My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Dendam kesumat



Saat Austin sampai di bawah, ia langsung menggapai Patricia lalu merebahkan tubuhnya di pangkuannya.


Dan seketika wajah Austin pucat dan membeku saat ia melihat kedua tangan Pat tengah menahan sebuah ranting pohon yang menancap sebelah kanan perutnya.


Air mata Pat bercucuran.


"Maaf !" ucap Patricia.


"Tidak, ini bukan salahmu, Pat, bertahanlah !"


Dari arah belakang, terlihat Aji menghampiri Austin dan Patricia.


"Oz... !" baru saja ia hendak mengatakan kalimat selanjutnya, namun fokusnya kini teralihkan pada perut Patricia yang sudah berlumuran darah.


"Astaga, Pat... ! Oz, ayo kita bawa dia kesana, ada mobil di depan sana !"


Austin pun mengangkat tubuh Patricia, lalu Aji memimpin jalan menuju mobil.


Setelah ketiganya berada di dalam mobil, Aji langsung menyetir mobil dengan kecepatan penuh namun masih dengan penuh kehati - hatian. Mereka menuju rumah sakit terdekat.


Setelah sampai di rumah sakit, Pat langsung di bawa ke igd, dan karena kondisinya sangat parah dan peralatan medis kurang memadai, ia langsung di rujuk ke rumah sakit besar, saat itu juga Pat di bawa dengan ambulance di temani oleh Austin.


Aji menyusulnya dengan mobilnya. Di perjalanan ia terus berkomunikasi dengan Siwan lewat handsfree nya.


"Hallo, bagaimana keadaan Pat?" tanya Siwan.


"Mereka menuju rumah sakit xxx, sepertinya kondisinya parah, ada ranting tajam menusuk perut Pat, aku belum tahu pasti bagaimana kronologisnya, Oz nampaknya masih shock, kak!" jawab Aji.


"Baiklah, kau dampingi terus dia, masalah disini aku sudah mengurusnya, dan barang - barang sudah diurus oleh Bram, mobil Oz pun sudah di urus !" ucap Siwan lewat hpnya.


"Baik kak, aku akan kabari perkembangan Pat secepatnya !"


Aji pun menutup teleponnya.


Beberapa jam yang lalu, saat Siwan dan Aji datang ke lokasi kejadian, Siwan langsung mengejar musuhnya serta komplotannya bersama anggota tim kepolisian. Dan, mereka pun berhasil di ringkus karena belum pergi jauh.


Sedangkan Aji, ia yang mendengar suara tangisan Austin langsung mengarahkan senter ke arah bawah bukit itu, dan langsung menemukan Oz yang tengah duduk di bawah membelakanginya. Aji pun langsung turun ke bawah untuk memastikan apakah yang ia lihat itu benar mereka. Dan ternyata dugaannya memang benar.


Kembali ke rumah sakit.


Austin yang memang bertugas di rumah sakit itu merasa ingin ikut andil dalam operasi Patricia kekasihnya.


"Izinkan aku ikut melakukan operasi ini !" pinta Austin.


"Dokter Austin, kau tidak bisa, kau sedang tidak bertugas, tunggulah, percayakan saja pada kami !" ucap salah seorang dokter yang juga teman Austin.


"Tapi dia kekasihku, aku ingin mendampinginya, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang terjadi padanya, izinkan aku ! Plisss... !" Austin memohon pada dokter temannya itu.


"Apa kau yakin, tanganmu tidak akan bergetar saat menyayat tubuhnya, apa kau yakin tidak akan terkejut mendengar detak jantungnya yang tidak stabil, apa kau yakin, kau siap dengan segala resiko yang ada namun kau tetap harus profesional dan mengenypingkan perasaan sedihmu itu ?" tanya dokter Hans, temannya.


Austin hanya terdiam sambil mencoba menahan air mat.


"Duduklah, percaya padaku, akan aku usahakan semampuku !" dokter Hans pun pergi meninggalkan Austin sendirian di luar ruang operasi.


