The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Stress



"Zayn, papa mau ngobrol sama kamu" suara berat dari Reynaldi membuat Zayn menghentikan aktivitasnya kala dirinya tengah disibukkan dengan beberapa pekerjaan kantor. Ia melirik sedikit papanya yang kini beralih duduk dihadapannya, menghadapnya yang tengah duduk dimeja.


"Mau ngomong, ngomong aja pa, kok kayaknya serius banget. Relax nggak usah tegang" ujar pria itu seraya melanjutkan pekerjaannya lagi. Kali ini Zayn bisa menikmati pekerjaannya sekaligus ia leluasa mengambil beberapa file dan buku jika dirinya bosan. Memang tak salah Reyhan memilihkan rumah, rumah yang besar dan luas. Disertai ruang kerja yang mumpuni daripada kamar Reyhan yang sempit seperti sebelumnya.


Reynaldi bangkit, ia langsung menutup laptop Zayn dan menatapnya dengan pandangan serius.


"Ah papa nih, kan belum selesai" protes pria itu membuat Reynaldi menatap tajam dirinya.


"Kamu bisa nggak sih diajak ngobrol serius sebentar sama orang tua!" Zayn memutar bola matanya. Ia sebenarnya takut juga pada Reynaldi meskipun orang tua angkatnya ini tidak garang padanya.


"Iya pa, nih aku dengerin"


"Papa tau papa bukan ayah kandung kamu, dan kamu juga nggak akan lama-lama disini. Tapi mengenai pasangan buat kamu, mommy kamu udah nyerah."


Zayn melongo dibuatnya, hah! dia fikir ada masalah sebesar apa sampai membuat papanya seperti hendak menggantungnya diatas pohon mangga milik tetangga. Zayn menepuk jidatnya, benar-benar cerewet sekali papanya ini. Padahal ia belum memiliki pandangan sama sekali masalah pasangan hidup.


"Heh! kamu mikirin apa?! jangan kurang ajar sama orang tua, kamu!" ancam Reynaldi seolah tau apa yang difikirkan Zayn saat ini.


"Eh! papa suudzon mulu deh, iya pa iya, nanti kalau ketemu jodohnya pasti bakal nikah kok"


"Zayn, umur kamu itu sudah menginjak 30 tahun, orang tua mana yang nggak khawatir kalau anaknya masih jomblo" Zayn menghela nafas beratnya. Kenapa juga harus membahas masalah ini lagi, Zayn benar-benar tidak bisa mengerti dengan jalan fikiran papanya. Apalagi mommy-nya yang seolah memang sudah tak bisa mengatasi masa lajangnya.


"Pa, di Amerika masih banyak kok cowok umur 30 masih jomblo, main-main sama yang lain" elak Zayn membuat papanya kini menatapnya tajam.


Brakkk


"Di Amerika juga banyak cowok yang belum nikah seumuran kamu, pas disuruh cari pasangan eh malah dapet laki!" Zayn membulatkan matanya seketika. Ia benar-benar tak menyangka sebegitu ribetnya Reynaldi sampai mengolok dirinya sebagai gay.


"Pa-!"


"Udah, papa nggak mau tau! papa nggak mau mikir yang aneh-aneh kalau kamu susah dikasih tau" Reynaldi membalikkan tubuhnya, ia melangkah hendak keluar. Seketika Zayn bisa menghela nafasnya lega, tapi tetap saja ia masih harus menghadapi papanya yang memaksanya untuk menikah.


"Papa kasih kamu waktu buat mikir dan cari pasangan, kalau kamu nggak bisa, papa bisa jodohin kamu sama anak temen papa" kata Reynaldi yang tiba-tiba menghentikan langkahnya diambang pintu seraya memperingatkan putranya itu.


Setelah beberapa menit langkah Reynaldi menjauh dari ruang kerja, Zayn kini memijit pelipisnya. Benar-benar, ingin sekali ia pindah ke Amerika saat ini juga. Tapi mau papa ataupun mommy, mereka pasti sama saja.


Suara kekehan dari luar ruangan membuat pria itu menatap tajam Reyhan yang kini menyandarkan punggungnya diambang pintu. Apa-apaan lagi anak satu ini, pasti datang hanya ingin meledeknya saja.


"Ngapain lo kesini? nguping ya?!" kata Zayn dengan nada tinggi seraya menajamkan pandangannya pada saudaranya satu itu.


"Sampek lo belum ketemu calon, papa bakalan ngomel terus kaya gitu. Jangankan lo, omongan papa soal jodoh, udah jadi sarapan buat gue" timpal Reyhan semakin membuat Zayn merasa stres saja saat ini.


