The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Aku tau, tapi mengapa?



"Kak... jika terjadi sesuatu pada daddy, tolong kabari aku ya" ucap Falery ditengah berpisahnya mereka tepat didepan Cafe.


Grace mengangguk dan tersenyum, sebuah pelukan juga ia berikan pada Falery yang mau membantunya meski dirinya sudah berbuat salah padanya.


Kini tiada yang perlu ia takutkan lagi. Hanya saja penyesalan itu masih terbawa oleh kebencian dari keluarga Gilbert pada Falery.


Falery tau meskipun dijelaskan beberapa kali, keluarga Gilbert takkan mampu memaafkan kesalahan yang Grace buat. Hanya dengan membiarkannya berlarut begitu saja mungkin akan membuat keadaan lebih baik untuk segalanya.


***


Musim gugur meninggalkan jejak pada dedaunan yang terjatuh, begitupun musim dingin yang kini hampir mendekati bulan januari.


Tak terasa hampir tiga bulan lamanya Falery berjumpa dengan Yasya meski mereka tidak saling berbagi rasa.


Gadis itu memeluk tubuhnya diantara salju yang berjatuhan pada malam tanpa bintang diangakasa.


Hanya menyisakan dingin dan juga kehampaan yang menjadi teman dalam kesendiriannya melewati hari-hari dan malam tanpa seseorang yang berarti dalam hidupnya.


Suara dering ponsel Falery membuat dirinya yang tengah memakai kaus kaki menghentikan aktivitasnya dan meraih ponsel diujung ranjang.


Tanpa fikir panjang dan memperhatikan siapa yang menelfon gadis itu langsung mengangkat panggilan sambil melanjutkan memakai kaus kaki.


"Hallo" sahutnya pada panggilan asing tanpa nam adi kontaknya tersebut.


"Hallo dengan nona Falery Gilbert?" tanya seseorang disebrang sana, yang ia yakini bahwa itu adalah suara lelaki


"Iya..." Falery masih bertanya-tanya, siapa yang menelfon sore-sore begini dengan keadaan langit yang masih dipenuhi hujan salju.


"Kami dari Floral Gardenia hotel, mengundang anda untuk konser tunggal pada malam ini, apakah anda bisa meluangkan waktu untuk kami?" pertanyaan itu membuat Falery terdiam seketika.


Falery masih berfikir, dirinya terhenyak kala mengingat masih ada orang yang mau menyewa jasanya sebagai penyanyi. Padahal nama baiknya sudah tercemar semenjak kejadian itu.


Gadis itu masih terdiam seraya menyentuh pelipisnya menggunakan jari telunjuk.


"Baiklah... " akhirnya setelah berfikir untuk kesekian kalinya gadis itu menyetujui untuk melakukan konser, mengingat uang tabungannya yang semakin menipis dan pekerjaan yang tak kunjung ia dapatkan.


'Hanya semalam saja, toh aku juga butuh pekerjaan ini' fikir gadis itu, meskipun sedikit ada keraguan dihatinya.


Detik, menit dan jam telah berlalu, meninggalkan masa dimana seharusnya kini Falery tengah bersiap. Memakai baju hangat dan sepatu boot untuk melawan dingin di musim salju yang mulai membekukan tubuhnya.


Gadis itu mempersiapkan topi dan juga rambutnya yang dikuncir membuatnya tampak lebih elegan.


Semuanya telah siap, kini akhirnya ia akan melangkah keluar dari apartemen sambil meraih gitar kesayangannya.


Tak butuh waktu lama, Falery telah sampai di Floral Gardenia hotel. Setelah melewati beberapa jalanan yang lengang dengan salju yang turun dimana-mana kini dirinya berhasil sampai ditempat tujuan.


Kali ini Falery telah berada disebelah panggung, memunggungi pengunjung restoran hotel bersama dengan crew yang akan mengarahkan aktivitasnya.


"Nona Gilbert?" Falery mengangguk dan tersenyum kearah pria yang kini memanggilnya.


"Sebentar lagi anda akan tampil, tapi tunggu dulu, akan ada orang yang hendak melamar kekasihnya."


'Ternyata masih ada yang seperti itu, pasti pria itu sangat mencintai kekasihnya' ujarnya dalam hati.


"SELAMAT MALAM SEMUANYA" tiba-tiba sebuah suara yang membuat Falery terdiam seketika.


