
3 hari kemudian...
" Bli, dimana ahjussi, aku ingin bertemu dengannya !!" ucap Hanna.
" Dia sedang ada proyek baru, bersabarlah, dia selalu bekerja lembur di kantornya " jawab Aji.
1 minggu kemudian...
" Bli, kenapa ahjussi tidak menelponku, dia hanya mengirim pesan whussup saja, itupun hanya bertanya kabarku saja, aku ingin tahu kabarnya !!" Hanna merengek pada Aji.
" Dia baik - baik saja, hanya sedang pusing memikirkan proyek barunya " Aji kembali mencoba menenangkan Hanna dengan alasan yang sama. Entah memang benar atau tidak.
Terakhir kalinya mereka bertemu saat Siwan mengantarnya pulang setelah kasus penculikan yang terjadi malam itu.
Siwan seperti sengaja menghindari Hanna karena sebuah alasan yang belum Hanna ketahui.
Dan, hari kamis ini, di hari liburnya, Hanna memutuskan untuk mengunjungi Ayu, sepupu Siwan. Dia merasa sangat bosan terus menghabiskan waktunya di dalam rumah sendirian selama hampir 2 minggu terakhir.
Latihan karate maupun boxing belum bisa Hanna jalani kembali mengingat cidera yang terjadi setelah kecelakannya waktu itu. Kondisi tangan dan kakinya belum sepenuhnya pulih.
Selesai mencuci baju dan mandi, Hanna kini sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Bram yang menggantikan Aji kali ini menjadi supir yang mengantarkan dirinya kemanpun ia pergi.
Sesampainya di rumah sakit.
Tok... tok... tok...
Hanna mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalam.
" Hai, Hanna, apa kabar ?" tanya Ayu yang sudah bisa duduk dengan tegak di ranjangnya.
" Aku sehat mbak, mbak sekarang gimana kondisi nya ?" tanya Hanna, menghampiri Ayu dan memeluknya.
" Aku cukup sehat, meskipun masih ada bekasnya di tubuhku, tapi so far staminaku sudah mulai pulih, besok aku bisa pulang loh !!" ucap Ayu dengan riangnya.
" Dimana ibunya mbak ?" tanya Hanna mencari ke sekeliling ruangan.
" Ibu lagi makan siang sama tanteu di luar, ibunya kak Wan !!" ucap Ayu.
" Oh... begitu ya !!" Hanna merasa sedikit terkejut mendengar kala mengetahui ibu Siwan ada di dekatnya kini.
" Hanna, aku belum mengatakannya padamu karena kita baru bertemu lagi, aku benar - benar minta maaf dan menyesali apa yang terjadi padamu beberapa minggu yang lalu, gara - gara masalah rumah tanggaku kau jadi ikut terseret ke dalamnya !!" Ayu menggenggam tangan Hanna dan menatapnya penuh penyesalan.
" Sudahlah, semua sudah terjadi, ahjussi sekuat tenaga melindungi ku selain Tuhanku, tidak apa mbak, aku baik - baik saja !!" sahut Hanna.
" Kau tahu, Richard sempat berkali - kali menemuiku dulu untuk menanyakan tentang hal itu, aku tidak pandai berbohong, dia tahu aku masih menyimpannya, dan saat kak Wan terlibat kasus ini, dia berpikir seolah sedang berbisnis dengannya agar apa yang Richard inginkan dapat terpenuhi bagaimana pun caranya, dulu mereka sahabat karib loh, setahuku... !!" Ayu menegaskan ucapannya.
" Benarkah... !!" Hanna merasa belum yakin.
Ayu menganggukkan kepalanya. Namun, saat dia hendak menceritakan sesuatu pada Hanna, tiba - tiba pintu kamar ruang rawat inap Ayu terbuka.
" Tanteu... " pekik Ayu.
Ekspresi wajah Hanna berubah menjadi pucat. Hanna berdiri dari kursinya untuk menyapa ibu Siwan dan ibu Ayu yang mendekat pada mereka.
" Ya ampun, cah ayu, baru ketemu lagi kita, apa kabarnya ?" ibu Ayu memeluk Hanna dan cipika cipiki dengannya.
" Baik bu, alhamdulillah, maaf saya baru sempat lagi berkunjung !!" ucap Hanna mencoba seramah mungkin.
Setelah itu dia menyalami tangan ibu Siwan.
" Sehat kamu nak ?" tanya ibu Siwan.
" Alhamdulillah bu, sehat, ibu sendiri bagaimana kabarnya ?" tanya Hanna, tetap memperlihatkan senyum segarisnya selebar mungkin.
" Sehat nak, ibu sehat, bagaimana dengan Siwan, tadi ibu ke rumah pagi sekali dia sudah tidak ada atau mungkin tidak pulang, dia baik - baik saja kan ?" pertanyaan yang keluar dari mulut manis wanita paruh baya itu terdengar seolah sedang menyindir Hanna.
