My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Pilu hati sang sahabat



Setelah mendengarkan rekaman percakapan antara Siska dan Patricia, Hanna nampak begitu terkejut. Sampai hati Siska mengolok - olok Pat seperti itu, sebetulnya dendam apa yang Siska miliki pada Pat, padahal saat itu Pat hanya berniat untuk memberinya ucapan selamat dan akan merelakan Austin dari genggamannya.


" Ahjussi, darimana kau mendapatkan rekaman ini ?" tanya Hanna.


" Aji, saat polisi menyita barang - barang Pat di kantor polisi, Aji sempat melihat isi hp Pat. Semua atas saran dari Pat, dia sengaja merekam percakapan mereka tadinya sebagai bukti bahwa dia benar - benar sudah merelakan Austin untuk menikah dengan Siska. Begitu yang di katakan Pat pada Aji."


" Lalu, apa kak Os sudah mengetahui kejadian ini ?" tanya Hanna.


" Aku tidak tahu, aku tidak yakin, tapi sepertinya dia tahu, entah tahu darimana atau tahu dari siapa. Austin belum berkata apapun saat tadi pagi aku menemukannya di bangku taman." Jawab Siwan.


" Ahjussi, aku benar - benar tidak menyangka kalau kak Siska akan tega berbuat seperti itu, lalu apa maksudnya dia mengakui bahwa bayi di dalam kandungannya adalah anak kak Austin, lalu siapa sebetulnya ayah kandungnya ?" Hanna terlihat sangat penasaran.


" Entahlah, semua itu hanya Siska yang tahu. Dia bahkan tidak menceritakan soal kedekatannya dengan Os kan, sebelum hari itu, hari dimana mereka mengumumkan akan menikah."


" Sungguh, ku pikir mungkin ada sebuah alasan lain yang menyebabkan kak Siska berubah seperti itu, aku yakin, ada sesuatu, mungkin dia sedang dalam kesulitan dan mencoba meminta pertolongan saat itu."


" Saranku, sebaiknya kau jangan terlalu terbuka soal kehidupanmu pada orang yang belum kau ketahui sifat aslinya seperti apa, mungkin, inilah sifat asli Siska yang selama ini dia sembunyikan darimu. "


" Ahjussi, apa kau mempercayaiku ? kita bahkan belum kenal terlalu lama, tapi mengapa, bahkan aku sendiri bisa menerima perasaanmu dan mempercayaimu, walaupun aku belum tahu tentang apa dan bagaimana kehidupanmu yang sesungguhnya di belakangku." Ucap Hanna.


Siwan tidak menjawabnya, dia hanya menatap kekasihnya lebih dalam.


" Itu karena ini, ( Hanna menunjuk pada dada sebelah kirinya ) ' itu karena hatiku yang menilaimu, ataupun orang lain, pada siapa aku harus percaya, pada siapa aku berbagi kasih sayang, itu semua karena feeling dan hatiku yang mengatakannya bahwa aku bisa mempercayainya, kau maupun kak Siska."


" Ya, hanya saja, kau harus tetap waspada. " Jawab Siwan.


" Iya, aku tahu, semua orang bisa saja berubah, karena waktu atau kondisi yang tidak lagi berpihak. Dan, sebagai teman, aku hanya ingin memberinya support, dan ingin meluruskan kesalah pahaman yang sedang terjadi saat ini. Kalaupun dia mau mengutarakan semuanya padaku. Apa kau tidak khawatir dan tidak mau tahu saat ini dimana kak Siska berada ? kondisi seperti apa yang sedang ia alami saat ini ? aku ingin mengetahuinya, karena aku temannya. "


" Baiklah, aku tahu kau ini orang yang sangat baik, rasa empati dan solidaritas mu sangat tinggi, namun, aku tidak mau kau ikut terseret ke dalam masalah ini lebih jauh. Aku tidak akan tinggal diam bila ada seseorang yang berusaha menyakitimu, kau tahu kan. "


" Iya, aku tahu, terimakasih ya.. aku akan tetap berhati - hati, jangan cemas ya. Aku tahu kau akan menjagaku lebih baik dari siapapun. " Ucap Hanna kemudian memeluk Siwan.


Setelah percakapan panjang antara Hanna dan Siwan, kini kita lihat, di sisi lain, Siska sedang menangis tersedu - sedu di sebuah bandara, dia hendak pergi namun entah kemana. Di rumahnya, dia menulis sepucuk surat untuk keluarganya, dia mengatakan alasan mengapa dia sampai hati kabur dan membatalakan acara pernikahan nya Dan memohon maaf sudah membuat malu keluarga. Setelah itu, dia pergi dengan pesawat, yang entah tujuannya belum di ketahui siapapun sama sekali.


Sedangkan keluarga Austin sendiri, sekarang mereka sedang mengepak seluruh barang mereka dan berniat kembali pulang ke Australia. Mereka benar - benar kecewa sampai keluar kutukan dan sumpah serapah dari mulut ibunya Austin.


