
Pukul 03.00 wita, Hanna yang sedang berbaring di sebuah ranjang mulai bergerak, kedua alisnya berkerut, matanya mulai bergeser ke kanan dan ke kiri, aroma woods tercium tajam di ujung indera penciumannya. Aroma hutan basah dan segar membuatnya membuka matanya perlahan.
" Dimana ini ?" Kepala Hanna berputar menelusuri setiap sudut ruang yang tak ia kenali. Aroma yang tercium sangat berbeda dengan kamar dan rumahnya yang berbau musk, oriental miliknya.
Hanna mulai membuka selimutnya dan turun dari ranjang, matanya tertuju pada jam di dinding yang menunjukkan pukul 03.10 wita saat itu.
Lalu ia berjalan menuju pintu kaca yang mengarah pada balkon kamar itu.
Pintunya terkunci, namun dari pintu itu ia dapat melihat bahwa di depannya, sangat gelap, namun netranya mampu menangkap barisan pohon - pohon yang menjulang tinggi dari bawah sana hingga sejajar dengan area kamarnya.
" Dimana ini, tinggi sekali, apa aku ada di tengah hutan "
Dan, Hanna pun baru mengingat kejadian semalam, saat ia baru pulang jalan - jalan bersama Siwan.
Ia pun langsung ambruk di tempat, matanya berkeliling kembali, kali ini di sertai dengan tatapan ketakutan.
Dan, tiba - tiba, dari arah pintu kamar, terdengar suara langkah berapa orang mendekat. Pintu kamar pun terbuka. Namun hanya seorang pria yang mendekat padanya.
Pria itu mungkin seumuran dengan Siwan, atau bahkan lebih karena kerutan di ujung matanya sangat jelas terpampang saat ia tersenyum dan mendekat pada Hanna.
Pria itu berjongkok menatap Hanna dengan tatapan lembut.
Bau aroma kopi di sekitarnya tercium sangat jelas oleh penciuman Hanna.
" Hai, sudah bangun, mari duduklah di kursi, di lantai sangat dingin "
Pria itu berdiri dan berjalan menuju sebuah meja makan karena terlihat beberapa buah dan makanan tertata rapih di atasnya.
Sebelum ia duduk di kursinya, pria itu menunjuk pada kursi lainnya di samping meja, menatap Hanna seolah mengisyaratkan bahwa Hanna harusnya duduk di sana, bukan di lantai.
Dengan berat hati, Hanna pun berdiri dan berjalan perlahan menghampiri kursinya dan duduk di atasanya.
" Kau siapa ?" tanya Hanna to the point.
" Wah... kau sangat penasaran ya, dan maaf aku belum memperkenalkan diriku padamu !!"
Pria yang kini duduk di dekatnya berperawakan kurus, di banding Siwan apalagi Aji yang bertubuh tinggi dan besar. Tinggi pria itu sama dengan Hanna sekitar 165 sentimeter. Dia bermata sipit berkulit putih, berwajah oval, berambut pendek cepak. Penampilannya sangat casual cenderung santai.
" Aku ' pria itu mulai mengeluarkan suara baritone nya kembali ' aku Richard Lee, kakak sepupunya Reno " ucap pria itu.
" Reno... ?" Hanna merasa asing dengan nama tersebut, namun, sepertinya dia pernah mendengarnya akhir - akhir ini.
" Siapa ya, Reno, dimana aku mendengar nama itu " gumam Hanna.
" Kau tidak kenal dia ? baiklah, akan aku perkenalkan, dia adalah suami dari sepupu Siwan, tepatnya calon mantan suami sepupu Siwan " jawab pria bernama Richard itu.
Mata Hanna membelalak, dia baru teringat cerita tentang kdrt yang di lakukan oleh Reno pada istrinya, Ayu. Hanna menjadi gelisah dalam duduknya. Ia mengusap tengkuknya, menelan ludahnya dan tidak berani menatap mata pria itu.
