
Beberapa jam kemudian, setelah selesai acara makan malam bersama. Kini tinggalah Hanna dan Siwan kembali berdua di rumahnya.
Hanna sedang menggosok gigi dan mencuci mukanya di kamar mandi. Sedangkan Siwan yang sudah bersiap untuk tidur pun malah kembali terbangun dan sibuk dengan layar laptopnya setelah mendapat telepon dari seseorang.
Siwan kembali membuka laptopnya yang tadi di bawa oleh Aji saat datang mengunjungi rumah Hanna.
Hanna yang baru keluar dari kamar mandi merasa terkejut melihat Siwan kini sedang terduduk di sofa menatap layar laptopnya dengan sangat serius. Dia pikir Siwan sudah tertidur pulas di atas sofa barunya.
Namun dia tidak ingin mengganggu nya, ia masuk ke dalam kamar untuk mengeringkan wajahnya sebentar dan kemudian ia keluar dari kamar menuju dapur. Hanna menyiapkan segelas teh hangat untuk Siwan lalu menghampirinya dan duduk di sampingnya.
Saat menatap layar laptop milik Siwan, dia betapa terkejut lalu meringis. Itu karena dia tidak dapat memahami apa isi dari teks yang ia lihat tadi. Semuanya berisi teks huruf hangul, dia memang sempat di ajarkan bahasa Korea oleh Siwan, namun belum dengan menghafal dan cara penulisan teks hangul.
Hanna terduduk selama beberapa detik tanpa ada respon sama sekali dari Siwan yang sangat fokus membaca pesan email di layar laptopnya.
Dan, setelah lima menit lamanya Hanna terdiam sambil merasakan kantuk yang sudah menyerang. Saat menyadari Hanna berkali - kali menguap di sampingnya, Siwan pun menoleh dan menatap Hanna yang sekarang sedang bersandar pada sandaran sofa.
" Chagiya, kau sudah mengantuk ? tidur saja di kamarmu !!" Seru Siwan.
Dan Hanna pun terperanjat langsung memaksa diri untuk tetap terlihat sadar dan menyembunyikan rasa kantuknya.
" Tidak, aku belum terlalu mengantuk. Ahjussi, apa kau sedang mengerjakan pekerjaan yang sangat penting ?" tanya Hanna menatap Siwan yang sedang meneguk air teh dari gelas.
" Tidak terlalu, tadi adikku dari Seoul menelponku dan nengirim email yang sangat penting, jadi aku harus segera mengeceknya." Jawab Siwan, lalu menaruh kembali gelasnya pada meja di hadapannya.
" Apa adikmu tahu kalau kau sudah punya pacar disini ? hihi... " tanya Hanna sambil sedikit tertawa.
" Tentu saja, aku memberitahunya untuk tidak sering memintaku pulang ke Seoul karenamu. Tapi dia masih saja menyuruhku membantu pekerjaannya." Jawab Siwan terdengar dengan nada kesal.
" Tidak apa, kau kan kakaknya, keluarganya, harus saling membantu saat dia kesulitan. Aku memahami mu. Lagi pula, rumahmu kan memang di Korea, kau lupa ya, kau masih warga negara Korea !!" Ucap Hanna.
" Aku sedang memikirkan, untuk merubah status warga kenegaraanku. " Sahut Siwan lalu tersenyum.
" Masa, benarkah itu ?" tanya Hanna merasa tidak percaya.
" Kau tidak percaya padaku... kenapa, tidak boleh ?" Lalu Siwan menggelitik perut Hanna sampai Hanna kembali tak berdaya dengan perbuatan Siwan, ia tertawa terpingkal - pingkal sampai berkata ampun berkali - kali pun tidak di dengar oleh Siwan.
Siwan lalu menghentikan aksi jahilnya pada Hanna karena dia pun mulai merasa lelah.
" Chagiya, tidurlah, sudah malam, badanku juga terasa pegal - pegal, aku butuh istirahat." Ucap Siwan sambil mematikan layar laptopnya dan membereskannya.
" Mau ku pijat ?" tanya Hanna menawarkan diri.
Beberapa menit kemudian, kini Siwan sudah berada di atas kasur dengan posisi tengkurap di kamar. Dia sudah bersiap untuk menerima pijatan dari tangan kekasihnya itu.
Pertama - tama Hanna memijat punggungnya, sebelumnya dia sempat mengoleskan massage oil dengan aromatherapi agar Siwan merasa lebih rileks.
