The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Dirumah



Reyhan kembali dengan motor besarnya, ia menatap kantor yang begitu sepi tanpa ada orang disana. Namun pandangannya kini beralih pada sosok gadis dengan rambutnya yang bergelombang itu yang kini tengah duduk menunggu seseorang.


Reyhan tersenyum, rasanya sudah lama ia menunggu waktu ini hanya untuk membicarakan sesuatu pada Kanaya. Pria itu turun dari motornya, namun belum sempat beberapa langkah ia berjalan getar ponsel di saku celananya membuat pria itu mengangkat panggilan dari sang ayah.


"Halo pa, ada apa?" Reyhan yang semula tersenyum kini mendadak matanya membulat sempurna. Ia segera memakai helmnya kembali, dan dengan cepat ia menaiki motornya seolah sesuatu yang darurat terjadi diseberang sana.


Langit yang tadinya cerah kini lama kelamaan semakin menggelap. Semua orang sudah pulang kecuali Kanaya yang memang sengaja menunggu Reyhan, sudah hampir satu jam ia menunggu pria idamannya itu yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


***


Sebuah motor besar kini berhenti disebuah perumahan yang begitu sederhana. Ia mendapati mobil putih yang berada dihadapannya menghalangi jalannya. Buru-buru Reyhan berlari, ia menghampiri sang ayah didalam sana.


"Papa!" suara keras itu menggema diruang tamu bersamaan dengan nafasnya yang tersengal karena setengah berlari.


"Reyhan, kamu pulangnya cepet banget, kita baru ngobrol" ujar Reynaldi membuat Reyhan menggeleng dan menarik pria yang kini menaikkan sebelah alisnya.


"Maaf ya pa, Reyhan ada urusan sama temannya Reyhan, papa buatin kopi aja dulu" ujar Reyhan yang kini menarik paksa lengan pria itu hingga mereka berhenti didepan teras. Reynaldi hanya menggeleng, baru pertama kali ini Reyhan bersikap gegabah dengan temannya itu. Meskipun Reynaldi sendiri tak mengenal betul siapa gerangan pria tampan yang tiba-tiba bertamu dirumahnya, tapi rasanya tak asing. Seperti pernah melihat, tapi dia sendiri lupa dimana.


"Mau apa lo kesini?!" tanya Reyhan dengan sinis seraya menghempaskan lengan Yasya dengan kencang.


"Rey, lo nggak bisa sembunyi terus kaya gini Rey, Reyna butuh lo!" ujar Yasya dengan suaranya yang sedikit meninggi membuat pria itu buru-buru menutup mulut Yasya yang sembarang itu.


"Sya, gue udah bilang sama lo buat jagain Reyna kan, lo nggak faham juga ya sama omongan gue?! lo liat hidup gue udah susah kaya gini, lo mau Reyna ikut susah juga" perkataan Reyhan membuat Yasya menggeleng.


Sebenarnya apa yang ada difikiran Reyhan saat ini, jelas-jelas dia juga bekerja ditempat Reyna memegang saham dan itu terdapat saham miliknya juga.


"Lo jangan pura-pura Rey, gue tau kok kalo lo kerja di Syakieb group, itu juga hak lo Rey, warisan dari tante Mira!" Reyhan menggeleng, ia memejamkan matanya sejenak. Bukan dirinya tak ingin Reyna hidup kembali bersamanya, tapi Reyhan sudah kehilangan kepercayaan dirinya lagi. Baginya kesusahan yang ia alami selama ini adalah karma yang memang harus ia tanggung bersama ayahnya.


"Kenapa sih Sya?! apa lo pengen gue nyakitin Reyna kaya dulu lagi? apa lo nggak takut gue sama papa bakal buat hidup dia menderita. Sya, masih ada Zayn dan tante Ajeng, mereka keluarga yang lebih sempurna daripada kami" perkataan Reyhan yang semula tegas kini semakin lama semakin lemah.


Meskipun ia sendiri tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama kepada Reyna. Tapi rasanya tidak berhak Reyhan datang dan mengambil milik Reyna dari Almira. Apalagi dulu Reyhan pernah menghina Mamanya sendiri didepan orang banyak. Ia malu, sangat malu.


"Tapi Rey, Reyna bener-bener" suara Yasya terpotong oleh tatapan dingin Reyhan. Seolah ia tak ingin mendengar penjelasan apapun.


"Sya, gue mohon sama lo, jangan pernah lo kasih tau keberadaan gue sama papa, dan jangan lo bilang apapun informasi soal gue."


"Reyhan, lo salah! selama ini Reyna selalu cari lo, dia sampe keluar dari pekerjaannya dirumah sakit itu semua juga demi nyelametin om Reynaldi. Asal lo tau Rey, adik lo sekarang bukan Reyna yang dulu lagi, semenjak lo dan papa lo pindah Reyna udah nghak punya harapan buat bangkit. Dia cuma pengen kalian balik Rey, sebagainya Reyna sama keluarga angkatnya, dia lebih bahagia ketika kumpul sama abang dan papanya."


Begitu kata-kata Yasya habis, ia kemudian membalikkan tubuhnya. Setidaknya ia menyampaikan apa yang hendak ia sampaikan pada Reyhan. Reyhan masih menunduk, rasanya ia masih belum siap mengingat kejadian itu kembali, kejadian yang membuat dirinya ingat akan perlakuan kasarnya pada adiknya sendiri.


"Sya!" tiba-tiba saja Reyhan memanggil Yasya membuat langkah kaki pria itu terhenti dan tersenyum tenang.