Ternyata bukan hanya nasibnya yang seburuk itu, tapi Reyhan sebelumnya juga merasakan hal yang sama. Ia tak bisa membayangkan bagaimana membosankan hidupnya jika papanya terus menerornya untuk segera menikah.


"Masalahnya gue belum ada rencana buat nikah, calon aja nggak punya" tambah Zayn membuat Reyhan hanya bisa menahan tawanya saat ini. Iya juga kalau difikir, dulunya bahkan Reyhan juga jomblo, sama dengan dirinya. Tapi untunglah ia bertemu dengan Kanaya. Bertemu jodoh sekaligus membungkam Reynaldi agar tidak mengomel padanya.


"Gimana ya? pikiran gue juga buntu, nggak ada ide nih. Satu-satunya jalan biar papa nggak ngomel, ya lo harus cari jodoh" kata Reyhan membuat Zayn tambah bingung dibuatnya.


***


Zayn dan Reyhan memutuskan untuk keluar sejenak. Mereka pergi ke sebuah cafe tak jauh dari rumah. Zayn menyesap kopi perlahan, namun matanya seolah memikirkan banyak hal.


"Kayanya lo stress banget ya? atau terima-terima aja tuh perjodohan dari papa" ujar Reyhan membuat pandangan Zayn mengarah padanya. Pria itu menghela nafas, niat hati ingin sedikit bersantai dan melupakan masalah yang ada, namun perkiraannya salah. Ia semakin terbesit oleh perkataan papanya yang membuat hatinya gelisah.


"Gue mau ke kamar mandi dulu" kata Zayn seraya bangkit dan melangkahkan kakinya dengan gontai. Reyhan yang melihat tingkah pria itu hanya bisa menghela nafas berat. Memang kalau difikir-fikir seumuran Zayn dan dirinya ini sudah sepantasnya menikah.


Kasihan juga saudaranya itu, meskipun papa bersikap tegas padanya. Tapi itu juga demi kebaikan Zayn nantinya.


Setelah beberapa menit masuk ke kamar kecil, Zayn kini berjalan keluar seraya sesekali menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya.


Langkahnya tiba-tiba terhenti kala seorang perempuan yang tengah menelfon kini tak sengaja menabrak tubuhnya, hingga gadis itu ambruk dan terduduk dilantai. Bersamaan dengan ponselnya yang terjatuh berserakan.


"Aduh!" keluh gadis itu seraya menatap tajam Zayn yang kini hanya menatapnya seperti orang bodoh tanpa mau membantunya. Gadis itu segera meraih ponselnya dan bangkit dengan pandangannya yang penuh amarah pada Zayn yang hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Heh! kalo jalan liat-liat dong! nggak punya mata ya!" kata gadis itu yang kini dengan kesal melangkah dengan gerakan kakinya yang ia hentak-hentakkan saking kesalnya.


Zayn hanya bisa menggeleng, ia mengejar gadis itu untuk menghentikan langkahnya dan menarik lengannya, membuat gadis itu berhenti seketika dan membalikkan tubuhnya, menatap mata Zayn dengan penuh amarah.


"Udah salah! nggak minta maaf, sekarang mau apa lo ha?!" teriaknya lagi membuat mata Zayn semakin membulat. Sayang sekali, padahal gadis ini kelihatan cantik dengan matanya yang lebar dan bibirnya yang begitu tipis serta hidungnya yang bangir. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya begitu proporsional.


"Hey! jangan kurang ajar ya!" teriak gadis itu lagi seraya menghempaskan tangan Reyhan pada lengannya. Sontak saja Reyhan menghilangkan fikirannya itu, ia mendekatkan wajahnya dan terlihat gadis itu yang memundurkan wajahnya kala Zayn mencoba untuk mendekati wajahnya saat ini.


"Lo- lo mau ngapain?! jangan macam-macam ya?! atau gue teriak nih!" ancam gadis itu membuat Zayn tersenyum sinis dan membisikkan sebuah kata ditelinganya.


"Gue nggak salah kok, jelas-jelas lo yang nabrak gue duluan, kenapa gue yang harus minta maaf" gadis itu membulatkan matanya. Kejadian beberapa menit yang lalu membuat fikirannya tergugah untuk mengingatnya. Zayn tak punya waktu untuk urusan ini, ia lebih memilih untuk pergi dari sana daripada berhubungan dengan wanita yang tidak jelas ini.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, ia mengeratkan giginya yang membuat dirinya tambah kesal saja. Memang dirinyalah yang salah, tapi pria itu juga salah, tidak mau membantunya untuk sekedar berdiri. Benar-benar sial kehidupannya saat ini.