My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Peringatan



Malam itu, Hanna terlihat sedang duduk di lantai, bersandar pada pinggiran ranjangnya.


Ia merasa menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan Siwan beberapa jam yang lalu. Tanpa terasa air mata mulai berbulir di sudut matanya.


Dua jam yang lalu...


" Siapa dia ? siapa nona Seo Jihye itu ?" tanya Hanna.


Siwan terdiam beberapa saat. Ia tidak merasa terkejut dengan pertanyaan Hanna saat itu. Ia malah sedang menunggu kesempatan untuk menjelaskan pada Hanna tentang siapa Seo Jihye itu.


" Dia kakaknya Yuri, kakak mendiang istriku !!" jawab Siwan, dia terlihat mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


" Lalu... ?" tanya Hanna.


" Dia, calon istriku, dulu... sebelum aku menikah dengan Yuri !!" ucap Siwan.


Wajah Hanna terlihat berkerut, kedua alisnya bertemu, ia belum memahami apa maksud dari ucapan Siwan.


Lalu Siwan menarik tangan Hanna dan mengajaknya duduk di meja makan untuk menceritakan kisahnya.


" Duduklah, aku akan menceritakannya padamu sekarang " ucap Siwan.


Lalu, setelah Hanna duduk di kursinya, Siwan pun mulai bercerita tentang kisahnya dulu.


Jadi, dulu, saat ia berumur 35 tahun, ayahnya menjodohkan nya dengan anak rekan bisnisnya dari kota xxx salah satu kota yang ada di negara Korea Selatan. Ayahnya menjodohkan nya dengan Seo Jihye.


Hanya saja, saat itu, saat Siwan melakukan perjalanan bisnis ke kota di mana Jihye berada, ia malah lebih dulu bertemu dengan adiknya Jihye, yaitu Yuri. Mereka berdua bertemu tanpa sengaja, mungkin takdir yang mempertemukan mereka.


Siwan pun jatuh cinta pada Yuri, saat itu, ia belum tahu bahwa Yuri adalah adik dari wanita yang akan di jodohkan dengannya.


Siwan pun menolak perjodohan itu, ia menemui ayahnya dan berkata akan menikahi gadis lain yang ia pilih sendiri. Ayahnya begitu marah, namun tidak bisa berbuat apa - apa, karena sifat Siwan yang keras, ia tidak mungkin mengubah pilihannya saat itu.


Akhirnya ayahnya membiarkan Siwan untuk menikahi gadis pilihannya itu dan hidup bahagia bersamanya.


Di sisi lain...


Flashback...


Beberapa tahun yang lalu, Jihye sedang berdiri di balik tembok sebuah ruangan di kantornya. Ia nampak seperti menguping percakapan antara dua orang tua yang sedang duduk di sofa di dalam ruangan itu. Mereka adalah ayahnya dan ayah Siwan. Pintu tidak tertutup rapat, sehingga Jihye yang berada di luar, dapat mendengar dengan jelas percakapan di antara keduanya.


Ayah Siwan terdengar berkali - kali meminta maaf pada ayah Jihye karena harus membatalkan acara perjodohan anak mereka. Namun ayah Jihye memakluminya, karena pada dasarnya iti hanyalah keinginan para orangtua saja, bahkan mereka belum pernah bertanya pada anak - ankanya apakah mereka setuju dengan perjodohan itu atau tidak.


Jihye yang merasa patah hati mendengarnya hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar di balik tembok di dekat pintu ruang kerja ayahnya.


Kemudian ia berlari entah kemana sambil menahan air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.


Setelah pernikahan antara Siwan dan Yuri berlangsung, Siwan baru tahu dari ayahnya kalau wanita yang akan di jodohkan dengannya adalah kakak tiri Yuri.


Saat itu, Jihye menghadiri pernikahan adik tirinya dengan wajah yang penuh senyuman, walau hatinya sedang teriris - iris, dia tidak menunjukkan nya pada yang lain. Dia berpikir, mungkin Siwan akan hidup lebih bahagia bersama wanita yang dia cintai di bandingkan dirinya.


