My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 AJI



...Siangnya......


Sekitar pukul 13.00 wita, setelah bangun dari tidur siang dan melaksanakan shalat dzuhur, sesuai janji Hanna beserta bu Shinta serta Aji pergi ke plaza untuk makan siang di restoran ayam kaepsi.


...Dan, sesampainya disana, setelah memesan ayam dan sundae, Hanna memasukkan semua makanan ke dalam perutnya tanpa rasa mual sedikitpun....


" Wah, senangnya bisa melihatmu makan dengan lahap, tapi makanan ini tidak bagus di konsumsi kalau setiap hari " ucap bu Shinta.


" Tidak apa bu, aku paham, tapi sekali - sekali boleh ya, hehe... " sahut Hanna.


" Iya, boleh, kapan - kapan kita makan di tempat seperti ini, di kota xxx juga ada, dekat dari panti, nanti kalau sudah pindah kesana kita bisa makan di resto terdekat saja " timpal bu Shinta.


...Seketika Hanna baru teringat, kalau dia sebetulnya hanya tinggal sementara di kediaman Siwan....


" Bu, tidak bisakah aku tinggal di rumah ahjussi saja, ada bi Asih yang akan menjagaku juga disana " ucap Hanna.


" Kau tidak mau tinggal bersamaku ?" tanya bu Shinta.


" Bukan begitu bu, hanya saja... "


" Hanna, di panti banyak orang, selain diriku yang sudah tua ini, kau bisa bergaul bersama anak - anak disana, ada bayi juga, kau bisa belajar mengurus anak disana dari para pengurus panti, daripada di rumah Siwan lebih baik tinggal bersamaku saja, ya... " ucap bu Shinta menggenggam tangan kiri Hanna.


" Lagipula kalau di rumah Siwan aku takut kau malah kesepian, Aji dan Austin pasti sibuk bekerja, bi Asih juga sama, kau hanya akan semakin kesepian disana, aku tidak mau kau jadi stress gara - gara terus mengingat kenangan bersamanya, aku tahu, kau masih belum bisa melupakannya " ucap bi Shinta.


" Aku tidak akan pernah bisa melupakan ahjussi bu " Hanna tertunduk lesu.


" Tapi setidaknya kau harus bangkit Han, ikhlaskan lah dia, supaya kau maupun dia bisa bahagia di alam yang berbeda. Kau masih muda, jalanmu masih panjang, untuk saat ini, fokus saja pada kesehatanmu dan jabang bayimu, juga pada kebahagiaan dan masa depan yang akan kau jalani nantinya " bu Shinta mencoba meluluhkan hati Hanna, supaya dia tidak bersikukuh minta tinggal di kediaman Siwan.


" Baiklah, kalau begitu aku mau ikut dengan ibu, maafkan aku ya bu, aku hanya takut semakin merepotkan ibu " ucap Hanna.


" Tidak apa, lagi pula banyak yang akan membantuku mengurusmu disana, atau kalau perlu bi Asih aku ajak pindah juga " ucap bu Shinta.


...Aji yang mendengarnya tiba - tiba tersedak minumannya sendiri, saat itu dia sedang menyeruput pepsi lewat sedotannya....


" Ish... kenapa kau, tidak rela si Asih ku bawa pergi ?" tanya bu Shinta.


" Jujur saja, iya bi... " jawab Aji to the point.


" Hah... kau dengar, anak ini beraninya... "


" Sudah bu, sudah, tidak usah, kan ada ibu yang menjagaku, lagi pula ibu bilang di panti banyak yang membantu kan, tidak apa, kita biarkan saja bi Asih mengurus para baby hui di rumah ahjussi, ya.. " kali ini giliran Hanna yang menenangkan dan meyakinkan bu Shinta.


...Aji mengangkat kedua jempolnya di bawah tanpa sepengetahuan bu Shinta, hanya Hanna yang duduk di sampingnya yang melihatnya....


Selesai makan, bu Shinta mengajak Hanna berbelanja beberapa kebutuhan Hanna, mulai dari baju hamil, celana hamil, sepatu dan sandal yang nyaman bagi ibu hamil, hingga perdalamannya.


" Bu, punyaku masih bagus juga masih cukup, sebaiknya jangan dulu beli sekarang " pinta Hanna, saat mereka kini berada di toko perdalaman wanita.


Bukannya apa - apa, Aji yang sejak awal mengikuti kemanapun mereka pergi terlihat canggung dan malu sendiri. Begitu juga Hanna, dia jadi tidak fokus memilih berbagai merek dan tipe cup bra saat Aji masih mengekorinya. Mungkin kalau Siwan atau siapapun pria yang berstatus suami baginya, dia tidak akan secanggung ini.