" Tidak usah takut, aku bukan tipe orang yang suka menyiksa wanita, aku lebih ke tipe orang yang sangat menyayangi wanita, mahluk yang sangat cantik, sangat disayangkan kalau mereka hanya di gunakan sebagai samsak belaka " Richard tersenyum dan menyeringai, terlihat lebih menakutkan justru.
" Lalu, kenapa aku di sini sekarang ?" tanya Hanna memberanikan diri.
" Pertanyaan yang bagus, kenapa kau di sini ? mungkin jawabannya akan kau dengar beberapa jam lagi, sekarang, silahkan beristirahat lah kembali, masih terlalu dini untuk sekedar bercakap - cakap " ucap Richard lalu berdiri dari kursinya.
" Tuan Lee, aku harus bekerja pagi ini, tidak bisakah aku kembali ke rumahku ?" tanya Hanna.
" Hahaha... bodoh, kau sanderaku, mana mungkin aku lepas begitu saja !!" gumam Richard.
Richard tidak menjawab pertanyaan Hanna, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu meninggalkan Hanna yang masih termenung di kursinya.
Saat pintu tertutup, Hanna berlari menuju pintu, ia mencoba membukanya namun terkunci.
Hanna menggedor pintunya, " Tuan Lee, tolong, keluarkan aku dari sini... Tuan... " Hanna membuat keributan di pagi yang masih buta.
Richard yang melangkah belum jauh dari kamarnya menghentikan langkahnya, dia berbalik dan berkata pada seorang penjaga di depan pintu kamar Hanna berada.
" Berhati - hatilah, dia wanita Siwan, dia pasti bukan wanita seperti yang kalian pikirkan, dan pastikan dia tidak kelaparan " ucap Richard, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dengan langkah gontai.
" Cih... sial, sepertinya aku sedang di sandera !!" Hanna mondar - mandir di depan pintu kamar, ia merasa frustrasi, mengacak - acak rambutnya lalu berlari menuju ranjang, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atasnya.
Dia melamun beberapa saat, dan kembali memikirkan cara agar dia bisa kabur dari sana.
Saat menoleh ke arah kanannya, ia melihat sebuah pintu, bergegas Hanna bangkit dan berlari menuju pintu tersebut.
Dan, ternyata...
" Kamar mandi... huft... " Hanna merasa kecewa. " Mana mungkin dia bertindak ceroboh menyimpan sanderanya tanpa perhitungan sama sekali.
Hanna berjalan dengan gontai masuk ke dalamnya. Ia membasuh wajahnya dengan air berkali - kali dan menatap wajahnya yang basah di cermin.
" Kenapa nasibku begini amat sih... " Hanna memukul meja wastafel lalu keluar dari kamar mandi.
Ia tidak sudi tertidur di atas ranjang. Hanna pun berjalan ke salah satu sudut ruangan dekat pintu menuju balkon. Ia terduduk sambil memeluk kedua kakinya, menopangkan kepalanya pada kedua sikutnya lalu terdiam.
Lalu ia berdoa sangat khusyuk meminta pertolongan pada yang maha kuasa agar ia masih bisa selamat dan hidup normal kembali.
...****...
Di sisi lain, malam itu, setelah mengantar Hanna pulang sampai ke depan rumahnya, Siwan dengan hati kembali tergores dan perasaan marah, tergesa - gesa meninggalkan Hanna yang masih berdiri di halaman rumahnya.
Bagaimana hatinya tidak merasa sakit, saat ia mulai menggantungkan harapannya pada orang yang ia cintai, namun orang tersebut malah berusaha ingin berpisah darinya.
Untungnya, akalnya masih bisa berpikir rasional, ia masih bisa tetap mengendalikan emosinya dan menyetir dengan penuh kehati - hatian hingga akhirnya ia sampai di rumahnya.
Namun, saat ia hendak masuk ke dalam rumah, tiba - tiba ia mendapat telepon dari Aji.
" Hallo, Ji, kau belum pulang ?" tanya Siwan yang masih berdiri di samping mobilnya.