" Harusnya aku yang berdiri di sana " ucap Jihye di dalam hatinya.


Suara tepuk tangan membuyarkan lamunannya. Tamu undangan dan keluarga besar kedua belah pihak nampak berbahagia untuk Siwan dan Yuri yang baru selesai melakukan upacara pemberkatan pernikahan di depan altar, dan kini sedang saling berciuman.


Jihye pun dengan berat hati ikut bertepuk tangan untuk kebahagiaan adik tirinya dan pria yang ia cintai.


...*****...


Setelah selesai menceritakan kisahnya, Siwan pun mengajak Hanna makan malam, namun, Hanna masih begitu penasaran dengan satu hal.


" Ahjussi, lalu, sekarang bagaimana ? apakah nona Seo akan kembali di jodohkan denganmu ?" tanya Hanna.


" Tentu saja aku menolaknya, di hatiku saat ini hanya ada kau seorang !!" jawab Siwan.


" Jadi, memang benar, kalian di jodohkan kembali oleh orang tua kalian ?" tanya Hanna.


Siwan merasa lidahnya kelu, ia tak mampu menjawab pertanyaan kekasihnya karena takut Hanna merasa cemas.


" Kenapa, kalaupun memang benar, tidak usah kau sembunyikan dariku, aku tidak akan berbuat apapun, lagi pula, sesuai perjanjian kita dulu, kesempatan kita untuk bersama hanya selama aku masih tinggal di sini, iya kan... " ucap Hanna, lalu tersenyum licik.


" Kau... semudah itu kau berbicara " ucap Siwan terlihat marah.


" Kita memang tidak bisa bersama selamanya kan, terlalu besar perbedaan di antara kita, dalam segala hal " ucap Hanna.


" Diam, hentikan, seperti itukah cara berpikir mu ?" tanya Siwan.


" Kenapa, aku hanya mencoba mengingatkan, apa kau sudah lupa perjanjian kita dulu. Lagi pula, nona Seo terlihat lebih dewasa, lebih berpendidikan, keluarga kalian pasti sederajat, dia cantik dan juga sexy, dia pasti lebih cocok di bandingkan ku yang tidak ada apa - apanya ini " ucap Hanna.


Siwan yang mulai tidak bisa lagi menahan amarahnya mencengkeram dagu dan lengan Hanna dengan keras.


" Apa kau sedang memprovokasi ku, kau tidak sadar ucapanmu seperti apa !!" ucap Siwan dengan mata membelalak.


Hanna merasa kesakitan, dia meringis dan mencoba melepaskan cengkeraman Siwan darinya.


" Kau mulai memperlihatkan sifat aslimu, lepaskan, sakit... " ucap Hanna.


Siwan yang mendengar kata sakit keluar dari mulut Hanna pun perlahan melepaskan cengkeramannya.


" Maaf, aku terbawa emosi, sebaiknya aku pulang saja !!" ucap Siwan, lalu bangkit dari kursinya dan bergegas pergi keluar dari rumahnya.


Di depan rumah Hanna, Siwan kembali menoleh ke belakang, menatap ke arah pintu rumah yang di dalamnya ada orang yang ia cintai saat itu. Selama beberapa detik, ia mengepalkan tangannya, lalu, tanpa terasa air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.


Siwan pun bergegas masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, lalu pergi entah kemana.


Hanna yang masih terdiam di kursinya tidak menyadari bahwa air matanya sudah membasahi pipinya.


Ia membuka apron dari tubuh nya, membantingnya ke lantai lalu berlari menuju kamarnya.


Keesokan harinya, seperti biasa, alarm berbunyi pada pukul 05.00 wita.


Hanna terbangun dari tidurnya dan baru tersadar bahwa ia semalam tertidur di lantai di samping ranjangnya.


Badannya terasa sakit, ia buru - buru terbangun dan mematikan jam beker yang masih berisik mencari perhatian sang pemilik. Setelah di sentuh, jam beker tersebut pun diam dan suasana kembali menjadi tenang.


Hanna merasa badannya pegal - pegal, namun ia harus terbangun dan bersiap - siap pergi bekerja.


