
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanna Anjani binti Subagyo Setiawan dengan maskawinnya yang tersebut, di bayar tunai," dengan lantang dan lancar Siwan mengucapkan kalimat tersebut di hadapan pak Bagyo sambil menjabat tangannya, di saksikan oleh para penghulu dan kerabat, saudara dan sahabat terdekatnya, hanya dalam satu kali percobaan Siwan dapat mengucapkan kalimat ijab kabul tanpa cela.
"Bagaimana para saksi, SAH ?" tanya pak penghulu.
"SAH... SAH... " ucap beberapa orang pria yang berada di sekitar Siwan.
"Alhamdulillah... !" semua orang mengucapkan syukur.
Lalu pak penghulu kembali memimpin doa setelah ijab kabul berhasil di laksanakan dengan lancar, "baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
Bu Hani dan bu Shinta terlihat menitikan cairan bening di sudut mata mereka. Rasa haru dan bahagia serta rasa lega benar-benar keduanya rasakan saat ini. Begitu juga dengan pak Bagyo dan Aji. Selesai mengucapkan doa, Aji bahkan memeluk tubuh Siwan dengan penuh haru.
"Selamat kak, aku ikut berbahagia untukmu, " ucap Aji.
Rayhan pun tak lupa menjabat tangan dan memeluk Siwan.
"Semoga kalian selalu bahagia," Rayhan tersenyum menatap wajah bahagia Siwan di hadapannya kini.
"Aamiin, " jawab Siwan.
Dan, beberapa detik kemudian, Vanya masuk ke dalam kamar Hanna untuk menjemput pengantin wanita itu yang nampak masih betah di dalam kamar.
"Astagfirullahaladzim... kak Hanna, kamu baru bangun tidur ?" suara Vanya yang agak keras terdengar oleh beberapa orang yang berada di luar kamar Hanna saat itu. Karena rumah Hanna hanya satu lantai, maka saat ada acara perkumpulan seperti hari ini, sebagian orang pun memadati area ruang tengah hingga hampir ke dapur rumahnya.
Yasmin, Audrey dan Karina yang sudah berada di dalam kamar Hanna karena mendengar suara Vanya dari luar ikut mencerca Hanna.
"Hanna, bisa-bisanya loe ketiduran pas acara sakral kaya gini," Audrey menggelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.
"Sorry, gue ngantuk banget, habis nyusuin Hwan, gue juga gak sadar langsung tidur pules," ucap Hanna, yang kini sudah berdiri tegak hendak melangkah keluar kamarnya setelah selesai di rapihkan riasan dan bajunya oleh Asya.
"Yaudah, sini, aku bantu, hati-hati Han, kamu pusing gak ?" tanya Yasmin sambil menuntun lengan Hanna menuju keluar kamarnya.
"Enggak kok Yas, malah rada seger nih habis tidur sebentar, hehe.. " Hanna tersenyum tanpa merasa berdosa.
"Seger soalnya abis di semprot air mawar, loe.. " bisik Karina yang juga ikut mendampingi Banna dari belakang.
Dari arah belakang samar-samar masih terdengar suara Audrey yang memarahi Asya, "loe gimana sih, malah ngebiarin pengantin tidur pas acara ijab kabul,"
"Yee.. gue kasihan kali liat dia kaya kecapean gitu sambil nyusuin anaknya, lagian pembukaannya lama kan, ampe mau maghrib gini baru beres," bela Asya di hadapan Audrey.
Untungnya, hanya para anak muda yang duduk di sekitar luar kamar Hanna, saudara sepupunya dan sahabat Hanna yang tahu kejadiannya.
Hanna melangkah perlahan setengah menunduk karena beberapa orang menghalangi jalannya menuju posisi tempat duduk di samping Siwan.
Setelah berhasil duduk di samping pria yang kini sudah berstatus suaminya, barulah keduanya dapat saling mengangumi wajah tampan rupawan dan cantik jelita mereka masing-masing di dalam hatinya.
Wajah Hanna terlihat begitu segar di mata Siwan, ia dapat melihat bulir-bulir cairan halus menempel di sekitar area wajah istrinya itu, Siwan mengira mungkin itu hanyalah keringat ataupun air mata yang mengalir setelah ia mendengar kata SAH terucap dari mulut beberapa orang yang hadir disana.
Padahal itu semua berasal dari facemist yang di semprotkan Asya ke wajah Hanna untuk menghilangkan muka bantal temannya itu. Namun meskipun begitu, makeup yang di bawa tidur oleh Hanna malah membua kulitnya menjadi semakin telihat lebih menyatu dengan riasan naturalnya.