" Apa ? kumpul di markas sekarang !!" ucap Siwan. Ia langsung masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa menit kemudian, Siwan sudah sampai di markas di sambut oleh seorang pria yang bertubuh besar, lalu masuk ke dalam rumah yang berjarak beberapa meter dari gedung fitness and health center miliknya.
" Kak... " Aji yang melihat Siwan baru datang langsung berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Siwan melihat rekaman cctv di layar laptop yang berada di atas meja.
" Apa ada yang mengikutinya sekarang ?" tanya Siwan.
" Tio mengikutinya sendiri dengan motornya, namun ia berhasil di hadang oleh anak buahnya di tengah jalan, saat ini Tio berada di rumah sakit terdekat daerah xxxx, dekat villa tengah hutan milik Lee, Tio berhasil kabur saat ada polisi sedang berpatroli " ucap Aji.
" Brengs*k, pelakunya Lee, telepon dia sekarang juga !!" ucap Siwan.
Seseorang di antara mereka mengeluarkan hpnya lalu menekan nomor yang ada pada secarik kertas di atas meja.
" Hallo... " ucap pria di samping Siwan.
Siwan merebut hpnya lalu berteriak pada seseorang di sebrang sana.
" Lee brengs*k, apa yang kau inginkan ?" tanya Siwan dengan penuh amarah.
" Jangan berani menyentuhnya seujung kuku pun, kalau tidak, aku akan menghancurkan mu dan keluargamu tujuh generasi ( tujuh turunan bahasa famousnya di indonesia mah )" ucap Siwan.
Siwan membanting hp itu ke lantai setelah seseorang menutup sambungan teleponnya di sebrang sana.
Pemilik hp memungut hpnya yang kini sudah retak dan mati total.
" Untung saja hpnya memang mau ku ganti " gumam pria itu lalu memasukkan hpnya ke dalam saku jaket.
For your information,
Beberapa menit sebelum kedatangan Siwan, Aji dan beberapa orang yang berkumpul di sana berkumpul sambil melihat secarik kertas yang di tempelkan pada pintu rumah Hanna oleh orang yang membekap dan membawanya kabur.
Saat Hanna di bawa kabur, Tio menyusulnya, sedangkan Bram menghampiri rumah Hanna dan menarik tempelan kertas yang ada di pintu rumah, lalu segera menelepon Aji.
" Hp siapa yang mau di ganti ?" tanya Aji, pada pria yang berada di sekelilingnya.
" Gua masih baru Ji, hp Pir tergigit gua ini baru dua bulan " sahut Bram.
" Joko, hp lu aja, mata gua sakit tiap liat lu ngeluarin hp kentang lu, udah retak masih aja lu pake !!" ucap seorang pria sebut saja Bono.
" Oke, nih, tapi ganti keluaran terbaru ya, padahal ni hape juga gua beli dua juta bro, kagak murah " jawab Joko.
" Nanti gua ganti " sahut Aji.
Seperti nya mereka memang sudah hafal betul sikap Siwan bagaimana saat sedang emosi. Dia pasti akan membanting hpnya setelah menelepon orang yang membuatnya marah.
...****...
" Ji, pagi nanti kita ke rumah sakit, kalian bersiaplah dulu, senjata di gudang bawalah, masing - masing dari kalian tidak boleh datang dengan tangan kosong.
Setelah dua jam berunding, Siwan melihat sebagian anak buahnya sudah mengantuk, menguap berkali - kali walau tanpa suara.
" Baiklah, kalian istirahat lah dulu, persiapkan fisik kalian untuk besok !!" Siwan melihat jam di dinding saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 00.30, anak buahnya pun bubar dari rumah tersebut.
Masih terdengar beberapa celotehan anak buahnya saat keluar dari rumah tersebut.
" Gua nginep di gym ya bro, biar deket !!" ucap Bram.
" Iya, gue juga ya, takut celaka gue bawa motor " sahut Joko.
Kembali pada Aji dan Siwan.
" Kak, tidurlah di kamar, sudah ku rapihkan !!" ucap Aji.
" Aku tidak bisa Ji, mataku tertutup, tapi tidak dengan pikiranku " ujar Siwan.
