My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Nanas



...Sore hari......


...Bu Shinta, Aji dan bi Lastri pulang ke rumah....


Banyak sekali stok makanan yang mereka beli hari itu.


...Di ruang tengah, hanya ada bu Rika yang sedang duduk sambil membaca sebuah buku dan langsung menyudahi kegiatan membacanya saat ketiganya masuk ke dalam rumah....


" Bu, sini saya bantu... " ucap bu Rika menghampiri bu Shinta yang menenteng dua kantong keresek saat itu.


^^^" Hanna dimana, Rika ?" bu Shinta mengikuti bi Rika hingga ke dapur.^^^


" Anu bu, itu, nak Hanna sedang tidur sepertinya, selesai makan siang dia langsung ke kamar, aku mengantarnya ke atas, dia langsung tiduran, tapi... " ucapan bu Rika terhenti.


" Tapi apa... ?" bu Shinta terlihat penasaran.


^^^" Anu... " bu Rika terlihat ragu - ragu.^^^


" Bu, aku lihat dia ke atas dulu ya... " Aji yang memahami gestur aneh bu Rika langsung menangkap sesuatu yang mencurigakan teejadi pada Hanna.


^^^" Tunggu, kau bawa ini ke atas, simpan kue ini di kamarnya, mudah - mudahan dia suka " bi Shinta memberikan satu kotak berisi macam - macam kue basah untuk Hanna.^^^


Setibanya di depan kamar Hanna, Aji mengetuk pintunya terlebih dahulu.


...Tok... Tok... Tok......


" Masuk... " pekik Hanna dari dalam kamar.


...Aji pun masuk ke dalam....


" Katanya kau sedang tidur " Aji mendekat pada Hanna yang duduk di atas ranjangnya sambil bersandar dan memegang tasbih serta memakai sebuah pashmina di kepalanya.


^^^Aji membawa kursi yang ada di depan meja rias dan duduk di samping ranjang Hanna.^^^


" Ini, bibi membelikan makanan untukmu, makanlah, kau belum makan apa - apa lagi kan ?" tanya Aji.


...Namum Hanna tidak juga menjawab pertanyaan Aji, dia hanya menatap Aji dengan tatapan aneh....


" Ada apa ?" Aji semakin mendekatkan kursinya pada ranjang Hanna.


^^^" Bli, tadi siang ada yang menelponku, tunggu sebentar " Hanna mengambil hpnya yang ada di atas nakas.^^^


" Lihat, ini nomornya, aku tidak tahu dari daerah mana " Hanna memperlihatkan sebuah nomor di list panggilan masuknya.


...Aji mengeluarkan hpnya dan megetikkan nomor tersebut di benda pipih miliknya....


" Lalu, apa yang dia bicarakan ?" tanya Aji.


^^^" Hanya ada suara tembakan dan sebuah teriakan seorang pria, bli, apa mungkin dia ahjussi, mungkin dia masih hidup di suatu tempat dan sedang mencari pertolongan padaku bli, mungkin saja memang... "^^^


" Ssstt.... " Aji menyuruh Hanna diam saat ia mencoba menelpon nomor tersebut.


Hanna pun terdiam menatap Aji dengan penuh harap, berharap nomor yang Aji coba telepon tersebut mengangkat panggilan dari Aji.


" Tidak tersambung " ucap Aji.


...Hanna membuang nafas dengan lemas, merasa kecewa karena harapannya ternyata sirna....


" Aku akan melacak nomor ini dengan temanku, nanti aku kabari lagi, sebaiknya kau jangan terlalu berharap, mungkin saja ini hanya kerjaan orang iseng " ucap Aji.


^^^" Apa aku tidak boleh, sedikit saja berharap masih ada keajaiban yang terjadi padanya, aku sungguh masih mengharapkan dia kembali pulang dalam kondisi apapun, aku hanya ingin dia kembali, apa aku salah bli ?" tanya Hanna.^^^


" Bukan hanya kau saja, bahkan aku pun memiliki harapan yang sama denganmu, terutama ibunya, jadi, kumohon, berhentilah berpikir seperti itu, hanya akan membuat hidupmu semakin menderita, kau harus tetap melanjutkan hidupmu " Aji menarik kedua tangan Hanna dan menggenggamnya serta menatap Hanna dengan wajah penuh harap.


