
Suara tangisan terdengar disudut ruangan kamar Falery, gadis itu terduduk di ujung ranjang sambil sesekali menghapus air matanya yang berlinang.
Kini tiada lagi yang dapat ia rasakan selain rasa sakit yang ia dapatkan dari kata-kata sang kakak ipar padanya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Grace, gara-gara dirinyalah Alan bahkan tidak lagi perhatian pada keluarga kecilnya sendiri.
Gadis itu terperosot, terduduk dilantai sambil memeluk lututnya.
drrtt drtt...
Suara getar ponsel yang kini terdengar ditelinga gadis itu membuat dirinya menghapus air matanya. Meraih ponsel yang berada diatasnya, tepat diujung ranjang.
"Ha... hallo...." suara seraknya khas seseorang yang baru saja menangis.
"Selamat pagi Falery ku sayang."
Suara yang tak asing itu terdengar, membuat hatinya merasa sedikit tenang dan lega.
"Alfian" desisnya dengan isakan membuat Alfian bertambah khawatir terhadapnya.
"Sayang kau kenapa?" tanya pria itu dengan suaranya yang nampak panik.
"Aku... aku butuh kau Al."
"Tenanglah Fay... tenang okay... kau dimana sekarang?" tanya Alfian dengan nada lembut membuat gadis disebrang sana menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku berada dirumah."
"Fay, jangan menangis... aku akan kesana sekarang juga."
Falery menghapus air matanya lagi. Diputuskan panggilan itu dan kembali memeluk lututnya. Hawa dingin semakin menyelimuti, namun dirinya seakan tak perduli dengan keadaannya sendiri.
***
Alfian segera bergegas, menarik jaket di gantungan beserta syal dan sesegera mungkin ia pakai.
Pria itu berlari menuju pintu rumahnya, menekan engsel pintu dan membukanya.
Tiba-tiba saja gerakannya terhenti seketika saat dipandangnya gadis cantik berdiri tepat dihadapannya. Gadis itu menatap sayu wajah pria yang sangat ia cintai, begitupun Alfian yang kini menatapnya dengan sorot mata bertanya.
***
.
Sudah sangat lama gadis itu menunggu seseorang diatas balkon kamarnya. Gadis itu memeluk tubuhnya yang semakin menggigil oleh dinginnya hujan salju yang membuat pagi seakan tak terasa.
Pandangannya masih setia, menatap halaman rumahnya yang kini sepi tanpa ada sosok seseorang sedikitpun.
"Falery..." suara itu membuat gadis yang kini termenung itu membalikkan tubuhnya. Ditatapnya seluruh keluarga kecuali Alan yang tidak berada disana. Hanya ada Zayn, Thomas dan Ajeng yang kini tersenyum kepada putri kecil mereka.
Ajeng segera berlari kecil memeluk tubuh rapuh gadis itu membuat Falery tersenyum hangat.
"Mom.... kenapa kalian kemari? kak Grace?" tanya gadis itu sembari menghapus jejak air matanya.
"Anakku... maafkan mommy nak, mulai hari ini kamu tidak akan kesepian lagi. Mommy dan daddy akan selalu menjagamu."
Falery masih tak mengerti, ia menatap seluruh keluarganya secara bergantian.
"Dad?" Thomas pun ikut bergabung, pria paruh baya itu merengkuh tubuh mungil putrinya dan tersenyum bangga.
"Daddy sudah memutuskan, untuk tidak akan pergi lagi... maafkan kami yang terlalu egois padamu nak."
Falery kini mulai mengerti, dirinya tersenyum puas dengan kata-kata orang tuanya, dirinya bahkan tidak bisa menahan emosi untuk mengeluarkan air matanya.
"Ohhh adik ku, bahkan aku dilupakan begitu saja seperti anak tiri " ucapan Zayn dibalas kekehan oleh kedua orang tua dan juga putri mereka.
"Anakku sayang... kemarilah, kita berpelukan agar semakin hangat."
Kata Ajeng membuat Zayn memutar bola matanya, namun sedetik kemudian dirinya tersenyum sambil ikut memeluk Falery yang kini tersenyum bahagia.
'Aku harap kebahagiaan ini tak akan pernah hilang selamanya... mommy.. daddy... entah mengapa, aku seperti asing pada kalian... tapi kalianlah yang membuatku nyaman, hingga aku seperti tak penasaran dengan rahasia dalam masa lalu ku... ku harap kalian tak pernah berbohong padaku.'
Batin Falery sambil menikmati kehangatan ditengah pelukan dari keluarganya.