
"Kenapa kamu nggak pernah bilang ke saya kalau kamu kenal Reyna?!" pertanyaan itu membuat jantung Hermin berdetak kencang. Ia takut jika bosnya itu terlihat dingin seperti ini, seperti biasa isi hatinya tak dapat ditebak. Ia sendiri tak tau bagaimana hubungan Reyna dan Martin sebelumnya, bahkan semenjak mengenal gadis itu, ia tak pernah menyinggung sedikitpun tentang Martin.
"Sa-saya nggak tau pak, dia sering datang kemari untuk menyumbang dana untuk anak-anak. Apa pak Martin kenal dia?"
Martin menghela nafasnya, ia tak tau apa yang harus ia lakukan kali ini. Hatinya merasa gusar akan perkataan Alfian terakhir kali padanya. Apalagi kali ini, ia merasa sangat malu ketika mengetahui bahwa Reyna diam-diam sering mengunjungi panti asuhan ini bahkan memberikan donasi tanpa sepengetahuannya.
"Kapan Reyna terakhir kemari?"
"Sekitar sepuluh menit yang lalu pak" sontak saja Martin membulatkan matanya. Ia yang semula menatap anak-anak dibalik kaca jendela hanya bisa memijit pelipisnya.
"Saya butuh informasi tentang Reyna, ada sesuatu yang belum saya selesaikan dengannya" Hermin hanya bisa menaikkan sebelah alisnya kali ini. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba Martin begitu peduli tentang Reyna, namun kebalikannya Reyna malah menghindar dari Martin. Hermin hanya bisa menggeleng seraya membuyarkan fikirannya yang menerawang jauh itu.
"Saya tidak punya nomor telepon Reyna pak, sejak pertama Reyna kemari dan memberikan donasi, dia sangat tertutup. Bahkan ketika dia telfon nomornya selalu di privasi" Martin sempat berfikir keras. Mungkinkah Reyna takut padanya? mungkinkah Reyna berfikir jika keberadaannya diketahui olehnya, ia takut akan mengusirnya seperti tempo hari.
Martin benar-benar tidak bisa berfikir lagi, ini semua juga salahnya. Ia terlalu egois hingga membuat gadis malang itu tersinggung. Gadis baik dengan kemampuannya yang begitu profesional.
"Kalau begitu, biar saya yang menghadiri acara Reyna"
"Tapi pak-" belum sempat wanita itu melanjutkan perkataannya, Martin segera menatapnya dengan tatapan dingin. Tatapan yang selama ini Hermin hindari. Yah mau bagaimana lagi, sebagai bawahan ia hanya bisa pasrah akan keinginan sang bos.
***
"Kamu pengen kemana dulu sayang?" pertanyaan itu membuat Reyna yang semula menatap jalanan dengan fikirannya yang melayang kini beralih fokus pada Yasya yang sesekali meliriknya sambil menyetir mobil.
"Kita ke cafe tempat pertama kali kita ketemu yuk?" seketika Yasya terpaku, ia melirik gadisnya seraya tersenyum dan mengangguk. Ternyata Reyna masih ingat akan kenangan lima tahun silam. Pertama kali Yasya merasakan jatuh cinta pada muridnya sendiri yang kini akan menjadi miliknya seutuhnya.
Yasya masih mengingat gadis manis dengan kaos putih dengan rambut yang dikuncir itu. Begitu cantik, masih sama seperti sekarang. Baginya Reyna tak akan tergantikan, dulu ia tak berani berharap. Yang ia lakukan hanyalah berangan-angan, takut jika Reyna menganggapnya berlebihan. Namun setelah dijalani, gadis yang duduk disampingnya itu ternyata memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Perasaan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Setelah sampai ditempat tujuan Reyna dan Yasya langsung memesan tempat didepan kaca jendela yang cukup besar menghadap pada jalanan. Mereka memesan dua cangkir coklat panas sama seperti apa yang mereka lakukan dulu.
"Sejak kapan kamu suka coklat?" tanya gadis itu yang kini memperhatikan Yasya yang sedari tadi membayangkan masa lalunya itu.
"Sejak ada yang bilang kalau coklat disini enak" Reyna terkekeh, bisa saja Yasya ini menggodanya. Reyna bahkan ingat jelas dimana ia memaki Yasya yang waktu itu ternyata berdiri tepat dibelakangnya. Bahkan bodohnya ia mencuri-curi pandang terhadap Yasya dan mulai tertarik padanya.
Waktu itu mereka masih begitu polos, menyembunyikan perasaan cinta yang harusnya diungkapkan jika perlu.
Reyna sempat berfikir sejenak, ia menarik lengan Yasya setelah minuman itu habis tak tersisa.