Di sela-sela pak penghulu memberi intruksi untuk melanjutkan prosesi selanjutnya, Siwan sempat berbisik di telinga Hanna, "cantik, miss you !!", membuat Hanna yang sedang gugup semakin berdebar.
Setelah menyematkan cincin di jari manis Hanna, Siwan di bimbing untuk mengucapkam doa sambil menyentuh ubun-ubun istrinya itu, setelah itu ia meniup ubun-ubunnya lalu mencium kening istrinya. Tak lupa jepretan dari kamera yang di pegang oleh adik Hanna berhasil mengabadikan moment membahagiakan hari itu. Bahkan seorang asisten Asya pun sudah berhasil merekam moment-moment unik dari detik demi detik semenjak kedatangannya di rumah Hanna, termasuk moment sakral ijab kabul tadi.
Acara pun berlanjut pada sungkeman kepada kedua orangtua kedua belah pihak yang tidak memakan waktu cukup lama karena ini hanyalah akad nikah, sangat berberda ceritanya kalau acara resepsi nanti, acara sungkeman terutama jika memakai salah satu adat, selalu memakan waktu yang sangat lama dan panjang.
Selesai dengan semua prosesnya, kini giliran semuanya untuk berfoto secara bergantian sambil sebagian orang mencicipi parasmanan dan hidangan yang sudah di siapkan oleh keluarga Hanna.
"Hanna, cucuku masih tidur?" tanya bu Shinta. Semenjak ia menginjakkan kakinya di kediaman Hanna, Hwan lah yang pertama kali ia tanyakan keberadaannya, bahkan ia sempat melihat ke kamar Hanna sebentar, lalu kembali ke ruang berkumpul karena acara akan segera di mulai.
"Hwan masih tidur bu, dia sepertinya lelah bermain sepanjang hari, biasanya dia tidur siang, tapi hari ini dia sibuk bermain sampai sore," jawab Hanna.
Sementara Siwan yang sempat melihat Hwan tertidur pulas pun kini ia kembali ke ruangan kelurga dan sedang sibuk berbincang dengan Rayhan, Aji dan keluarga Hanna lainnya.
"Selamat ya nduk, sekarang kalian sudah SAH dimata agama, semoga kalian hidup bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah, " ucap bi Asih.
"Aamiin, makasih banyak ya bi Asih, bi Lastri, kalian meluangkan waktu untuk hadir di acara membahagiakan di hidupku ini, " Hanna kembali berkaca-kaca.
Saat adzan maghrib berkumandang, para tetangga pamit pulang, sedangkan para pria yang beragama muslim pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah, termasuk Siwan.
Siwan memang belum fasih menguasai bacaan dan gerakan sholat, ia masih dalam tahap belajar saat itu, namun ia penuh semangat mengikuti ajakan ayah mertuanya dan saudara seimannya dan pergi ke masjid bersama-sama. Siwan bahkan sempat mengganti celananya dengan sarung seperti yang lainnya karrna takut ada kotoran atau najis yang menempel di celananya itu.
Aji dan anak buah Siwan lainnya berjaga di halaman, karena mereka bukan seorang muslim.
"Bli... " Hanna memanggilnya di ambang pintu rumah.
Aji pun menghampirinya.
"Kau sudah makan?" tanya Hanna.
"Belum, tapi aku sudah kenyang dengan berbagai kudapan yang ada, cake buatanmu sangat enak, adikmu yang memberitahuku, aku jadi ketagihan, lihat, " jawab Aji, tersenyum tengil sambil mengelus perutnya yang agak membesar.
"Tapi kau tetap harus makan, ibuku sudah susah payah memasak, ajak mereka juga makan bersama, " ucap Hanna.
"Iya, kau tenang saja, kami menunggu kak Wan pulang dari masjid saja, "
"Kenapa harus menunggunya, kasihan mereka mungkin sudah kelaparan juga," Hanna menautkan kedua alisnya, mulai menampakkan raut wajah kesal bercampur khawatir melihat tamu undangannya merasa kelaparan di rumahnya.
"Baiklah, mereka bisa makan sambil tetap berjaga, !!" Aji pun memanggil ketiga bodyguard Siwan yang sedang berpatroli di sekitar rumah Hanna.
Ketiganya menghampirinya dan Hanna.
"Kalian makan dulu, cake dan kudapan tidak mungkin membuat perut kalian kenyang kan, ayo masuklah, tidak usah menunggu ahjussi pulang, kalian saja duluan !!" ajak Hanna.