" Emh... bli Aji bilang padaku dia sedang sibuk mengerjakan proyek baru bu, aku juga belum bertemu lagi dengannya belakangan ini !!" ucap Hanna mencoba tidak berbohong pada orangtua takut kualat.
" Ish... dia memang selalu seperti itu, kalau urusan pekerjaan dia kadang lupa waktu, lupa keluarga, tidak apa - apa ya, kau yang sabar saja !!" ibu Ayu mengusap pundak Hanna seraya memberinya kekuatan.
Lalu, satu menit kemudian ibu Siwan pun pamit pada Ayu dan ibunya, dia memberi waktu untuk Ayu agar beristirahat dan mempersiapkan tenaga untuk besok karena akan menjalani sidang pemeriksaan pertama sebagai saksi dan korban di pengadilan.
Entah mengapa hal itu pun seakan menyuruh Hanna untuk segera undur diri seperti dirinya. Ibu Siwan seolah sedang menguji Hanna untuk menjadi orang yang sadar diri akan posisi dan situasinya saat ini.
Akhirnya Hanna pun pamit pada Ayu dengan alasan harus pergi berbelanja bahan untuk stok isi kulkasnya.
Beberapa menit kemudian..
Hanna dan ibu Siwan berjalan bersama di koridor rumah sakit menuju parkiran mobil mereka.
" Kau pulang sendiri ? ikutlah denganku !!" seru ibu Siwan, ibu Shinta.
" Terima kasih banyak bu, tapi di bawah sudah ada yang menunggu ku !!" jawab Hanna.
" Siapa, supir pribadi ?" tanya ibu Siwan terdengar menyindir.
" Iya supir pribadi yang di kirim oleh anak anda bu, sekaligus pengawal dan mata - mata pribadi untuknya " gumam Hanna, di dalam hatinya.
" Temanku bu !!" jawab Hanna penuh senyuman.
Sesampainya di basement, Hanna dan ibu Shinta berpisah menuju mobil masing - masing. Sebelumnya mereka sempat berpelukan dan cipika cipiki sebagai salam perpisahan.
Bram yang sudah menunggunya di dalam mobil pun bersiap menyalakan mesin mobilnya saat Hanna mendekat dan masuk ke dalamnya.
" Mas Bram, boleh ya aku duduk di belakang dulu kali ini !!" ucap Hanna, yang biasanya selalu ngotot ingin duduk di depan.
" Tentu saja, silahkan mbak, santai saja !!" jawab Bram.
Hanna pun memalingkan wajahnya ke samping, dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sejadinya walaupun tanpa suara, namun Bram tahu kalau Hanna sedang menangis. Lewat kaca spion sesekali Bram menatap Hanna yang masih sesenggukan di kursinya.
Sesampainya di depan rumah.
" Mbak, sudah sampai, mbak, gapapa kan ?" tanya Bram.
" Aku baik - baik saja kok, makasih banyak ya mas Bram, aku mau istirahat saja di rumah, mas Bram pulang aja, istirahat juga " ucap Hanna tanpa menatap wajah Bram.
Setelah Hanna masuk ke dalam, Bram langsung mengeluarkan hp di sakunya dan menelepon seseorang di seberang sana.
Sepulangnya dari rumah sakit, Hanna hanya berbaring di atas sofa. Selama beberapa menit matanya tertutup, namun ia tidak tidur. Berkali - kali ia mencoba berganti posisi berguling - guling di atas sofa namun tidak juga bisa memasuki alam mimpinya.
" Aku sedang di campakkan, apa alasannya, kenapa dia memperlakukan ku seperti ini !!" ucap Hanna yang kemudian terduduk di atas sofanya.
Tidak lama kemudian, suara nyaring bel rumah terdengar di telinganya.
Dengan malas Hanna terpaksa bangkit untuk melihat siapa yang kini berada di luar rumahnya lewat lubang kaca di pintunya.
" Itu dia, panjang umur sekali, baru saja aku bahas orang itu, dasar tua bangka !!" gumam Hanna penuh emosi.
Tidak lama kemudian hpnya bergetar, Siwan mencoba meneleponnya berkali - kali namun tetap tak Hanna hiraukan.
Hanna masuk ke dalam kamarnya, mengganti bajunya dan membersihkan makeup di wajahnya. Setelah itu ia kembali keluar dari kamarnya dan menyiapkan teh hangat untuknya dan beberapa camilan ia bawa dan ia taruh di meja ruang tengah. Dengan santainya Hanna menikmati waktu pembalasan pada Siwan sambil menikmati teh hangatnya dan camilan di depan matanya.