" Aku akan menunggu kalian di kursi sana " ucap Aji yang sedang menenteng beberapa tas berisi barang belanjaan Hanna.


...Hanna masih di temani bu Shinta memilih barang yang berbentuk kacamata itu, bahkan bu Shinta merekomendasikan beberapa merek yang biasa ia pakai atau ia beli untuk di berikan pada para anak gadis di panti nya....


Namun, selang beberapa menit, ada telepon masuk ke hpnya.


" Sebentar ya Han, kau pilih saja dulu yang mana, ibu angkat telepon dulu ya " ucap bu Shinta.


" Ji, jagain Hanna, ibu mau angkat telepon " pekik bu Shinta menghampiri Aji kemudian melewatinya.


...Aji terpaksa mendekat pada Hanna karena perintah dari bu Shinta....


Aji pun menghampiri Hanna yang sedang berdiskusi seputar kacamata wanita dan ukurannya dengan serius.


" Kalau untuk ibu hamil, biasanya yang ini, bahannya menyerap keringat juga nyaman di pakai, ukurannya di naikkan satu atau dua tingkat, soalnya melihat usia kehamilan ibu yang baru 3 bulan, ukuran PD ibu masih bisa membesar nantinya, apalagi saat menyusui, jenis nya pasti beda lagi, yang ini " ucap seorang SPG.


" Emh... aku beli yang ini saja dulu 4 pcs, kalau untuk menyusui nanti saja ya mbak, masih lama juga..." ucap Hanna.


" Hihi, saran saya, tiap malam suaminya juga harus rajin menstimulasi bu, supaya terangsang, jadi nanti asinya lancar pada waktunya " celoteh SPG bernama Maya itu.


"Mbaknya pasti sudah pengalaman yaa.. " goda Hanna


" Hahahaha.... " Hanna dan SPG underwear yang cantik dan sexy itu tertawa bersamaan.


...Wajah Aji sudah bagaikan udang rebus, merah, dan juga berasap....


Sungguh dia merasa malu sendiri mendengarnya. Sebagai seorang pria lajang dan seorang perjaka, meskipun begitu sebagai pria normal ia cukup tahu pengetahuan tentang anatomi tubuh wanita. Bwehehe...


" Sudah selesai belum, kenapa malah mengobrol ?" tanya Aji.


" Iya iya ini sudah selesai kok, gak sabaran banget sih " jawab Hanna dengan wajah kecut.


" Mungkin suami ibu sudah tidak sabar mau melihat ibu memakainya " bisik Maya pada Hanna.


" Pria memang suka jaim di luar, padahal di dalam kamar urat malunya sudah putus " balas Hanna dengan lirih.


...Namun, Aji yang jaraknya sangat dekat masih bisa mendengarkan percakapan mereka yang meresahkan....


Untung saja bu Shinta datang menghampiri mereka saat itu dan bertanya tentang pilihan Hanna.


...Setelah selesai melakukan transaksi di toko perdalaman, mereka berencana untuk segera pulang karena Hanna sudah terlalu lama berjalan - jalan hari itu....


Namun, sesampainya di depan pintu lift, saat sedang menunggu lift terbuka, ada seorang pria memanggil namanya.


" Hanna... "


...Hanna, bu Shinta serta Aji menoleh ke belakang, mencari pria yang memanggil nama Hanna....


Saat menoleh, betapa terkejutnya Hanna ternyata yang memanggilnya adalah Teguh, dia sedang bersama seorang wanita, namun bukan Melly.


" Kak Teguh " ucap Hanna.


" Dia teman kerjaku dulu bu !!" ucap Hanna.


" Hallo, saya Teguh, temannya Hanna " Teguh menyapa bu Shinta.


" Ah iya, kalian mau mengobrol dulu, silahkan kalau begitu, kami tunggu !!" ucap bu Shinta.


" Sebentar ya bu, hanya lima menit " sahut Hanna.


...Kemudian Hanna menarik Teguh dan teman wanitanya menjauh dari bu Shinta dan Aji yang menatapnya dengan tatapan tidak suka....


" Ada apa ini ? kau bilang tidak akan pernah kembali kemari lagi !!" ucap Teguh.


" Ssstt... jangan berisik, nanti aku jelaskan ya, aku belum sempat kasih tahu kak Melly dan kak Reni juga, aku baru sampai di Bali kemarin siang " Hanna berbisik.


" Kau tinggal dimana sekarang ? ayo kita berkumpul !!" ucap Teguh.


...Hanna bersama bu Shinta dan Aji kini sudah masuk ke dalam lift. Hanna melambaikan tangannya pada Teguh dari kejauhan....


