
Sinar mentari siang hari menyelimuti hati yang tengah bimbang dilanda keraguan. Falery kini tengah menikmati secangkir coklat ditengah cafe yang begitu ramai akan orang-orang yang berlalu lalang.
Gadis itu mendengus, meski matahari tampak bersinar diatas sana, namun sinarnya tidak mampu menghangatkan tubuhnya.
"Falery... kau disini rupanya."
Suara tak asing itu membuat gadis cantik yang kini melamun tiba-tiba tersentak dan mendongak sekilas. Dirinya tampak seperti menghindar dari Zayn yang kini mencoba mendekati dirinya.
"Fay kumohon... jangan menghindar."
Falery masih terdiam, sejujurnya dirinya merasa takut berurusan dengan keluarga Gilbert. Dirinya tak ingin menjadi beban untuk keluarga yang selalu menyayangi dirinya itu.
"Ada apa?" suaranya datar menimpali.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana, sebenarnya apa yang terjadi padamu malam itu Fay? kumohon berikan aku sebuah kejelasan."
Falery masih terdiam dan membuang muka, dirinya bingung harus menjawab apa.
"Aku... aku tidak tau" ujar gadis itu gugup, dirinya menunduk, menolak pandangan dari Zayn yang kini menatapnya serius.
"Fay... jika kau punya beban, katakan saja, kakak akan selalu melindungi mu? kau jangan pernah takut pada siapapun.. selama kau mengatakan kebenaran, maka kakak akan membelamu, begitupun dengan keluarga kita. Daddy, mommy dan kak Alan."
Zayn masih menunggu jawaban dari Falery sambil menjeda kalimatnya yang terhenti. Pria itu menggenggam kedua tangannya, mencoba untuk menguatkan keadaan adiknya yang terpuruk.
"Apa kau dipaksa? siapa yang melakukannya? dan dimana Alfian pada saat itu?."
"CUKUP KAK... CUKUP!" teriaknya menahan emosi.
"Falery kau?" Falery melepaskan kedua tangannya pada genggaman Zayn.
Zayn terkejut, dia mulai menahan emosinya sesaat, membiarkan Falery meluapkan segala yang ia rasa dan ia tahan selama ini.
"Bisakah aku pergi dari kehidupan kalian?" Falery tersenyum getir bersamaan dengan perkataannya yang tidak ia niatkan barusan l.
"Fay?!" kata Zayn dengan nadanya yang begitu tinggi.
"Aku memang cukup membuat kalian sangat malu, terlebih menyebarnya foto-foto itu, ada satu hal yang sangat aku inginkan saat ini kak.. aku ingin pergi... dan jangan pernah cari aku lagi."
Falery menahan tangisannya yang hampir terjatuh kala tangan Zayn menahannya untuk tetap berada ditempatnya. Gadis itu bangkit sambil menepis tangan Zayn dan berlari keluar dari Cafe.
"Fay tunggu!" suara Zayn bahkan tak dipedulikan olehnya. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya kala Zayn menyebutkan nama Grace.
"Jadi benar apa yang dikatakan oleh kak Grace?" Zayn mencoba mendekati Falery lagi, pria itu seolah takut jika kenyataan tak sama seperti apa yang ia harapkan.
"Kak Grace?" Falery tersenyum nanar, tanpa mau membalikkan tubuhnya, dirinya membalikkan wajahnya kesamping sambil masih enggan untuk menatap Zayn dibelakangnya.
"Jadi kau benar-benar ingin pergi dari kehidupan kami Fay? kau ingin bebas? bahkan kemaren kak Grace sampai memohon padamu untuk tetap tinggal, tapi kau! Falery... kau ingat daddy bukan? dia bahkan sampai masuk rumah sakit karena mu... dan kau malah lari dari masalah ini. Jadi inti dari semua permasalahan mu adalah kau ingin pergi dari kehidupan kami, seperti apa yang dikatakan oleh Grace? benar begitu?."
Falery tak bisa menahan diri lagi, tangannya mengepal dengan erat, sampai hawa dingin tak ia rasakan sama sekali.
Kali ini ia tau apa yang diinginkan oleh kakak iparnya itu. Dia mengetahui semuanya tapi bayang-bayang itu selalu muncul dalam benaknya.
",jika kau berani mengadukannya... maka lihat apa yang terjadi... kau akan menghancurkan keluargamu sendiri.. dan Grace akan kehilangan suami dan juga anaknya."
'Falery... katakanlah sesuatu, aku tau kau hanya berbohong... kumohon Fay, jangan biarkan aku menyesal karena telah membawamu kemari' batin Zayn yang kini masih terdiam menunggu jawaban dari gadis itu.
Falery mulai memejamkan matanya. Dirinya telah menemukan jawaban yang tepat untuk membuat Zayn mengerti. Nafasnya berhembus panjang, bersiap untuk membuka mulutnya.
"Kak Zayn... apa yang dikatakan oleh Grace, itu semua..." Falery menggantung kata-katanya, membuat Zayn menggigit bibir bawahnya.
"Latakan Fay... apa yang dikatakan Grace itu bohong kan? kau bukanlah orang seperti itu, aku tau itu."
Seketika wajah pria itu memerah, pandangannya kini berubah kecewa pada gadis yang tengah berdiri jauh membelakangi tubuhnya. Ia mengangkat rahangnya yang mengeras dengan kemarahannya yang hampir mau meledak.