Sebelum sarapan, ia sempat meminum obat tolak asin, karena ia takut masuk angin setelah semalaman tidur di lantai hanya beralaskan karpet bulu dan tanpa selimut.


Pukul 06.30 wita, Hanna sudah siap dengan motornya, ia melakukan aktivitas seperti biasanya, seolah tidak terjadi sesuatu padanya, ia nampak bersikap biasa saja.


Sesampainya di loker tempat ia bekerja, Hanna merapihkan tas nya dan melihat hpnya sebentar. Ia baru sadar, dari semalam ia bahkan belum menyentuh hpnya kembali. Baterainya tinggal sedikit lagi, ia pun mematikan hpnya yang tidak terlihat ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab lainnya.


Sebelum menuju salah satu ruangan untuk doa pagi sebelum bekerja, Hanna yang berpapasan dengan Rama pun menghentikan langkah Rama yang terlihat terburu - buru.


" Pak, tunggu sebentar... " ucap Hanna.


" Ada apa Hanna, nanti saja ya, saya sedang terburu - buru !!" ucap Rama, lalu berlari meninggalkan Hanna menuju sebuah pintu. Ternyata Rama masuk ke dalam salah satu toilet karyawan yang ada di ujung lorong dekat tangga.


" Ada apa, Han ?" tanya Melly yang mengejutkan nya dari belakang.


" Ah, tidak kak, sepertinya pak Rama kebelet " ucap Hanna, lalu ia yang bertatapan dengan Melly pun tiba - tiba tertawa bersamaan.


Saat jam istirahat tiba, sebelum pergi beristirahat, Hanna sempat membayar hutangnya pada Rama. Awalnya Rama menolaknya, namun, saat tiba - tiba raut wajah Hanna berubah sedih, secepat kilat ia mengambil uang yang di sodorkan di hadapannya.


" Baiklah, aku terima ya... " ucap Rama.


" Terima kasih banyak ya, pak Rama baik sekali " sahut Hanna sambil tersenyum.


" Astaga, tolong, jangan tersenyum seperti itu padaku, benteng pertahananku bisa ambruk !!" gumam Rama di dalam hatinya.


Saat sedang beristirahat, selesai makan, teman Hanna yang lainnya fokus pada hp masing - masing. Ada yang sibuk berfoto selfi, berbalas pesan dengan pacarnya, bermain game, atau sekedar berselancar di dunia maya.


" Ish... aku bagaikan lalat di sini !!" ucap Hanna.


" Hpku lowbat, semalam lupa di charge !!" jawab Hanna.


" Kasihan, yasudah, sini, kita foto - foto denganku saja " Melly menarik tubuh Hanna.


Melly yang berkali - kali mengubah gaya cerianya, berbanding terbalik dengan Hanna yang hanya tersenyum sedikit saat di foto.


" Kenapa sih bebs, kok lesu gitu... !!" ucap Melly.


" Aku, lagi sedih kak, kalian gak peka amat sih !!" jawab Hanna.


" Ya ampun, sini cerita sama aku, kenapa, ada apa ?" ucap Melly menarik kepala Hanna dan menyandarkannya pada bahunya.


" Aku... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya.


Melly sepertinya paham, Hanna tidak pernah mau curhat padanya saat ada orang lain di dekatnya selain Putri, Melly dan Teguh. Karena hanya mereka teman yang sudah di percaya oleh Hanna di tempat kerjanya.


Melly pun mengajak Hanna pergi dari meja tempat berkumpul makan siang bersama karyawan lainnya di sana. Melly yang sudah berjalan beberapa langkah bersama Hanna menoleh ke belakang.


" Teguh... " teriak Melly, lalu kepalanya mengisyaratkan agar Teguh pun ikut bersamanya.


Kini, di waktu istirahat yang masih tersisa 30 menit lagi, Hanna, Melly dan Teguh sedang duduk di sebuah bangku dekat taman samping parkiran motor, berdempetan.


Hanna pun mulai bercerita masalahnya bersama Siwan secara detail pada Teguh dan Melly.


" Ya ampun Han, aku juga pasti sama keselnya kayak kamu kalau ada di posisi kaya gitu " ucap Melly.