Sesekali dia melihat lewat lubang kaca pintunya apakah Siwan masih berada di depan rumahnya.
Dia masih ada pemirsa, setelah hampir 30 menit Hanna abaikan dia masih berada di halaman rumahnya mungkin sedang duduk di dalam mobilnya karena jendela kaca mobilnya terbuka.
Hanna tak menyentuh hpnya barang setitik pun. Dia hanya meliriknya saat hpnya berkali - kali menyala karena Siwan masih begitu gencar menghubungi nya.
Tanpa terasa, lama kelamaan Hanna merasa lelah dan mengantuk. Dia pun membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya seperti orang yang sedang sakit saja. Padahal cuaca siang itu begitu terik. Tetap saja, kebiasan sejak bayi tidak bisa di hilangkan, mau cuaca panas atau dingin, baik siang ataupun malam, Hanna selalu menyelimuti tubuhnya saat tertidur dengan selimut lumayan tebal.
Di sisi lain....
Siwan sedang merasa khawatir karena kekasihnya tidak kunjung membuka pintu untuknya. Tidak mengangkat telepon darinya, tidak membaca pesannya, bahkan mengganti pasword kunci rumahnya.
Bram, Tio dan Aji menghampiri Siwan yang masih berada di halaman rumah Hanna saat itu setelah hampir 1 jam dia menunggu nya di luar.
" Sumpah kak, dia gak kemana - mana lagi, setelah pulang, bahkan di cctv gak ada tanda - tanda dia keluar rumah !!" ucap Tio.
" 1 jam, ini sudah 1 jam, dia bahkan mengganti pasword pintu rumahnya, aku hanya khawatir terjadi sesuatu di dalam !!" ucap Siwan masih mencoba tetap tenang dengan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berkali - kali.
" Dia lagi tidur mungkin kak, sabarlah... " sahut Aji.
" Bram, kenapa dia bisa menangis setelah pulang dari rumah sakit, apa yang terjadi di sana ?" tanya Siwan.
" I-itu, aku gak tahu pastinya kak, soalnya mbak Hanna maksa menyuruhku menunggu di mobil, tapi, pas mau pulang, aku lihat dia turun bareng seseorang...!!" ucap Bram nampak hati - hati.
" Siapa ?" tanya Siwan.
Bram masih enggan menjawabnya.
" Katakan ?" Aji mencengkram kerah baju Bram.
" Ibu, bareng ibu kak Wan !!" ucap Bram.
Siwan nampak kesal, sorot matanya berubah kembali tajam.
Siwan menyuruh Bram dan Tio kembali ke markas. Sedangkan Aji masih bersamanya mencoba memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam rumahnya.
Dan, ide terlintas di kepala Aji.
" Kak, lewat atas saja, tempat jemuran baju, biasanya Hanna jarang menguncinya, dia hanya mengaitkan besinya saja setelah mencuci baju, lihat, ada jemuran di atas, pasti dia tadi mencuci baju " ucap Aji.
Siwan meneliti sekeliling rumah dari atas sampai ke bawah, kiri dan kanan. Dia mencoba berpikir kembali.
Rumah bergaya minimalis dengan luas 90x96 meter persegi tersebut memang ada lantai dua nya, walau hanya untuk jemuran dan tempat mencuci dan menyetrika. Rumah tanpa pagar dan terdapat garasi kecil untuk motor di sampingnya ini merupakan rumah yang cukup sulit untuk di bobol maling, karena Siwan sendiri yang sudah mendesain sedemikian rupa untuk meminimalisir kemungkinan orang jahat masuk ke dalam rumahnya lewat sudut manapun. Kalaupun bisa, pasti butuh waktu yang lama.
Siwan merasa menyesali hasil kerjanya sendiri kalau begini caranya.
" Ah... sudahlah, kita tunggu saja dia sampai mau membuka pintu untukku !!" ucap Siwan lalu masuk ke dalam mobilnya.
3 jam kemudian...
Hanna baru terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat kan tubuhnya sambil terduduk di atas sofa dan menguap beberapa kali tanpa menutup mulutnya. Menggaruk kepalanya yang terasa gagal karena berkeringat hingga rambutnya berantakan seperti rambut singa.
" Tidurmu sangat nyenyak sekali sepertinya " ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan tingkah lucu Hanna dari mulai bangun dari tidurnya.
" Astagfirullah.... " Hanna terkejut. Matanya berkali - kali ia kucek untuk memastikan apakah dia sedang bermimpi atau tidak.
" Ahjussi... " Hanna melihat Siwan kini sedang duduk dengan santai di sofa lainnya di depannya sambil menumpangkan kakinya.
" Kenapa kau mengubah pasword pintu rumahnya ?" tanya Siwan tanpa basa - basi.
