
WARNING,, mengandung adegan 21+,, anak di bawah umur tidak usah mampir membacanya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Hanna sibuk membersihkan make up di wajahnya di depan cermin kamar mandi, tidak lupa menggosok giginya dan mengganti bajunya karena tadi dia sempat menumpahkan sedikit susu pada bajunya. Di saat orang lain sibuk meneguk minuman keras, dia hanya bisa menyedot sebotol susu coklat kemasan 250 ml dan minuman segar rasa buah lainnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Siwan yang terlihat sedang berbaring di atas kasur pun terbangun, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Malam ini, Hanna tidak berniat memakai rutinitas skincare malam seperti biasanya, dia hanya menyemprotkan parfum di bajunya dan mengoleskan oil parfum di berbagai titik di tubuhnya. Dia merasa tidak percaya diri karena setelah bekerja dan berkeringat, dia harus tidur berduaan bersama Siwan.
Kalau tidur sendiri penuh keringat setelah bekerja, dia sudah terbiasa, kadang karena lelah bekerja shift malam kadang dia tidak sempat mencuci mukanya.
Setelah selesai, Hanna duduk menunggu Siwan keluar dari kamar mandi.
Dan saat Siwan keluar dari kamar mandi, dia tidak memakai baju nya, dia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Hanna merasa kagum dengan abs pada perut Siwan, dia menatap perut Siwan yang sixspack bagaikan roti sobek. Dia ingin menyentuhnya, tanpa sadar dia menghampiri Siwan yang sedang mengambil baju dari dalam tas.
Siwan kaget karena saat dia berbalik, Hanna sudah berada di belakangnya.
" Kau kenapa?" tanya Siwan menatap hanna heran.
" Emh... itu, aku hanya ingin melihat tatto mu itu." Ucap Hanna berusaha menyembunyikan sesuatu.
Lalu Siwan melihat ke belakang punggungnya sedikit, "ini kepala harimau, bukannya kau pernah melihatnya di rumahmu." Ucap Siwan.
" Iya, hanya saja, kali ini agak berbeda sepertinya, apa aku yang salah lihat. Hehe.. " Hanna tertawa padahal tidak lucu.
" Katakan saja, kau kenapa ? apa kau takut berada di kamar ini ? apa ada Hantu di sini ?" Siwan mengira tingkah aneh Hanna saat itu karena sedang ketakutan, mungkin ada hantu di dalam kamar.
" Ti-dak, ahjussi, bukan itu, ah.. sudahlah, ayo kita tidur saja." Hanna berbalik menghindari tatapan Siwan, dan bermaksud naik ke atas ranjang.
Tapi, belum juga melangkah naik, tiba - tiba Siwan menarik perutnya dari belakang, lalu dia memeluk Hanna dan mencium telinga Hanna.
" Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku ?" Siwan mencium telinga lalu leher Hanna dengan lembut. Seketika Hanna merasa sangat lemas, tubuhnya bergetar, suhu tubuhnya menjadi lebih panas, dia seperti menikmati kecupan yang di berikan oleh kekasihnya itu.
Dan secara tidak sadar, tangan Siwan masuk ke dalam kaos Hanna, meraba perutnya dan memegang kedua gunung kembar miliknya. Dia tidak bisa mencegah tangan Siwan yang terus memutar keduanya perlahan dan dengan lembut, dia seperti sedang terangsang dengan sentuhan yang di berikan oleh Siwan.
Begitu pula dengan Siwan, tanpa di sadari adik kesayangan di bawahnya sudah berdiri tegang berusaha ingin keluar dari dalam celananya. Dia menggesek dan menekannya pada bokong Hanna.
Hanna menyadari kelakuan kekasihnya itu, tapi dia tetap tidak bisa berontak. Dia merasakan sensasi yang sangat berbeda karena pijatan lembut tangan Siwan pada kedua gunungnya dari belakang. Lalu, tidak lama kemudian Siwan memelintir kedua puti**nya, Hanna semakin merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, secara tidak sadar dia mendesah dengan lembut di dekat telinga Siwan.
" Aaah... " Hanna bernafas terengah - engah, membuat Siwan semakin merasa terangsang pula mendengarnya.
Siwan lalu mendorong tubuh Hanna perlahan, dan berjalan menuju atas ranjang, dia membaringkan tubuh kekasihnya itu di atas ranjang. Lalu dia membuka kaos milik Hanna, dia melihat Hanna tidak memakai bra, kedua gunung kembarnya langsung menyembul membuat Siwan tidak tahan ingin menghisapnya.
Hanna menarik lengan Siwan, lalu mendekatkan kepala Siwan pada kedua gunung kembarnya. Seolah - olah memberikan izin padanya untuk melakukan apa maunya Siwan.
Tanpa menunggu lama, Siwan lalu menghisap put**nya secara bergantian, kiri dan kanan, Hanna merasakan sensasi yang sangat tidak biasa baginya, tubuhnya menjadi semakin panas, dia terus menggeliat di atas kasur, dia tidak bisa mengontrol tubuhnya. Terutama ketika Siwan menyentuh area intimnya di bawah dengan salah satu jarinya, dia menyentuhnya secara lembut seperti menggelitik nya dari luar celana dalam yang di gunakan oleh Hanna. Sambil masih terus menghisap puti**nya, dan satu tangannya lagi memelintir yang satunya lagi.
Hanna semakin bergejolak, dia semakin menikmati rangsangan yang Siwan berikan, tubuhnya semakin panas, dadanya naik turun dengan cepat, merasakan sesuatu yang sangat berbeda, kali ini, nafasnya semakin terengah - engah, dia semakin tidak bisa mengontrol dirinya, dia terus mendesah dan, tidak lama, keluar sesuatu dari area intimnya, dia merasakan bahwa area bawahnya menjadi basah. Lalu tidak lama dia berkata, " kiss me, please. " Dan Siwan langsung mencium bibir Hanna, begitu pula dengan Hanna yang mencium bibir Siwan dengan penuh nafsu seperti sedang menyedotnya.
