
Mobil berhenti tepat didepan apartemen. Gadis itu kembali mendengus. Matanya mengarah pada Michael yang kini membalas tatapannya dengan lembut.
"Terimakasih bos" ujarnya sembari melepaskan sabuk pengaman untuk keluar dari kendaraan pria itu.
Namun sebelum Falery berhasil membuka pintu mobil, sebuah tangan menahan lengannya. "Falery tunggu" seketika tubuh Falery kaku.
Ia menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Michael yang kini menatapnya intens.
"Ada apa lagi bos?" tanyanya membuat ekspresi Michael berubah. Pria yang awalnya dingin kini menampakkan sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan pada manusia manapun. Terkecuali Falery saat ini yang tengah terperangah dengan sikap aneh yang dimiliki bosnya tersebut.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu Fay" gadis itu menarik lengannya. Tatapannya beralih pada spion mobil Michael.
Tangannya basah oleh keringat, menunggu kata-kata dari pria yang duduk disampingnya. Entah apa yang Michael fikirkan, yang jelas kali ini Falery tak bisa berfikir lagi, ia meremas bajunya sendiri.
"Aku menyukaimu Fay" tutur Michael membuat Falery semakin melemas. Ia bahkan tertegun seketika dengan perkataan Michael padanya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan kini akhirnya tersampaikan juga.
Falery pura-pura tidak mendengarnya. Ia lebih baik menghindar daripada harus terlibat masalah dengan bosnya. Gadis itu dengan cepat membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Langkahnya tergesa, meski pincang ia tau apa yang harus dilakukan olehnya.
Tiba-tiba saja seseorang menopang tubuhnya dari belakang membuat gadis itu membelalakkan matanya tatkala itu adalah Michael yang kini mulai membopong tubuhnya.
"Bos, kau tak perlu seperti ini. Aku bisa sendiri" ujarnya membuat mata pria itu menatap sendu kearahnya, namun sedetik kemudian melanjutkan langkahnya seolah ia tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Falery.
"Diamlah, bagaimana bisa aku melihat orang yang aku suka berjalan seperti itu" ujarnya terang-terangan membuat Falery mengernyitkan keningnya.
***
Tubuh gemetar seorang wanita kini tengah menunduk. Ia hanya bisa merasakan tatapan tajam maupun kecewa dari mertua dan juga suaminya kala dirinya usai menceritakan kejahatannya yang dilakukan dirinya pada adik iparnya.
"Aku... minta maaf" ujarnya sembari menangis sesenggukan ditengah tangisan Ajeng yang menjadi.
Ternyata selama ini ia bahkan salah mengira. Puteri yang ia hina, gadis yang ia benci adalah gadis baik yang menjaga nama baik keluarganya. Namun apa yang ia lakukan? sebuah kesalahan besar ia lakukan pada gadis itu. Gadis yang sama sekali tidak bersalah.
Ajeng mengepalkan tangannya. Bahkan ia membenci dirinya sendiri karena telah melukai gadis yang baik itu.
"Alan, mommy adalah ibu yang tidak baik nak. Mommy sudah memperlakukan putri mommy dengan kejam, bahkan mommy tidak tau jika ingatannya sudah kembali" ujar wanita paruh baya itu sembari menangis sesenggukan. Ia beralih menatap tajam Grace yang kini menunduk dengan penyesalannya yang terdalam.
"Ini semua bukan salah mommy, kita harus mencari keberadaan Falery mom. Kita harus membawanya kembali" ujar pria itu penuh keyakinan membuat Ajeng menyeka air matanya.
Belum sempat berkata seseorang dokter keluar dari ruangan Zayn. Ia menyampaikan bahwa keadaan pria itu kini mulai stabil meskipun harus kehilangan banyak darah.
Hal itu membuat orang-orang disana bisa menghembuskan nafas lega kala mengingat kesehatan Zayn yang kian membaik dari sebelumnya.
***
"Reyna adalah gadis yang baik, dia bahkan selalu bersikap egois pada dirinya sendiri demi orang-orang yang ia sayangi. Kau tak tau betapa ia menderita sebelum masuk kedalam kisah disini" ujar Yasya pada Sarah yang kinj masih terdiam mendengar penuturan dari pria itu.
Yasya bangkit, kini ia mengajak Sarah untuk duduk disebuah taman rumah sakit. Menurutnya Sarah adalah gadis yang baik, karena selama mengenalnya sebagai tunangan, gadis itu sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya.
Ya mungkin karena dibutakan oleh cinta, dirinya sampai melakukan hal tak terduga.
Gadis yang kehilangan keluarganya, ia yang selalu dicampakkan namun dirinya masih perduli dengan keadaan keluarga yang telah membuangnya.