" Ish... kalian ini para wanita bisanya cuma berprasangka buruk terhadap para pria " ujar Teguh.


" Apa sih, diem kamu, cukup jadi pendengar aja di sini !!" sahut Melly.


" Lalu, apa gunanya aku di sini kalau bukan sebagai pengingat pikiran - pikiran kalian yang selalu seenaknya mengutuk para pria " timpal Teguh.


" Terus, menurutmu sebenarnya masalahku ini bagaimana ?" tanya Hanna.


" Kau ini, sudah jelas memprovokasi dia, memancing emosinya, maksudnya apa coba membandingkan dirimu sendiri dengan nona itu " ucap Teguh.


" Maksudmu apa sih, tolong di perjelas !!" seru Melly. Hanna pun menganggukan kepalanya tanda sependapat dengan Melly.


" Kalau kami para pria sudah merasa marah hanya karena wanita membandingkan dirinya dengan wanita lain, aku pribadi juga akan merasa terainggung, misalnya kau, di mata pacarmu kau bagaikan soulmate baginya, lalu kau membantah semuanya begitu saja, menyuruhnya memilih antara kau dengan yang lain, ya pasti dia marah lah, aku juga begitu !!" ucap Teguh.


" Maksudnya ?" tanya Hanna masih belum paham.


" Intinya, kau secara tidak langsung mengatakan bahwa dia salah jalan, jalan yang tertuju padamu , yang dia pikir benar, dengan mentah - mentah kau mencoba meluruskan jalannya, supaya tertuju pada yang lain, berarti kau tidak mempercayainya, tidak mempercayai pilihannya, untuk apa dia mempertaruhkan segalanya untukmu kalau kau tidak bisa mempercayai dirinya, rasanya pasti akan sia - sia saja baginya " ucap Teguh panjang lebar.


" Ah elah, jadi intinya kepercayaan, pacar Hanna merasa kecewa karena Hanna tidak mempercayainya, begitu kan ?" tanya Melly.


" Yups... that's right my boo... " sahut Teguh.


" Tinggal bilang aja daritadi apa susahnya sih, gak usah muter - muter gue pusing, Guh !!" ucap Melly sambil memukul pundak Teguh.


" Aw... sakit... " Teguh mengusap pundaknya.


" Jadi, ini salahku ya, aku yang gak percaya sama dia, malah mencoba terus memprovokasi dia, terus, kenapa dia gak bilang dari awal, kenapa harus menutupi semuanya dariku ?" tanya Hanna.


" Ya... kadang, kita harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, masalah nya ada di waktu sih, kau kurang sabar saja !!" ujar Teguh.


" Oke deh, makasih ya Guh !!" ucap Hanna.


Tanpa terasa, jam istirahat mereka sudah habis. Mereka bertiga pun berlarian menuju pintu keluar masuk karyawan sambil tertawa ria dan bercanda sesekali.


" Ampun... gue takut di plototin pak Rama... " ucap Teguh sambil berlari.


Hahaha... Hanna dan Melly hanya tertawa dan mengikuti nya dari belakang.


Tanpa terasa, waktu sudah menujukkan pukul 15.00 wita, Hanna dan karyawan shift pagi lainnya berhamburan keluar dari pintu karyawan, dengan arah dan tujuan yang berbeda - beda.


10 menit kemudian, Hanna sampai di depan rumahnya. Dan ia begitu heran melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halamannya.


Hanna memarkir motornya di sisi satu nya di halaman rumah. Lalu, saat ia turun dari motornya, dari dalam mobil pun keluar seorang wanita paruh baya yang memakai kacamata hitam.


Hanna dapat mengenalinya secara jelas, bahwa wanita itu adalah ibu Siwan.


Hanna pun mendekat pada ibu Siwan, dan menyalami tangannya yang baru melepas kacamata hitamnya.


" Bu, maaf, sudah lama di sini ?" tanya Hanna.


" Tidak, aku juga baru sampai !!" jawab ibu penuh senyuman.