Beberapa detik kemudian, Hanna mulai melepaskan ciumannya. Dia merasa tubuhnya berkeringat dan menjadi lemas. Juga, Siwan menghentikan aktifitas yang dari tadi ia lakukan pada Hanna.
Hanna yang baru tersadar bahwa dia telah melakukan hal itu, merasa malu dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
" Apa ini pertama kalinya bagimu ?" tanya Siwan merubah posisi tidurnya menyanping menghadap Hanna.
Hanna hanya menganggukan kepalanya. Ia tidak mampu mengeluarkan kata - kata di bibirnya karena merasa malu.
" Kau sungguh menikmati nya ?" tanya Siwan kembali.
Hanna tidak menjawabnya, hanya menutupi wajahnya dengan selimut. Siwan langsung tertawa kecil melihat kekasihnya terlihat tersipu malu seperti itu.
" Hei... lihat aku." Siwan membuka selimut yang menutupi wajah kekasihnya itu.
" Tidak usah malu padaku. Kau sudah dewasa, wajar bagi wanita merasakan sensasi seperti itu saat bersama kekasihnya." Ucap Siwan.
Hanna mendekati Siwan dan memeluk tubuhnya yang masih belum mengenakan baju atasan itu, sehingga dia bisa menyentuh abs - abs milik Siwan yang sedari tadi ingin ia sentuh itu.
Siwan sepertinya baru menyadari bahwa tubuhnya ini menarik perhatian kekasihnya itu sehingga dia bertingkah aneh tadi.
" Apa badanku ku terlihat sexy tanpa memakai baju ?" tanya Siwan menggoda Hanna.
" Ih... ini semua salahmu, kenapa memamerkannya di hadapanku. " Jawab Hanna sambil masih mengelus - elus perut sixspack Siwan. Dan tanpa sadar, dia juga memerintil kedua put**g kekasihnya itu.
" Ah.. apa kau sedang mencoba merangsang ku ?" Siwan menarik tangan jahil Hanna dari atas tubuhnya.
Hanna tidak menyangka bahwa aktifitas seperti itu mampu membuat Siwan terangsang.
" Maaf, aku tidak sengaja. " Ucap Hanna lalu berniat bangun dari pelukan Siwan, akan tetapi Siwan menarik kembali tubuh Hanna dan menguncinya erat dengan kedua tangannya.
" Tolong, kali ini saja, aku tidak bisa menahannya lagi. " Ucap Siwan.
" Ba-bagai-mana ca-ra nya ?" tanya Hanna terbata - bata. Sepertinya Hanna mengerti apa maksud dari ucapan Siwan. Dan, Siwan memegang salah satu tangan Hanna, dan menyimpannya di atas bagian yang menonjol di area bawah Siwan.
Hanna kaget, dan menatap Siwan dalam - dalam. Pikirnya dia tidak percaya akan melakukannya secara langsung, dia mengerti apa yang di maksudkan oleh Siwan. Sebetulnya dia tidak sepolos yang seperti kalian kira, dia pernah beberapa kali menonton film dewasa bersama sahabatnya sewaktu SMA, dan bersama Siska di kostannya.
Dia hanyalah seorang wanita yang menuju dewasa, yang penuh tanya akan bagaimana nikmatnya bercinta seperti setiap adegan yang selalu ia tonton bersama temannya itu. Tanpa ingat dosa yang akan di dapatnya kelak, dia hanyalah manusia biasa yang tidak bahkan belum bisa menahan hawa nafsunya akan hal itu.
Lalu, setelah sempat bertatapan dengan Siwan, Hanna mulai melakukan aksinya. Dia membuka resleting celana Siwan, membuka celananya dan, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. " Waw.. " Hanna hanya berkata di dalam hatinya seakan tidak percaya apa yang dia lihat dan apa yang akan di perbuatnya.
Hanna mulai tertarik melihatnya, dia langsung menyentuhnya dengan lembut, menciumnya, menjil**nya, dan.... begitulah seterusnya. Dia yang kali ini membuat Siwan tidak bisa mengontrol tubuhnya, berkali - kali Siwan mendesah seakan menikmati sentuhan - sentuhan yang di berikan oleh Hanna. Lama semakin lama, Siwan semakin merasakan sensasi yang sangat nikmat walau hanya dengan sentuhan, jilatan dan kocokan lembut kekasihnya di area kebanggaannya itu.
Dan, tidak lama kemudian, Siwan sudah memasuki momen puncak kenikmatannya. Sesuatu yang lengket dan basah menyembur keluar, Hanna masih belum selesai dan berhenti melakukannya, lalu setelah beberapa detik Siwan memberi isyarat agar Hanna berhenti melakukannya.
Kali ini, giliran Siwan yang merasa lemas dan berkeringat. Siwan meminta Hanna untuk mengambilkan tissue untuknya. Setelah itu, Hanna pergi ke kamar mandi sambil menutupi badannya dengan kaos miliknya yang tergeletak di atas bantal. Hanna mencuci tangannya yang lengket akibat cairan yang keluar dari area Siwan. Dan dia mencuci mukanya berulang kali seakan tidak percaya akan apa yang telah di perbuatnya. Setelah itu dia memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi.
Hanna melihat Siwan yang sudah memakai baju, sudah tertidur di atas ranjang. Di bawah lantai dia melihat ada beberapa sampah tissue berserakan. Dia lalu membereskan nya dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di samping Siwan yang terlihat sudah tertidur pulas.