My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Pengalaman bersejarah



Tanpa terasa, hari demi hari ku lewati dengan semangat baru. Aku merasa hari - hari membosankan ku akan segera berlalu. Karena, aku memiliki beberapa teman baru yang bisa ku ajak berbincang atau hanya sekedar bertegur sapa.


Rabu malam,


Shift malamku sudah selesai, aku dan karyawan lainnya satu persatu meninggalkan tempat kami bekerja. Saat menuju halte bus, aku melihat seseorang yang ku kenal, sedang bersandar pada sebuah mobil.


" Hai..... " dia melambaikan tangannya padaku.


" Ahjussi... " ucapku seraya menghampiri nya.


" Kau mau pulang kan, ayo masuk biar ku antar... "


" Baiklah, terima kasih." Lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh paman.


Mobil sedan hitam pun melaju perlahan di kegelapan malam. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 22.30 Wita.


" Ahjussi, apa kamu sengaja menunggu ku tadi di dekat halte bus?" tanyaku.


" Iya, emh.. kebetulan aku ada pertemuan dengan temanku, di dekat tempatmu bekerja."


" Owh.. padahal tidak usah menungguku, gimana coba kalau seandainya aku sedang shift pagi, kau bahkan tidak memastikan nya lewat telepon. "


" Aku hanya merasa yakin saja kalau kau belum pulang, dan ingin memberimu kejutan tadi... "


" Dan kau berhasil membuat ku terkejut ya, ahjussi, terima kasih banyak.. "


Dia hanya tersenyum sambil fokus menyetir mobil.


" Besok, kamu libur kan? mau pergi jalan denganku, tidak?"


" Apa ahjussi sedang tidak sibuk?" tanyaku, memastikan.


" Aku besok sedang free, jadi, ayo kita pergi jalan - jalan.. "


" Baiklah, aku setuju. "


Setelah sampai di depan gedung kost ku. Karena sudah malam, ahjussi merasa khawatir dan berniat mengantarkan ku sampai ke depan kamar kost. Padahal sudah ku bilang tidak apa - apa, karena aku sudah terbiasa pulang malam setelah bekerja.


Dan, sesampainya di pintu kamar kost.


" Besok mau ku jemput jam berapa?" tanya paman.


" Jam 7 pagi saja ya, setelah sarapan. "


" Oke, kalau begitu, kau masuk dan cepat tidur, istirahat."


" Baiklah, terima kasih sudah mengantarku, ahjussi.."


" Sama - sama. " dan pergi setelah melihatku masuk ke dalam kamar kost.


Keesokan harinya, tepat pukul 7 pagi, aku sudah siap untuk pergi. Sambil menunggu paman menjemput ku, aku sarapan dua lembar roti tawar hanya di olesi susu skm dan satu lembar keju.


Tidak lama kemudian, paman menelponku, memberitahu bahwa dia sebentar lagi akan sampai. Aku buru - buru menghabiskan sarapanku, setelah itu minum dan langsung turun ke bawah. Ternyata, paman sudah menungguku di sana. Dia langsung menyuruhku masuk ke dalam mobil.


" Apa kau tahu, kita akan pergi kemana?" tanya paman padaku.


" Entahlah, memangnya kita mau kemana sepagi ini?"


" Apa kau pernah ke pulau Nusa Penida?"


" Belum pernah. Jujur saja, karena aku sibuk kerja dan belum lama di sini, aku belum pernah berwisata, mengunjungi tempat - tempat terkenal di Bali dan sekitarnya."


Paman hanya tersenyum dan fokus menyetir melihat ke jalanan depan. Dengan gayanya yang cool, aku baru menyadari bahwa sebenarnya dia pria yang mempesona, rambutnya yang bisa di bilang lumayan panjang dan selalu dia sisir rapi ke belakang, dengan sedikit pomade, membuat nya mengesankan bahwa dia seorang pria yang suka akan kerapihan. Aku belum mengetahui berapa umurnya, sejujurnya aku penasaran, tapi aku menahannya karena takut di bilang tidak sopan menanyakan usia padanya.


" Kau sudah sarapan?" tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedari tadi sesekali memperhatikan nya.


" Sudah, tadi makan dua lembar roti. "


" Perjalanannya lumayan jauh, apa kau yakin tidak akan makan sesuatu lagi. Di sekitar sini, ada banyak tempat makan yang enak."


" Iya, aku tidak apa - apa, ahjussi sendiri, kau sudah sarapan?"


" Kenapa bisa begitu ? apa kau sedang diet?"


" Tidak, bukan itu maksudku. Kadang kalau aku sibuk bekerja, aku tidak sempat pergi sarapan, makanya aku sudah terbiasa berpergian dengan perut kosong. "


" Jangan begitu, sarapan itu penting, untuk mencegah masuk angin. " Hihi.. "aku tertawa kecil dan kulihat paman pun sama.


