My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Nostalgia



Dua bulan berlalu, kini Hanna sudah mulai menjalani kegiatan barunya dengan sepenuh hati.


Yaitu, kegiatan mempelajari ilmu bisnis dan manajemen keuangan, terutama tentang bagaimana cara yang harus ia pahami dan lakukan dalam mengelola seluruh aset yang Siwan tinggalkan.


Karena ia bukan seseorang yang sempat mengenyam sekolah formal tentang ilmu manajemen bisnis dan keuangan, awalnya ia merasa sangat kesulitan, otaknya kini harus kembali berpikir tentang bagaimana caranya mengatur keuangan, memutar uang dan mengambil setiap peluang yang baik untuk masa depan.


Namun, karena dukungan dari orang di sekitarnya membuat Hanna yang sempat ingin menyerah dengan tugas dan tanggung jawab nya ini berpikir kembali, ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang telah bu Shinta berikan padanya.


..." Semudah itu bu Shinta mempercayaiku untuk mengambil alih seluruh aset ahjussi, aku pun harus bisa dengan mudah membuat otakku ini berguna, hasil pembelajaranku selama beberapa bulan ini, aku tidak boleh menyerah... hwaiting Hanna " batin Hanna menggumam....


Aji sengaja mencari seorang pengajar terbaik yang mau membimbing Hanna setiap hari di rumahnya, atas perintah bu Shinta.


Sebetulnya Aji sendiri yang menyarankan agar Hanna di ajari oleh ahlinya, namun Aji sendiri akan tetap ikut mengawasi dan membimbing Hanna pula.


Selain karena ia sibuk mengurus tugas dan pekerjaan yang menumpuk, faktor utamanya adalah karena ia tidak mau terlalu intens berada di samping Hanna setiap harinya.


Namun, sesekali ia selalu menemani Hanna saat belajar, di waktu senggangnya.


...***...


Dan, hari ini, sekitar pukul 15.30 wib, Hanna yang tertidur di sofa ruang kerja Siwan saat itu, di kejutkan oleh kedatangan bu Shinta.


Saat bu Shinta masuk ke dalam dan melihat rambut Hanna menjuntai ke bawah, lewat pegangan tangan sofa, bu Shinta pun berjalan semakin mendekatkan dirinya untuk melihat Hanna yang kini tengah tertidur pulas sambil memeluk sebuah buku.


Bu Shinta mengambil buku tersebut dan menutupnya dengan rapih.


Saat hendak menyimpan buku tersebut di atas meja, sesuatu jatuh ke lantai tepat di samping kakinya.


Bu Shinta memungutnya, ternyata itu adalah sebuah foto, foto Siwan anaknya yang sangat tampan dan berwibawa yang mengenakan sebuah jas berwarna biru dan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya terbuka, tengah duduk di ruang kerjanya, bergaya bak seorang pria yang terlihat serius dan sangar, memperlihatkan kerutan di keningnya, ekspresinya terlihat seperti orang yang sedang marah, serta di jari tangannya yang besar, ketika mengepal, terselip sebuah bulatan batu giok di cincinnya yang selalu ia kenakan selama ini di jari tengahnya.


Tanpa terasa air mata sudah menumpuk di pelupuk mata bu Shinta ketika melihat foto anaknya yang sangat ia rindukan selama ini, anak yang selalu pergi tanpa berpamitan, namun kali ini ia tak pernah kembali.


Sebagai seorang ibu, sepanjang hayatnya, ia akan selalu menganggap anak laki - lakinya adalah seorang anak kecil yang selalu butuh pengawasan.


Sejauh apapun jarak mereka, sedingin apapun hubungan mereka selama ini, anak laki - lakinya selalu menjadi prioritas utamanya.


Tanpa sepengetahuan Siwan, sejak dulu bu Shinta selalu mengirim seseorang untuk mengawasi kehidupannya, makanya terkadang bu Shinta selalu hadir di waktu yang tepat, ketika anaknya tengah menghadapi suatu masalah, bu Shinta selalu datang mengunjunginya secara tiba - tiba, meskipun beribu alasan selalu keluar dari mulutnya, demi menghindari rasa canggungnya terhadap anaknya sendiri.


Yaa... bu Shinta bukan tipe seorang ibu yang selalu memperlihatkan kehangatan di depan anak laki - lakinya itu, bahkan bu Shinta terkesan cuek dan tidak peduli, makanya Siwan pernah berkata pada Hanna, bahkan berkali - kali ia berkata bahwa ibunya lebih menyayangi anak orang lain di bandingkan darah dagingnya sendiri, ibunya selalu sibuk mengurus anak - anak terlantar namun menelantarkan anaknya sendiri.


Bu Shinta punya alasan tersendiri, kenapa ia hingga tega berbuat hal seperti itu. Namun, nampaknya Siwan belum begitu memahaminya, alasan di balik sikap dinginnya selama ini.


