My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Kerinduan



Beberapa jam berlalu setelah Hanna memasuki rumah Siwan, kini dia sedang berada di kamar tamu sedang duduk di ranjang sambil memijit kakinya yang terasa pegal - pegal karena lelah membereskan barang untuk pindahan di kostan. Saat itu, dia baru selesai mandi, rambutnya masih basah karena lupa tidak membawa hairdryer miliknya.


Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya, dan dia berjalan menuju pintu dengan langkah terpatah - patah untuk membuka pintunya.


Ternyata orang yang mengetuk pintunya adalah Siwan, dia datang sambil membawa segelas air teh hangat untuk Hanna.


Saat Hanna berjalan kembali menuju ranjangnya untuk kembali terduduk karena masih merasa pegal, dari belakang, Siwan melihatnya berjalan dengan aneh seperti menahan sakit, lalu dia pun bertanya.


" Kaki mu kenapa ? apa kau terjatuh ?" tanya Siwan.


" Tidak, aku hanya merasa pegal saja, mungkin karena tadi beres - beres di kostan." Jawab Hanna lalu duduk kembali di atas ranjangnya.


Siwan menyodorkan gelas pada Hanna. " Ini, minumlah dulu teh nya, rambutmu juga masih basah begini." Ucap Siwan yang melihat rambut kekasihnya basah.


Lalu Siwan berjalan menuju meja rias, dia membuka salah satu laci di meja tersebut dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


" Sini, duduklah, aku bantu keringkan rambutmu dulu." Ucap Siwan menyuruh Hanna duduk di kursi depan meja rias.


Hanna pun berjalan menuju kursi tersebut sambil masih membawa segelas teh di tangannya.


" Ku pikir tidak ada hairdryer disana. Hehe.. " Ucap Hanna sambil cengengesan.


Siwan mulai menyalakan mesin hairdryer nya dan mulai mengacak - acak rambut Hanna.


Setelah terlihat mulai kering. Siwan mematikan mesin hairdryer nya dan kembali merapihkan rambut Hanna.


" Rambutmu sudah sangat panjang, kau tidak mau memotong rambutmu ?" tanya Siwan.


" Aku belum ada niat memotongnya. Apa aku terlihat seperti kuntilanak ?" Hanna menguraikan rambutnya menutupi wajahnya.


" Hahaha... kau malah terlihat seperti Sadako kalau seperti itu." Ucap Siwan merasa geli melihat kekasihnya mencoba menakutinya.


Setelah itu, Siwan menggendong kekasihnya dan membawanya ke atas ranjang.


" Ahjussi, kau mau apa ? jangan macam - macam ya, ada bi Asih di luar, kalau kau ma... " perkataan Hanna terpotong karena bibirnya langsung di kecup oleh Siwan.


" Ssstt... jangan banyak bicara !!" Seru Siwan.


Dan, ternyata Siwan membantu Hanna memijit kakinya yang tadi terasa pegal - pegal.


" Kau bersantai saja, aku hanya mau memijat kakimu !! Seru Siwan kembali.


" Baiklah, terima kasih banyak ya, chagiya. " Ucap Hanna lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjangnya.


Selama beberapa menit Siwan dengan sabar memijat kaki Hanna dari mulai betis hingga telapak kaki.


Dan, berkali - kali pula Hanna menguap merasakan kantuk. Hanya saja Siwan terus menggodanya, mengajaknya bercanda hingga menggelitiknya.


" Jangan dulu tidur, lebih baik makan malam dulu yuk, kita turun sekarang." Ajak Siwan.


" Hemh... baiklah, tapi... gendong ya." Ucap Hanna dengan manja.


Siwan menuruti permintaan kekasihnya. Hanna pun naik ke punggung Siwan dan mulai berjalan keluar dari kamar. Namun, saat menuruni tangga, Siwan mulai merasa kesulitan berjalan, dia takut tersungkur jatuh bersama kekasihnya itu.


" Ahjussi, sudah turunkan saja aku disini, apa aku sangat berat sampai kau kesulitan seperti itu." Ucap Hanna.


" Tidak, aku hanya merasa lemas karena belum makan. " Ucap Siwan masih berusaha menuruni tangga menggendong Hanna.


Mereka tertawa cekikikan dengan kekonyolan yang di lakukan oleh Hanna yang malah menambah beban dengan bergoyang - goyang di atas punggung Siwan.


Saat berusaha menuruni anak tangga yang terakhir, tiba - tiba datang Austin yang baru pulang bekerja bertepuk tangan membuat keduanya nampak terkejut.


Dengan secepat kilat Siwan langsung menurunkan Hanna dari punggungnya karena merasa kaget.