Suara itu membuat Falery tercengang, dadanya terasa sesak dan bergetar hebat. Entah mengapa dirinya enggan untuk menatap orang yang ia yakini adalah Yasya kini berdiri diatas panggung.


Kini gadis itu memberanikan tekatnya, menelan saliva yang terasa berat dan menoleh untuk meyakinkan hatinya. dan benar saja Yasya berdiri diatas sana, pandangannya lurus, menjurus pada Sarah yang kini ikut tersenyum bangga padanya.


"MALAM INI ADALAH MALAM SPESIAL, DIMANA SAYA, MEMBAWA KEKASIH SAYA KEMARI UNTUK MAKAN MALAM... MALAM DIMANA SAYA AKAN BERPISAH DENGANNYA UNTUK BEBERAPA BULAN KEDEPAN."


Kini air mata seakan tak bisa ditahan lagi, air mata gadis itu menetes, mengikuti suara Yasya yang semakin perih menyayat hatinya.


'Apa yang dia fikirkan? berpisah untuk beberapa bulan? dia mau kemana?' ujar gadis itu dalam hati yang penuh sesak dengan tenggorokan yang tercekat.


"SARAH... KEMARILAH" kata pria itu melalui microphone yang membuat suaranya menggema di seluruh ruangan.


Falery masih terdiam dengan nafasnya yang tersengal dan tangisannya yang membisu. Gadis itu menyaksikan Sarah yang kini berjalan dengan anggun untuk meraih uluran tangan dari Yasya.


Kini hati Falery tak dapat dituliskan dan digambarkan lagi. Sakit dan perih, perasaan hancur yang selama ini ia rasakan, kini ia rasakan lagi dan teramat lebih sakit dari sebelumnya.


Terlihat Yasya mengeluarkan sebuah cincin dan bersimpuh dihadapan Sarah untuk melamarnya.


"Sarah, aku tau kisah diantara kita hanyalah sebuah perjodohan... namun satu hal yang harus kau tau, ini adalah bukti keseriusan ku untuk membangun masa depan denganmu."


Falery tak bisa berkata-kata lagi, dirinya menunduk dengan air matanya yang semakin mengalir deras. Semuanya akan menjadi seperti apa yang ia bayangkan, namun mengapa rasanya akan sesakit ini.


'Ini bukan cemburu lagi Yasya... tapi kau telah berhasil membunuh ku' ujarnya dalam hati.


"Sarah maukah kau menikah denganku?" secara spontan Sarah mengangguk, mengiyakan permintaan Yasya yang begitu ia cintai.


Yasya memakaikan cincin itu di jari manis Sarah, dengan Sarah yang menangis haru. Mereka saling berpelukan ditengah sorakan ramai pengunjung hotel.


Pemandangan dihadapannya membuat Falery tak bisa menahan diri, dirinya mengusap wajahnya yang memerah dan langsung keluar dari sana, membawa gitar dan berlari dari tempat itu.


Persetan dengan apa yang difikirkan pihak hotel, namun apa yang dirasakan Falery saat ini lebih penting daripada yang lain.


Falery terus berlari, diatas gundukan salju yang semakin meninggi. Gadis itu menangis tersedu-sedu tanpa ada orang disekitarnya karena malam sudah terlanjur larut.


"Hiks... hiks" kini dirinya menjatuhkan tubuhnya diatas salju yang membuatnya semakin dingin. Tak perduli lagi apa yang ia rasa.


"Tuhan... aku tahu semuanya pasti akan berakhir seperti ini, tapi bisakah kau hapuskan rasa cemburu ini?! rasanya sungguh sakit, dadaku sesak, seolah kehilangan dia untuk selamanya lebih baik daripada melihatnya bersama orang yang lain... hiks."


Falery tak bisa menahannya, ia menumpahkan segala yang ia rasa. Dengan tangisan yang penuh peluh dan harapan yang pupus untuk selamanya.


Suara dering ponsel membuatnya tak mampu lagi untuk meraihnya. Gadis itu membiarkan ponselnya begitu saja.


"Kenapa Yasya, kenapa kau begitu mudah melupakan ku? apa kau tau, disini aku tidak pernah berpaling darimu, aku Reynamu Yasya kenapa kau tidak bisa melihat semuanya."


Tak ada yang bisa ia lakukan, dirinya berdiri dan memeluk tubuhnya sendiri. Mencoba menghibur dirinya dalam kehampaan tanpa arah dan tujuan menemani.