
WARNING,,mengandung adegan 18+...
Beberapa jam berlalu...
Kini, Hanna terlihat begitu cantik dan mempesona memakai sebuah long dress lengan panjang berbahan lace warna merah muda dengan model sabrina di bagian atas. Long dress yang hanya 5 centi di bawah lututnya itu sedikit berbentuk payung, terlihatnya semakin anggun bak seorang putri dari negeri khayalan. Haha...
Rambutnya yang panjang berwana hitam dengan highlight coklat tua, ia curl di bagian bawah, rambut panjang nya nampak menjadi agak keriting menggantung dengan big layer di bagian bawah, menutupi sebagian dadanya yang agak terbuka.
Ia nampak terpesona sendiri oleh penampilannya saat itu. Ia berulang kali bergaya di depan cermin hendak mengabadikan kecantikannya lewat foto dan membagikan di akun instagrem nya.
Lalu, beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson mobil di depan rumahnya. Ia pun terburu - buru keluar dari kamarnya menuju pintu keluar rumahnya sambil menjinjing sepatu heels dan tasnya yang berukuran sedang berwarna silver.
Hanna masuk ke dalam mobil berwarna merah milik pak Rama, yang di dalamnya sudah ada Teguh, Melly dan pak Rama sendiri yang menyetir mobilnya.
Mereka janjian untuk pergi bersama menuju hotel lokasi acara pesta manajer toko mereka kali itu.
Hanna yang masuk tanpa memakai sepatu sempat di tertawakan oleh Melly dan Teguh, saking takut terlambat ia dengan santainya hanya menjinjing sepatunya di tangannya.
Namun, berbeda dengan pak Rama yang nampak sangat terpesona oleh penampilan Hanna kali itu, dia terlihat sangat terpukau melihat kecantikan Hanna yang terpancar di malam hari yang kini duduk di sampingnya di jok depan mobilnya.
" Pak, ayo jalan... " ucap Hanna pada pak Rama yang terlihat masih menatapnya.
" Eh... iya, maaf !!" ucap pak Rama, lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju lokasi tujuan mereka.
Sesampainya di ballroom sebuah hotel bintang 5, sudah banyak tamu undangan yang hadir di sana.
Acaranya terlihat sangat megah dan mewah untuk ukuran pesta ulang tahun kala itu.
Setelah menemui bu Merry dan menyalaminya serta memberinya ucapan selamat, Hanna, Melly dan Teguh kini sedang berkumpul bersama teman - teman mereka yang lainnya, pak Rama terlihat sedang mengobrol bersama Satria dan beberapa staff lainnya yang hadir.
Beberapa menit berlalu, kini Hanna sedang berada di dekat balkon sambil menikmati segelas orange juice di tangannya.
Saat ia sedang menikmati suasana malam sendirian, di sana, terdengar suara langkah sepatu kets mendekat. Saat ia menoleh, ternyata Satria lah yang datang mendekat padanya.
Di antara puluhan gadis yang hadir di pesta tersebut, hanya seorang saja yang mampu menarik perhatiannya sejak awal melihatnya. Ia, dia adalah Hanna, gadis yang menarik hatinya sejak dulu mereka bertemu untuk pertama kalinya.
" Hai, sendirian aja, maaf ya, aku baru menyapamu, tadi aku sibuk menyambut tamu yang lainnya. " Ucap Satria pada Hanna.
" Ah... iya, tidak apa - apa pak, aku mengerti. " Ucap Hanna sambil kembali menyedot orange juice nya.
Di dalam hati, Hanna berkata, " gak penting juga kali ah... lebih baik aku sendiri."
" Jangan panggil pak dong, kita kan lagi berdua, lagi pula kita bukan lagi di tempat kerja." Ucap Satria.
Hanna hanya tersenyum sebentar, lalu dia menyadari bahwa kini gelasnya sudah kosong.
Dan, dengan sigap Satria menawarkan dirinya untuk mengambilkan segelas orange juice lagi untuknya, padahal Hanna sudah berusaha menolaknya dan akan mengambil nya sendiri. Namun Satria langsung pergi tanpa mendengar ucapannya yang terakhir.
Hanna masih menunggunya di balkon, lalu, tidak lama Satria datang membawa dua gelas orange juice di tangannya. Lalu menyodorkan salah satunya pada Hanna.