Namun, Austin saat itu hanya bida duduk dan mendengar semua ocehan orang di rumah, kala itu ia hanya terdiam dan tersenyum sinis.


Beberapa jam berlalu, Hanna, Siwan, Aji dan Austin, mereka mengantarkan seluruh keluarga Austin ke bandara. Siwan benar - benar minta maaf tidak bisa menjaga Austin dengan baik dan tidak tahu bahwa acara pernikahan Austin akan menjadi kacau.


Pihak keluarga terutama ibunya Austin tidak sama sekali menyalahkan Siwan, mereka tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tetap menyalahkan pihak keluarga mempelai wanita terutama Siska yang kabur saat acara akan berlangsung.


Setelah mengantarkan dan melihat kelurga Austin pulang, kini mereka berempat sedang berkumpul di sebuah restoran. Mereka berkumpul namun seperti memiliki pemikiran masing - masing di kepalanya. Untuk beberapa saat, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


" Dia, kecanduan obat terlarang." Ucap Austin, yang seketika membuat semua yang berada di meja itu terkejut terutama Hanna.


" Siapa ? maksud mu kak Siska ?" tanya Hanna.


" Kak Os, jadi, sudah berapa lama, kau mengetahui nya ?" tanya Hanna.


" Sejujurnya, saat di kostan Siska di Bali, aku pernah mendapatkan sebuah pil di kamarnya. Aku penasaran, apa dia sedang sakit, makanya aku membawa beberapa sampel obat tersebut dan memeriksanya di lab. Ternyata, itu sebuah obat terlarang. "


" Lalu, alasanmu untuk menikahinya, apa hanya karena dia mengandung anak mu ? tidak ada perasaan cinta sama sekali " tanya Hanna.


" An-nak-ku ?" Austin kembali bertanya dengan terbata - bata, dengan wajah tersenyum penuh arti.


Flashback, pada malam hari sebelum pernikahan berlangsung.


Siska dan Austin janjian untuk bertemu di salah satu cafe terdekat di sekitaran komplek rumah Siska. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan keluarga Siska sekalipun.


Awalnya, Siska merasa heran, mengapa Austin ingin mengajaknya bertemu. Namun akhirnya Austin bisa merayu nya dan bersedia bertemu dengannya.


" Ada apa ? besok kan kita juga bertemu, kau tidak sabaran sekali... " Ucap Siska sambil tersenyum pada Austin.


" Aku hanya ingin bertanya padamu, satu hal, tidak yang lainnya." Ucap Austin dengan wajah serius.


" Oke, apa itu ?" tanya Siska.


" Siapa, ayah anak di dalam perutmu ? apa itu aku ? atau orang lain." Tanya Austin.


Seketika, wajah penuh senyum Siska berubah menjadi datar. " Apa kau sudah tahu semuanya, apa seseorang memberitahu mu ?" tanya Siska.


" Siapa ? memberitahu apa ?" tanya Austin.


" Patricia." Jawab Siska singkat.


" Pat, apa dia ada disini ? apa hubungannya dengannya ?" tanya Austin setengah terkejut.


" Benarkah, kau belum tahu, tidak ada yang memberitahumu ? Aji ataupun kak Wan ?" tanya Siska.


Austin hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Siska dengan wajah penasaran.


" Entah apa yang terjadi antara kalian di belakangku. Aku hanya ingin mengetahui soal kejelasan anak yang ada di dalam perutmu, itu saja, aku tidak akan bertanya hal lain lagi selain itu. Aku sangat serius untuk menikah denganmu, aku ingin mencoba membangun rumah tangga yang harmonis dan penuh kebahagiaan di iringi canda tawa anak kita kelak, aku tidak mau ada kebohongan dari awal hubungan. Semua hanya akan menghancurkan harapan indahku." Ucap Austin lalu berdiri dan hendak beranjak dari kursinya.


" Mau kemana ?" tanya Siska.


" Kau pulang lah, kita harus beristirahat, besok hari pernikahan kita. Aku usahakan tidak terlambat datang ke gereja." Ucap Austin lalu pergi meninggalkan Siska.


Setelah pulang menemui Siska, lalu Austin menelpon Aji, mereka janjian untuk bertemu tanpa sepengetahuan Siwan dan Hanna. Mereka bertemu dan mengobrol di luar villa, di dalam mobil yang Austin kendarai. Saat itu, Hanna dan Siwan sudah masuk ke dalam kamar masing - masing, lalu Aji menyelinap keluar menemui Austin di dalam mobilnya.


Aji memberikan rekaman yang berisi percakapan antara Pat dan Siska. Dia lalu menceritakan hal yang terjadi siang harinya di rumah calon pengantin wanitanya itu.


Setelah mendengar penjelasan Aji, Austin pulang memarkirkan mobil di villa sebelah dan berkata pada saudaranya bahwa dia akan tidur di villa sebelah milik Aji dan Siwan. Dia lalu memberikan kunci mobil pada saudaranya itu. Namun, bukannya menghampiri Aji dan Siwan, dia malah pergi menuju klub malam dan mabuk - mabukan disana.