The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Es krim



Luna merengkuh tubuhnya dalam kegelapan, tempat itu begitu sepi dan lembab. Tangisnya semakin menjadi kala dua orang itu hendak menyentuh tubuhnya. Namun tiba-tiba, suara seseorang menghajar mereka terdengar ditelinga Luna. Gadis itu masih takut, ia enggan mendongak.


Bukkk bukkk bukkkk


"Sialan! siapa lo ikut campur urusan kita?!" suara preman itu terdengar nyaring ditelinga Luna. Namun sayangnya ia hanya bisa menangkap perbincangan itu tanpa mau menatap orang yang berkelahi dengan kedua preman itu.


"Lo mau gue hajar sampek mati, atau mau gue panggil polisi haa?!" suara asing dari pria itu membuat Luna membelalak. Seperti pernah mendengarnya, tapi ia tak yakin. Luna mencoba menatap orang itu yang masih bersikeras memukul dua preman itu tanpa ampun.


Seorang pria dengan kemeja berwarna merah maroon membelakangi dirinya. Luna menggigit bibir bawahnya. Ia melihat kedua preman itu lari terbirit-birit dengan luka lebam di wajahnya.


Pria itu membalikkan tubuhnya, tidak salah lagi. Pria yang tadi berada di jembatan, ia tak menyangka takdir begitu kebetulan seperti ini.


Zayn mencoba untuk menunduk, ia berjongkok seraya menenangkan Luna yang kini masih ketakutan dengan air matanya yang berlinang.


"Lo nggak apa-apa kan?" Luna meneteskan air matanya, ia memeluk pria itu dengan tubuhnya yang bergetar. Peristiwa yang tadi tidak pernah ia lalui sebelumnya dan ini adalah hal yang begitu menakutkan untuknya. Zayn menyentuh punggung Luna, saat ini ia bisa mendengar betapa isakan Luna yang menyakitkan untuknya.


"Gu-gue takut-" isak Luna dengan suaranya yang begitu lirih dan bergetar.


"Udah, nggak apa-apa kan ada gue" ujar Zayn membuat gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Zayn hanya bisa menggeleng seraya menghela nafasnya. Tak apalah, jika itu bisa membuat gadis ini lega, Zayn mau bagaimana lagi.


Zayn segera mengangkat Luna ala bridal style, awalnya Luna terkejut di buatnya. Namun ia mengeratkan pelukannya seraya menyembunyikan wajahnya yang kian memerah dan matanya yang membengkak.


"Gue nggak bakal macem-macem kok sama lo, gue cuma mau anterin lo pulang" kata Zayn yang kini tau perasaan gadis itu yang begitu bimbang. Luna mengangkat pandangannya, ia mengangguk seraya tersenyum tipis pada pria asing yang kini menggendong tubuhnya.


Rahang yang tegas dengan jambang tipis serta hidung yang mancung. Pria ini memang tampan atau mata Luna yang sakit?


"Udah liatin gue-nya?" kata Zayn yang kini menurunkan Luna tepat di depan mobilnya. Luna membelalak, ia mengerutkan keningnya seraya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.


Zayn membukakan pintu untuk gadis itu, tampak ia ragu-ragu saat Zayn mengisyaratkan agar dirinya masuk.


"Masuk aja, gue anterin" kata Zayn yang kini disusul langkah Luna masuk kedalam mobil berwarna putih itu. Mobil yang terlihat tak asing baginya, namun sayangnya ia tak bisa mengingatnya.


Zayn memasuki mobil dengan tatapannya yang masih sama dinginnya seperti biasa. Entah apa yang Luna fikirkan ia masih terdiam membisu tanpa kata yang terucap dari mulutnya.


"Makasih ya, gue nggak tau gimana nasib gue kalo lo nggak dateng tepat waktu" kata Luna yang masih enggan menatap Zayn yang kini tersenyum tipis melirik Luna.


Zayn sebenarnya sengaja mengikuti gadis ini, bukan karena apa-apa, tapi karena hari sudah mulai gelap dan kebetulan ditempat ini rawan sekali kejahatan. Entah apa yang difikirkan pria itu, akal sehatnya seharusnya membiarkan gadis yang ia anggap gila ini dan mengabaikannya. Namun entah mengapa hatinya merasa tak tenang saat tau gadis ini berada di tempat yang sepi.