^^^" Bli, apa kalian tidak berusaha mencarinya, mungkin memang ahjussi masih selamat dan tersesat disana "^^^


" Cukup Hanna, kau tidak percaya padaku ? bahkan bu Shinta pun tidak akan tinggal diam, dia pasti sudah mengerahkan seseorang untuk mencarinya, ini sudah 3 bulan lebih, kita harus mencarinya kemana lagi ?" Aji terlihat agak kesal.


...Hanna hanya bisa menundukkan kepala samabil menangis....


Hati Aji pun melunak, raut wajah kesalnya berubah menjadi raut penuh rasa iba.


...Aji duduk di atas ranjang dan menarik Hanna untuk bersandar dan menangis di pundaknya....


" Maafkan aku, sungguh aku sudah mencoba segala cara, namun hasilnya tetap sama, aku pun sangat terpukul dengan kejadian ini, aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi "


...Aji terhanyut dan terbawa emosi, akhirnya dia pun ikut menangis sambil berpelukan bersama Hanna di senja hari itu....


Bu Shinta yang diam - diam mendengar percakapan mereka di ambang pintu pun ikut kembali bersedih.


....Ia berjalan turun ke bawah sambil mengusap matanya yang sudah nampak basah....


Dan bu Shinta masuk ke dalam kamarnya.


...Sedangkan bi Lastri tengah asik menyiapkan masakan untuk makan malam....


Beberapa menit kemudian...


" Bli, kau menangis ?" tanya Hanna.


^^^" Masih nanya, kau pernah kan melihatku menangis sebelum hari ini, bodoh... " sahut Aji.^^^


" Cih... jelek, wajahmu jadi jelek " ucap Hanna lalu meluruskan posisi duduknya karena pegal terua bersandar di bahu Aji.


^^^" Jadi, kalau tidak menangis, wajahku tampan, begitu kan maksudmu ?" tanya Aji.^^^


" Hih... pede sekali, sudah ah, aku lapar... " Hanna mencoba meraih kotak makanan yang di bawa oleh Aji tadi.


^^^" Wah... kelihatannya enak " Hanna mengambil satu slice blackforest yang ada di jajaran kue basah lainnya.^^^


" Pelan - pelan, nanti kau tersedak !!" Aji merapihkan rambut Hanna yang berantakan di balik pashminanya, sebagian rambut menyembul keluar, lalu Aji rapihkan di belakang telinga Hanna.


^^^" Emh... ini enak, kau mau ? coba buka mulutmu... aaaa.... " Hanna menyuruh Aji membuka mulutnya lebar - lebar.^^^


Setelah Aji menuruti perkataannya, Hanna memasukkan sepotong kecil blackforest ke dalam mulutnya.


Tanpa ada rasa canggung maupun berbagai tambahan rasa apapun Aji dan Hanna kembali mencoba saling membuat masing - masing untuk tersenyum, walaupun hati mereka sedang merasa perih, karena, luka lama yang hampir kering, selalu tergores lagi di posisi yang sama.


Pukul 19.00 wita, setelah makan malam, Aji pamit pulang, dia berjanji akan memberi Hanna kabar secepatnya setelah dia melacak nomor tersebut asalkan Hanna mau berjanji padanya tidak akan menyiksa diri dengan pikiran - pikiran yang membuat pilu hati seperti tadi.


...***...


Tiga hari kemudian...


Di suatu pagi yang cerah, Hanna yang sedang sarapan bersama bu Shinta di kejutkan oleh kedatangan Austin yang membawa buket bunga mawar putih untuk Hanna.


" Terima kasih kak Oz... " ucap Hanna langsung menerima buket bunga dengan tangannya sendiri.


" Jangan di makan yaa, kalau yang ini baru boleh... " Austin menyimpan satu kantong keresek di atas meja.


" Apa ini ?" Hanna yang terlihat penasaran pun mengeluarkan isinya.