Sejak menjalin hubungan dengan Hanna, bu Shinta mendapat kabar yang sangat mengejutkan tentang Siwan dari mata - mata pilihannya.


Siwan yang awalnya bagaikan seekor anak singa yang kehilangan induknya, kini ia bertingkah layaknya seekor anak kucing yang nampak gembira mendapat perhatian dan elusan dari tangan seorang wanita, yaitu Hanna.


Tak bisa di pungkiri, semenjak terikat dengan Hanna, anaknya banyak berubah, terkadang ia selalu menanyakan kabarnya lewat telepon maupun lewat pesan singkat, dan ia lebih sering mengunjunginya di panti di waktu luangnya.


Siwan merupakan donatur tetap di panti asuhan ibunya, namun ia selalu mengirim Aji untuk mengurus semuanya dan mengungjungi ibunya disana, dulu.


Hal itu di karenakan Siwan selalu merasa amarah dan emosinya meluap kala melihat ibunya bercengkerama dengan anak - anak di panti, ya mungkin lebih tepatnya dia merasa cemburu melihat ibunya melimpahkan kasih sayang terhadap anak - anak disana, sedangkan padanya, ibunya selalu bersikap cuek dan biasa saja.


" Ibu... "


Hanna yang baru membuka matanya terkejut melihat bu Shinta yang berdiri mematung di dekatnya sambil berkaca - kaca dan menatap sebuah foto yang kini berada di tangannya.


" Ah... nak, maaf ibu mengganggu tidurmu " bu Shinta memalingkan wajahnya dan dengan terburu - buru menyeka air mata yang sempat mengalir di pipinya, lalu menyimpan foto Siwan di atas buku yang tadi sempat ia simpan di atas meja.


Hanna melirik ke arah foto tersebut sesaat, namun ia tidak ingin membahasnya, karena tidak mau memancing emosi bi Shinta kembali yang pastinya merasakan kesedihan setelah menatap foto anaknya, sejak beberapa detik yang lalu.


" Tidak kok bu, aku bahkan gak denger suara ibu sedikitpun " Hanna bangkit dan memperbaiki posisi duduknya.


Bu Shinta pun duduk di sampingnya.


" Bagaimana sekarang kondisi kalian nak, maaf ibi baru sempat menjenguk kalian lagi " bu Shinta mengusap - usap perut Hanna dan menyapa jabang bayi yang akan menjadi cucunya kelak.


" Tidak apa bu, aku tahu ibu sedang sibuk sekali ! Kami sehat bu, alhamdulillah, semua berkat doa ibu, kedua orangtuaku, juga orang - orang di sekitarku !" jawab Hanna.


" Apa kau butuh sesuatu ? katakan saja, jangan sungkan, menjadi wanita hamil itu tidak mudah, aku pernah mengalaminya, apa kau sudah mulai merasakan sakit di seluruh badanmu ?" tanya bu Shinta, terdengar perhatian.


" Iya bu, kakiku jadi sangat sering pegal, mungkin ini karena efek berat badanku yang terus meningkat, betul kan bu ?" tanya Hanna balik.


" Yups... kau minta bi Asih atau Lastri saja, atau kalau kau mau panggil saja tukang pijat profesional kemari, sekalian perawatan saja, barangkali kau ingin memanjakan tubuhmu, aku sudah beritahu Asih sebelumnya !" ucap bu Shinta.


" Iya bu, aku pernah memanggil mbak Retno kesini sekali, tapi karena akhir - akhir ini aku agak sibuk, aku jadi tidak ada waktu melakukan perawatan, setelah belajar aku kadang tertidur di manapun, hehe... " ucap Hanna.


" Jangan terlalu di forsir yaa... ibu tidak mau kau jadi stress dan jatuh sakit !" sahut bu Shinta.


" Tidak kok bu, tenang saja, selain ibu, bi Asih sering menasihatiku, ibuku juga sering menelpon untuk mengingatkanku " jawab Hanna.


" Oh iya, kapan kedua orangtua mu berangkat dari Bandung, minggu ini acara 7 bulananmu, jadi kan ?"


" Insya Alloh lusa bu, bli yang akan menjemputnya !"


" Kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku mulai besok sampai acara 7 bulananmu selesai, kau jaga kesehatanmu, lebih baik kau libur dulu belajarnya, kita pergi spa dan perawatan denganku ke Bali Home Spa, mau yaa... !" ajak bu Shinta.


" Baiklah, aku setuju, kapan ?" tanya Hanna.


" Besok saja ya, hari ini aku sedang malas pergi lagi, aku mau istirahat saja di atas, kau jangan lupa makan lagi, sejak bangun kau belum makan sesuatu, aku mau ke atas dulu yaa !"