" Ibu ahjussi... ahjussi itu kak Wan ya, ada apa ini, katanya hubungan mereka kurang baik, tapi... " Teguh merasa heran.


" Ada apa Guh, siapa dia ?" tanya wanita yang sedari tadi di sampingnya yang hanya sebagai pajangan.


" Ssst... diam kau, aku jadi pusing tau... " ucapal Teguh.


...Mata wanita itu mengerling dan membuang muka dari hadapan Teguh dan terlihat kesal....


Di dalam mobil, di perjalanan pulang ke kediaman Siwan.


" Bu, bolehkah teman - temanku menjengukku nanti saat aku sudah tinggal di rumah ibu?" tanya Hanna.


" Tentu saja, ajaklah temanmu sering menemanimu, kau juga butuh teman curhat kan, jalani saja hidupmu senormal mungkin, aku tidak akan menyiksamu dalam kungkunganku " ucap bu Shinta.


" Terima kasih banyak bu, tidak banyak kok, hanya 3 orang temanku, dulu ada seseorang yang sangat dekat denganku, tapi dia sudah pergi entah kemana, aku tidak tahu kabarnya seperti apa saat ini " ucap Hanna.


" Kau masih beruntung punya teman, coba aku, sejak kecil, aku selalu sibuk membantu kedua orangtuaku berjualan untuk menghidupi biaya sehari - hari, aku bahkan tidak tamat bersekolah, lalu aku menikah di usia yang masih muda, 18 tahun, aku langsung di bawa suamiku ke Korea, untungnya aku belum punya anak saat itu, jadi aku fokus belajar bahasa Korea dan kebudayaan disana, suamiku dengan sabar membimbingku, hanya saja, nasib pernikahan kami tidak semulus harapanku, aku sangat merasa kehilangan sejujurnya, hanya dia temanku satu - satunya, aku malah merasa kehilangan seorang teman, bukannya seorang suami, rasanya lebih menyakitkan " ucap bu Shinta.


Hanna menyentuh punggung tangan bu Shinta.


" Ibu wanita yang kuat !!" ucap Hanna lalu tersenyum.


...Bu Shinta menggenggam tangan Hanna, satu - satunya wanita yang kini ia harapkan akan memberikan keturunan padanya, darah dagingnya....


Aji fokus menyetir, tak sepatah katapun yang ia ucapkan saat itu. Ia hanya fokus pada kemudinya sambil mendengarkan kedua wanita yang duduk di belakang berbagi kisah.


...Keesokan harinya, Hanna di boyong pergi ke rumah bu Shinta yang berada di lingkungan panti asuhan yang di kelolanya....


Aji dan bi Asih ikut pergi mengantarkan Hanna dan bu shinta ke kota xxx yang lumayan cukup jauj dari kediaman Siwan di daerah Denpasar. Sedangkan Austin karena harus bekerja, dia tidak bisa ikut mengantarkan Hanna dan yang lainnya.


...Sesampainya di panti, Hanna di sambut oleh beberapa anak panti yang masih kecil sekitar usia 3 sampai 5 tahunan, juga oleh beberapa pengurus panti disana....


Betapa bahagianya Hanna mendengar suara serta tawa, melihat wajah penuh senyum anak kecil yang terlihat begitu tulus, suci dan tanp dosa.


...Hanna di persilahkan untuk beristirahat sejenak karena perjalanan yang cukup jauh supaya dia tidak kelelahan....


Ia berjalan menyusuri jalan setapak mengikuti langkah bu Shinta yang berjalan di depannya, sedangkan Aji dan bi Asih berada di belakang Hanna membawakan koper miliknya.


...Mereka melewati sebuah taman yang cukup luas, beberapa bangku taman tertata rapih di sekitar kolam ikan kecil yang berada di sisi sebelah kiri....


Rumah pohon yang cukup besar dan luas di lengkapi dengan dua buah tangga yang berbeda menjadikan taman belakang panti asuhan tersebut lebih hidup, selain oleh tanaman serta bunga dan pohon - pohon kecil yang menambah kesejukan di area taman belakang tersebut.


...Kini Hanna sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah yang terlihat sederhana bergaya klasik....


" Ayo masuklah " ucap bu Shinta.


" Sebentar bu, aku harus berdoa dulu " ucap Hanna.


...Seperti biasa, setiap kali dia pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dia selalu melakukan ritual doa, mengajak jiwa dan raganya agar betah tinggal di rumah yang akan ia tempati selanjutnya. Hanya sebuah doa dan permohonan terhadap sang pencipta-Nya, bukan merupakan ritual - ritual yang mengharuskannya menyematkan kata jampi - jampi atau hal lainnya....


