
" Chagiya.. will you marry me ?" Siwan membuka sebuah kotak cincin kecil di hadapan Hanna saat mereka sedang melakukan dinner di sebuah pinggiran pantai bernuansa romantis diiringi dengan alunan musik classic sebagai backsongs momen romantis mereka.
Tapi, alangkah terkejutnya Hanna saat melihat isi dari kotak cincin tersebut bukanlah sebuah cincin, akan tetapi sebuah jarum yang menancap di tengahnya.
Dia menyipitkan matanya dan mengedipkan matanya secara kasar, lalu karena penasaran untuk memastikannya apakah itu sebuah jarum atau bukan, tangannya mulai mendekat hendak menyentuhnya.
Dan ternyata memang benar sebuah jarum, ujung jarinya terluka, mengeluarkan setetes darah saat menyentuh jarumnya.
Lalu, tiba - tiba, Saat dia hendak menatap wajah kekasihnya, dia merasa aneh, suasana pantai dengan deburan ombak kini berubah menjadi sebuah hutan yang gelap dengan suara burung hantu dan lolongan seekor serigala, tiba - tiba alunan musik classic yang romantis menjadi musik thriller seperti di film - film berbau kejahatan.
Mata Hanna membelalak mengelilingi setiap sudut. Dan, saat dia menatap Siwan yang ada di hadapannya, dia merasa kaget karena kini yang berada di hadapannya merupakan seekor harimau loreng bermata kuning keemasan. Jelas sekali terdengar olehnya suara nafas dari seekor harimau tersebut dan tiba - tiba harimau itu memperlihatkan taringnya dan membuka mulutnya lebar - lebar seperti hendak menerkamnya.
Hanna menutup matanya berteriak sangat histeris.
" Astagfirullah... ternyata itu hanya mimpi !!" Hanna terbangun dari mimpi seramnya, dia terduduk di atas kasurnya lalu mengelap keringat yang membasahi keningnya.
" Jam berapa ini ?" dia melihat jam beker di samping tempat tidurnya, lalu mencari hpnya.
Saat membuka hp ternyata sudah ada panggilan tak terjawab dari Siwan dan ibunya dari Bandung.
My Ahjussi...
Kau sudah bangun? jangan sampai kesiangan makan sahur nya, ya.
03.05 Wita
Lalu pesan dari ibunya pun isinya sama, mengingatkan agar tidak kesiangan saat melakukan sahur di hari pertamanya berpuasa.
Hanna lalu bergegas menuju dapur dan mempersiapkan makan sahurnya.
Tidak lama, hp di sakunya berdering, ada panggilan masuk dari Rayhan.
" Hallo, Han, udah makan sahur ?" tanya Rayhan di sebrang sana.
" Baru mau A, Hanna baru bangun. "
" Emh.. oke, jangan lupa multivitamin nya di makan ya. " Ucap Rayhan mengingatkan.
" Iya, pasti.. eh A Rey makan sahur sama apa ?" tanya Hanna.
" Aa cuma makan sama nugget plus sosis goreng. Alhamdulillah, lupa belum belanja stok bahan. Hehe.. "
" Ish.. kenapa tidak bilang, Hanna masak soto Bandung plus perkedel nih, kemarin Hanna tanya katanya udah punya temen nasi buat sahur, tahu cuma nugget Hanna kirim kesana kemarin. "
" Gak apa - apa, Aa takut ngerepotin kamu. Yaudah, cepet kamu makan dulu, nanti keburu imsyak loh.. "
" Oke.. assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. " Jawab Rayhan di sebrang sana lalu menutup teleponnya.
Selesai makan sahur, dia membuka akun sosial medianya di hp, begitu banyak status di halaman fbnya berjudul " Sahur pertama.." milik teman - teman sosmednya, " Sahur pertama, kesiangan.. "
Hanna sempat tertawa melihat begitu banyaknya status orang sahur kesiangan dengan berbagai alasan yang berbeda - beda.
Selesai sholat subuh, dia berdzikir dan mengaji, banyak keistimewaan di bulan ramadhan, dia tidak ingin melewatkan kesempatan itu untuk bertaubat dan lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa.
Bahkan dia mengatur jadwal pertemuannya dengan Siwan untuk menjaga agar tidak ada setan yang mampir meracuni pikiran Hanna untuk membatalkan puasanya.
Kebetulan sekali, hari pertama puasa merupakan hari kamis, saat giliran dia sedang libur bekerja. Siwan dan Hanna memutuskan untuk bertemu sore hari menjelang buka puasa tiba. Siwan sangat menghormati kekasihnya yang sedang menjalani ibadah puasanya. Dia bahkan berjanji tidak akan pernah mampir masuk ke tempat kostnya atau mengajaknya jalan berdua ke tempat sepi yang memungkinkan mereka melakukan hal maksiat.
