My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Curiga



Keesokan harinya, pagi hari sekitar pukul 05.25 Wita, Siwan terbangun dari tidurnya. Dia melihat kekasihnya masih tertidur di ranjangnya.


Siwan pun membereskan ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Saat berada di dalam kamar mandi, hp yang berada di saku celananya bergetar, dia mendapatkan sebuah telepon dari seseorang. Seketika raut wajahnya berubah menjadi terlihat sangar. Siwan mengabaikan teleponnya. Dia mematikan hpnya lalu menyimpannya kembali di saku celananya.


Saat keluar dari kamar mandi, Siwan melihat Hanna sudah terbangun dari tidurnya, dia terduduk dan merasa kesakitan. Siwan buru - buru menghampirinya.


" Kau kenapa? " Siwan menyentuh pundak kekasihnya yang sedang meringis kesakitan.


" Kaki ku, kenapa sekarang terasa sakit, kaki sebelah kiri ku jadi susah di gerakkan." Ucap Hanna.


Tidak lama kemudian, datanglah perawat masuk ke dalam. Siwan lalu menceritakan kondisi kekasihnya saat itu. Lalu perawat berkata bahwa itu karena kaki sebelah kirinya memar dan bengkak, biasanya pasien memang merasakan sakitnya keesokan harinya. Tapi tidak usah khawatir, nanti dokter akan memberi resep baru dan beberapa terapi pada kakinya. Hal itu membuat Hanna merasa lega, karena dia takut cedera parah.


" Tenanglah, aku bahkan pernah mengalami hal yang lebih parah, sekujur tubuhku luka dan bengkak. Seluruh badanku jadi sakit dan susah bergerak." Siwan menghibur Hanna.


" Kenapa bisa begitu ?" tanya Hanna.


" Itu, emh.. gara - gara aku dulu sering berkelahi. Aku ini seorang petarung hebat loh, saat masih muda.. " Siwan tersenyum.


" Apa, kau sering tawuran ? " tanya Hanna.


" Iya, semacam itu lah. " Ucap Siwan.


" Ih, kau ternyata mantan preman ya. " Hanna meringis kembali.


Siwan hanya tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu.


Setelah kunjungan dokter lalu lanjut di beri sarapan pagi, Siwan yang merasa kelaparan hanya bisa memakan beberapa potong roti dan brownies yang di bawa oleh rekan kerja Hanna kemarin. Dia tidak mau meninggalkan kekasihnya sendirian di kamarnya. Padahal Hanna sudah merelakan jatah makan paginya dari rumah sakit untuk Siwan, tapi dia lebih memilih untuk makan roti dan brownies di bandingkan makanan rumah sakit.


Setelah selesai makan, Hanna ingin pergi ke kamar mandi, karena hari ini kakinya terasa sangat sakit, maka dari itu Siwan menggendongnya hingga ke dalam kamar mandi. Untungnya Kaki kanan Hanna masih bisa menahan beban berat badannya dan berdiri di depan wastafel untuk mencuci muka dan gosok gigi. Walaupun agak meringis menahan sakit dari kaki kirinya, dia berusaha tetap kuat agar Siwan tidak khawatir saat sedang menunggunya di depan pintu luar kamar mandi.


Setelah selesai menempelkan berbagai macam skincare rutinnya, ia lalu mengganti baju atasnya, karena merasa bau keringat. Semalam memang dia tidur dengan banjir keringat entah karena mungkin pengaruh reaksi obat. Siwan menunggunya di depan pintu kamar, membelakangi Hanna saat mengganti bajunya dan menjaga pintu agar tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam.


" Ahjussi, sudah selesai. " Ucap Hanna.


Lalu, Siwan pun kembali menghampiri kekasihnya itu. Dia mencium bau parfum yang sangat harum dari tubuh kekasihnya itu.


" Jangan dekat - dekat, meskipun aku memakai parfum, tapi aku tidak percaya diri. " Ucap Hanna.