" Kalau begitu, ayo silakan masuk ke dalam bu !!" Hanna mempersilakan ibu Siwan masuk ke dalam.


Tidak lama kemudian, Hanna dan ibu Siwan kini sedang duduk bersebrangan di sofa.


" Silahkan bu, maaf, saya tidak bisa menyuguhkan sesuatu yang spesial di sini, saya tidak tahu kalau ibu mau berkunjung kemari " ucap Hanna.


" Tidak apa, tidak usah repot - repot, nak !!" ucap ibu Siwan, lalu menyeruput air teh hangat yang sudah di hidangkan oleh Hanna bersama beberapa toples cookies yang baru Siwan beli beberapa hari yang lalu.


Setelah menyimpan kembali gelasnya di atas meja, ibu Siwan kembali berbicara.


" Aku sangat terkejut, kemarin mendengarmu berkomunikasi dengan Jihye menggunakan bahasa Korea, apa Siwan yang mengajari mu ?" tanya ibu.


" Iya bu !!" jawab Hanna sambil menganggukkan kepalanya.


" Maaf, saat itu, aku hanya bisa berkata bahwa kau hanya teman Siwan di depan Jihye " ucap ibu.


" Tidak apa bu, saya paham situasinya " jawab Hanna lalu tersenyum.


" Apa kalian baik - baik saja ?" tanya ibu.


Hanna tidak menjawabnya, namun ibu Siwan sepertinya paham apa yang sedang terjadi.


" Dia, selalu menolak perjodohan dengan siapapun, termasuk dengan Jihye baru - baru ini, aku sendiri tidak pernah ikut campur masalah pribadi Siwan, dia sudah bisa mengatur hidupnya sendiri, aku percaya padanya, hanya saja, ayahnya berpikiran sebaliknya denganku !!" ucap ibu Siwan, seolah dia sedang menjelaskan bahwa dia tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang Siwan hadapi.


Setelah menarik nafas panjang, ibu pun melanjutkan pembicaraan.


" Aku tahu, alasanmu selama ini kenapa tidak mau menemuiku " ucap ibu.


Deg.. dada Hanna mulai berdebar..


" Kenapa, apa kau tidak serius dengan anakku ?" tanya ibu Siwan.


" Bukan begitu bu, sejujurnya saya sangat mencintai dan menyayanginya melebihi kapasitas saya, hanya saja... " ucapan Hanna terhenti.


" Hanya saja... " sahut ibu, kedua alisnya mengkerut, merasa penasaran.


" Saya... maaf, kami tidak bisa bersama selamanya, saya tidak bisa menerima perbedaan di antara kami dalam hal itu, anggap saja saya memang egois." Ucap Hanna.


" Lalu, sampai kapan ? apa kau tidak bisa memikirkan kebahagiannya, kau tahu kan, usianya sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga, umurnya sudah tua, kau tahu, hanya tampangnya saja yang terlihat awet muda " ucap ibu Siwan.


Hanna hanya menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


" Hanna, aku tidak ada masalah denganmu, Siwan memilihmu, aku tidak keberatan, kau pribadi yang sangat baik, jujur, aku pun nyaman bersamamu !!" ucap ibu Siwan.


" Terima kasih bu !!" sahut Hanna.


" Jadi, tolong, pikirkanlah, untuk kebaikanmu, dan juga untuk kebaikan Siwan. Kalau kalian tidak bisa menembus batas itu, sebaiknya pikirkanlah solusi lainnya. Aku sudah tua, begitu juga dengan Siwan."


Hanya itu kata - kata terkahir yang di ucapkan oleh ibu Siwan. Namun, seperti nya Hanna paham apa maksud di balik perkataannya.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna sedang mengantarkan ibu Siwan sampai beliau masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, ibu Siwan sempat memeluk Hanna dengan begitu hangatnya. Saat mobil yang di tumpangi ibu Siwan pergi menjauh, mata Hanna terlihat berkaca - kaca.


Ia pun masuk ke dalam rumah dengan tergesa - gesa dan menerobos kamarnya, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang, dan akhirnya tangisnya yang ia tahan pun pecah, ia menangis sejadinya di bawah bantal sore itu.