" Waw, so sweet... irinya hatiku ini.. " Ucap Austin melihat kelakuan Siwan dan Hanna yang terlihat seperti anak remaja.


" Hallo kak, baru pulang ?" tanya Hanna merasa kikuk.


" Tentu saja, memangnya kau pikir aku habis dari club malam..." Ucap Austin menggoda Hanna.


" Ish... " Hanna menatapnya dengan tatapan Sinis.


" Kami mau makan malam duluan, kau menyusul saja ya !!" Seru Siwan.


" Iya silahkan, aku tidak mau mengganggu acara candle light dinner kalian." Ucap Austin terus menggoda Hanna.


Hanna hanya menjulurkan lidahnya mengejek Austin lalu berjalan melewatinya dengan mendorong Siwan menuju meja makan.


Austin hanya tersenyum melihat tingkah laku konyol Hanna. Baginya, Hanna sudah seperti seorang adik perempuan. Karena kebetulan dia hanya memiliki seorang adik laki - laki.


Sesampainya di meja makan, bi Asih ternyata sudah menunggu mereka. Semua hidangan sudah tersedia di atas meja.


" Wah, maaf ya bi, aku tidak ikut membantu menyiapkan semua ini. " Ucap Hanna merasa tidak enak hati.


" Loh, biarin cah ayu, gak usah repot - repot, kamu pasti capek kan habis ngurusin mau pindahan. " Jawab bi Asih.


" Iya bi, hihi... makasih ya. " Ucap Hanna.


" Yasudah, kalian makan dulu, bibi ke belakang dulu ya." Ucap bi Asih berpamitan.


Siwan dan Hanna pun memulai acara makan malam mereka. Suasana meja makan terasa sepi, tanpa ada percakapan di antara mereka. Keduanya hanya fokus melahap nasi yang ada di hadapan mereka.


Beberapa kali mereka hanya saling berbalas tatapan dan saling tersenyum.


Sejujurnya Siwan begitu merindukan Hanna. Bahkan dia merasa terpesona dengan aura yang terpancar dari wajah kekasihnya malam itu. Namun dia tidak bisa berbuat apa - apa karena ingin menghargai kekasihnya. Buru - buru dia menepis berbagai macam pikiran aneh para lelaki di dalam otaknya. Siwan berusaha keras untuk tidak menatap wajah Hanna kembali.


" Ahjussi, kau kenapa ?" Hanna seperti menyadari tingkah aneh Siwan saat itu.


" Aku, melupakan sesuatu, hari ini aku belum mengecek laporan yang masuk. Setelah makan malam, kau langsung ke kamar saja kalau mengantuk, aku akan berada di ruang kerja untuk mengecek dulu pekerjaanku." Ucap Siwan seperti baru menemukan alasan yang tepat untuk menghindari kekasihnya.


Hanna hanya menganggukan kepalanya sambil menatap kekasihnya itu.


Sebelum Siwan pergi, untungnya datang Austin yang akan menemani Hanna di meja makan. Sebelum pergi, Siwan sempat menghampiri Hanna dan mengecup keningnya.


" Mau kemana dia ?" tanya Austin yang kini sudah duduk di depan Hanna.


" Katanya ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Jawab Hanna.


Saat Austin mulai menyendok makanan ke mulutnya, saat itu pula Hanna selesai menghabiskan makanan di piringnya. Dia lalu membereskan piring kotor bekasnya dan Siwan, menaruhnya pada wastafel di dapur. Setelah itu dia duduk kembali di hadapan Austin sambil menikmati teh hangat pada gelasnya. Hanna menemani Austin yang sedang menghabiskan makan malamnya.


" Apa kau sedang menonton ku makan ?" tanya Austin merasa risih terus di tatap oleh Hanna.


" Kak, boleh aku tanya sesuatu ?" ucap Hanna.


" Apa ?" jawab Austin secepat kilat.


" Kapan pertama kali kau bertemu ahjussi ?" tanya Hanna.


" Kau mau mendengar ceritaku ?" Ucap Austin.


Hanna menganggukan kepalanya pertanda setuju.


" Ish... kau mau apa memangnya ?" tanya Hanna terdengar sewot.


Dan Austin berbicara pada Hanna dengan suara setengah berbisik. Ternyata dia meminta Hanna untuk menghubungi Pat dan menanyakan kabarnya saat ini.


" Ish... kau ini, kalau kangen telepon sendiri lah, gak usah gengsi." Ucap Hanna sambil mengeluarkan hp dari saku kemejanya.


Hanna langsung mencari nomor Pat di list kontak hpnya, dia mencoba untuk menghubungi nya lewat video call.


