The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kau adalah ingatanku



Falery semakin tidak mengerti, tangannya menyentuh punggung lelaki itu dan mendorongnya dengan pelan.


"Tuan, aku bukan Reyna. Maaf" ujarnya sambil mengalihkan pandangannya membuat Yasya menunduk.


Suara gemuruh terdengar ditelinga mereka masing-masing, suasana yang canggung membuat mereka bahkan tak sadar akan pemberitahuan dari maskapai bahwa pesawat akan segera melakukan penerbangan.


"Kenapa ? apa kau sengaja berpura-pura tak mengenaliku? apa kau benci padaku?" pertanyaan dari Yasya membuat Falery membisu, gadis itu semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yasya.


"Aku seperti mati tanpamu Rey, hidupku seperti berjalan namun jiwaku tidak. Kufikir, kau akan meninggalkan ku selamanya."


Ucapan itu membuat Falery mendengus, memijit pelipisnya yang terasa berat oleh perkataan Yasya yang semakin tak dimengerti olehnya.


"CUKUP tuan, aku bahkan tak mengenalmu. Bagiku kau adalah masalah terbesar untukku, kau selalu muncul dan memberikan masalah baru. Kau lucu sekali, berulang kali kau mengacuhkan ku dan bahkan memberi tatapan keji padaku, namun sekarang kau membuatku semakin tak mengerti dengan apa yang kau katakan" ucapan Falery membuat Yasya tersenyum, entah apa yang dirasakan lelaki itu, namun sepertinya keyakinannya bertambah bulat.


"Lalu... bagaimana caranya kau akan menjelaskan ini" kata pria itu sambil menarik kalung bertuliskan huruf F yang berada dileher gadis itu, membuat Falery membulatkan matanya.


"Ini adalah kalung yang aku berikan pada Reyna, dan wajahmu, wajahmu sama dengannya, bagaimana mungkin aku salah mengenali kalian."


"Kau ini bicara apa? namaku Falery, Falery Gilbert, ini adalah inisial dari namaku. Apa kau paham?" ucapan dari Falery tak dapat dibenarkan begitu saja oleh Yasya yang kini menatapnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Sudahlah, aku tidak mau lagi berdebat apalagi berurusan denganmu. Aku ingin melanjutkan perjalanan ku ini dengan tenang dan damai" kata gadis itu sambil menutup wajahnya dengan jaket menyelimuti kepala Falery.


'Bagaimana mungkin aku salah mengenalmu Reyna. Mungkin kau memang orang yang berbeda, tapi kamu, kamu tetaplah Reynaku' batinnya sambil menghela nafas.


Setengah jam berlalu membuat perjalanan melelahkan dari Falery yang kini tertidur pulas di bawah jaket yang menutupi wajahnya kini terjatuh membuat gadis itu menggeliat.


Yasya memandangi wajah cantik Falery, gadis itu tak sadar ketika kepalanya bersandar di bahu pria yang kini tengah tersenyum lembut.


Senyuman yang sudah lama tak pernah ia berikan pada siapapun.


***


Suara dering ponsel membuat pria yang kini tengah tertidur pulas itu menggeliat, mencari keberadaan ponselnya yang berada diatas nakas.


"Kak Alan" gumam Zayn yang kali ini terbangun dan duduk di kasur empuk kamarnya. Pria itu dengan segera mengangkat panggilan dari sang kakak yang sedari tadi menggema ditelinganya.


.


"zhallo kak?m? hoammmhhp" ucapnya sambil menguap, merasakan nyawanya yang tersisa.


"Apa kau bilang, baiklah baiklah, aku sudah menghubungi daddy dan mommy... syukurlah" ucapnya sambil tersenyum, membuat nyawanya berkumpul dengan sempurna setelah sekian detik dirinya bangun dari mimpinya yang indah.


Pria itu dengan segera mematikan ponselnya dan bangkit untuk mandi.


"Baiklah kak... sampai bertemu nanti" ucapnya sambil tersenyum senang.


Satu jam kemudian.


Zayn kini telah siap dengan jaket serta baju putih dalaman yang membalut tubuhnya. Pria blasteran itu berkaca sambil menyisir rambutnya, tiba-tiba matanya teralihkan oleh foto Falery yang berada didinding.


Tatapannya sayu, mengingat kejadian yang membuat hidup adiknya itu berubah.



Zayn Gilbert