The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Salah paham



"Kak Edwin" Kanaya hendak mendekati tubuh Edwin yang kini sejajar dengan tubuh Angga. Namun belum sempat ia sampai, Edwin tiba-tiba maju dan meraih kerah Reyhan yang kini hanya bisa terdiam tanpa bisa berucap satu patah kata pun.


"Ngapain lo kesini ha?! lo mau gangguin Kanaya lagi?!" emosi Edwin kini semakin memuncak, buru-buru Kanaya hendak menghalangi Edwin untuk tidak bertindak kasar padanya, namun tanpa diduga lengannya ditarik oleh Angga membuat Kanaya kesal dibuatnya.


"Lepasin gue Angga, lo ngapain sih!"


"Kenapa? lo mau belain cowok itu?" pertanyaan Angga membuat Kanaya mengerutkan keningnya seraya menatap benci pada pria yang kini mencengkeram erat lengannya.


"Kak, lepasin kak Reyhan!" suara Kanaya yang begitu keras bahkan kini tak diindahkan oleh Edwin. Kanaya bahkan tak pernah tau jika hubungan keduanya memburuk, sedang apa yang dilakukan Edwin kali ini membuat Kanaya semakin khawatir saja.


"Win! gue suka sama Kanaya! dengerin penjelasan gue dulu!"


Bukkk


Satu pukulan keras mendarat dipipi pria itu membuat mata Kanaya kini memerah dan semakin memberontak hendak lepas dari cengkraman Angga yang semakin menguat itu.


"Kak Edwin jangan kak! lepasin gue Angga!"


Reyhan kini tersungkur dibawah tanah dengan luka lebam disudut bibirnya, perkataannya bahkan kalah cepat dengan gerakan Edwin yang tiba-tiba memukul wajahnya.


"Gue tau lo sekarang udah jadi orang kaya, lo pikir dengan lo jadi kaya, terus lo bisa seenaknya milih siapa yang bisa lo gandeng? lo pikir kalo lo jadi orang kaya, gue nggak bakalan berani sama lo haaa?!" Edwin menarik kerah Reyhan lagi, kini kemeja merah maroon itu begitu kotor dan sudah kusut akibat ulah dari Edwin.


Reyhan bisa saja melawan jika ia mau, mengingat ia juga bisa bela diri. Tapi ia tak mau memperkeruh keadaan, sangat sulit untuk menjelaskan pada Edwin apa yang sebenarnya terjadi. Kini dirinya hanya mampu pasrah dengan keadaan, jika saja Edwin tidak ada hubungan apapun dengan Kanaya, ia akan membalas pria itu sampai babak belur karena telah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Sini lo, kalo berani lo balas gue!


Teriak Edwin sambil memukul tubuh Reyhan berulangkali. Hal itu membuat Kanaya hanya bisa berteriak, lengannya kini bahkan semakin sakit oleh cengkraman Angga, namun ia seperti mati rasa, rasa sakitnya kalah melihat Reyhan yang kini babak belur oleh pukulan dari kakak sepupunya itu.


"Kak Edwin jangan?! kakak salah paham!" kini Kanaya mengerti, mengapa Edwin bersikap demikian, Edwin pasti sama halnya dengannya. Ia salah paham tentang apa yang dilakukan Reyhan sebelumnya.


"Kenapa Nay?! lo mau belain cowok brengsek ini?! apa lo nggak inget apa yang udah dia lakuin ke lo?! dia udah bikin lo masuk rumah sakit Nay! pukulan ini bahkan nggak cukup buat balasan yang harusnya dia terima" Reyhan sudah tak berdaya lagi, tubuhnya terbaring di tanah, namun tanpa belas kasihan sama sekali Edwin menarik tubuh Reyhan lagi.


Kanaya tidak bisa membiarkan ini semua terjadi, tangisannya yang dari tadi pecah kini seolah tiada artinya. Ia memikirkan apa yang dirasakan Reyhan, apalagi kedua orang tuanya kini berada diluar kota, tidak ada orang yang bisa Kanaya mintai bantuan.


Kanaya menggigit tangan Angga membuat pria itu mengerang kesakitan seraya melepaskan Kanaya tanpa sadar. Gadis itu kemudian menghentikan layangan tangan dari Edwin dan segera memeluk Reyhan untuk melindungi tubuhnya. Kanaya menangis, ia terisak, tak tega dengan keadaan Reyhan yang begitu menyedihkan. Bagaimana jika keluarganya nanti bertanya tentang apa yang dialami Reyhan? ia takut sekali, apalagi Reyhan tidak mau membalas sedikitpun pukulan dari Edwin.


"Nay!-"


"Kak Edwin nggak tau apa-apa! kak Edwin salah paham! aku benci sama kak Edwin!" teriak Kanaya yang kini menangis seraya membopong tubuh Reyhan yang sudah habis tenaganya itu.