Siwan nampak sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh kekasihnya, pijatan dari tangan halusnya membuatnya benar - benar merasakan kantuk yang sangat kuat menderanya, hingga baru beberapa menit di pijat, ia pun sudah mulai memasuki alam mimpinya.
Namun Hanna masih terus melakukan pekerjaannya sebagai rasa terima kasihnya pada Siwan yang sudah membantunya merapihkan rumahnya dan menemaninya sepanjang hari.
Hanna memijatnya hingga kepala dan kaki Siwan. Entah mengapa rasa kantuk yang sempat menghampiri nya kini jadi hilang seketika. Padahal besok pagi dia harus terbangun untuk memulai kembali rutinitas pekerjaannya sebagai seorang karyawati departemen store.
Setelah ia rasa cukup memijat kekasihnya itu, ia pun pergi mencuci tangannya ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum akhirnya ia pun tertidur lelap di samping Siwan.
Dia mengganti kasurnya dengan yang lebih besar sehingga cukup leluasa baginya untuk tidur di samping Siwan dengan di batasi oleh guling sebagai penghalang antara dirinya dan Siwan.
Hanna masih bisa berpikir bahwa seharusnya dia dan Siwan tidak boleh tidur berduaan seperti ini dalam satu ranjang. Hanya saja, karena Siwan sudah tertidur sangat lelap, dia bisa memastikan bahwa Siwan pasti tidak akan berbuat macam - macam padanya. Ia pun berbaring di kasurnya, lalu memejamkan matanya setelah ia menyelimuti dirinya dan Siwan.
Keesokan harinya, pukul 05.00 wita, seperti biasa alarm di kamar Hanna berbunyi. Namun, sang pemilik alarm sama sekali tidak terbangun dan tidak merasa terganggu sedikitpun oleh suara alarm yang sangat berisik itu.
Lalu, Siwan lah yang terbangun dan mematikan alarmnya. Dia pun mencoba membangunkan Hanna yang masih tertidur lelap dengan menggoyangkan badannya dan menepuk pipinya secara lembut dan perlahan.
Setelah mencoba berkali - kali, akhirnya Hanna terbangun juga. Siwan mendorong Hanna yang terlihat masih mengantuk untuk pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Saat Hanna sedang sholat subuh, Siwan sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
Dan Hanna yang selesai sholat pun buru - buru keluar dari kamar menghampiri Siwan di dapur karena mencium bau wangi yang berasal dari dapur.
" Wah... baunya harum sekali, ahjussi kau sedang membuat apa. " Hanna menghampiri Siwan yang sedang menumis sesuatu di atas kompor. Dan dia memeluk kekasihnya dari belakang membuat Siwan seketika tersenyum bahagia.
" Aku membuat sarapan dan bekal makan siang untukmu. " Jawab Siwan melirik Hanna sebentar yang sedang menempel padanya.
" Wah, aku merasa tersentuh, kau perhatian sekali, terima kasih ya.. !!" Ucap Hanna.
Beberapa menit kemudian, Siwan menatap Hanna yang sedang menikmati sarapannya di meja makan.
" Kau tidak mau sarapan ?" tanya Hanna menatap Siwan yang hanya meminum secangkir teh hangat menemaninya sarapan.
" Aku tidak terbiasa makan subuh hari. " Jawab Siwan.
Hanna hanya meringis menatapnya.
Selesai sarapan, Hanna pergi mandi dan berdandan di dalam kamarnya. Sedangkan Siwan sedang mencuci piring di dapur. Padahal Hanna sudah memintanya untuk bersantai saja, tidak usah melakukan apapun, tapi Siwan dengan senang hati membantunya merapihkan meja makan dan mencuci semua piring kotor.
Pukul 06.30 wita, kini Siwan dan Hanna sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju tempat kerja Hanna. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat barunya, lumayan menghemat waktu untuk Hanna ke depannya.
Sesampainya di tempat kerja, Hanna berpamitan pada Siwan.
" Ahjussi, terima kasih banyak ya sudah membantuku dari kemarin sampai hari ini." Ucap Hanna sambil melepaskan sabuk pengamannya.
" Tentu saja, nanti pulangnya aku akan menjemutmu di sini ya.. !!" Ucap Siwan mengelus rambut Hanna.