Ketiganya saling berpandangan, lalu beralih pada Aji. Dan, Aji pun menganggukkan kepalanya, memberi mereka isyarat untuk menuruti perkataan istri bosnya.
"Baik nyonya bos, terimakasih banyak, " ketiganya pun berhamburan masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh penjaga stand parasmanan di dalam rumah.
"Aku akan berjaga bersama Elsa di luar, dia tadi kulihat sudah makan, kau masuk saja istirahat," Aji mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum simpul.
"Baiklah, " Hanna pun membalikkan badannya.
Namun kemudian kembali menghadap pada Aji.
"Bli.... terimakasih banyak !!" ucap Hanna, tersenyum lalu pergi.
Menatap punggung Hanna yang kini berbaur bersama para saudaranya, Aji merasakan ada sedikit kesedihan di hatinya.
"Rasa ini, memang tak seharusnya pernah kumiliki untukmu, aku akan membuangnya jauh-jauh, berbahagialah !!" batin Aji menggumam.
Sebelum para pria kembali pulang, Hanna pun bergegas untuk melaksanakan ibadah sholat maghribnya di mushola di belakang rumahnya.
"Kau kenapa?" tanya bu Hani yang keheranan melihat wajah kaku Hanna di ambang pintu luar kamar mandi.
"A-anu, emh... ini, aku sepertinya haid," ucap Hanna tergagap.
"Lho... bukannya kemarin kau bilang memang haid ?" tanya bu Hani.
"Hanya sedikit bu, aku bahkan menunggu sampai kemarin sore tidak keluar lagi, makanya aku langsung mandi dan mensucikan diri dan sholat kembali, tapi sekarang, sepertinya keluar lebih banyak," ucap Hanna.
Bibinya yang ikut mendengarpun tertawa mendengar penjelasan Hanna.
"Kak, dia tidak bisa melayani suaminya malam ini sepertinya, hahaha.... "
Bu Hani hanya menahan tawa di depan anaknya, kemudian meninggalkan Hanna yang masih mematung di depan kamar mandi.
Dan, datanglah Siwan yang baru pulang dari masjid yang langsung mencari Hanna dan menemukannya di depan kamar mandi.
"Chagiya, kau kenapa? kau habis berwudhu? belum sholat? waktunya sudah hampir habis !!" Siwan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak jadi, ahjussi, aku tidak bisa sholat sementara ini, " ucap Hanna.
"Oh... begitu, kenapa ?" dengan wajah santai Siwan bertanya. Namun, belum juga Hanna menjawabnya, kini Siwan akhirnya mengerti apa maksud ucapan istrinya itu.
"K-kau... ?" wajah Siwan menegang.
"Maafkan aku !!" Hanna menunduk malu kemudian melangkah pergi menuji ke dalam kamarnya.
Setibanya di dalam kamar Hanna merutuki dirinya sendiri, "kenapa? kenapa harus hari ini?" Hanna menengadahkan wajahnya ke atas dengan raut menyedihkan.
Tok... tok... tok... Pintu kamar di ketuk.
Hanna membuka pintunya secepat kilat.
Wajah Siwan muncul di sela pintu.
Hanna melebarkan pintunya hingga Siwan bisa masuk.
"Chagiya, tidak apa, kita masih bisa melakukannya lain kali," dengan tidak pekanya Siwan masih membahas tentang hal tersebut.
Hanna merasa malu sendiri, terlebih saat pria di hadapannya kini melingkarkan lengannya di pinggangnya dan tubuh keduanya semakin rapat.
Siwan menarik dagu Hanna hingga wajahnya yang tertunduk malu terangkat dan menjadi saling menatap.
Sepersekian detik, Siwan semakin mendekatkan wajahnya pada Hanna, fokusnya sudah tertuju pada bibir istrinya yang tipis berwarna merah jambu yang sudah lama tidak ia nikmati.
Namun nahas, sebelum kedua bibir itu bertemu, suara seseorang membuyarkan konsentrasi keduanya yang sudah dipenuhi gairah dan kerinduan yang membuncah.
"PA-PA... PAPA... " Hwan kecil sudah terbangun dan kini sedang merangkak di atas ranjang menuju Siwan.
Gagal. Bahkan untuk saling mencumbu pun mereka masih harus terus menahannya.
"Anak papa sudah bangun, kemarilah, kau pasti merindukan papa kan ?" Siwan melepaskan pelukannya dari tubuh Hanna, lalu berjongkok untuk meraih Hwan kecilnya.