" Memangnya kenapa? Kau sangat wangi dan wajahmu terlihat sangat cantik dan segar. " Siwan menyentuh rambutnya. Sontak Hanna langsung menghindari sentuhannya.


" Itu karena rambutku, terasa lepek karena keringat. Kemarin saat pergi kerja aku bahkan tidak sempat keramas karena kesiangan. Pokonya jangan sentuh rambutku. Nanti tanganmu BAU. " Hanna menegaskan kalimat terakhirnya.


Siwan kembali tertawa terbahak - bahak.


Beberapa jam berlalu, saat menunggu giliran terapi datang, tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, lalu dia membuka pintunya dan berkata,


" Permisi, boleh saya masuk. " Ucap pria itu.


" Oh.. iya mas, masuk saja. " Jawab Hanna, ternyata dia Satria, si penabrak.


Siwan yang sedang terduduk di kursi samping ranjang langsung berdiri dan menghadap Satria.


Satria nampak terkejut,


" Kak Wan !!" Ucapnya terlihat ragu.


" Kau, mengenalku ?" tanya Siwan.


" Tentu saja, aku, anggota klub motor xxx di daerah Denpasar. " Ucap pria itu lalu mengulurkan tangannya.


Siwan pun menyambut uluran tangannya.


" Apa kak Wan saudaramu ?" Satria melihat ke arah Hanna dan maksud pertanyaan nya itu pada Hanna.


" Dia... " Hanna belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Siwan menyela,


" Dia kekasihku. " Sahut Siwan.


Satria nampak terkejut.


" Oh.. wow, emh.. maksudku, aku sangat minta maaf atas kejadian tabrakan kemarin, sungguh aku sudah berusaha menginjak dan menarik tuas rem dengan sekuat tenaga, tapi posisi kami terlalu dekat." Satria berusaha menjelaskan kronologis kejadiannya.


" Yang sudah terjadi, biarlah, Hanna juga sudah menyadari itu sebagian kecerobohan nya." Ucap Siwan mencoba bijaksana, padahal entah di dalam hatinya ingin berkata apa.


" Emh.. mas Satria, aku sedang menunggu jadwal terapi, beberapa menit lagi sepertinya. " Ucap Hanna mencoba memecah keheningan yang terjadi.


" Owh.. iya, sekarang bagaiman keadaanmu dik, apa ada keluhan lain ?" tanya Satria.


" Iya, setelah bangun tidur, aku merasa sakit saat kaki kiriku bergerak, dan aku sudah memberitahu dokter, makanya nanti ada jadwal terapi. " Ucap Hanna.


Siwan merasa tidak enak mendengarnya. Menurut Siwan ucapannya terdengar agak sombong, tapi bagi Hanna, itu terdengar biasa saja.


" Terimakasih banyak ya. " Ucap Hanna.


Satria hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Siwan menatapnya begitu dingin. Hanna menyadari bahwa kekasihnya itu tidak suka dengan Satria.


Untung saja, tidak lama kemudian dokter dan perawat datang untuk memberi terapi pada Hanna.


Siwan dan Satria menunggu nya di luar kamar.


Saat terapi sedang berlangsung, Aji datang dan menghampiri Siwan. Sepertinya, dari raut muka Aji, terlihat dia mengenal siapa Satria. Saat mereka bertatap muka, Siwan mengenalkan Satria pada Aji. Dan Aji menyambut uluran tangan Satria dengan wajah datar.


Aji bertanya pada Siwan mengapa mereka berada di luar, lalu Siwan menjelaskan bahwa Hanna sedang di terapi di dalam bersama dokter dan perawat.


Lalu, sepersekian detik, Aji mengajak Siwan untuk menjauh dari Satria, ada sesuatu hal yang sangat penting dan rahasia yang ingin di bicarakannya. Tidak lama kemudian Siwan pergi meninggalkan Aji dan Satria.


Saat dokter sudah selesai memberi terapi pada Hanna, penunggu pasien pun di persilahkan masuk kembali oleh dokter.