" Terima kasih ya.. !!" Ucap Hanna lalu mengambil gelas dari tanga Satria.
Mereka berdua mengobrol lumayan lama di sana. Karena acara di dalam agak membosankam bagi Hanna, ia pun tetap berada di balkon bersama Satria walaupun sebenarnya ia ingin sendirian saja.
Lalu, Hanna merasakan sakit di kepalanya, semakin lama ia semakin merasakan pusing menderanya.
" Han, kamu kenapa ? kamu sakit ?" tanya Satria.
" Aku, gak tahu mas, kepalaku pusing, rasanya berat sekali. " Ucap Hanna sambil meringis menyentuh kepalanya.
Satria mengambil gelas di tangan Hanna dan menaruhnya di atas meja yang ada di balkon.
" Aku anter kamu pulang aja yuk !!" seru Satria lalu membopong Hanna perlahan menuju pintu keluar ballroom.
Tanpa menaruh curiga apapun, Hanna pun bersedia di ajak pulang oleh Satria.
Lama semakin lama tubuhnya semakin terasa lemas. Semakin kuat Satria menahan beban tubuh Hanna sambil berjalan menuju suatu tempat.
Flashback...
Satria, dengan akal jahatnya, memasukan serbuk obat tidur ke dalam gelas minuman Hanna tanpa terlihat oleh siapapun saat itu. Dia lalu berjalan menghampiri Hanna dan menyerahkan gelas yang berisi obat tidur padanya.
Dan, tanpa menaruh rasa curiga apapun terhadap Satria, Hanna langsung meminum orange jus di gelas yang berada di tangannya.
Kembali pada Hanna dan Satria.
Hanna masih sadar dan berjalan terhuyung - huyung seperti orang yang mabuk. Masih bersama Satria di sampingnya yang membopongnya. Mereka masuk ke dalam sebuah lift menuju lantai 12 saat itu.
Hanna sempat mendorong tubuh Satria yang masih merangkulnya. Namun, karena kesadaran dan tenaganya sudah semakin menurun, Satria dengan tenaganya kembali meraih tubuhnya.
Saat pintu lift terbuka, mereka berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di depan sebuah kamar. Satria mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka kamar tersebut.
Ia membawa Hanna masuk ke dalamnya, tidak lupa ia kembali mengunci pintunya dan menaruhnya di sakunya kembali.
Satria melihat Hanna sudah hilang kesadaran. Hanna terkulai lemas di pangkuan nya, lalu ia memangku Hanna dan membawanya masuk ke dalam kamar dan menidurkannya di atas ranjang.
Satria tersenyum kemudian tertawa jahat melihat Hanna tak berdaya di hadapannya.
Perlahan, dia mendekatkan wajahnya pada Hanna dan mengendus wangi tubuhnya dari atas sampai bawah.
Ia lalu mengelus rambutnya dan menatap wajah Hanna penuh nafsu dengan tatapan mata jahatnya.
" Aku tidak akan seperti ini, seandainya kau mau memberiku kesempatan !!" Ucap Satria lalu mencium bibir Hanna yang sedang tertidur lelap.
Satria mulai menggerayangi tubuhnya. Ia mulai melepaskan baju dari tubuh Hanna dengan perlahan dan penuh nafsu.
Dia sempat menciumi Hanna di berbagai bagian tubuhnya.
Kini, Satria mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Beberapa detik kemudian, tubuh putih mulus berototnya sudah terlihat hendak menindih tubuh Hanna saat itu.
Namun, tiba - tiba, ada seseorang yang menarik tubuh Satria dan meninjunya tepat di pipinya.
Lalu, dari belakang terdengar suara teriakan seorang wanita, dia terlihat terkejut melihat Satria di pukul habis - habisan oleh pria itu. Dia adalah Aji, dan wanita itu adalah Melly.
Lalu, disana pun ada Patricia berdiri di ambang pintu kamar, menghampiri Hanna yang terbaring di atas ranjang.
Dan ia buru - buru menyelimuti Hanna yang terbaring dan terlihat hanya mengenakan bra dan celana dalam saja.
" Sudah, hentikan, kumohon. " Ucap pak Rama menahan Aji yang sudah membuat Satria babak belur saat itu.
Dua jam yang lalu....