" Dia pasti baik - baik saja, Lee tidak mungkin ceroboh, dia pasti tahu apa akibatnya, tenanglah, kartu matinya, kau masih ingat kan... " ucap Aji.
" Tapi dia tidak main - main dengan ini, dia bisa saja melakukannya !!" ucap Siwan terdengar ambigu.
Aji mengeluarkan satu butir pil dari botol yang berada di atas meja dan memberikannya pada Siwan serta satu gelas air putih.
" Minumlah, supaya kau bisa istirahat, nanti pagi sekali aku akan membangunkanmu " ucap Aji.
Siwan pun menerimanya, lalu meminumnya. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar dan mencoba merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Pagi harinya, pukul 06.30 wita, Aji dan Siwan sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, mereka langsung menuju kamar dimana Ayu di rawat.
Tok.. tok.. tok...
Siwan mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam.
" Selamat pagi bibi, bagaimana kabar kalian ?" tanya Siwan.
" Aku baik nak, ' ibu Ayu memeluk Siwan ' Ayu sendiri masih dalam pemulihan, tapi tidak ada yang serius " jawab bibi Dewi namanya.
Beliau adalah adik dari ibu Siwan yang di adopsi oleh seseorang dan di bawa tinggal di luar pulau Bali. Setelah dewasa dan memiliki anak, bibi Dewi barulah mencari tahu asal - usulnya dari keluarga yang mengadopsi nya. Saat itu, bibi pergi ke Bali membawa Ayu yang masih berusia 7 tahun, menemui ibu Shinta, ibu Siwan. Namun ia kembali ke Yogyakarta karena harus mengurus suami dan keluarganya, namun dia berjanji akan selalu berkunjung menemui kakaknya di Bali saat ia ada waktu senggang.
Dari sorot mata Siwan dan Aji, sepertinya Ayu paham akan apa tujuan mereka.
" Bu, karena ada kak Wan di sini, pergilah sarapan dulu saja, ibu harus tetap sehat dan kuat !!" ucap Ayu.
" Baiklah, kalau begitu aku ke kantin dulu ya, kalian jangan dulu pergi !!" seru bibi.
" Baik bi !!" jawab Siwan.
Sedangkan Aji, dia hanya menundukkan kepalanya saat bibi Dewi lewat, Aji diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan tidak berani menatap wajahnya.
" Ada apa kak ?" tanya Ayu.
" Aku hanya ingin tahu, dimana kau menyimpannya ?" tanya Siwan.
Ayu membuang muka dari hadapan Siwan, ia sepertinya tahu apa maksud dari pertanyaan Siwan.
" Apa betul kau sudah membuangnya ?" tanya Siwan kembali.
" Untuk apa ? apa kau pun menginginkan nya, kau mau menjualnya ? apa kau sedang kesulitan ekonomi ?" tanya Ayu menatap Siwan dengan sorot mata kesal.
" Ayu, Hanna di tahan oleh Tuan Lee... !!" sahut Aji.
" Apa ?" Ayu nampak terkejut.
Beberapa menit kemudian, kini Siwan dan Aji sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju suatu tempat.
Ternyata, mereka menuju gedung miliknya yang di pakai oleh Ayu membuka toko kue.
Siwan dan Aji masuk ke dalam setelah Arya yang sudah berada di dalam membuka pintu masuk lewat samping.
" Ada apa kak ?" tanya Arya.
" Kalian sedang membuat kue kan, tolong berhenti sejenak dan tunggulah di lantai 1 " ucap siwan.
" Baiklah... !!" Arya menepuk tangannya dan mengintruksikan pada rekannya untuk turun ke bawah dan menghentikan aktivitas mereka.
Lalu, 3 orang wanita yang sedang sibuk menghias cake dan pastry pun membuka apron mereka, menggantungkannya di hanger lalu turun ke bawah.
" Arya, kau di sini saja, bantu aku berpikir... " ucap Siwan.
Dan, entah apa yang mereka cari di lantai dua gedung tersebut, yang jelas, mereka menghampiri tumpukan karung tepung yang masih tertutup rapat dan menggesernya satu persatu.