Hanna hanya mengerlingkan matanya tanpa menghiraukan pertanyaan Siwan sedikitpun.
Ia pergi menuju kamar mandi, membuka bajunya dan dengan begitu santainya ia berendam di dalam bathtub sambil sesekali bersiul dan bernyanyi.
Selesai mandi Hanna langsung masuk ke dalam kamarnya, menempelkan lotion di tubuhnya, mengeringkan rambutnya, memakai baju dan barulah dia keluar dari kamarnya lagi.
Siwan masih terduduk di sofa menunggu Hanna dengan sabarnya. Dia tahu, pasti Hanna sedang marah padanya. Banyak alasan yang membuat dia marah padanya. Siwan menyadari hal itu.
Hanna sedang asyik memecahkan beberapa telur di atas mangkuk, dia mengocoknya perlahan, memberi taburan kaldu dan merica, memasukkan potongan daun bawang dan parutan wortel, mengocoknya kembali dan memanggangnya di atas pan yang telah di beri mentega. Membolak balikkan telur panggang nya hingga matang merata dengan cara di lempar seperti koki handal yang sedang beraksi.
Hanna begitu hanyut dengan dunianya sendiri, dia benar - benar tidak menghiraukan Siwan yang kini sedang menatap punggung nya sambil duduk di meja makan.
Setelah selesai memanggang telurnya, Hanna membuat sambal dadakan dengan banyaknya cabe rawit di dalamnya. Seolah dengan sengaja dia melakukan nya karena dia tahu Siwan tidak akan mungkin melarangnya kali ini.
Saat bersama Siwan, akhir - akhir ini Hanna memang jarang makan sambal yang kelewat pedas, ya paling hanya hangat di mulut saja.
Siwan terlalu protektif padanya, dari segala sudut, Siwan terlalu menjaganya, sangat berlebihan untuk ukuran seorang kekasih.
Selesai membuat sambal, Hanna menata semuanya di meja makan. Nasi, telur dadar panggang dan sambal. Hanya itu saja, tidak ada yang spesial.
Meskipun Hanna sedang marah, dia tetap menyediakan piring untuk Siwan. Meskipun pada akhirnya Siwan hanya jadi penonton acara mukbang makan sambal cabe rawit saja.
Siwan tidak bergeming sedikitpun meski melihat kekasihnya bercucuran keringat, bibirnya menjadi merah dan terlihat sangat heboh dengan rasa pedas di mulutnya.
Siwan hanya menyediakan tissue dan mengisi ulang air minum di gelas Hanna beberapa kali.
Hanna benar - benar tidak menganggap Siwan ada sepertinya, hatinya ingin menjerit dan mencaci maki orang yang kini berada di hadapannya. Namun ia hanya menahannya dan melampiaskan semua kekesalannya pada sambal cabe rawit yang ada di depannya.
Dia tidak peduli kalau setelah ini perutnya jadi sakit gara - gara kebanyakan makan cabe.
Setelah selesai makan, Hanna mengangkat jemuran dan merapihkannya di keranjang setrikaan di lantai 2 rumahnya. Siwan tetap membuntutinya dari belakang dan menjaga jarak darinya.
Percayalah, wanita saat marah dengan diamnya lebih menakutkan di banding wanita yang melampiaskan marahnya dengan mengomel dan berisik bagai kaleng rombeng. Paling setelah itu ia menangis karena merasa lega sudah melampiaskan amarahnya.
Selesai dengan jemurannya. Hanna mencuci piring di dapur, lalu barulah dia bisa beristirahat di sofa sambil menonton tv.
Dia bahkan tidak menyentuh hpnya yang berada di atas meja, di hadapannya.
Siwan masih tetap menjadi bayangannya di belakang. Mereka duduk berdampingan hanya saja Hanna tetap masih belum menghiraukan keberadaannya.
Sebetulnya apa yang di rasakan oleh Hanna saat itu ?
Dia merasa rindu, sangat merindukan kekasihnya itu. Tapi kenapa, selama hampir 2 minggu Siwan tidak mau menemuinya, bahkan memberi kabar pun hanya lewat pesan saja. Tidak ada video call yang sering mereka lakukan dulu saat terpisahkan oleh kesibukan dan jarak.
Lalu apa alasannya, kenapa Siwan begitu tega seolah menghindarinya selama dua minggu ini.
Tentu saja Hanna marah, dia merasa sedang di campakkan secara perlahan oleh kekasihnya itu. Di buang dan di biarkan begitu saja saat sudah tidak di butuhkan lagi. Semua wanita pasti akan berpikir hal yang sama bila di perlakukan seperti itu.
Hanna hanya sedang mencoba mengatur hati dan perasaannya agar emosinya tidak meledak dan terjadi hal yang tidak mereka inginkan untuk saat ini.