"Nama gue Zayn" kata Zayn tiba-tiba seraya menggantung tangannya di udara hendak menyalami Luna yang kini menatapnya dengan sayu.


"Luna" balasnya sambil menjabat tangan Zayn membuat keduanya tersenyum hangat. Mungkin terlambat bagi Zayn untuk berkenalan, tapi mengingat pertemuan mereka yang tidak menyenangkan, ini lebih baik daripada hari kemarin itu.


Jujur saja ia merasa canggung, ingin mengatakan apa, ia sendiri bingung. Pasalnya Luna juga baru mengenal Zayn. Nama Zayn begitu familiar ditelinga Luna, ia mencoba mengingat-ingat nama Zayn dalam benaknya. Namun hasilnya nihil, Luna menghela nafasnya saat setelah dirinya perang batin dengan fikirannya.


"Kamu kerja di Syakieb group udah berapa lama?" tanya Zayn mencoba untuk mencairkan suasana. Luna melirik Zayn sedikit, ia tersenyum tipis sambil menoleh pria yang kini sesekali menatapnya.


'Kamu' bahkan Luna baru sadar Zayn memanggilnya dengan sebutan 'kamu'. Padahal sebelumnya bahasa mereka masih lo-gue. Entah mengapa hal itu membuat wajah Luna menghangat dibuatnya.


"Udah hampir tiga tahun, kalau kamu?" tanya Luna balik membuat Zayn menahan tawanya geli. Jadi selama dua tahun ini ia mempunyai karyawan yang cantik namun tidak menggubris sama sekali. Maklum saja, Zayn memang suka menyembunyikan identitasnya di kantor.


"Hampir enam tahun" ujar Zayn singkat membuat Luna manggut-manggut dibuatnya. Namun Luna sempat heran, mengapa selama ini Zayn tidak pernah kelihatan sama sekali? bahkan berpapasan pun di kantor baru dari tadi.


"Bagian apa?" tanya Zayn lagi membuat Luna menoleh seraya mengamati wajah Zayn dengan seksama.


"Divisi perencanaan, oh ya, ngomong-ngomong kita satu kantor kok nggak pernah ketemu ya. Kamu?-" pertanyaan Luna terhenti kala Zayn menghentikan mobilnya tepat didepan supermarket.


"Turun dulu yuk" ajak Zayn tiba-tiba membuat Luna mengerutkan keningnya.


"Mau kemana?"


"Sebentar aja kok" Luna mengangguk, ia akhirnya turun dan mengekor langkah Zayn untuk masuk kedalam supermarket itu.


"Kamu tunggu disini sebentar ya, aku nggak lama kok" kata Zayn sambil mempersilahkan Luna untuk duduk di kursi panjang tepat didepan supermarket itu. Luna mengangguk, ia menurut saja, toh katanya cuma sebentar.


Luna duduk di kursi panjang tersebut, matanya menatap langit yang semula terang dengan bintang bertaburan kini lama-lama mulai mendung. Kenapa rasanya langit juga tau akan perasaannya? fikirannya menerawang mengingat perjodohannya. Hatinya benar-benar tak nyaman sama sekali.


'Andai aja, yang dijodohin sama aku itu-' Luna menghentikan fikirannya itu. Apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba ia memikirkan Zayn.


"Lagi mikirin apa?" tanya pria yang kini tiba-tiba duduk disampingnya seraya memberikan sebuah es krim untuknya. Luna membulatkan matanya seraya menggeleng, jantungnya terasa berdegup kencang tatakala Zayn tersenyum padanya.


"Aku nggak tau kesukaan kamu apa, tapi biasanya cewek itu suka coklat, jadi aku beliin deh yang rasa coklat" kata Zayn membuat Luna menyambut hangat es krim yang diberikan oleh Zayn padanya.


"Aku suka kok, makasih ya" Zayn mengangguk, ia mulai membuka es krimnya begitu juga dengan Luna. Pandangannya amsih menatap keramaian dihadapannya sambil sesekali melirik Zayn dengan wajahnya yang merona.


"Luna" suara lembut itu membuat Luna menoleh ditengah ia memakan es krim dengan lahap. Luna menghentikan makannya, ia menatap Zayn yang kini tiba-tiba saja menatapnya dengan lekat seraya memajukan wajahnya.


Luna membulatkan matanya, ia masih menatap Zayn yang kini semakin mendekat membuat jantungnya terasa berdetak kencang dibuatnya.


"Zayn-"