"Kak Reyhan bukan ancaman buat aku! seharusnya kak Edwin dengerin dulu baru bertindak. Mulai saat ini, kak Edwin nggak perlu jagain aku lagi! aku bakalan telfon mama sama papa" kata Kanaya tegas seraya membawa tubuh Reyhan kearah gerbang untuk menuntunnya kedalam mobil.


Mata Edwin memerah, ia menahan amarahnya melihat bagaimana sikap Kanaya padanya demi membela Reyhan. Sedangkan Angga hanya bisa meraih pundak Edwin dengan tatapannya yang tak bisa diartikan.


***


"Aw sakit!" teriak Reyhan yang kini memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Dengan pelan dan telaten Kanaya membersihkan luka itu menggunakan kapas ditangannya.


Kali ini mereka berada ditaman kota, posisi mereka masih berada didalam mobil kali ini. Kanaya memang sengaja membawa Reyhan kesini karena mereka menag tidak ada tujuan lain. Yang penting mereka harus menghindar dulu dari Edwin dan juga Angga.


"Maaf kak, maafin aku" isak Kanaya dengan air matanya yang kini kembali berlinang. Melihat Reyhan yang menderita seperti ini, rasanya Kanaya tak tega, hatinya sakit dan hancur ketika mengingat Edwin yang memukulnya tanpa ampun.


"Hey, kamu kenapa nangis sayang? ini semua juga bukan salah kamu kok" ujar Reyhan dengan suara lemahnya, membuat Kanaya yang tadinya menunduk kini mulai mengangkat pandangannya.


"Aku nggak tega liat kakak kaya gini, aku takut" ujar Kanaya dengan gugup sambil masih terisak. Reyhan hanya bisa tersenyum kali ini, matanya bahkan membiru sebelah dan tak bisa terbuka lebar karena pukulan dari Edwin tadi. Meskipun ia merasakan sakit disekujur tubuhnya, namun rasa sakit itu akan bertambah sakit jika melihat kesedihan di mata Kanaya.


"Ini ujian buat bisa dapetin cewek cantik kayak kamu" kata Reyhan menggoda seraya menyentuh wajah Kanaya membuat gadis itu menghapus jejak air matanya yang tersisa.


"Kak! ngomong apa sih?! udah tau sakit kaya gitu masih aja ngegombal. Aku serius!" kata Kanaya seraya mengobati luka Reyhan lagi menggunakan obat merah dengan lembut. Takut jika nanti Reyhan tambah kesakitan.


Tiba-tiba saja tanpa disadari Reyhan kini memeluk tubuh gadis itu, ia menarik kepala Kanaya hingga kini kepalanya terbenam didada bidang Reyhan membuat Kanaya terdiam sesaat.


"Kamu jangan nangis lagi sayang, kamu tau? rasa sakit dari pukulan Edwin itu nggak seberapa jika dibanding liat kamu sedih. Aku sayang banget sama kamu Nay" kata Reyhan seraya mengecup puncak kepala gadis itu membuat Kanaya membalas pelukan Reyhan yang semakin erat ditubuhnya.


"Kenapa kakak nggak cerita ke aku masalah kalian berdua?! aku bisa jelasin ke kak Edwin kalau dia salah paham aja. Kenapa kak Reyhan juga nggak bales pukulan dari kak Edwin? dan nggak menghindar juga? aku khawatir kak! aku juga sayang sama kakak! aku takut kakak kenapa-kenapa" Reyhan menarik wajah Kanaya, mereka saling bertatapan, hanya terhitung beberapa senti saja jarak diantara keduanya.


"Aku nggak mau kamu benci sama Edwin, aku kira aku bakal jelasin ke dia dan nggak akan ada masalah lagi. Tapi kejadian tadi benar-benar diluar dugaan."


Bahkan Kanaya bisa mendengar nafas pria itu yang kini masih menangkup wajah cantiknya. Meskipun lebam diwajah Reyhan terlihat begitu jelas. Namun tidak dapat menyembunyikan ketampanannya yang membuat jantung Kanaya semakin berdebar.


"Aku sayang sama kamu Nay, kalau mendapatkan kamu harus berkorban dulu, aku rela, karena aku bener-bener nggak mau dan nggak terima kalau laki-laki lain ada disamping kamu" kata Reyhan seraya sedikit berbisik.


Cahaya remang didalam mobil, ditambah tempat itu yang begitu sepi membuat jantung Kanaya berdetak lebih kencang. Bahkan Reyhan sepertinya enggan untuk melepaskan wajah Kanaya yang kini hampir menyentuh wajahnya itu.


"Aku juga cinta sama kakak, aku um-" belum sempat Kanaya melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja Reyhan ******* bibir Kanaya dengan lembut. Reyhan tau tubuhnya masih merasa sakit, namun ia menahannya untuk Kanaya. Dengan begini, Kanaya tidak akan sedih lagi.


Kanaya membalas ciuman itu dengan lembut ia mengalungkan tangannya dileher Reyhan seraya terus menikmati yang Reyhan lakukan padanya.