Aji berada di depan rumah Hanna saat itu. Dengan mengendarai motornya.
Ia melihat rumah Hanna gelap, dia pikir Hanna lupa menyalakan lampunya. Mungkin sedang tertidur saat pulang kerja.
Ia lalu memencet bel berulang kali, namun, pintu masih tetap tertutup rapat. Ia kemudian mengeluarkan hpnya dari saku jaketnya. Lalu mencoba menelpon Hanna. Namun, Hanna tidak mengangkat telepon darinya. Berulang kali ia mencoba, namun tetap tidak di angkat.
Aji kembali ke markas, tidak jauh dari rumah Hanna.
Ia menggedor pintu dengan kasar. Saat seseorang membuka pintunya, ia langsung masuk ke dalamnya dan menuju sebuah komputer yang berada di salah satu sudut ruangnya.
Ia melihat rekaman cctv saat Hanna keluar dari rumahnya terburu - buru sambil menjinjing sepatu dan tasnya. Kemudian masuk ke dalam sebuah mobil briow berwarna merah.
" Kalian, kenapa tidak memberitahu ku kalau dia pergi, lalu kenapa kalian masih tetap di sini, tidak ada yang mengikuti nya, sekarang cepat kita berpencar, cari dia... " Ucap Aji sambil melepaskan kerah baju orang yang daritadi ia cengkram dengan penuh amarah.
Aji terlihat marah, ia khawatir terjadi sesuatu pada Hanna karena ia tidak mengangkat teleponnya sedari tadi.
Aji keluar dari rumah tersebut dan mengganti kendaraannya menjadi sebuah mobil sports berwarna putih.
Saat berada di perjalanan yang tujuannya entah akan kemana, ia mendapat telepon dari seseorang. Ternyata dia Patricia.
Dan, beberapa menit kemudian Aji nampak sudah bersama Pat di dalam mobil, ia sempat menjemput Pat yang berada di depan sebuah apartemen saat itu.
Aji menceritakan tentang kekhawatirannya pada Pat, lalu, Pat pun mencoba menelepon Hanna saat itu.
Satu jam lamanya Aji dan Pat berkeliling tanpa tujuan mencari sebuah mobil berplat nomor xxxxxx yang tadi Hanna naiki.
Mereka berhenti tepat di pinggir jalan di depan sebuah hotel saat itu, lalu Aji kembali mencoba menelpon Hanna kembali, dan, kini, raut wajahnya berubah menjadi lega saat teleponnya di respon kali ini.
" Hallo, Hanna... kamu dimana ?" tanya Aji.
Namun, yang terdengar menjawab teleponnya saat itu bukanlah Hanna, melainkan suara wanita lain yang tidak di kenalnya.
" Hallo, maaf, apa ini pacar Hanna ?" tanya wanita di sebrang sana.
" Bukan, aku teman, maksudku, kakaknya, dimana Hanna ?" tanya Aji.
" Aku tidak tahu, aku sudah mencarinya, ini tasnya ada bersamaku tadi dia tinggal di meja, ku kira dia sedang ke toilet, tapi, aku mencarinya di sana, dia tidak ada, bahkan dimana pun, aku tidak melihatnya. " Wanita itu berbicara panjang lebar.
" Dimana kalian sekarang ?" tanya Aji dengan wajah penuh kerutan.
Lalu, setelah mendapat lokasi yang di beritahu oleh teman wanita Hanna saat itu, Aji langsung menutup teleponnya, menyalakan mesin mobilnya dan memutar arah.
" Dimana dia ?" tanya Pat pada Aji yang terlihat sangat khawatir.
Dia di hotel xxxxx ada pesta ulang tahun manajernya, tapi dia meninggalkan tasnya di meja.
Sesampainya di hotel tujuan, Pat dan Aji buru - buru berlari menuju ballroom, di sana, dari kejauhan, di ambang pintu ia melihat seorang wanita sedang menjinjing tas yang Hanna bawa dan seorang pria yang sedang memegang hpnya terlihat hendak menelepon seseorang.
Beberapa menit kemudian, mereka berempat sekarang sudah berada di ruang cctv untuk mencari Hanna, siapa tahu terekam oleh kamera di sana kemana Hanna pergi saat itu.
