The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bukan untukku



Kini Yasya berdiri diatas balkon tempat mereka makan. Dengan Falery yang kini menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.



Pemandangan indah nan romantis mereka lalui bersamaan dengan terbenamnya matahari yang hampir menghilang di angkasa berwarna jingga.


"Maafkan aku Reyna, karena aku, penglihatan mu jadi terganggu, karena aku kau yang menanggung semua beban yang seharusnya tak kau rasakan."


Yasya memeluk tubuh ramping gadis disampingnya. Ia mengecup puncak kepala Falery dengan lembut sambil membelai punggungnya.


"Ini sudah takdir Yasya, saat ini bagiku adalah menikmati waktu kita yang tersisa" kata Falery dengan pandangannya sendu.


Yasya melepaskan pelukannya, Yasya memegang kedua punggung Falery dengan tatapan matanya yang penuh dengan tanda tanya.


"Apa maksudmu sayang? apa kau tidak ingin bersamaku selamanya?" pertanyaan Yasya membuat Falery menggeleng.


Ia menunduk tanpa kuat menatap bola mata Yasya yang penuh dengan harapan.


"Kau tercipta bukan untukku Yasya, kau harus menyadarinya, sudah banyak yang kita lalui, sebelumnya kau juga mau menikah dengan Syahbila, dan ketika kita bertemu kembali kau juga akan menikah dengan Sarah."


Falery memundurkan tubuhnya, ia tak kuasa lagi harus menahan semua gejolak yang ia rasakan. Tanpa mau menatap pria itu, ia kembali meneteskan air mata.


"Apa yang kau katakan Reyna? aku Yasya mu! aku sangat mencintaimu begitupun juga kau, bukan takdir yang memisahkan kita, tapi kita yang harus berusaha agar takdir menyatukan kita kembali."


Falery menghapus air matanya ia membalikkan tubuhnya sambil menatap langit yang semakin gelap.


"Aku mencintaimu Reyna, aku tak bisa jika tanpamu. Hidupku tergantung dengan nafas mu, jangan sakiti aku lagi dengan menghindariku" ujar Yasya lagi dengan kesungguhan hatinya yang paling dalam.


"Kau harus ingat Yasya, Sarah adalah sahabat ku, dia bagai saudara yang mengikatku, jika kau sakiti dia, maka aku takkan memaafkan mu" kata Falery dengan tegas.


Perasaannya begitu sakit bersamaan dengan kata-kata yang ia ucapkan pada Yasya. Pria yang begitu ia cintai.


"Sampai kapan kau akan egois pada dirimu sendiri Reyna?! kau mau aku mati karena mu?!" kata Yasya dengan penuh harapan.


Falery menggeleng, ada rasa bahagia kala dirinya bersama dengan Yasya, namun semakin ia mendekat, semakin ia ingin menjauh dari bayang-bayang masa lalunya.


"Kita berada di dunia yang berbeda Yasya, kau harusnya sadar."


Yasya mengusap wajahnya, ia merengkuh tubuh Falery dengan erat. Seketika gadis itu tersentak, tengkuknya serasa meremang.


Yasya mulai membalikkan tubuh indah Falery, dan kini mereka saling berhadapan. Falery memeluk leher Yasya, seolah memberikan kesempatan untuk yang terakhir kalinya sebelum perpisahan itu datang.


Yasya menyatukan wajah mereka dengan tengkuk Falery yang ia tekan dan segera ia kecup bibirnya. Mereka saling menyalurkan kehangatan dan kerinduan yang mereka pendam untuk waktu yang lama.


"Aku mencintaimu Reyna, aku sangat mencintaimu" Yasya beralih memeluk Falery, ia mengeratkan pelukannya seperti tak mau kehilangan Falery untuk yang kedua kalinya lagi.


Kini terbenamnya matahari disore yang indah dengan keadaan resort yang sepi hanya mereka saja disana meninggalkan kisah indah dan kesan yang begitu menakjubkan bagi Yasya dan Reyna.



'Aku juga mencintaimu Yasya... sungguh sangat mencintaimu.' batin Falery dalam hati.


***


Sebuah nampan berisi sandwich dan juga teh hangat menemani pagi Falery yang indah.


Kini ia nampak fokus dengan makanan yang berada dihadapannya. Sarapan sendiri dan juga tiada suara didalam apartemennya, seperti sudah biasa ia lalui walau dia hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Ia mengunyah roti itu dengan fikirannya yang menerawang. Kacamata yang ia kenakan membuatnya lelah beberapa saat. Saat suara dering ponsel disampingnya berbunyi, gadis itu buru-buru mengangkat panggilan dari Lilia.