Ditambah dengan kisah cintanya yang begitu menyayat hati Yasya jika mengingatnya.
"Suatu hari, kami hendak bertemu. Aku, Reyna, dan tunangan ku, namun ditengah perjalanan tunangan ku mengalami kecelakaan."
Ingatannya seperti kembali pada masa itu. Entah mengapa, garis pembatas antara ingatan yang ingin ia lupakan malah kini terbawa lagi dalam masa itu.
Flashback on.
"Tante mohon, tinggalkan Yasya, tante sangat berterimakasih jika kamu menjauhinya. Yasya adalah putra tunggal tante, dan tante tidak mau masa depannya suram. Sedangkan Syahbilla, dia memiliki kemampuan untuk menjadi calon istri Yasya, dia gadis baik dan berpendidikan, tante mohon Reyna, kamu dan Syahbilla juga sama-sama perempuan, kamu pasti tau kan perasaan dia bagaimana."
"*PAK YASYA AWAS!"
Teriakan dari Reyna dengan khawatir membuat Yasya tersenyum kearahnya, ternyata dibalik ketidak perdulian gadis itu, dia masih sangat mengkhawatirkan dirinya.
Tanpa sengaja Reyna melihat kearah berlawanan sebuah mobil melaju kencang tak jauh dari tempat Yasya berdiri, membuat Reyna membulatkan matanya dan segera berlari mendekati Yasya.
"Pak Yasya!"
Reyna mendorong tubuh Yasya hingga tubuh pria itu terjatuh dengan keras di pembatas jalan, tubuhnya tersungkur dengan luka di kepalanya, pria itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri gadis yang ia cintai ditabrak oleh sebuah mobil. Laju mobil yang sangat kencang membuat Reyna berguling diatas mobil itu hingga dirinya terpelanting ke atas aspal yang membuat seluruh tubuhnya penuh dengan darah.
"REYNA!" teriak Yasya dan berlari kearah gadis itu. Ia bahkan mengabaikan luka yang terdapat di pelipisnya.
Reyna masih bisa menggeliat, tubuhnya yang tengkurap memperhatikan Yasya yang saat ini berlari kearahnya.
"Pak, pak Yasya" kata Reyna lemah sambil mengerjapkan matanya beberapa kali*.
Flashback off.
"Sampai saat itu, Reyna masih ingin melanjutkan untuk mendonorkan hatinya meskipun kemungkinan untuk dirinya hidup tipis. Karena ia lakukan semua itu demi ayahnya. Ia sangat mencintai ayahnya Sarah sampai dia sendiri lupa dengan janjinya padaku" ujar pria itu dengan tangisannya kini yang telah pecah.
Pria itu menunduk dibawah pohon. Ingatannya akan janji yang telah mereka buat terbuka kembali. Awalnya Yasya hanya menceritakan apa yang ia rasa, dan seberapa besar pengorbanan Reyna pada Sarah. Namun yang ia lihat Sarah masih terdiam ia bahkan enggan untuk menatap mata pria itu.
"Dia hanya masalalu mu Yasya... bisakah kau melihat aku. Aku yang selalu ada untukmu saat ini, bukan Reyna. Jika dia mencintaimu dia takkan meninggalkan mu disini. Dia pasti akan selalu memperjuangkan mu" ujar gadis itu dengan nafasnya yang terengah. Tatapannya tajam menghunus jantung Yasya yang paling dalam.
"Tidak Sarah, aku tau Reyna sangat mencintai ku. Kau tau kenapa dia meninggalkan ku? karena dia tidak ingin aku terlibat masalah lagi karenanya. Dia fikir aku mencintaimu, dan kita sama-sama mencintai. Dia juga menghargai mu Sarah. Sejujurnya Reyna sangat mencintai ku juga menyayangi mu, dia bahkan rela terluka untuk membuat orang yang ia cinta bahagia. Tidak seperti kau Sarah. Cintamu padaku bukanlah cinta yang tulus, tapi kau hanya terobsesi padaku" ujar Yasya dengan suaranya yang meninggi membuat gadis itu membelalakkan matanya.
"Yasya."
"Jika kau tulus, maka kau takkan berusaha membuat ku jauh pada kebahagiaan ku" Yasya menghela nafas beratnya. Ia menatap manik mata Sarah yang kini menunduk dan mulai menangis.
Bahkan Sarah kini tak bisa berkata apa-apa lagi. Semua yang dikatakan pria itu bagai sihir yang membuatnya membenarkan kata-katanya. Yasya memang benar, cinta yang tulus adalah cinta yang berani berkorban meski akan jatuh.
Bukan cinta yang memperjuangkan sedang yang diperjuangkan tidak bahagia.