Aji dan Satria pun masuk ke dalam setelah berbincang dengan dokter soal kondisi kaki Hanna.


" Dimana, ahjussi ?" tanya Hanna pada Aji, dengan muka pucat dan penuh keringat.


" Dia, ada urusan penting sebentar, dia akan segera kembali setelah menyelesaikan nya. Apa kau baik - baik saja?" Khawatir melihat kondisi Hanna.


" Aku, tidak apa - apa, aku hanya merasa lemas setelah menahan sakit. " Ucap Hanna sambil menyandarkan badannya ke belakang.


" Ini, minumlah. " Aji menyodorkan segelas air putih pada Hanna.


" Terima kasih. " Lalu Hanna meneguk segelas air itu sampai habis. Setelah itu, Aji menyodorkan sekotak tissue pada Hanna karena keringat masih bercucuran di pelipisnya.


Lalu, Satria menghampiri Hanna.


" Bagaimana sekarang kondisi kaki mu?" tanya Satria.


" Alhamdulillah, sekarang tidak terlalu sakit saat di gerakkan, setelah dokter memijat dan melemaskan urat - urat di kaki ku." Ucap Hanna masih terlihat lemas.


" Baguslah, semoga hasilnya semakin baik. " Ucap Satria.


" Aamiin ya Alloh. " Ucap Hanna.


" Kau seorang muslim ternyata. " Ucap Satria.


Aji yang mendengarnya seperti tidak menyukai akan pernyataan Satria tersebut.


" Iya, memangnya kenapa ?" tanya Hanna.


" Tidak apa - apa, tolong jangan salah paham !!" ucap Satria.


Tiba - tiba Aji menyela percakapan mereka.


" Han, sepertinya kau sangat lemas, kau beristirahat lah, aku akan menjagamu disini. Kau tidur saja. " Aji memberi isyarat lewat matanya agar Hanna menuruti perkataannya.


" Baiklah, aku memang agak lelah setelah tadi histeris menahan rasa sakit. Sepertinya aku harus istirahat dulu sekarang. " Ucap Hanna.


" Baiklah, kalau begitu kau istirahat saja. Aku juga harus segera pergi. Besok aku akan kembali lagi kemari. Mohon bersabarlah, sepertinya kau masih harus menginap disini. Tadi dokter mengatakannya padaku. " Ucap Satria.


" Iya, aku akan menunggu sampai dokter memperbolehkanku pulang ke rumah. Terima kasih banyak ya, mas Satria. "


" Sama - sama. Baiklah kalau begitu aku pamit dulu ya, Han."


Lalu Satria mengajak Aji bersalaman, " Salam juga buat kak Wan ya, Ji. " Tapi Aji hanya menganggukan kepalanya dan menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya.


Setelah Satria keluar dari kamar, Aji membantu Hanna menurunkan bantalnya, bersiap - siap untuk tidur.


" Bli, kau kenapa? " tanya Hanna.


" Aku, maksudnya? memangnya kenapa denganku ?" Aji balik bertanya.


" Raut wajahmu, kau seperti tidak suka pada Satria. Apa kau mengenalnya juga ?" tanya Hanna.


" Sudahlah, tidak usah kau pikirkan, kau beristirahat saja. " Ucap Aji sambil menyelimuti Hanna.


" Emh... hanya saja, satu pesanku, tolong, kau jangan mudah percaya pada orang yang baru kau kenal, seperti contohnya pada Satria. " Aji menegaskan nama Satria di akhir kalimat.


" Iya, baiklah. Aku paham, pasti ada sesuatu dengan orang yang bernama Satria itu. Yasudah, aku tidur dulu ya, bye... " Hanna lalu menutup matanya dengan selimut lalu memiringkan badannya ke sebelah kanan perlahan. Tidak lama kemudian dia langsung tertidur pulas. Dan Aji mengawasinya dari sofa dekat pintu masuk.