
"Nggak apa-apa kok Sya, aku suka, udah yuk kita makan" meskipun dilanda kegelisahan yang mengganjal dalam dirinya, Reyna masih bisa menelan makanan tersebut demi Yasya. Makanan yang ia makan mengingatkannya pada Reyhan, mungkin itu cukup untuk mengungkapkan kerinduan pada sosok abangnya yang kini mungkin telah hidup bahagia.
Ditengah makannya gadis itu sempat berfikir sejenak, ia bahkan lupa untuk mengatakan pada Yasya bahwa dirinya naik jabatan. Namun dibalik itu semua, haruskah ia bercerita soal karakter Falery padanya. Reyna masih bingung, ia menghentikan makannya seketika.
"Kenapa sayang? kok ngelamun? kamu mikirin apa?" pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng dan tersenyum kearah pria itu.
"Nggak apa-apa kok Sya, oh ya ngomong-ngomong ada berita baik loh" kata Reyna penuh semangat membuat Yasya menghentikan suapannya sejenak.
"Apa? kok kamu baru ngasih tau aku sekarang sih" pertanyaan itu membuat Reyna terkekeh. Terlalu banyak yang ia lalui seharian ini hingga membuatnya lupa dengan statusnya di rumah sakit.
"Iya maaf deh, hehehe tau nggak, aku udah naik jabatan loh" perkataan Reyna membuat pria dihadapannya tersenyum hangat dan segera memeluk tubuh Reyna dengan erat.
Reyna yang menyadari akan keberadaan mereka akhirnya menepuk punggung Yasya dengan pelan.
"Sya, ini ditempat umum" seru gadis itu membuat Yasya melepaskan pelukannya seketika tatkala dirinya menyadari akan kata-kata Reyna barusan.
"Hehehe, maaf aku kelepasan. Aku ikut seneng denger kamu naik jabatan secepat itu, selamat ya sayang" perkataan itu dibalas senyuman dan anggukan dari Reyna.
"Makasih ya Sya, aku juga nggak nyangka kalo manager bakal rekrut aku jadi dokter spesialis secepat itu, sekaligus sebagai perwakilannya. Awalnya aku bingung, tapi ternyata beliau udah liat potensi aku selama ini" ujar Reyna dengan senyuman dan juga rasa kebanggaan dalam dirinya.
"Kamu memang berbakat Reyna, apalagi kamu lulusan dari universitas terbaik Florida. Aku yakin mereka nggak salah kok nunjuk kamu sebagai bagian penting dari rumah sakit."
Meskipun perkataan Yasya memang ada benarnya, namun sebelumnya ia juga mempunyai masalah dengan Aldo. Bahkan baru saja naik jabatan, ia berani-beraninya memberhentikan dokter. Itu semua karena keberanian Falery yang tertanam dalam dirinya, bahkan menceritakannya pada Yasya, menyinggung saja ia tak berani.
'Maafin aku Sya, aku nggak bisa ceritain gimana perlakuan buruk aku hari ini. Suatu hari nanti kalo aku udah siap, aku janji bakal cerita gimana Falery kembali dalam hidup aku' gumam gadis itu dalam hatinya.
***
Ceklek.
Suara terbukanya pintu apartemen menggema, gadis itu dan pria dibelakangnya kini tengah masuk kedalamnya. Untung saja Reyna sudah menyalakan lampu cadangan agar ruangan disana tak terkesan gelap gulita sepulang ia dari pemakaman.
"Sya, kamu tunggu sini dulu ya, aku mau mandi, kalo mau makanan atau cemilan ada di kulkas, aku tinggal sebentar ya" kata Reyna yang mendapat anggukan dari pria tersebut.
Reyna kini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia membiarkan Yasya untuk duduk di ruang tamu. Sebuket bunga mawar merah menarik perhatiannya yang sengaja ditaruh Reyna diatas meja.
Yasya kini antusias untuk menarik kertas tersebut hingga ia berhasil mendapatkan kertas tipis yang mungkin sengaja diselipkan di dalamnya. Ia membuka perlahan kertas tersebut, dan betapa terkejutnya ia mendapati tulisan tersebut beratas namakan Mr.Rownald.