Kebetulan tidak lama Pat langsung mengangkat panggilan dari Hanna. Mereka mulai berbincang - bincang, bertanya kabar masing - masing dan kegiatan Pat saat ini.


Ternyata saat itu Pat sedang berada di Amerika, selang dua hari pulang dari Jakarta dia langsung terbang ke Amrik karena ada kontrak pekerjaan baru, dia menjadi model untuk salah satu majalah yang ada disana.


Hanna tentu senang mendengarnya, karir Pat akhirnya mulai ada peningkatan, karena dari dulu Pat pernah bercerita bahwa dia ingin mengembangkan karir modelingnya hingga ke Amerika atau Eropa.


Lama kelamaan saat mereka mengobrol, Pat seperti baru menyadari suasana rumah di belakang Hanna.


" Kamu sedang di rumah pacarmu ?" tanya Pat akhirnya menyadari nya.


" Iya, aku bermalam disini." Ucap Hanna lalu menceritakan tentang rencana pindahan kostannya hari itu.


" Oh... begitu, nanti kalau aku ke Bali boleh ya berkunjung ke tempat mu ?" tanya Pat.


" Tentu saja, datanglah nanti aku beri tahu alamat baruku. " Jawab Hanna.


Selang beberapa detik, Hanna melihat baterai hpnya sudah merah. Sebelum hpnya mati sendiri Hanna langsung memutuskan untuk mengakhiri percakapannya bersama Pat saat itu. Setelah saling berpamitan dan saling mendoakan, Hanna menutup panggilan video callnya bersama Pat.


" Sudah puas ?" tanya Hanna pada Austin.


" Oke, makasih banyak ya, adik ipar !!" Jawab Austin lalu pergi untuk menyimpan piring kotor bekas makannya ke wastafel lalu berniat untuk mencuci piring.


Hanna yang mulai menyadari sesuatu langsung bergerak menghampiri Austin.


" Kak, biar aku saja yang cuci piringnya." Pinta Hanna.


" Baiklah, silahkan, aku tidak akan melarang mu." Ucap Austin lalu mecuci tangannya yang sudah terkena sabun.


Setelah itu, Austin merapihkan meja makan dan menutupi makanannya dengan tudung saji. Lalu mendekati Hanna kembali yang sedang mencuci piringnya.


" Kau mau mendengarkan ceritanya kapan ?" sekarang ?" tanya Austin yang berdiri di samping Hanna.


" Nanti saja, tahun depan, oke !!" Jawab Hanna menatapnya sinis.


" Ish... sensi amat sih." Austin mengacak - acak rambut Hanna. Lalu dia mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Siwan.


" Jadi, dulu, tahun berapa ya ?" Austin sedikit lupa tentang tahun yang terjadi saat itu, apalagi tanggalnya.


Yang jelas saat itu waktu dia masih bekerja di Makau sebagai asisten dokter di salah satu rumah sakit swasta. Karena saat itu Pat tinggal disana dan sudah menjadi salah satu model majalah disana. Austin mati - matian belajar bahasa mandarin sebelumnya supaya bisa menyusul Pat ke Makau dan tinggal bersamanya disana.


" Oh... jadi kau bertemu ahjussi pertama kalinya di Makau ?" tanya Hanna yang sedang mengelap tangannya, sudah selesai mencuci piringnya.


" Yap, kami bertemu di rumah sakit saat itu. Kau tahu, dia habis di keroyok orang saat itu, sampai babak belur." Ucap Austin.


" Kenapa dia ?" tanya Hanna merasa penasaran.


Austin lalu berjalan menuju ruang tengah, di ikuti oleh Hanna di belakangnya. Austin lalu duduk di sofa dia lalu menyalakan tv tanpa menghiraukan Hanna yang mengikutinya sedari tadi dan kini duduk di sampingnya.


" Kak Os, ayo ceritakan lagi, kau malah membuatku semakin penasaran." Ucap Hanna.


" Emh... kau tanya sendiri sana sama pacarmu, aku tidak mau kak Wan marah padaku karena sudah membocorkan rahasianya." Jawab Austin menatap Hanna lalu tertawa cengengesan.


" Kalau tidak niat lebih baik dari awal tidak usah cerita, bikin orang kesal saja. Huh... " Hanna berkata sambil cemberut.


" Hahahaha... aku suka melihatmu cemberut seperti itu." Austin terus menggoda Hanna.


Karena kesal, lalu Hanna bertanya dimana ruang kerja kak Wan, dia mau menghampiri nya saja daripada harus berduaan dengan Austin selalu membuatnya kesal dan emosi.