Ketika masuk ke dalam rumah, Hanna merasa auranya sungguh berbeda. Bukan aura yang membuatnya merinding bulu kuduk ataupun aura panas lainnya.


...Itu di karenakan ia harus tinggal satu rumah dengan soerang penganut Protestan yang taat. ...


Hanna mematung di depan pintu, Ia terpaku pada sebuah Salib Yesus Kristus yang terpampang di sebuah dinding di atas sebuah lukisan home decoration yang ada di ruang tamu.


...Hanna langsung menepis pandangannya, ia tidak mau menyinggung perasaan bu Shinta. ...


Hanna di antarkan menuju sebuah kamar yang


berada di sudut ruangan yang berada di lantai 2. Sebuah kamar yang sudah terlihat bersih dan rapih. Katanya saat mereka dalam perjalanan menuju kemari seseorang membersihkan serta membereskan rumahnya.


" Hanna, kau pasti lelah, tapi kau belum makan lagi, kau makan disini saja ya, nanti Asih yang antarkan makanannya kemari " ucap bu Shinta.


" Iya bu, terima kasih banyak " ucap Hanna.


" Ibu tinggal dulu ya, kalau kau perlu ibu, panggil saja, kamarku ada di bawah, kalau kau mau berkeliling, hati - hati ya, tapi sebaiknya kau istirahat dulu saja "


" Iya bu, aku akan diam di kamarku dulu untuk sementara waktu " jawab Hanna.


...Bu Shinta sudah turun ke bawah, kini di dalam kamar dia di temani oleh Aji yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk berbicara berdua dengan Hanna setelah sebelumnya bolak balik membawakan koper dan barang - barang milik Hanna. ...


" Mau ku bantu membereskan baju - bajunya ?" tanya Aji.


" Bli, sudah, biar aku saja, kau istirahat saja, kau pasti lelah sudah menyetir selama hampir 2 jam " ucap Hanna.


" Baiklah, kalau begitu, Hanna, dengarkan aku baik - baik... bla bla bla... " Aji mengatakan hal yang begitu serius pada Hanna. Mereka duduk bersama di atas soya yang ada di dekat jendela kamar.


" Iya bli, terima kasih banyak, tapi, sebaiknya kau fokus saja dulu pada pekerjaanmu, bu Shinta sangat mempercayaimu dan mengandalkanmu, jadi, jangan khawatirkan aku meskipun kita jauh, disini banyak yang akan menjagaku " ujar Hanna.


" Sejujurnya aku sangat tidak tenang membiarkanmu jauh dariku, tapi ya mau bagaimana lagi, pokoknya aku akan sering menjengukmu kemari " sahut Aji.


" Terserah kau saja lah bli, aku tidak bisa melarangmu kalau memang ini perintah " Hanna merasakan ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya, ia merasa ada sesuatu yang Aji sembunyikan darinya.


" Yasudah, aku turun dulu, jangan terlalu kelelahan ya, jangan sampai telat makan " ucap Aji yang sudah bangkit dan berdiri beberapa meter di depan Hanna.


" Iya, baiklah, aku mengerti " ucap Hanna yang kemudian dia pun bangkit dan menghampiri samping ranjangnya.


...Aji belum juga beranjak dari kamar Hanna. ...


" Ada apa lagi bli ?" tanya Hanna sambil terheran - heran di atas senyumnya.


" Han, boleh aku mengusap perutmu ?" tanya Aji, malu - malu kucing.


" Hahaha... kau cemburu pada kak Oz karena ini, baiklah, ini, usaplah dan doakan jabang bayiku di dalam sini " Hanna mendekat pada Aji yang wajahnya terlihat memerah.


...Aji mengusap perut Hanna dengan perlahan dan lembut, lalu ia berbisik " paman akan kembali, kau harus kuat yaa... " ...


...Hanna tersenyum geli mendengar ucapan Aji. ...


Dan, tiba - tiba, pintu kamar Hanna yang tidak tertutup rapat kini terbuka lebar, bi Asih masuk ke dalam kamar membawa sebuah nampan berisi makanan untuk Hanna.


...Aji sontak langsung mundur karena terkejut....


" Biasa aja keles... " ucap bi Asih.


" A-aku turun dulu ya... " ucap Aji tanpa menatap wajah Hanna maupun bi Asih.


" Dia memang begitu, agak jaim kalau berhadapan sama perempuan, makanya dia masih jomblo, padahal banyak yang antri juga " sahut bi Asih.


Hanna hanya tersenyum mendengar ocehan bi Asih.