"Aku pengen nyetir, boleh ya?"
"Kamu kan cewek? biar aku aja, lagian kamu mau kemana sih? bilang aja" Reyna menggeleng, seperti biasa ia memperlihatkan matanya yang sengaja ia bentuk seperti anak kecil gaya puppy eyes saat membujuk Yasya.
"Ayo dong sayang" Yasya menggeleng seraya menghela nafasnya. Ia akhirnya merogoh kunci mobilnya yang berada disaku celananya lalu memberikannya pada Reyna yang kini tersenyum dengan wajahnya yang berbinar.
"Makasih sayang" kata Reyna singkat seraya mengecup pipi Yasya membuat pria itu tersipu. Bukan hanya itu, Yasya juga sedikit terkejut karena posisi mereka masih diluar mobil saat ini.
Setelah setengah jam berlalu, kini Reyna menghentikan mobilnya disebuah tempat dengan angin yang berhembus kencang serta suara deburan ombak yang menyapu pasir putih tak jauh dari mobil mereka terparkir.
Reyna melepaskan high heelsnya, ia berlari seraya memegang tangan Yasya yang kini ikut tersenyum padanya. Padahal sebelumnya Yasya tak tau kemana gadisnya akan membawa dirinya. Namun tak disangka, tempat ini menjadi tujuan mereka saat matahari mulai terbenam, menimbulkan semburat merah dilangit.
Setelah Reyna melepaskan genggamannya, ia berlari menerjang ombak yang menyapu pasir dibawah kakinya. Reyna dengan rambutnya yang tergerai panjang dengan dress selutut berwarna putih lengan panjang. Begitu mempesona ketika wajahnya terkena cahaya keemasan dari terik sore itu.
"Kamu masih ingat sayang?" tanya Yasya yang kini duduk diatas pasir tepat disamping Reyna yang kini menatap detik-detik terbenamnya matahari ditengah-tengah lautan. Bak membelah air ditengahnya.
"Aku nggak akan pernah lupa sama kenangan kita Yasya" kata gadis itu seraya masih menatap hamparan lautan dihadapannya.
"Maafin aku yang dulu. Setelah aku membuat kamu terbang, seketika aku jatuhkan kamu" pandangan gadis itu beralih menatap Yasya dengan pandangan sendu. Bibir Yasya terlihat bergetar tatakala dirinya hendak melanjutkan kata-katanya.
"Aku jahat Rey, aku bikin kamu sakit yang mana itu juga bikin aku lebih sakit lihat kamu menderita" Reyna menghela nafasnya, ia mengeluarkan sebuah kalung dan kini menunjukkannya pada Yasya.
"Kamu ingat kalung ini? aku pengen kamu pasangin lagi buat aku. Aku pengen mulai yang baru sama kamu. Aku ngajak kamu kesini bukan buat nginget hal yang bikin hati kita sedih, tapi buat nginget hal yang bikin kita bahagia" Yasya segera mengangguk, ia meraih kalung berinisial huruf 'F' itu lalu bangkit dan menarik lengan Reyna untuk bangkit juga bersamanya.
"Kita bakal ngulang ini dari awal, yang lebih indah dari apa yang kita lalui dulu" kata Yasya seraya memakaikan kalung itu pada Reyna dan segera memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Yasya menaruh dagunya tepat dipundak Reyna dengan pemandangan sunset menambah romantis sore itu.
"Aku cinta sama kamu Yasya, aku udah cukup kehilangan kamu beberapa kali dalam hidup ini, dan aku nggak pengen kehilangan kamu lagi"
"Aku bahkan hampir mati mengingat kepergian kamu Reyna, aku hampir gila karena putus asa. Dan aku bahagia sekarang aku udah hampir memiliki kamu seutuhnya" Reyna membalikkan tubuhnya, kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Yasya. Begitupun Yasya yang kini memeluk pinggang Reyna. Mereka saling berpandangan lama, merasakan kehangatan sore yang hampir habis oleh matahari yang hampir tenggelam seutuhnya.
Yasya mendekatkan wajahnya kearah wajah Reyna, mereka saling menutup mata dan menyatukan bibir mereka untuk saling menyalurkan kehangatan. Begitu hangat sampai tengkuk Reyna terasa meremang dibuatnya.
"Aku cinta sama kamu Reyna" kata Yasya setelah selesai berpagutan dengan Reyna. Pria itu lalu memeluk gadisnya dengan erat disusul dengan rona merah diwajah Reyna.
"Aku juga cinta sama kamu Yasya" mentari terbenam kini menjadi saksi kisah cinta mereka. Sekilas mengingatkan mereka akan hari itu, dimana Reyna dan Yasya saling merasakan kebahagiaan seperti saat ini.