Bu Shinta pun bangkit dan meninggalkan Hanna sendirian di ruang tengah.


Hanna juga bangkit dan pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan sebelum makan malam nanti.


Dua hari kemudian....


" Assalamualaikum... !"


" Waalaikum salam... !" jawab Hanna yang tengah duduk di sofa dengan penuh senyuman.


Hanna bangkit dan berjalan menyambut beberapa orang yang baru saja tiba di kediaman Siwan hari itu.


" Mah, pa, sehat ?" tanya Hanna yang kini tengah memeluk keduanya setelah sebelumnya menyalami tangan keduanya.


" Alhamdulillah teh, gimana ini si utun, sehat kan ?" pak bu Hani dan pak Bagyo bergantian mengusap perut Hanna.


Dari belakang Abdul, adik Hanna, Aji dan Bram menghampiri ketiganya yang masih berkumpul di depan pintu masuk.


Abdul menyalami tangan kakaknya dan memeluknya.


" Sehat teh ?" tanya Abdul.


" Alhamdulillah ganteng, makin mempesona aja nih mahasiswa kita !" jawab Hanna.


" Gue gitu loh.. " sahut Abdul membanggakan dirinya sendiri.


Hanna hanya tersenyum mendapati tingkah konyol adiknya yang ternyata masih sama saja.


Dari belakang bu Shinta yang baru turun dari lantai dua pun ikut menyambut keluarga Hanna yang baru datang dari Bandung.


" Eh.. kenapa malah pada berkumpul disana, ayo masuk, Hanna, ajak keluargamu masuk, kok malah berdiri di depan pintu !" ucap bu Shinta.


" Maaf bu, saking kangennya aku !"


Kini Hanna dan keluarganya, serta bu Shinta berkumpul di ruang tengah.


Bi Lastri dan bi Asih bolak balik membawa minuman dan makanan untuk menyambut para tamunya.


Dan Abdul serta Aji kini sedang membawa koper dan barang mereka ke lantai 2.


Kedua orangtua Hanna akan tidur di kamar kosong di lantai 2, bekas kamar yang sempat Austin tempati dulu. Sedangkan Abdul, dia terpaksa harus tidur bersama Aji kembali karena tidak ada lagi kamar kosong di rumah Siwan.


Kedua orangtua Hanna sengaja jauh - jauh datang karena ingin menghadiri acara pengajian di salah satu masjid yang ada di perkampungan warga yang beragama muslim yang tidak jauh dari kediaman Siwan, dan setelah itu akan mengadakan upacara adat ritual 7 bulanan yang akan di laksanakan di kediaman Siwan.


Sekalian melepas rindu pada anak sulungnya yang kembali tidak bisa ikut berkumpul di hari raya umat muslim tahun ini.


Sebelumnya bi Asih dan bi Lastri serta Hanna dan Aji sudah sempat berkunjung pada pengurus mesjid untuk meminta izin mengadakan pengajian disana dan meminta beberapa jemaah berkumpul untuk mendoakan Hanna dan calon bayinya.


Bu Shinta selalu mendukung apapun yang Hanna dan keluarganya inginkan, ia selalu bertoleransi demi Hanna dan calon cucunya kelak.


Beberapa waktu berlalu...


Seperti biasa, ketika mengunjungi Bali, kedua orangtua Hanna selalu menyempatkan diri untuk berlibur di sana, mengunjungi beberapa lokasi wisata yang menjadi incaran para wisatawan baik asing maupun lokal.


Kali ini, bu Shinta ikut bergabung dan berlibur untuk menjalin kedekatan bersama keluarga Hanna.


Tentu saja Aji dan bi Lastri dan Bram ikut menemani mereka, sedangkan bi Asih, karena baru sembuh dari sakit flu nya, jadinya ia tidak ikut berlibur bersama mereka.


Mereka kali ini berlibur ke Pulau Nusa Penida, dan menginap di salah satu resort yang ada di sana, masih milik Siwan.


Siang itu, matahari tidak terlalu terik, nampak teduh, namun tidak memperlihatkan adanya tanda - tanda akan hujan.


Hanna dan ibunya berjalan - jalan keluar, masih dekat dengan resort, tidak terlalu jauh, hanya mengunjungi sebuah pasar dan kuliner di sana yang pernah Hanna datangi bersama Siwan dulu.


Mereka berdua di temani oleh Bram, yang selalu bertugas menjaga Hanna kemanapun ia pergi, tidak terkecuali meskipun bersama ibunya.


Ayah dan adiknya tidak mau ikut jalan - jalan karena mwreka merasa lelah setelah paginya bermain di pantai.


Meskipun merasa risih, namun ibunya mau memahaminya, karena Hanna selalu menjelaskan bahwa Bram tidak akan bermulut ember, dia hanya bertugas menjaganya, itu saja.