" Oke. Bye... maaf aku tidak bisa menciummu di sini." Ucap Hanna penuh senyuman lalu membuka pintu mobilnya dan turun. Setelah itu dia berlalu pergi menuju tempatnya bekerja.
Siwan tersenyum sambil masih menatap Hanna yang semakin menjauh dari dalam mobil. Setelah itu dia melajukan mobilnya dan pergi entah kemana.
Sesampainya di loker karyawan tempatnya bekerja, di sana sudah terlihat penuh oleh beberapa karyawan yang sedang merapihkan pakaian dan riasan sebelum masuk ke area doa pagi.
Dan di sana sudah ada Reni dan Melly yang berdiri di dekat loker Hanna.
Mereka bertiga berbincang dan bercanda tawa bersama sebelum waktu menunjukkan pukul 07.00 wita.
Setelah waktu doa pagi bersama tiba, Hanna dan karyawan karyawati lainnya berbaris rapih untuk segera memulai doa.
Namun, saat salah seorang staf akan memimpin doa pagi, Hanna melihat seseorang yang dia kenali di barisan para staf tepat di belakang seorang staf yang akan memimpin doa pagi.
Seorang pria berkulit putih dan berbadan tinggi dan terlihat kekar, seorang pria keturunan Chinese, dia pria yang sempat menabrak Hanna sebelum tahun baru kemarin. Pria itu tersenyum menatap Hanna sebelum akhirnya menundukkan kepalanya untuk berdoa.
Selesai berdoa, para staf dan karyawan karyawati pun bubar menuju tempat mereka bekerja masing - masing.
Namun, saat Hanna hendak naik eskalator menuju ke lantai tiga, tiba - tiba seorang pria dari belakang memanggilnya.
" Han, Hanna, tunggu sebentar...!!"
Saat Hanna menoleh ke belakang, ternyata yang memanggilnya adalah Satria.
" Iya pak Satria !!" jawab Hanna berbalik menghadap Satria.
" Ih... kenapa panggil bapak, saya kan masih muda !!" ucapnya.
" Maaf pak, kita kan sekarang atasan dan bawahan di lingkungan pekerjaan, jadi saya harus memanggilmu seperti itu." Jawab Hanna lalu tersenyum kikuk karena tidak enak di lihat oleh beberapa karyawan karyawati yang lewat di depan mereka.
" Hehe... iya iya, aku mengerti, gimana kabar kaki mu ? sudah sehat kan ?" tanya Satria sambil melihat ke arah bawah, pada kaki Hanna.
Hanna tambah merasa canggung karena Satria terus mengajaknya mengobrol saat jam bekerja akan segera di mulai.
" Kaki saya sudah sehat kembali pak, alhamdulillah, terima kasih banyak ya !!" Ucap Hanna.
" Syukurlah kalau begitu, saya khawatir soalnya kamu gak hubungi saya lagi buat ngasih kabar." Ucap Satria.
" Iya, maaf ya, aku sudah tidak apa - apa, dan, maaf pak, saya harus segera naik ke atas, sebentar lagi toko akan di buka, saya masih harus merapihkan konter." Ucap Hanna penuh hati - hati.
" Eh.. iya maaf, silahkan kalau begitu, selamat bekerja ya !!" Ucap Satria mempersilahkan Hanna untuk pergi.
Hanna pun pergi ke atas dengan menaiki eskalator yang belum menyala, karena aturan toko bahwa lift dan eskalator akan beroperasi pada jam saat toko sudah mulai menyambut konsumen untuk berbelanja.
Sesampainya di konter, Hanna bertanya pada Reni, tentang Satria. Dan Reni memberitahunya bahwa Satria merupakan staf baru, dia staf pindahan dari kantor pusat. Dari hari senin kemarin saat Hanna masih cuti, Satria mulai bergabung di departemen store tempat Hanna bekerja. Dia menjabat sebagai kepala personalia yang baru menggantikan pak Richard yang di pindahkan ke cabang lain karena menjabat sebagai kepala manager di cabang tersebut.
Beberapa jam kemudian, kini tiba giliran bagi Hanna untuk istirahat makan siang. Dia pergi bersama Melly dan beberapa teman lainnya dari berbagai macam konter di toko.
Saat Hanna keluar dari toko, dan hendak mencari tempat duduk bersama temannya, Satria kembali memanggil Hanna. Kebetulan jam istirahat mereka sama.
" Han, makan siang bareng yuk !!" Ajak Satria pada Hanna.