Aji yang ternyata sudah ada di belakang Austin hanya menatapnya dari kejauhan dengan tatapan sendu.


Selama dua jam, operasi berhasil di lakukan untuk menyelamatkan Patricia. Namun tidak dengan bayinya.


Dokter Hans memberitahu Austin dengan perlahan, namun ia tidak bisa berbuat apa - apa.


Aji yang baru mengetahui bahwa Pat sedang hamil pun ikut terkejut.


Kini Austin sedang melihat Pat yang masih belum sadarkan diri lewat dinding kaca di samping ruangan icu.


"Ji, jangan beritahu Kak Wan !" ucap Austin.


"Tentang apa ?" tanya Aji, masih belum memahami ucapan Austin.


"Kehamilan Pat ! kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan !" ucap Austin.


"Baiklah !" jawab Aji.


Ia tahu, kalau Siwan mengetahui hal ini, dia pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya. Karena semua ini terjadi akibat permasalahan yang berawal dari Siwan dan musuh - musuhnya.


Selang beberapa hari, kondisi Patricia semakin menurun dan melemah, semua terjadi karena infeksi yang ada di perut dan rahimnya.


Austin yang sudah kembali bertugas di rumah sakitpum dengan berat hati harus menghubungi keluarga Patricia dan mengatakan kondisinya yang harus segera di lakukan operasi pengangkatan rahim.


Mau tidak mau keluarga Pat pun menyetujuinya, mereka terbang saat itu juga dari Australia ke Bali untuk menandatangani berkas sebelum operasi di lakukan.


Kini Austin terjun sendiri di ruang operasi, berkali - kali ia menarik nafas dan di sadarkan oleh rekan - rekannya agar fokus pada jalannya operasi.


Dan, operasi pun berhasil menyelamatkan Patricia, kondisinya pun berangsur membaik. Namun, ia harus merelakan kehilangan satu - satunya hal yang sangat berharga bagi wanita, yaitu rahimnya. Ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.


Austin nampak sangat merasa bersalah pada Pat. Ia bahkan tak sanggup menampakkan senyum di hadapannya.


Patricia yang pastinya merasa sangat sedih malah balik menghibur Austin.


"Hei, tampan, kau kenapa ?" tanya Pat yang saat itu sedang di suapi oleh Austin di kamar inap rumah sakit. Wajah Austin hanya datar tanpa ekspresi apapun.


"Kunyah yang betul makananmu, kau itu perempuan, tapi gaya makanmu sungguh aneh, apa kau menelan makananmu bulat - bulat, makanmu cepat sekali habisnya !" sahut Austin.


Selesai menyuapi kekasihnya, Austin mengajak Pat jalan - jalan supaya tidak merasa bosan terus berdiam diri di kamar. Ia membawa Pat dengan kursi roda menuju taman belakang rumah sakit.


Begitu banyak tanaman bunga bermekaran disana, memanjakan penglihatan para manusia yang menatapnya. Pohon hijau dan rindang, menyejukkan udara panas di sekitar serta menyerap polusi udara yang bertebaran dimana - mana.


Austin duduk pada sebuah tembokan pot sebuah pohon yang rindang, di sampingnya Patricia duduk di kursi rodanya.


"Oz, berhentilah menatapku seperti itu !" ucap Pat, seketika membuat Austin tersadar.


"Aku akan baik - baik saja kalau kau tetap menjadi Oz yang dulu !" sambung Pat kembali.


"Maafkan aku ! semua gara - gara aku !" ucap Austin sambil menangis tersedu - sedu. Ia baru bisa menampakkan air matanya di hadapan Pat setelah beberapa hari menahannya.


"Semua salahku, kalau saja aku tidak membawamu pergi ke villa itu, semua salahku, kalau saja aku tidak mengenal pria itu dan tidak berhubungan dengannya, maka musuhnya pun tidak akan pernah mengenal kita, semua..."