"Lilia" ujarnya dengan semangat.


"Cepat turun sekarang atau kau mau dikejar-kejar bos atau mantan mu itu."


Falery terperanjat, ia baru mengingat semalam dirinya mendapat pesan dari Michael dan juga Yasya yang hendak menjemputnya.


"Ma... maaf, aku lupa, baiklah, tunggu sebentar" Falery segera bergegas untuk turun, ia menemui Lilia diparkiran mobil dan mendapatinya tengah berdiri dihadapan mobilnya.


Suara nafas lega terdengar, begitu mereka saling bertemu.


"Lilia" suara Falery yang kini segera berlari dengan baju kerjanya dan juga rok span yang ia kenakan, serta rambut yang ia gulung.


Ia memeluk sahabatnya dan dibalas oleh Lilia.


Mereka segera bergegas untuk masuk kedalam mobil berwarna merah itu. Dengan kecepatan maksimal Lilia melajukan mobilnya menyusuri kota Florida.


Kini mereka telah sampai di rumah sakit Sun Town.


"Terimakasih Lilia, kau memang sahabat terbaikku" ucap Falery seraya mencium pipi Lilia dan bergegas untuk keluar dari mobilnya.


Gadis itu melangkah menuju kantor manager dimana kantor Michael berada. Namun belum sempat ia menyentuh gagang pintu, sebuah suara mengejutkannya.


"Falery, kau baru datang?" suara familiar membuatnya terkejut.


Falery menelan salivanya, ia mengangguk dan memberi hormat pada Michael yang kini tepat berada dihadapannya.


"Pagi bos" ujar Falery mengalihkan perhatian Michael m


"Aku sudah bilang untuk menjemputmu bukan, kau berangkat dengan siapa?" Falery tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Lilia, em maaf bos, aku sudah ada janji bersama dia, lain kali saja" Falery membalikkan tubuhnya dan segera membuka pintu kantor, namun berulangkali ia menekan gagang pintu, pintu itu tak kunjung terbuka.


"Bo, bos" Falery tercengang kala sebuah kunci menggantung didepan matanya.


"Kuncinya padaku Fay" kata Michael membuat gadis itu tersentak dan tersenyum kearah pria itu.


Falery segera meraih kunci itu dengan gugup.


"Ah, terimakasih" lanjutnya.


Jam berdetak bersamaan dengan pekerjaan Falery yang semakin menumpuk dengan berkas-berkas dihadapannya.


Sesekali Michael melirik Falery yang terkadang mendengus dan juga memainkan komputer dihadapannya.


Tiba-tiba saja, suara dering ponsel disakunya membuat gadis itu tersentak dan segera mengangkat panggilan dengan asal.


"Hallo," kata Falery sambil masih fokus pada layar monitor dihadapannya.


"Hiks, Falery" suara isakan itu terdengar memburu, membuat Falery mengerutkan keningnya. Dan segera bangkit saking terkejutnya.


Dari arah samping terlihat Michael yang kini menatapnya dengan pandangan heran dan cemas.


"Sarah! apa yang terjadi padamu, kenapa kau menangis?" Falery semakin dibuat khawatir oleh suara isakan itu yang terdengar nyaring ditelinganya membuat gadis itu semakin gusar.


"Sebentar" Falery beralih menatap Michael yang kini juga ikut menatapnya.


"Bos, aku harus menelfon" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Michael pertanda setuju darinya.


Gadis itu segera keluar dari kantor dan melanjutkan pembicaraannya bersama Sarah diluar ruangan.


"Sarah, ada apa? coba kau bicara pelan-pelan."


"Hiks, Fay bisakah kau meluangkan waktu untuk ku, aku punya masalah besar saat ini, aku hanya ingin bersamamu."


Falery menghembuskan nafasnya, ia mengangguk dan menyetujui permintaan Sarah untuk bertemu dengannya.


"Baiklah, aku sekarang berada di rumah sakit, disini ada taman yang lumayan sepi, kau kemarilah, apapun masalahmu kau tidak boleh bertindak gegabah okay. Aku ada untukmu Sarah" ucapan dari Falery membuat Sarah mengiyakan kata-kata dari sahabatnya. Mereka dengan segera mengakhiri pembicaraan begitupun dengan Sarah yang mulai tenang.