalnya ia ingin berdamai sekali lagi, memberikan kesempatan bagi Angga untuk menjadi sahabatnya. Tapi tak disangka perilaku pria itu sungguh kelewatan.
"Stop buat kata-kata palsu kamu Angga! aku udah bilang kan dari awal, aku nggak ada rasa sama kamu! aku cuma anggep kamu sahabat aja, dan kamu setuju soal itu. Kenapa kamu tiba-tiba berubah Angga!" pria itu terdiam dengan pandangannya yang dingin mengarah pada Kanaya yang kini membuang nafasnya kasar karena baru saja termakan emosi olehnya.
Lengang sejenak ketika ia menatap gadis itu yang menatapnya seolah ia hanya pengganggu saja dalam hidup Kanaya.
"Aku kecewa sama kamu Angga, kamu bungkam, padahal kamu tau aku nggak setuju buat nikah sama kamu, aku nggak suka dipaksa" kata Kanaya yang kini melangkah masuk dan membiarkan Angga tetap berdiri mematung seraya memandang punggung Kanaya yang semakin jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku cinta sama kamu Nay, aku sayang sama kamu" kata Angga membuat langkah Kanaya berhenti namun tak lama ia menggenggam jemarinya erat-erat dan melangkahkan kakinya kembali untuk masuk kedalam rumahnya.
'Tapi aku nggak cinta sama kamu Angga, hati aku cuma dimiliki kak Reyhan' batin Kanaya yang kini mengintip Angga dari balik jendela kamarnya.
Kanaya merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk, sehari tanpa melihat Reyhan membuat gadis itu merasa rindu. Sebenarnya ia juga merasa bersalah pada Angga. Tapi mau bagaimana jika cinta tak dapat dipaksakan, ia cinta pada pria dan pria itu juga mencintainya. Kanaya menghela nafasnya, ia beralih duduk dan menahan dagunya diatas lutut seraya membuka ponselnya untuk melihat foto Reyhan didalam galerinya.
Mata Kanaya bergerak melirik cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Wajahnya tiba-tiba memerah mengingat pagi itu didalam kamar hotel. Tubuhnya tiba-tiba meremang mengingat Reyhan yang mengecup bibirnya dan memeluknya erat. Untung saja mereka dapat menahan untuk melakukan 'itu'. Kanaya menggeser foto itu, beberapa foto tampak memperlihatkan keduanya yang tengah joging bersama, dan jalan-jalan ditaman.
Wajah Kanaya semakin memerah mengingat kebersamaan mereka, apalagi perilaku Reyhan yang begitu manis padanya. Tiba-tiba sebuah panggilan membuat gadis itu membulatkan matanya seraya cepat-cepat mengangkat panggilan itu segera.
"Ha-hallo kak Reyhan" kata Kanaya gugup seraya mengigit jarinya.