"Syuutssss.... hentikan, aku tidak ingin mendengarnya lagi, semua terjadi karena takdir Tuhan, apa kau ingin menyalahkan Tuhan juga ? berhentilah meratapi nasibku, aku bahkan lebih kuat di banding dirimu, sudah kukatakan aku bisa menghadapi cobaan ini, asal kau terus menjadi penyemangatku seperti sebelumnya !" ucap Pat.


Austin pun memeluk Patricia dan menghapus air matanya.


"Baiklah, mari kita jalani kehidupan kita seperti sebelumnya, penuh kegembiraan dan suka ria, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji !" ucap Austin.


Patricia pun tersenyum dan membalas pelukan Austin.


Namun, apa yang di ucapkan oleh Austin nyatanya tak seirama dengan apa yang ada di dalam hatinya.


Saat itu, Austin tengah berada di dalam ruangan dokternya menatap layar laptop miliknya.


Ia sedang mengamati sebuah file yang merupakan sumber akar masalah akan nasib malangnya da Pat kekasihnya.


"Jadi ini rupanya, wah... tidak sia - sia aku mengcopynya sebelum menghapusnya, ternyata ini.... !" Pat terdiam sesaat, lalu tertawa dan memasang wajah penuh senyum licik setelahnya.


File yang di temukan oleh Austin merupakan sebuah file jalur perdagangan manusia dan organ tubuh manusia di pasar gelap. File merupakan file rahasia hasil penelusuran dan penyelidikan kepolisian yang bekerja sama dengan Siwan dan anak buahnya untuk mengusut tuntas mafia perdagangan organ tubuh manusia yang sedang marak terjadi belakangan ini.


Seketika setan dan iblis melintas di hadapan Austin. Dia mulai berpikir untuk memanfaatkan keadaan supaya ia bisa meraup pundi - pundi uang yang nantinya akan ia nikmati di masa pensiunnya.


Austin yang memendam dendam pada Siwan pun mulai bergerak sendirian tanpa sepengetahuan orang terdekatnya. Ia memulainya dengan mengumpulkan informasi seputar siapa saja orang yang masih bergerak di bidang tersebut, lalu mulai mengajukan kerja sama berbekal pengalaman ia sebagai seorang dokter, ia tentu lebih tahu apa saja yang harus ia lakukan di bidang yang saat ini tengah ia geluti.


Berkali - kali ia sempat mengecoh Siwan, karena ia tidak bekerja sendiri, saat itu, kebetulan ada Tio yang meminta bantuannya karena harus mencari donor ginjal untuk ibunya.


Dan Austin pun bersedia membantunya, namun, dengan satu syarat, yaitu kesetiaan. Tio di haruskan setia hanya padanya, bukan pada Siwan lagi. Tio yang sedang hatinya seolah di liputi oleh awan hitam tebal pun menyetujuinya, dan menjadi mata - mata di kubu Siwan.


Austin benar - benar orang bermuka dua semenjak hari itu. Dia terus menempel pada Siwan dan menjadi lebih bersemangat membahas bisnis yang Siwam geluti, karena ia bertekad, ia ingin menghancurkan usaha Siwan, satu persatu.


Flashback Off


...***...


Siwan mendatangi Austin yang kini berada di dalam ruangan bawah tanah, gelap dan pengap.


Seperti biasa, Aji selalu mendampinginya.


Austin terlihat tengah duduk di pojokan, sambil memeluk kedua kakinya yang terlipat.


"Apa kau masih enggan untuk mengatakannya padaku ?" tanya Siwan, mulai mendekati Austin.


"Menurutmu ?" Austin malah kembali bertanya.


"Aku sudah menelepon Pat, aku sudah meminta maaf padanya meskipun terlambat, dia sedang dalam perjalanan kemari !"


"Apa, untuk apa kau melibatkan lagi dia dalam masalah ini !" pekik Austin.