" Wah... buah berry... pasti segar sekali... " Mata Hanna terlihat berbinar melihat beberapa kotak kecil berbagai macam buah berry, strawberry, blueberry dan blackberry.


Bu Shinta hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.


" Oz, bagaimana Asih, apa di sehat ?" tanya bu Shinta sambil menyendok makanan ke mulutnya.


" Sehat bu, akhir - akhir ini bi Asih sering pergi ke pura dan berkumpul bersama ibu - ibu warga sekitar untuk mengikuti ritual keagamaan " jawab Austin.


" Baguslah, jadi dia ada kegiatan lainnya selain mengurus rumah " sahut bu Shinta.


Selesai sarapan, Hanna dan Austin jalan - jalan di taman sekitar rumah.


" Bagaimana, apa sekarang sudah merasa ada pergerakan di dalam perutmu ?" tanya Austin.


" Belum kak, rasanya masih sama seperti biasanya " jawab Hanna.


" Kau sudah mulai kelihatan segar lagi, padahal kau belum mandi, itu tandanya masa ngidammu sudah akan berlalu " ucap Austin sambil tersenyum jahil.


" Hih... dasar, oh iya kak, apa ibu hamil boleh makan buah nanas ?" tanya Hanna dengan wajah penuh harap.


" Tentu saja, siapa bilang tidak boleh !" jawab Austin.


" Hehe... sejujurnya aku ingin makan nanas, hanya saja ibuku melarangku, katanya bla bla bla..... " Hanna menceritakan omelan ibunya di telepon semalam gara2 menceritakan keinginannya makan nanas.


" Tidak apa, boleh saja makan nanas, hanya saja tidak boleh berlebihan, sedikit saja, dan lihat dulu kondisi perutmu, kalau sedang dalam keadaan baik - baik saja, baru boleh " ucap Austin.


" Asiikk... pulang dari dokter kandungan boleh ya belikan aku nanas... " Hanna merengek sambil menggoyangkan lengan Austin.


" Astaga... gemasnya, hatiku tidak kuat melihatnya " gumam Austin.


" Iya, baiklah, nanti aku belikan " jawab Austin.


" Yee... thanks yaa... " Hanna melingkarkan lengannya pada lengan Austin dan kembali berkeliling di sekitar panti sambil mengobrol.


Saat sedang berkeliling, tiba - tiba ada dua orang anak perempuan berusia 7 tahun baru pulang dari sekolah.


" Kak Hanna... " teriak mereka dari gerbang panti.


" Kalian sudah pulang lagi, sebentar sekali sekolahnya !" ucap Hanna.


" Iya, sebentar kak, aku kelas satu, jadi pulang jam 9 kata bu guru " jawab seorang anak perempuan bernama Ara, sedangkan seorang lagi bernama Arul, anak laki - laki yang pendiam namun pemberani.


" Eh, kenalkan ini paman Austin, ayo beri salam " ucap Hanna.


Lalu kedua anak tersebut sedikit menganggukkan kepa sambil menyimpan kedua telapak tangan mereka yang telah menyatu dengan rapat lalu mereka simpan di dada.


" Om Swastiastu, saya Ara "


" Om Swastiastu, saya Arul "


Ucap keduanya.


" Hallo, panggil aku kak Oz saja ya, eh iya, aku masih ingat, terakhir kalu kemari dulu kalian masih bayi loh umur satu tahun kalau tidak salah, kalian kembar kan ?" tanya Austin.


" Betul Om, dia kakakku " jawab Ara menunjuk Arul.


" Aih... kalian sudah besar sekarang, cantik dan tampan, tos dulu dong... " Austin mengangkat kedua telapak tangannya.


Ara dan Arul langsung menyambut dan menggeplakkan telapak tangannya pada telapak tangan Austin.


" Yasudah, kalian masuk dulu sana, ganti baju dulu, oke... " Hanna mengedipkan matanya pada kedua anak itu.


" Siyap... " jawab Ara.


Kedua anak itu pun berlarian menuju pintu masuk panti.