Hanna hanya berusaha untuk memperbaiki dirinya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, kalaupun sebelumnya dia melakukan sebuah dosa karena gaya berpacarannya yang masih melewati batas, tapi dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Dia hanya kurang mendapatkan siraman rohani selama tinggal di Bali. Coba saja, kalau misalnya dia masih tinggal di Bandung, dia pasti tidak akan banyak berpikir ulang untuk segera meninggalkan kekasihnya itu. Dia pasti terus di ceramahi oleh pamannya yang seorang ustadz di lingkungan rumahnya.
Masalah dosa yang akan di dapatkannya nanti, semua hanya dia pasrahkan pada Alloh, Tuhannya.
Yang penting, dia tidak akan sampai hati menggadaikan imannya ataupun memberikan kesuciannya pada seorang lelaki sebelum dia menikah. Namun, dia hanya tidak ingin menjadi orang yang munafik, di usianya saat ini, apalagi ini merupakan hubungan pertama baginya dengan seorang pria yang ia sukai, dia masih begitu penasaran dengan hal - hal berbau erotisme. Bahkan tak jarang dari beberapa temannya yang dia ketahui malah gaya pacarannya lebih parah darinya. Semoga secepatnya dia benar - benar bertaubat dari segala hal. Aamiin.
Setelah selesai mengaji, dia memutuskan untuk melakukan yoga di dalam kamar kost nya, setelah itu dia mencuci baju dan membereskan ruang kostan yang nampak sudah berdebu.
Selesai melakukan semua aktifitasnya, dia merasa lelah lalu tidur setelah mandi.
Barulah setelah terbangun dari tidurnya, sore hari dia bersiap - siap untuk pergi bertemu dengan Siwan.
Dan kini, mereka sudah berada di dalam mobil, di perjalanan menuju suatu tempat.
" Bagaimana, hari pertama puasamu ? masih kuat ?" tanya Siwan.
" Ish... ahjussi, kau bertanya padaku seolah aku ini anak kecil yang sedang belajar berpuasa. "
" Lalu, aku harus bertanya seperti apa ?" tanya Siwan kebingungan.
" Hemh.. tidak kreatif. Iya, alhamdulillah aku masih kuat, aku baru bangun tadi sore jadi rasa laparku teralihkan dengan tidur nyenyakku. " Jawab Hanna.
" Apa setiap tahun puasamu tamat, sebulan penuh ?" tanya Siwan.
" Tidak bisa ahjussi, bagi perempuan yang beranjak dewasa dan sudah menstruasi pasti ada halangan setiap bulannya. Saat menstruasi aku tidak bisa berpuasa, tapi ada aturannya, aku harus mengganti puasanya di hari lain setelah bulan ramadhan berlalu. " Ucap Hanna.
" Tahun kemarin, berarti kau tidak full, sudah di ganti ?"
" Tentu saja. Aku mencicilnya saat bulan syawal. "
" Bulan syawal ? bulan apa itu?"
" Itu merupakan bulan di kalender islam, bulan ke sepuluh adalah bulan syawal, setelah ramadhan. "
" Oh... bulan oktober ya.. " Dengan polosnya Siwan berkata seperti itu.
" Bukan, ahjussi bukan bulan oktober, tapi bulan kesepuluh kalender islam, setiap tahunnya berbeda. Aduh... bagaimana ya cara menjelaskannya.. "
Siwan memasang wajah seperti belum memahami ucapan kekasihnya itu.
" Begini, nah sekarang kan bulan ramadhan, bulan ke sembilan, nah selama tiga puluh hari berpuasa, dan setelah selesai, besoknya merupakan tanggal satu syawal yaitu idul fitri bagi umat muslim. Bagaimana, apa kau lumayan mengerti sejauh ini?" tanya Hanna menatap Siwan yang mengangkat kedua halisnya.
" Iya, aku paham. Jadi hari idul fitri itu tanggal satu syawal kan ?" tanya Siwan.
" Yap, that's right."
" Apa tahun kemarin saat kau berpuasa kita sudah berhubungan ?"
" Kita masih pedekate sepertinya, hihi... "
" Lalu, bulan apa kita merayakan anniversary kita yang pertama nanti ?"
" Anniversary.... " Ucap Hanna, lalu mencoba mengingatnya. " Lalu bertanya di dalam hatinya. "Kapan ya...??? "