Hanna dan ibunya duduk di sebuah bangku taman yang di atasnya terdapat pohon besar yang membuat mereka semakin terhindar dari panasnya matahari siang itu.


Bram duduk tidak jauh di belakang mereka.


" Mah, tahu gak, dulu, aku pernah duduk di kursi ini sama ahjussi, hari itu, hari pertama dia ngajak aku pergi berkencan, dia jauh - jauh ngajak aku kesini "


" Jadi, ceritanya, lagi bernostalgia nih... !" goda bu Hani.


" Pengalaman kencan pertamaku sungguh memalukan, aku yang agak fobia dengan laut, sampe mabok laut terus muntah - muntah di depan dia, duh... sumpah... malu banget rasanya hari itu, muka aku gak tahu semerah apa mah, bayangin aja coba... !" ucap Hanna.


" Hahahaha.... malu maluin banget sih, jijay... " sahut bu Hani.


" Aku pikir dia bakalan ilfil, eh ternyata malah semakin terhipnotis sama pesona aku !"


" Apa sih... pede banget ! Emh... tapi, kalian disini waktu itu nginep juga di resort sana ?" tanya bu Hani.


" Ih... enggak lah, kita cuma main aja kesini, gak nginep soalnya besoknya aku kan kerja, mamah pasti mikir aku cewek murahan kan, baru pertama kali di ajak kencan langsung mau di ajak tidur bareng !" ucap Hanna tanpa rasa malu sedikitpun.


" Yaaa.... sapa tau aja kan... !" sahut bu Hani.


" Enggak lah mah, aku gak semurahan itu ! Ahjussi selalu menjagaku, dan menghormatiku " ucap Hanna.


" Lah terus.... ini apa maksudnya ? perutmu ampe begini, ini yang namanya menjaga dan menghormati ?" tanya bu Hani, terdengar menyindir.


" Setelah sekian lama, kami baru melakukan hal itu mah, entah karena cinta atau nafsu yang sudah tak mampu terbendung lagi, di hari sebelum kepergiannya untuk selamanya ! apa ini bisa di sebut pertanda kalau Alloh akan memisahkan kami, dan menggantikan kepergiannya dengan kehadiran calon bayiku ini ? apa Alloh sengaja memisahkanku dengan ahjussi karena dia bukan jodohku, mah ?"


" Takdir... semua karena takdir, terima saja dengan ikhlas dan tabah, bertaubatlah... mungkin Alloh sedang menguji keimananmu lewat peristiwa ini, semua tidam usah di sesali, semua sudah terjadi, demi calon anakmu ini, perbaikilah kualitas hidupmu dan imanmu, dia akan terlahir sebagai seorang muslim, tugasmu selanjutnya merawat, menjaga dan mendidiknya supaya dia menjadi anak yang shaleh ataupun saleha "


" Aamiin !" sahut Hanna.


Untuk beberapa saat, keduanya terdiam, hanya menatap langit yang nampak begitu tenang siang itu, udara yang sejuk di sertai hembusan angin yang cukup tenang membuat keduanya merasakan kantuk menderu kedua bola mataknya.


Saat bu Hani menoleh pada anaknya yang berada di sampingnya, ia begitu terkejut karena melihat Hanna sudah berlinang air mata. Kedua pipinya nampak basah oleh tetesan air mata itu.


" Teh... kangen yaa ?" tanya bu Hani.


Hanna melirik pada ibunya sambil menganggukkan kepalanya.


Bu Hani langsung menariknya ke dalam pelukannya, membiarkan Hanna menangis meluapkan emosi dan rasa rindunya pada kekasihnya yang kini telah pergi untuk selamanya.


Bu Hani mengusap kepala dan lengan Hanna, memberinya kekuatan meskipun tanpa kata.


Tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu, menasihatinya pun akan terasa percuma, ia tidak berada di posisi Hanna, ia mana pernah tahu seperti apa yang saat itu sedang di rasa oleh anaknya, pastinya sedih dan terluka, namun, sebagai orang yang belum pernah merasakan hal yang di alami oleh anaknya saat itu, ia hanya bisa mendoakan agar anaknya tetap kuat menjalani hari - harinya, di balik kepedihan hati yang tengah menderanya.


Hanya waktu, yang mampu menyembuhkan luka itu sendiri !!


" Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya, hanya dia, yang selalu bertahta di dalam hatiku, semua kenangan tentangnya begitu terpatri di ingatanku, aku tidak bisa, aku tidak bisa melupakannya sampai kapanpun !" gumam Hanna, di tengah pelukan ibunya di siang hari itu.


Bram yang menyaksikan dan kebetulan mendengar pun jadi ikut terharu, raut wajahnya yang nampak awas dan siaga berubah menjadi sendu, menatap punggung kedua wanita di depannya, seorang ibu dan anak yang tengah berbicara hangat, dari hati ke hati.