" Sepertinya kau sangat senang tinggal disini !" Austin menatap Hanna yang masih tersenyum melihat punggung kedua anak yang tengah berlarian itu.


" Tentu saja, banyak ilmu yang bisa kudapat disini, meskipun baru sebentar, tapi aku sudah merasa nyaman karena mereka menyambutku dan menjagaku dengan baik, aku juga bisa belajar mengurus anak selama disini, persiapam sebelum menjadi seorang ibu !" jawab Hanna, wajahnya bersinar dan matanya berbinar. Entah efek dari cahaya matahari yang menyelinap di antara dedaunan menyoroti sebagian wajah Hanna yang nampak cantik begitu pula di mata Austin.


Austin menatap Hanna dengan tatapan penuh arti dan rasa kagum. Di dalam kepalanya seolah ia sedang berkata, " syukurlah, aku senang melihatmu seperti ini "


Austin terus menatap wajah Hanna yang tersenyum dan melambaikan tangannya pada beberapa anak yang menatapnya dari kejauhan, seolah mode slowmotion sedang on di pupil kedua matanya.


Beberapa jam kemudian....


Kini bu Shinta dan Hanna sedang berada di dalam ruangan pemeriksaan, kali ini Austin hanya menunggu di luar.


Selesai melakukan pemeriksaan, di ambang pintu keluar masuk ruangan dokter.


Austin langsung bangkit dari kursinya saat melihat Hanna dan bu Shinta keluar dari ruangan tersebut.


" Bagaimana hasilnya ?" tanya Austin.


" Sehat, mereka sehat !" jawab bu Shinta.


" Syukurlah, kalau begitu, kau bisa makan nanas hari ini juga !" Austin menatap Hanna sambil tersenyum.


" Nanas ?" bu Shinta mengkerutkan kedua alisnya.


" Iya bu, aku sedang ingin makan nanas, kak Oz bilang katanya boleh asal tidak banyak dan aku sedang dalam keadaan baik - baik saja " sahut Hanna yang masih melingkarkan lengannya pada lengan bu Shinta.


" Baiklah, kalau begitu ayo kita cari di supermarket terdekat saja !" ajak bu Shinta.


Mereka bertiga pun kini sudah berada di sebuah supermarket.


Berkeliling dari satu lorong ke lorong lain, niat hati hanya membeli nanas apalah daya mata para wanita selalu tidak konsisten dengan niatan awal mereka.


Satu trolley penuh sudah Hanna isi dengan berbagai barang kebutuhannya serta makanan yang terlihat menggiurkan di lidahnya.


Di kasir...


" Semua totalnya jadi 754.000 ribu rupiah " ucap sang kasir.


Hanna mengeluarkan kartu atmnya dari dalam sling bag yang melingkar di pundaknya.


Tanpa sepengetahuannya Austin pun mengeluarkan kartu atm miliknya dari dalam dompet.


Saat Hanna melihat tangan Austin melayang ke arah kasir dan menyerahkan kartu atm miliknya, matanya langsung nyalang.


" Kak Oz, tidak usah, biar aku saja, ini semua kan barang milikku " ucap Hanna.


" Tidak apa, aku saja yang bayar, hadiah untukmu " jawab Austin.


" Tidak bisa, aku tidak mau " Hanna menatap sang kasir yang terlihat kebingungan.


" Mbak, ini, kartu punyaku saja !" sambung Hanna.


" Tidak " pekik Austin menjegal tangan sang kasir yang hendak menggesekkan kartu milik Hanna di mesin EDC nya, " aku sudah janji mau membelikanmu nanas, aku tidak mau berdusta " ucap Austin dengan tegas.


" Yasudah, kau bayarkan saja nanasnya, sisanya aku yang bayar !" ucap Hanna.


Sang kasir yang terlihat ingin menyela tidak di beri kesempatan sedikitpun untuk mengeluarkan satu patah katapum di hadapan keduanya.


Bu Shinta yang baru selesai dari toilet menghampiri mereka yang sedang berdebat di kasir, untungnya saat itu di belakang mereka tidak ada antrian lainnya.