Aji meminta ijin sang manajer hotel saat itu yang kebetulan kenal dengan Siwan karena sang pemilik hotel merupakan teman Siwan.
Setelah menemukan Hanna. Mereka buru - buru menuju lantai 12 di temani oleh sang manajer hotel saat itu.
Kembali pada suasana kamar no 205, dimana Aji dengan penuh amarah menatap Satria yang terkapar menahan rasa sakit setelah di hajar habis - habisan oleh Aji.
Seandainya saat itu tidak ada yang menahannya, ia pasti sudah membuat ambulance datang ke hotel untuk menggotong Satria saat itu.
Pak Rama, dia pun terlihat marah pada Satria, namun dia masih berbaik hati mau memberikan pakaian Satria yang tergeletak di lantai saat itu dan membuangnya ke wajah Satria.
Aji yang sudah terlihat tenang, kembali menghampiri Satria dan menendang tubuhnya hingga kembali terkapar di lantai.
Rama dan manajer hotel kembali menahan Aji sekuat tenaga. Pat dan Melly yang sedang membantu Hanna memakaikan pakaian Hanna kembali merasa ketakutan melihat Aji kehilangan kewarasannya.
Setelah beberapa menit berlalu, kini Aji, Rama dan Satria sudah berada di luar kamar, Satria terlihat meringis kesakitan saat di obati oleh salah satu pegawai hotel saat itu.
Aji sempat ingin melaporkan nya pada polisi atas perbuatan Satria saat itu, namun manajer hotel mencegahnya dia berpikir nama baik hotelnya akan tercoreng apabila sampai kejadian ini di ketahui oleh publik. Sang manajer berusaha menengahinya, dia mencoba menenangkan hati Aji dan memintanya untuk membicarakannya dahulu, dan menyelesaikan secara baik - baik.
" Aku belum menyentuhnya, seandainya kau tidak datang, aku pasti sudah menikmati tubuhnya." Ucap Satria sambil tersenyum.
Amarah Aji kembali memuncak, dia langsung menghampiri Satria dan kembali memukulnya " Dasar psikopat brengs**k, seharusnya aku membuatmu mati dari tadi."
Rama dan Christ sang manajer hotel kembali kewalahan menahan Aji dan menyeretnya menjauh dari Satria. Sang pegawai hotel pun bahkan hampir terkena tinju oleh Aji saat itu.
Lalu, tidak lama kemudian, Pat dan Melly keluar dari kamar karena kembali mendengar keributan.
" Aji, stop, please... !! teriak Patricia.
Aji dengan nafas terengah - engah, dadanya naik turun, wajahnya penuh amarah, namun masih bisa menahan emosinya kali ini karena ada seorang wanita di dekatnya.
Suasana kembali tenang, saat seseorang mulai memencet bel kamar mereka.
Sang manajer berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang saat itu.
Ternyata, dia Austin. Dia datang karena di telepon oleh Patricia.
Austin langsung masuk ke kamar bersama Pat untuk menemui Hanna. Ia lalu memeriksa kondisi Hanna yang masih memejamkan matanya saat itu.
Setelah memeriksa Hanna, Austin berbicara pada Pat dan memintanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Hanna.
Pat menceritakan semua yang ia lihat, dan ia rasa Hanna sedang dalam pengaruh obat tidur saat ini.
Austin mentap Hanna dengan tatapan yang sendu. Lalu, raut wajahnya berubah menjadi menyeramkan dan berjalan keluar dari kamar dengan mengepalkan tangannya.
Saat di luar kamar, ia menghampiri Satria dan langsung menghajarnya.
Mereka yang ada di sana terlihat terkejut awalnya, namun, baik Rama maupun sang manajer sudah tidak ada tenaga untuk menahan Austin. Mereka membiarkan Austin menghajar Satria beberapa kali. Hanya pegawai hotel yang sedang mengobati lukanya yang berusaha menengahi keduanya.
Aji yang melihatnya hanya tertawa di kursinya sambil duduk manis.
Lalu datang Patricia menghampiri Austin dan menariknya untuk menghentikan aksinya itu.
" Obat apa yang kau berikan padanya, hah ?" tanya Austin pada Satria yang kembali terjungkal di kursinya.
" Aku... uhuk - uhuk.... " Satria terbatuk - batuk, lalu di beri segelas air putih oleh pegawai hotel.