"MUSTAHIL! KAU PASTI BERBOHONG KAN?!" Falery memejamkan matanya, ia tak kuat dengan semua ini. Rasanya ingin sekali memeluk Zayn disaat saat seperti ini, namun apalah daya, dia sadar diri. Gadis itu hanyalah anak pungut, tidak ada hubungannya dengan keluarga Gilbert.
"FALERY!" teriakan Zayn begitu keras menggema ditelinganya.
Falery berlari tanpa arah, mata gadis itu sudah mulai mengeluarkan air mata yang begitu deras. Walau bagaimanapun, ia bukanlah Falery yang dulu, kini dirinya adalah Reyna yang terbuang dengan segala kekurangan.
Falery berhenti disebuah gang, dirinya nampak mengatur nafas sambil menyembunyikan tubuhnya disana.
"Kak Zayn... maafkan aku kak, aku tidak ingin menjadi beban untuk kalian lagi, walau bagaimanapun kak Grace lebih berhak tinggal daripada aku... mungkin dengan ini kak Alan bisa berhenti untuk mengkhawatirkan aku dan kembali menghabiskan waktunya untuk Louis dan dia."
Falery merosot, dirinya jatuh diantara salju yang menumpuk diatas kakinya. Gadis itu memeluk lututnya menikmati tangisan yang tersisa. Kini yang ingin ia lakukan hanyalah bertemu dengan Thomas dan mengatakan semuanya agar dirinya dapat siuman kembali.
***
Sebuah usapan lembut pada frame kini membuat Yasya menghela nafasnya. Mata pria itu berkaca-kaca seolah mewakili perasaannya yang telah hancur beberapa saat lalu.
Yasya memeluk foto Reyna dan menciumnya sesaat. Pria itu merasakan sebuah kerinduan yang mendalam pada gadis yang sangat ia cintai. Kini tangisan pria itu pecah membanjiri pipi mulusnya.
Yasya meletakkan barang terakhir kenangan dari Reyna didalam kardus berisi tumpukan buku beserta foto-foto dan juga baju pesta yang pernah dipakai oleh Reyna semenjak ia masih ada. Kini kenangan itu sudah siap ditutup rapat-rapat oleh Yasya meski berat.
"Reyna.. Reynaku, maafkan aku sayang... hiks, aku mengkhianati mu, aku tidak bisa terus menyimpan semua kenangan mu, aku tidak bisa."
Yasya menghentikan perkataannya, dirinya masih ingin menatap lama wajah polos gadis cantik itu. Diciumnya lagi foto itu, tak sadar air mata menetes diatas pigura kaca.
"Aku gagal menjemputmu di surga.. sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain Reyna, maafkan aku, tapi aku tak bisa menolak keinginan papi."
Yasya berusaha menegarkan hatinya, pria itu mengusap air matanya yang semakin berlinang deras. Dengan berat hati dan rasa sakit yang amat dalam ditaruhnya dengan perlahan foto itu diantara kenangan dari Reyna.
Yasya memerosotkan dirinya, berlutut sambil menangis sejadi-jadinya. Dirinya tak menyangka, bahwa kisah cintanya akan berakhir seperti ini. Pria itu hanya berharap untuk bahagia di lembaran yang akan ia buka.
***
Falery menghapus jejak air matanya yang tersisa. Tampak matanya yang sembab dengan warna merah melingkar dimatanya.
Gadis itu berjalan menunduk sambil menendang beberapa salju yang berada dihadapannya. Tiba-tiba fikirannya melayang, mengingat betapa rindunya ia pada Yasya yang selama ini ia sia-siakan.
"Pak Yasya..." gumamnya dengan pelan. Dulu disaat seperti ini, hanya Yasya yang bisa mengerti keadaannya, hanya Yasya yang mampu menghibur dan membantunya saat orang lain tidak perduli padanya. Yasya yang selalu bersikap manis pada Reyna kala itu.
Memberikan tempat tinggal, mengajaknya jalan-jalan, dan banyak memberikan kejutan. Falery tak sadar, dirinya bahkan bisa tersenyum disaat sulit seperti ini. Hanya dengan mengingat kenangan Yasya saja membuat gadis itu tak bisa mengalihkan fikirannya. Untung tempat itu begitu sepi dan jarang dilalui orang membuatnya leluasa untuk mengutarakan ekspresi.
Bruukkkkk....
Tak sadar tubuhnya kini terjatuh kala menabrak seseorang yang bertubuh lebih tinggi darinya menabraknya.
"Sakit" rintih Falery sambil meringis kesakitan. Sebuah tangan terulur untuk Falery, namun dengan cepat gadis itu mendongak menatap seseorang yang tidak asing baginya.
Gadis itu buru-buru berdiri, membelalakkan matanya sambil menatap tajam pada Alex yang kali ini tersenyum menang.
"Nna Gilbert rupanya."
"Alex... mau apa lagi kau?" Falery mencoba untuk mundur beberapa langkah, namun tiba-tiba kedua tangannya seperti ditahan oleh dua orang bertubuh besar.
"Hey... apa yang kau lakukan Alex, cepat lepaskan aku."
Teriak gadis itu sambil memberontak melawan dua orang yang kini memegangi lengannya.