Bu Shinta yang mendengar perdebatan mereka hanya geleng - geleng kepala sambil mengeluarkan kartu atm miliknya dan memberikannya pada sang kasir yang sedang tersenyum namun penuh kebingungan.


" Ssttt.... heh, kalian bisa diam tidak, kalian tidak malu apa... " ucap bu Shinta.


Hanna dan Austin tidak bisa berkata apa - apa lagi saat melihat sang kasir menyerahkan kembali kartu pada bu Shinta.


" Bu... " Hanna tertegun melihat bu Shinta yang sedang memasukkan kembali atmnya ke dalam dompet.


" Sudah, ini kartu khusus untukmu dan bayimu, semua uang Siwan ada disini " sahut bu Shinta.


" Baik bu, terima kasih banyak !!" ucap Hanna dengan nada lemas.


Austin menutup mulutnya dengan telapak tangannya seraya menahan tawa melihat raut wajah Hanna yang berubah menjadi penurut.


" Gara - gara kak Oz... huh... " gumam Hanna sambil menatap Austin yang meledeknya terus menerus dengan mimik muka menyebalkannya.


Beberapa menit kemudian, kini mereka sedang berada di perjalanan menuju pulang ke rumah bu Shinta di panti asuhan.


Dan, tiba - tiba ponsel Hanna berbunyi.


Hanna merogoh hpnya yang ia simpan di dalam mini slingbag miliknya.


" Bli Aji... " ucap Hanna, menatap layar hpnya yang tertera nama Aji di atasnya sedang mencoba menghubunginya lewat sambungan telepon.


Bu Shinta menoleh pada Hanna, ia melihat Hanna begitu senang mendapat panggilan dari Aji.


Namun tidak untuk Austin, dia yang sedang mengemudi merasa tidak suka melihat Hanna tersenyum karena Aji, sesekali ia menatap Hanna yang sedang mendengarkan dengan seksama pembicaraan orang di seberang teleponnya, lewat kaca spion mobilnya.


" Apa yang sedang mereka bicarakan sebetulnya ?" gumam Austin, terus bertanya - tanya.


...Di sisi lain... ...


" Hallo Hanna, bagaimana pemeriksaan hasil kandunganmu ?" tanya Aji lewat sambungan teleponnya.


" Alhamdulillah sehat bli, aku juga boleh makan nanas sekarang !" jawab Hanna.


" Bagus lah, kau pasti senang sekarang !" sahut Aji.


" Heemh, tapi tidak boleh terlalu banyak, kak Oz bilang begitu " ucap Hanna.


" Hanna, dengarkan aku, cukup dengarkan saja dengan seksama, tidak usah bereaksi berlebihan, oke, berjanjilah... " ucap Aji.


" Oke !" jawab Hanna.


" Aku, hari ini, akan pergi ke NTB, aku akan mencari lokasi nomor telepon yang saat itu menghubungimu, tapi kau tidak boleh mengatakan pada siapapun, hanya kita saja, bahkan bibi dan Oz pun tidak boleh " ucap Aji.


Hanna pun langsung paham apa yang di maksudkan oleh Aji.


" Oke, baiklah !" jawab Hanna dengan penuh senyuman yang tanpa di ketahui oleh Aji.


" Bagus, tapi, aku tidak bisa menjanjikan apapun, kau, bersiaplah untuk segala kemungkinan yang ada, apa kau mengerti ?" tanya Aji kembali.


" Mengerti, bli !" jawab Hanna.


" Berdoa saja, semoga aku bisa memberikan kabar gembira untukmu !" ucap Aji.


" Aamiin " jawab Hanna kembali.


" Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu, jaga kesehatanmu dan bayimu " ucap Aji.


Dan, sebelum Aji menutup teleponnya, Hanna secepatnya memanggilnya


" Bli tunggu, hati - hati, berhati - hatilah !" ucap Hanna.


Aji tersenyum mendengarnya. Perhatian dari Hanna yang mungkin hanya biasa saja bagi sebagian orang, namun tidak bagi Aji.


Dadanya berdebar begitu kencang saat suara lembut Hanna yang terdengar di telinganya, penuh dengan perhatian dan kecemasan padanya.