"Siapa Rownald? apa Reyna kenal?" pertanyaan itu terus hinggap dalam fikirannya. Perlahan Yasya masuk kedalam kamar gadis itu, aroma cherry merasuk dalam hidungnya begitu ia menyusuri kamar Reyna yang begitu feminim.
Ia melihat nakas tepat disamping ranjang, terdapat fotonya bersama gadis pujaannya itu. Tak hanya itu, Yasya juga menemukan kalung dengan inisial F disana tepat dibawah foto tersebut diletakkan.
Yasya kini beralih duduk, ia meraih gitar yang berada disamping nakas yang tepat mengarah pada jendela. Perlahan ia mainkan gitar tersebut dengan musik dan melodi yang begitu indah.
Tiba-tiba saja ia mencium bau strawberry dari arah belakang yang kini memeluk lehernya dengan erat. Siapa lagi kalau bukan Reyna, kini ia baru saja mandi dengan hanya memakai handuk kimono membuat Yasya semakin menggila olehnya.
"Sayang, jago banget main gitarnya" kata Reyna seraya melepaskan pelukannya dari leher pria itu yang kini menatapnya penuh dengan kelembutan.
Yasya kini menarik dagu gadisnya, seketika pandangan mereka terkunci dan Reyna hanya bisa tersenyum lembut melihat tingkah pria dihadapannya yang tiba-tiba memajukan wajahnya untuk menyatukan wajah mereka saat ini.
"Kenapa Yasya? apa aku jelek kalo nggak pakek makeup" kata Reyna yang kini mulai mengulas senyumnya dengan rona merah dipipinya.
"Kata siapa? calon istri Yasya ini adalah perempuan tercantik di dunia. Mau pake make up atau nggak, kamu tetep menggoda buat aku" ujar pria itu yang kini menarik tengkuk Reyna dan memegangi wajahnya untuk merasakan kehangatan di bibirnya. Begitupun juga Reyna yang kini membalas kehangatan itu dengan memejamkan matanya untuk menikmati perasaan keduanya.
Reyna kini menautkan tangannya tepat dileher pria itu, ia mulai menikmati setiap permainan Yasya yang begitu hangat untuknya.
"Aku cinta kamu sayang" kata pria itu berbisik tepat ditelinga gadis itu setelah menghentikan aktivitas mereka. Kini telinga Reyna mulai memanas. Ia bahkan bisa merasakan pipinya yang menghangat oleh perilaku Yasya padanya.
"Kamu mandi dulu sana" kata Reyna seraya mendorong pelan pundak Yasya yang tepat berada didepannya. Yasya hanya terkekeh, bisa melihat pipi Reyna memerah adalah keberuntungan untuknya. Ia sangat menyukai Reyna yang tengah blushing seperti itu, begitu menggoda.
Jika saja mereka sudah menikah, pastinya Yasya akan mengajak Reyna bermain dengannya setiap hari sampai Reyna lelah dan butuh ia untuk selalu menggendong tubuhnya yang begitu molek tersebut.
Yasya kini bangkit, ia meletakkan gitar tersebut ke asalnya. Tiba-tiba saja ia mendekatkan tubuhnya lagi kearah Reyna yang kini tengah duduk ditepi ranjang dan dengan sengaja hampir menjatuhkan tubuhnya lagi seraya membisikkan kata untuk gadis pujaannya itu.
"Tunggu kita menikah sayang, aku akan buat kamu menikmati apa yang namanya cinta" perkataan Yasya membuat Reyna semakin memanas. Gadis itu dengan cepat mendorong dada bidang Yasya yang tertutup oleh kemeja berwarna hitam miliknya.
"Yasya, jangan goda aku gitu ah! cepet mandi, tuh baju kamu ada di lemari nomor dua dari atas" ujarnya yang kini mulai menyembunyikan wajahnya dari Yasya yang mulai terkekeh oleh sikapnya.