Keduanya nampak tersenyum bahagia. Begitu pula dengan Hanna yang menyaksikannya.
"Anak bubu, sudah lupa ya sama bubu mentang-mentang ada papa sekarang, hemh... " Hanna ikut mencium Hwan yang kini berada dalam dekapan Siwan.
"Aku akan membawa Hwan menemui ibu, kau sebaiknya ganti baju dulu, aku tidak bisa membiarkan istriku berpakaian seperti ini, bagian atasmu sedikit terbuka, mata para lelaki pasti selalu tertuju ke bagian itu, aku tidak rela," Siwan mulai menceramahi istrinya.
"Iya baiklah, aku akan mengganti bajuku, lagipula kita sudah puas berfoto bersama, eh tapi, Hwan belum berfoto bersama kita," ujar Hanna.
"Chagiya, kita akan berfoto bersama lagi saat resepsi nanti, oke !!" ucap Siwan.
"Iya - iya, aku akan menuruti apapun perkataan suamiku !!"
Sebelum Siwan keluar membawa Hwan, ia sempat mengecup bibir istrinya yang imut itu.
Debaran di dada Hanna tentu saja semakin bergejolak.
Pukul 20.30 wib, para sahabat Hanna dan saudara mereka pun berpamitan pulang. Begitu pula dengan bi Shinta dan rombongannya, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Suasana rumah yang terdengar ramai kembali sepi. Kini hanya tinggal paman dan bibi Hanna yang rumahnya dekat dengan mereka, Vanya dan keluarganya sudah langsung kembali pulang ke Bekasi.
Asya dan asistennya masih terlihat disekitar rumahnya karena sedang membereskan dekorasi dan kursi yang mereka bawa dari gallery.
Untungnya, karena acara hari ini sangat sederhana, tidak terlalu memakan waktu yang lama bagi asisten Asya membereskan semuanya.
"Hanna, aku pamit ya, aku senang sekali bisa membayar janjiku sendiri untukmu," Asya memang sudah pernah mengatakan pada Hanna saat mereka sempat bertemu dulu kira-kira tiga tahun kebelakang, Asya pernah berjanji ingin memberi Hanna pelayanan dari galerinya saat Hanna menikah nanti.
"Asya, terimakasih banyak, aku bahkan merasa malu kau tidak mau kuberi sepeser pun, padahal aku bukan ingin menagih janjimu, " ucap Hanna.
"Tidak, justru aku akan sedikit kesal kalau-kalau tahu kau menikah tanpa memberitahuku, sudahlah, kita sama-sama bahagia, jadi jangan saling merasa tidak enak, oke !!" pinta Asya.
Setelah Asya dan para asistennya pergi, kesunyian mulai kembali terasa.
Kedua orangtua Hanna nampaknya sudah tertidur karena merasa lelah. Begitupula dengan bibi dan paman Hanna yang mulai berpamitan setelah membereskan area dapur dan makanan yang tersisa.
Abdul pergi mengantarkan pacarnya pulang ke rumah, namun, ia membawa kunci cadangan dan menyuruh orang rumah mengunci semua pintu kalaupun sudah lelah.
Hanna yang belum mengantuk masih berwara-wiri di dalam rumahnya membereskan sedikit bagian dalam rumah yang bisa ia kerjakan.
Siwan menunggunya di dalam kamar bersama Hwan.
Saat Hanna masuk ke dalamnya, Siwan sudah teekulai lemas di pinggiran kasurnya, sedangkan Hwan masih asyik bermain dengan semua mainan favoritnya.
"Aish... kau pasti sama seperti bubu, belum mengantuk kan, soalnya tadi sore kita, tidur... " ucap Hanna sambil tersenyum, di balas oleh tatapan senang oleh anaknya.
Namun, tak lama kemudian Hwan kembali merengek, menagih sesuatu dari ibunya.
Hanna yang sudah mengerti pun kembali merebahkan anaknya dan menyusuinya sambil tidur dengan posisi menyamping. Sebelumnya ia sempat menyelimuti Hwan yang sudah memakai piyama tidur yang kini sudah tertidur lelap.
"Apakah semua ini hanya mimpi ?" tanya Hanna dalam hatinya.
...***...
Mimpi bukan yaa....
Othor pasti di keroyok kalau mengubah cerita yang seolah episode di atas hanya mimpi Hanna di siang bolong.
Tapi kalau seandainya memang hanya mimpi, gimana dong, ikhlasin aja atuh yaa... viss !!