The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Interview



Siang yang terik ditemani langkah Reyna yang pasti keluar dari taksi yang baru saja ia tumpangi.


Gadis dengan pakaiannya yang formal dengan rambut digulung, kemeja putih serta rok span hitam selutut membuatnya tampak anggun. Gadis tersebut menghela nafasnya sembari tersenyum hangat menatap gedung rumah sakit dihadapannya.


Perlahan tangannya mengelap keringat didahinya sementara tangannya yang lain menggenggam berkas yang telah ia persiapkan sebelumnya.


Reyna menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya untuk sekedar membuang rass gugup dan juga nervous yang ia rasakan.


Langkahnya dengan ringan berjalan maju dengan kepercayaan diri yang ia buat.


"Reyna, kamu pasti bisa" ujarnya seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


Kali ini Reyna tengah menunggu HRD untuk memanggilnya, mengingat ia telah direkomendasikan oleh Alfian, gadis itu tinggal menunggu sembari mempersiapkan berkas yang ia miliki saja. Untungnya sebelum Reyna kembali ke Indonesia, ia telah mengubah berkas kelulusannya dengan identitasnya saat ini.


Meskipun tidak ada masalah lagi, namun rasa gugup selalu saja membuat jantungnya berdebar. Tangannya mengepal dengan kuat, serta keringat dingin membasahi tubuhnya saat ini.


"Reyna" suara familiar itu mendadak membuat Reyna tersentak. Gadis itu menatap arah suara itu, seketika pandangannya menatap Alfian yang kini tersenyum kearahnya. Pria itu kini melangkah mendekat, seolah tau apa yang dialami Reyna.


"Eh, hay Al, kamu kok bisa ada disini?" tanya Reyna yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku sengaja kesini buat liat kamu interview, aku kira kamu nggak bakalan gugup hehehe, ternyata kamu bisa grogi juga ya" kata Alfian yang kini beralih duduk disamping gadis itu seraya terkekeh.


Reyna mengerucutkan bibirnya, ia tau jika ia sedikit gugup. Entah mengapa, mungkin karena belum terbiasa saja di negara ini membuatnya seperti berbeda dari sebelumnya. Ya meskipun bisa dibilang ia hanya sebentar di Amerika, tapi tak dapat dipungkiri, pengalaman yang ia dapat memang berawal dari sana.


"Kamu kesini cuma mau ngeledek aku ya" ujar Reyna ketus seraya membuang muka yang terlihat begitu sebal itu. Alfian hanya bisa terkekeh jika melihat gadis itu bersikap kekanak-kanakan. Reyna, meskipun ia sudah tumbuh dewasa dari sebelumnya namun sifat manjanya masih melekat dalam dirinya.


"Hahaha, nggak kok. Aku kesini mau ngasih kamu semangat aja sebagai sahabat" kata Alfian yang memperlihatkan senyuman tulusnya. Kini Reyna masih setia dengan wajahnya yang ditekuk itu, meskipun ia mulai mau melirik Alfian yang kini tersenyum kearahnya.


"Udah ah. Kamu jangan gugup gitu, tetap murah senyum, ilangin rasa kesel kamu itu, dan anggap aja orang didalam sana itu orang yang nggak sengaja ketemu kamu dijalan. Anggap aja dia cuma iseng tanya-tanya. Kamu pasti lancar kok jawab pertanyaan HRD" ujar Alfian penuh keyakinan membuat Reyna kini mulai mencerna kata-kata dari pria itu.


Guratan wajahnya kini mulai tersenyum kembali. Seketika ia merasa tenang oleh kata-kata Alfian padanya. Reyna sangat bersyukur, ia bisa mempunyai sahabat seperti Alfian.


Meskipun sebelumnya sempat ada salah faham didalamnya, tapi kesalahpahaman itu menjadi nilai positif untuk masa kini. Reyna kini tidak perlu khawatir lagi, meskipun keluarganya sudah cukup hancur namun masih ada orang luar yang menyayanginya lebih dari sekedar keluarga.


Gadis itu menghela nafasnya dan membalas senyuman Alfian. Kini kepercayaan dirinya seolah kembali dengan sempurna.


"Makasih ya Al, aku udah mulai lega" ujarnya seraya menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya.


***


Tak tak tak


Derap langkah kaki dari Reyna terdengar begitu saja bersamaan dengan langkahnya yang kini mendahului Alfian.


Gadis itu merasa lega, dan senyuman terpancar indah diwajah cantiknya kala berhasil menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh HRD rumah sakit.


Kini akhirnya dua hari lagi ia akan resmi bekerja sebagai dokter dirumah sakit tersebut untuk menangani ruang UGD. Yah meskipun bisa dibilang masih tingkatan terendah, tapi ia bangga bisa menunjukkan kemampuan yang ia miliki, karena ini cita-citanya.