Tanpa terasa, kami sudah tiba di pinggiran pantai. Paman memarkirkan mobilnya dan mengajakku turun.


" Ahjussi, apa kau mengajakku bermain air di pantai??"


" Tidak, perjalanan kita masih panjang, kita baru sampai di pantai Sanur. Dari sini kita akan menaiki speed boat ke Nusa Penida. " Dia menunjuk ke depan dari posisi kami berdiri.


" Apa... !!" jawabku dengan nada keras.


" Kenapa? kamu tidak mau? kalau begitu kita ubah rencana saja, kita cari tempat lainnya untuk di kunjungi.


Sejujurnya aku penasaran, tapi aku...


" Baiklah, ayo kita kesana.. !!" jawabku.


" Benar, kau tidak apa - apa ?"


" Iya, memangnya aku kenapa? Hihi.. " sambil menyeringai.


Aku, mengikuti paman dari belakang.


Sesampainya di dermaga, kulihat ada beberapa speed boat yang sudah berjajar rapih. Dan beberapa orang disana sedang duduk di sebuah bangku di sebrang perahu nya. Kulihat dari kejauhan sudah ada salah satu pria yang tersenyum pada paman, saat mendekat mereka lalu berjabat tangan dan mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan, aku kurang mendengar nya dengan jelas karena sedari tadi, suara detak jantungku yang berdetak sangat kencang.


Aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung, aku hanya merasa sangat gugup, itu saja.


Tidak lama kemudian, paman membantuku menaiki perahu nya. Dan ku lihat hanya kami berdua yang menaiki perahu ini. Padahal agak jauh dari sana aku melihat sebuah perahu yang penumpangnya banyak, entah mereka rombongan atau bukan aku tidak terlalu memperdulikan nya. Aku hanya fokus pada irama detakan jantungku saja.


Aku dan paman duduk di jajaran sebelah kiri, diantara bangku kosong di dalam perahu.


Aku bahkan tidak bertanya, kenapa saat ini, hanya kita berdua yang berada di atas perahu yang sedang kita naiki. Yang kulakukan hanyalah menutup mulut, berdiam diri, sesekali aku melihat ke luar melewati jendela.


Dan lama kelamaan aku merasakan pusing melanda, di susul dengan rasa mual membuatku menjadi berkeringat dingin.


Sepertinya dari tadi paman memperhatikanku, dia mungkin merasa aneh dengan tingkahku, dan raut wajahku.


Lama - kelamaan aku jadi ingin muntah, paman lalu berdiri membawaku keluar dari tempat duduk ku. Tidak lupa dia meminta sebuah kantong keresek untukku pada seseorang di sana.


Setelah menyerahkan keresek padaku, tanpa aba - aba aku langsung memuntahkan seluruh isi perutku. Tanpa merasa jijik, paman membantu memijat pundak dan leher belakang ku.


Setelah muntah - muntah hebat, aku merasa lemas, paman membopongku untuk masuk ke dalam lagi, sebelumnya dia sempat membantuku membuang isi keresek yang tadinya kosong menjadi berisikan sesuatu. Sungguh membuat ku malu bukan kepalang.


Lalu seseorang tiba - tiba datang membawakan ku segelas teh hangat. Dia juga memberiku sebuah obat cair, tolak asin.


Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku saat itu. Dengan menahan malu, aku duduk kembali dengan posisi menelungkupkan wajahku pada ujung sandaran bangku penumpang yang ada di depanku.


" Apa kau merasa mual lagi?" tanya paman mungkin khawatir melihat cara duduk ku.


" Tidak, aku hanya merasa lemas dan malu. " Jawabku penuh kejujuran.


" Sudahlah, tidak apa - apa, bagi sebagian orang memang kejadian seperti ini sudah biasa terjadi."


Lalu paman membetulkan posisi duduk ku, dan, dia merangkul pundakku lalu membiarkanku bersandar di pundaknya.


Aku kembali terkejut, karena aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, dengan pria manapun itu. Tapi, karena aku sangat lemas, aku hanya bisa pasrah bersandar padanya walaupun dengan perasaan yang tidak karuan entah perasaan macam apa yang saat ini ku rasakan.


" Apa perjalanan nya masih lama?" tanyaku padanya.


" Kalau melihat dari titik lokasi saat ini, sepertinya sekitar 10 menit lagi. Tolong, bertahan lah... " pintanya padaku.


" Apa aku terlihat seperti orang yang akan meninggal, ahjussi..." jawabku sambil menatap matanya.


" Tidak, bukan begitu, kau tidak boleh bicara sembarangan, setibanya di sana kau pasti akan merasa lebih baik."


Aku tidak menjawab nya, aku hanya fokus pada pandangan ku keluar, lewat jendela, sambil bersandar di bahu paman.