Hanna merasa canggung karena di sampingnya ada Melly dan beberapa temannya yang lain.
" Aduh, maaf pak, saya bawa bekal, ini.. " Ucap Hanna sambil memperlihatkan satu kotak bekal yang telah Siwan siapkan tadi pagi.
" Ya gak apa - apa, kamu bisa tetap makan bekalmu nanti. Yuk... temannya juga, kita makan siang sama - sama aja, saya sendirian nih, kalau rame - rame kan seru, biar lebih akrab juga. " Ucap Satria mengajak teman Hanna yang lainnya.
" Wah, bener nih pak, boleh deh kalau begitu." Sahut Melly dengan penuh semangat.
Hanna terpaksa mengikuti suara terbanyak, dan kini ia duduk bersama Satria, Melly dan Teguh teman kerja Hanna di konter sepatu pria.
Saat Hanna membuka kotak bekalnya, Melly yang duduk di sampingnya merasa terpana dengan apa isi yang ada di dalamnya.
" Wah... bekal makan siang yang sangat cute, kamu sengaja bikin seperti ini ?" tanya Melly merasa kagum.
Hanna pun merasa terkejut dengan apa yang di perbuat oleh Siwan, dia mencetak nasinya berbentuk hati dan di kelilingi oleh sayuran yang di tata sebagai hiasannya. Sedangkan lauk pauknya ia pisahkan dengan plastik food berukuran kecil - kecil.
" Hihi... ini, pacarku yang membuatnya !!" Ucap Hanna merasa bangga.
" Wah, si om Korea mu ? ya ampun, irinya aku, pacarmu so sweet sekali." Ucap Melly.
" Ekhem... kamu mau, nanti aku buatkan ya, sayangku !!" Sahut Teguh yang menggoda Melly.
" Terima kasih banyak ya, tapi dengan senang hati aku menolaknya, lagi pula menyiapkan bekal untukmu saja kau tidak sempat, apalagi untuk aku atau pacarmu, hih... gak usah repot - repot deh. " Jawab Melly menatap sinis Teguh yang terlihat cengengesan mendengar ucapa Melly.
Hanna dan Satria hanya tertawa melihat perseteruan Melly dan Teguh.
" Kak Melly mau coba rasanya ?" tanya Hanna menawari Melly untuk menyicip masakan buatan Siwan.
" Boleh nih, mau dong, sedikit aja !!" Ucap Melly kemudian menyendok makanan di kotak bekal milik Hanna.
" Ya sedikit aja lah, masa nyobain mau sekotak penuh. " Timpal Teguh menyindir Melly, lalu ia pun ikut mencicipi bekal milik Hanna.
Hanna dan Satria kembali tertawa mendengarnya. Sedangkan Melly merasa kesal pada Teguh karena terus mencela nya.
Mereka berdua memang seperti tom and jerry, tak jarang mereka berdua menghibur Hanna dan teman yang lainnya dengan ocehan dan perseteruan mereka, temannya malah merasa terhibur dengan tingkah mereka kala sedang suntuk atau lelah setelah bekerja.
" Woahh... rasanya enak, bener - bener paket komplit, aku mau punya pacar kaya om Korea mu, carikan aku dong... " Ucap Melly menatap Hanna yang sedang tersenyum dengan mulut penuh makanan.
Raut wajah Teguh terlihat kesal mendengarnya, entah dia merasa cemburu atau iri hati.
Sedangkan Satria hanya fokus menikmati makan siangnya dengan wajah biasa saja.
" Han, pacarmu, maksudku, kak Wan, bagaimana kabarnya ?" tanya Satria pada Hanna.
" Baik, dia sehat, alhamdulillah." Jawab Hanna menatap balik Satria.
" Aku masih gak nyangka loh, kalian ternyata ada hubungan spesial. " Ucap Satria, membuat Hanna merasa risih mendengar ucapannya.
" Menurutku, mereka sudah sangat cocok sebagai pasangan suami istri malah. Semoga secepatnya ya... " Ucap Melly menggoda Hanna.
Hanna hanya tersenyum dan meng amin kan di dalam hatinya. Sebetulnya, baik Melly, Reni maupun teman kerjanya yang tahu hubungan antara Hanna dan Siwan, belum mengetahui fakta yang sesungguhnya, yaitu fakta bahwa mereka berbeda keyakinan. Hal itu yang menjadi kendala yang sesungguhnya dalam hubungan asmara antara Hanna dan Siwan.