"Reyna, kamu mau langsung pulang?" tanya Alfian yang kini mensejajarkan langkahnya. Reyna lantas tersenyum sembari mengangguk.


"Iya, mungkin mampir bentar buat belanja, kenapa Al?" tanya Reyna kembali yang kini memperlambat langkahnya


Pria itu terlihat menggaruk tengkuknya.


"Boleh, tapi kamu lagi nggak sibuk kan?" tanya Reyna lagi meyakinkan Alfian yang kini dengan cepat menggeleng.


"Santai aja, jam ku lagi kosong kok" ujarnya seraya tersenyum untuk meyakinkan gadis dihadapannya.


Tidak ada salahnya Reyna menerima tawaran dari Alfian. Memang dulunya ia sempat berfikir untuk satu pekerjaan dengan pria itu karena dulu ia sangat mengagumi dan mencintai Alfian. Selain ingin selalu dekat dengan pria itu Reyna juga ingin mengembangkan bakat dan juga cita-citanya. Namun kini keadaannya berbeda, rasa cinta yang ia miliki hanya untuk Yasya seorang.


Langkah kaki gadis itu bersama dengan Alfian kini memasuki lorong demi lorong rumah sakit. Sambil menjelaskan, Reyna menyimak kata-kata pria itu dengan seksama.


Melihat orang disekitarnya yang tengah sakit dan menderita membuatnya tersentuh untuk menyelamatkan nyawa dari setiap orang yang ia tangani. Begitulah keinginan Reyna saat ini, tiba-tiba saja fikirannya melayang, mengingat pasien-pasien kecilnya yang berada di Florida.


Pasien yang selalu memanggilnya bagai seorang peri dalam kehidupan mereka. Peri penyelamat yang sebenarnya tak pernah bisa menyelamatkan takdir mereka yang malang.


Pandangan gadis itu terpaku pada seorang gadis kecil yang kini tengah duduk dengan wajahnya yang pucat disebuah kursi roda ditengah taman ditemani oleh salah satu perawatan yang sepertinya tengah menyanyikan lagu untuknya.


"Kakak Fairy, selamat tinggal."


Suara itu terngiang begitu saja kala gadis itu mengerjapkan matanya untuk beberapa saat.


"Kamu kenapa Rey" ujar Alfian yang kini mengejutkan pandangannya yang tengah terkunci. Gadis itu tersentak begitu saja, ia bahkan tak sadar tengah berdiri diatas kursi panjang taman rumah sakit.


"Kamu kenapa diem aja, duduk" ujar Alfian membuat Reyna mengangguk sambil segera duduk disamping pria itu.


"Maaf, aku cuma inget sama anak-anak" kata Reyna seraya menampakkan matanya yang tengah berkaca.


"Anak-anak siapa?" tanya Alfian lagi membuat Reyna menghela nafasnya. Gadis itu kemudian menceritakan bagaimana ia bekerja sebagai seorang dokter sekaligus relawan untuk menghibur anak-anak yang kurang semangat dalam menjalani kehidupannya yang begitu tipis.


"Maaf, maaf, aku nggak bermaksud" kata Alfian yang kini merasa tak enak hati membahasnya.


"Nggak apa-apa kok Al, aku udah biasa. Lagian udah jadi tanggung jawab dan resiko" kata Reyna yang kini mulai tersenyum kembali. Matanya menatap langit yang begitu cerah diatas sana.


Pandangan gadis itu seolah menggambarkan dan menginginkan sebuah harapan yang ingin menjadi kenyataan.


"Reyna, maaf tapi, ehem" kata Alfian yang seperti hendak mengatakan sesuatu namun ia berhenti sesaat untuk menanyakannya pada Reyna.


Reyna menatap Alfian dengan pandangannya yang penuh intimidasi dan juga rass penasaran.


"Ngomong aja Al" ujarnya membuat pria itu akhirnya yakin.


"Reyna, ini tentang papa dan juga kakak kamu waktu itu" kata Alfian membuat nafas Reyna seketika menderu dengan tatapannya yang tajam bagai belati menghunus siapa saja yang ia pandang.


"Nggak usah dibahas Al, aku nggak ada hubungannya sama mereka. Aku pengen jalani hidup aku sendiri" kata Reyna yang kini mulai mengatur nafasnya yang sempat menderu tak beraturan.


"Rey, ada yang harus aku sampaikan ke kamu, ini juga buat kehidupan kamu nantinya Rey. Emang kamu mau hidup sendiri terus menerus tanpa keluarga."


"Ada Yasya Al, Yasya yang bakal lindungi aku. Yasya yang akan jadi keluarga aku nantinya,"


"Rey!"


"Al!, aku mohon, ini hidup aku. Kamu nggak tau betapa susahnya aku dulu, yang kamu tau aku punya orang tua dan keluarga. Tapi kamu nggak tau gimana perlakuan mereka ke aku" ujar Reyna yang kini mulai meneteskan air mata.