"Kau bahkan melibatkan kekasihku dalam dendam kesumatmu itu !" suara Siwan mulai meninggi. Raut wajahnya berubah menjadi menyeramkan.


"Owh... jadi, kau pun percaya dengan apa yang ku perbuat ? hahahaha... kau sama bodohnya dengan mereka ! bodoh, hahaha.... !" Austin terlihat seolah mengolok - olok Siwan.


Padahal sesungguhnya Siwan tahu, bahwa Austin memang dalangnya, ia merekayasa hasil DNA Hwan, dirinya dan Aji.


Saat kembali ke Bali, ia pernah bertanya pada ibunya.


"Bu, seperti apa rupa Hwan ?" tanya Siwan, saat sedang makan malam bersama ibunya.


"Dia mirip sekali denganmu saat masih bayi, lucu, dan menggemaskan, ah... aku sangat merindukannya !" Bu Shinta menaruh sendoknya di piring, ia jadi tidak berselera untul kembali menyuap nasi ke sendoknya karena merasa sedih, merindukan Hwan, cucunya.


"Jadi, ibu memang percaya bahwa dia anakku, bukan anak Aji !"


"Tentu saja dia anakmu, aku yakin itu, dia bahkan punya tahi lalat di perut sebelah kirinya, dua ruas jari jaraknya dari atas pusarnya, tahi lalat yang hanya di miliki oleh anak laki - laki dari keluarga Im, sama sepertimu, dan ayahmu !" bu Shinta terlihat bersemangat menjelaskannya pada Siwan.


Siwan mulai menyudahi acara makan malamnya.


"Aku sudah selesai, ibu, lanjutkan makanmu, habiskan yaaa !" pinta Siwan, lalu beranjak pergi dari ruang makan.


"Siwan, kapan kau akan menjemput mereka ?" tanya bu Shinta, menengok ke belakang melihat punggung anaknya yang terhenti dari langkahnya.


"Belum saatnya !" jawab Siwan, hanya menoleh sebentar menatap ibunya, lalu pergi melanjutkan langkahnya.


Bu Shinta nampak sangat sedih, namun ia tak bisa berbuat apa - apa. Kalaupun ia gegabah, ia takut malah terjadi sesuatu hal yang sangat buruk pada mereka. Siwan, Hanna dan Hwan. Karena bu Shinta tahu, Siwan sedang dalam misi membabad musuhnya yang sedang berani mempermainkan hidupnya.


...***...


Kembali pada Siwan dan Austin.


"lalu, alasanmu, kau ingin membuat Hanna pergi dariku selamanya, kenapa ?" tanya Siwan.


"Aku tidak ingin ada lagi wanita di sekitarmu yang menjadi korban !" jawab Austin secepat kilat.


"Korban ?" Siwan merasa heran.


"Mendiang istrimu, bahkan Pat, adalah korban, karena mereka ada di dekatmu ! dan mungkin Hanna juga !"


"Kau, tidak ingin memberitahuku, siapa dia, siapa orang yang sedang mengincar Hanna dan anakku ?" tanya Siwan.


"Aku tidak tahu, jelas ! hahaha... !"


"Brengsek !" Siwan meninju kembali wajah Austin yang nampak masih bengkak karena perkelahian mereka hari kemarin.


Siwan pun melangkah menuju tangga, hendak naik meninggalkan AUSTIN. Aji yang berada di dekat tangga pun ikut mengekori Siwan.


"Hei... tanyakan saja pada Andrew Chou, dia pasti tahu, tapi, kau tidak mungkin bisa menemukannya, hahaha... !" Austin tertawa kembali setelah berteriak pada Siwan.


Siwan hanya menatapnya , dengan ujung matanya dan lirinkan mautnya itu mampu membuat tawa Austin terhenti dan mengalihkan pandangan darinya.


Sesampainya di atas, Siwan langsung memberi Aji perintah untuk mencari keberadaan Andrew Chou saat itu.