Saat menuju gundukan terakhir, Aji mengerutkan kedua alisnya.
" Kak, mungkin yang ini !!" ujar Aji, karena melihat jahitan di karungnya berbeda.
" Gunting... " ucap Siwan pada Arya.
Arya berlari menuju area peralatan di kitchen, mengambil gunting lalu menyerahkannya pada Siwan.
Siwan membuka karung tersebut, dan matanya membulat.
" Benar, kita sudah mendapatkan nya " ucap Siwan.
Aji pun menutup kembali karung tersebut dan menggotongnya keluar.
" Tolong kau rapihkan kembali, anggap saja tidak terjadi apa - apa !!" Siwan menepuk pundak Arya lalu pergi meninggalkan Arya yang masih terheran - heran.
Kini Aji dan Siwan sedang di perjalanan menuju sebuah kota yang cukup jauh dari kota Denpasar.
" Bisa - bisanya dia menaruhnya di tumpukan tepung, bagaimana kalau seandainya karyawannya mencampurkannya dengan bahan kue lalu mereka cetak dan di jual di toko !!" ucap Aji merasa kesal.
Siwan yang berada di samping Aji tidak berkomentar sedikitpun. Ia hanya fokus memandang jalanan yang ada di sampingnya lewat jendela kaca mobil.
Di dalam mobil Siwan duduk bersama Aji dan dua orang lainnya, di belakang nampak 3 buah mobil berwarna hitam beriringan mengikuti mobil yang Siwan tumpangi.
Setelah hampir 1 setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah hutan, dan terus menerobos jalanan yang nampak gelap meskipun di siang hari, pohon di sekitarnya sangat tinggi dan rimbun, menghalangi cahaya matahari masuk ke dalamnya. Hutan tersebut nampaknya belum terlalu terjamah oleh warga sekitar.
Sesampainya di pintu gerbang, sudah ada deretan anak buah Lee menyambut Siwan dan pengikutnya.
Mobil terparkir di luar gerbang. Siwan dan pengikutnya turun dan berjalan menuju gerbang.
Seseorang menahan langkah Siwan. Suasana menjadi tegang dan sengit.
" Mana barangnya ?" tanya pria bertubuh kekar pada Siwan.
" Ji... " Siwan memberi isyarat pada Aji agar memperlihatkan barangnya.
Aji pun maju sambil menenteng tas berukuran cukup besar.
Anak buah Lee maju dan melihat isi dari tasnya, lalu mengecek barang tersebut dengan cara mencicipinya. ( Pasti sudah tahu kan barang apa itu, seperti tepung berwarna putih )
Anak buah Lee membuka gerbangnya lebar - lebar. Siwan, Aji dan 5 orang anak buahnya masuk ke dalam, sedangkan sebagian lagi menunggu dan berjaga di luar dan di dalam gerbang.
Jaraknya cukup jauh dari gerbang utama hingga menuju rumah yang akan menjadi tempat pertemuan mereka.
Sesampainya di pintu depan rumah, seseorang sudah menunggu mereka di sana, lalu membukakan pintu untuk Siwan dan anak buahnya.
Suasana menjadi semakin tegang di rasa oleh Siwan dan Aji, serta anak buahnya kala mereka mulai menginjakkan kaki di dalam rumah. Mereka sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang ada.
Siwan mempersiapkan dirinya untuk menemui kekasihnya dalam kondisi apapun. Ia berusaha tegar dan menguatkan dirinya sebelum melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang akan di buka beberapa detik lagi oleh anak buah Lee.
Dengan efek slowmotion, Siwan menghela udara sebanyak mungkin dalam satu tarikan, lalu menghembuskannya lewat mulut perlahan dengan kedua pipi menggembung.
Saat kakinya melangkah masuk ke dalam, tiba - tiba ia terhenti, matanya membelalak seakan tidak percaya akan apa yang kedua netranya lihat di depan sana.
Wanita yang ia cintai, sebagian wajahnya berwana merah, terlihat seperti darah.....