Lalu Austin menunjukkan letak ruang kerjanya yang ada di samping kamar tidur Siwan di atas. Hanna pun langsung pergi meninggalkan Austin sendirian di ruang tv.


Sesampainya di depan pintu ruang tersebut, Hanna mengetuk pintuya perlahan. Lalu terdengar olehnya suara Siwan menyuruhnya masuk. Hanna pun langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam. Tidak lupa dia menutup kembali pintunya.


" Kau belum tidur ?" tanya Siwan.


" Aku jadi tidak mengantuk gara - gara kak Os selalu membuatku kesal. " Ucap Hanna mengadu pada Siwan.


" Kenapa memangnya ?" tanya Siwan dengan sedikit tersenyum melihat kekasihnya yang di buat kesal oleh Austin.


" Emh... tidak penting sih, hanya bercanda. Ahjussi, kau lanjutkan saja pekerjaan mu, aku akan duduk dengan tenang disini sampai aku merasakan kantuk kembali. Boleh ya... ?" tanya Hanna yang sudah duduk di sofa sebrang meja kerja Siwan.


" Baiklah, kau duduk saja, aku akan meyelesaikan pekerjaanku sebentar lagi." Jawab Siwan.


Hanna duduk dengan santai sambil sesekali matanya berkeliling melihat suasana ruang kerja Siwan. Beberapa kali ia menatap kekasihnya yang sedang fokus dengan layar laptopnya sambil sesekali mencatat sesuatu di sebuah buku.


Hanna merasa terpana melihat Siwan yang begitu fokus melakukan pekerjaannya. Siwan yang memakai kacamata, dengan wajah serius namun tetap telihat berkharisma dan mempesona bagi Hanna.


" Ya ampun, jantungku." Ucap Hanna di dalam hatinya, lalu memegang dada sebelah kirinya lalu tersenyum usil sambil menatap vas bunga yang ada di meja di hadapannya.


" Chagiya, kau kenapa ?" tanya Siwan yang ternyata memperhatikan tingkah Hanna saat itu.


" Emh... tidak ada, jangan hiraukan aku, kau fokus saja." Jawab Hanna.


" Kemarilah, mendekatlah padaku !!" Seru Siwan.


Lalu Hanna pun berjalan perlahan mendekati Siwan.


Dan tanpa di sangka - sangka, Siwan langsung menarik Hanna ke atas pangkuannya. Lalu Siwan merangkul pinggang Hanna dan berkata...


" Aku sangat merindukan mu, chagiya, malam ini, tidurlah bersamaku !!" Ucap Siwan lalu mengecup bibir kekasihnya.


Selama beberapa menit mereka berciuman penuh gairah dan saling menumpahkan hasrat kerinduan yang ada di benak masing - masing. Hingga tanpa terasa, kancing kemeja Hanna sebagian sudah terlepas akibat ulah Siwan. Dan Hanna yang saat itu hanya memakai rok pendek pun merasakan sesuatu di bawahnya. Sepertinya dia membuat sesuatu yang berada di bawah kekasihnya itu terbangun.


Siwan mulai mengecup leher kekasihnya, lalu turun ke area bawah. Dia mulai lupa dengan perkataannya kembali saat berdua bersama kekasihnya, dia benar - benar tidak bisa mengendalikan hasratnya untuk melampiaskan kerinduannya saat itu.


Siwan mulai kembali menjamah area sensitif kekasihnya itu, dua gunung kembar milik Hanna benar - benar membuat Siwan tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuhnya.


Hanna pun mulai merasakan panas di seluruh tubuhnya, dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia mencium bibir Siwan dengan penuh nafsu saat kedua tangan Siwan terus menyentuh area sensitifnya.


Lalu, tiba - tiba, terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Hanna dan Siwan terkejut dan langsung menghentikan aktifitas gila mereka saat itu.


Hanna langsung turun dari pangkuan Siwan laku membetulkan kancing kemejanya yang sudah terbuka sebagian akibat ulah Siwan.


Setelah memastikan semuanya rapih seperti semula, Hanna lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Dan saat dia membuka pintunya, ternyata Aji lah yang berada di ambang pintu ruang kerja Siwan saat itu.


" Maaf mengganggu kalian, boleh aku masuk ke dalam ? " tanya Aji pada Hanna.


Hanna terlihat gelagapan menjawab Aji. " Masuklah, aku mau pergi ke kamar, sudah mau tidur kok." Ucap Hanna lalu keluar dari ruang kerja Siwan dan menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Hanna membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia benar - benar merasa senang walaupun hanya sebentar bisa bercengkerama dengan kekasihnya. Lalu Hanna terbangin kembali dan pergi menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu, dia bersiap - siap untuk tidur.