
Malam itu...
Siwan merasa gelisah, berkali - kali ia mencoba menutup mata namun tidak bisa.
Pada akhirnya, ia hanya mondar mandir di kamarnya. Sesekali ia melihat ke arah luar melewati jendela dan menatap ke arah seberang sambil meneguk minumannya.
Siwan saat itu menyewa sebuah villa kecil tepat di seberang kamar Hanna. Atas rekomendasi Aji.
Aji dan timnya berpencar untuk berjaga - jaga di sekitar sana.
Keesokan harinya...
Aji mendapat pesan dari Rayhan bahwa Hanna dan salah satu sahabatnya akan pergi untuk berolahrag pagi.
Aji pun ingin memberitahu Siwan bahwa Hanna terlihat keluar dari villa saat itu.
Namun, saat ia mengetuk pintu kamar Siwan, tidak ada jawaban sama sekali dari sang penghuni kamar.
Aji sibuk bertanya pada anak buahnya yang lain.
"Kau lihat kak Wan ?" tanya Aji, pada Hen.
"Dia keluar dari jam 5 tadi, katanya ingin berolahraga," ucap teman Aji yang bernama Hendi.
"Aku akan menyusulnya, kau dan yang lain, tetap berjaga di sekitar villa, ingat, ada anak yang harus kalian lindungi di dalam villa itu !!" tegas Aji.
"Siyap... laksanakan !!" jawab Hendi.
Aji pun berlarian menuju pantai berniat mencari Siwan. Namun sayang, ia tidak menemukannya.
Ia hanya melihat Hanna sedang duduk berdua bersama Rayhan di sebuah kursi kayu di antara deretan kursi yang ada di pinggiran pantai.
"Sepertinya, sudah waktunya aku memberitahunya !!" Aji pun mendekat pada posisi Hanna dari arah belakang.
Saat Audrey mendekati keduanya setelah membeli air mineral, Aji menahan Audrey.
Hanya dengan isyarat, Audrey mengerti apa yanh di inginkan oleh Aji. Audrey pun menyerahkan botol mineral itu pada Aji.
Aji menyerahkan botol minum itu di antara Rayhan dan Hanna dari arah belakang.
"Thanks, " ucap Hanna tanpa menoleh sedikitpun pada orang yang menyerahkan bolot mineral dari arah sampingnya.
Rayhan yang menyadari ada aura yang berbeda langsung dapat menangkap sinyalnya.
Kedua bola mata Rayhan dan Aji saling bertemu.
Rayhan pun dengan perlahan menggeser tubuhnya dan berpindah ke belakang mendekati Audrey yang berdiri tidak jauh disana.
Rayhan dan Audrey mengawasi Hanna dari belakang.
Hanna pikir Audrey lah yang menyerahkannya, ia tidak menatap wajahnya karena sedang menahan air mata yang kembali berusaha ingin keluar dari sarangnya.
Tanpa Hanna sadari, Rayhan sudah tidak ada di sampingnya. Namun, Aji lah yang kini duduk di posisi dimana Rayhan berada tadi.
"Apa kabar ?" tanya Aji.
Hanna merasa tergelitik hatinya, setelah menutup botol air mineralnya, "apa sih kak Rey...!" Hanna menengok ke samping, maksud hati pada Rey tujuannya.
Namun, betapa terkejutnya Hanna saat ia melihat bahwa kini, pria yang ia tatap dengan kedua panca inderanya saat itu bukanlah Rayhan, tapi, pria itu adalah Aji.
"Bli... " ucap Hanna dengan singkat.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir tanpa permisi.
Aji mengusap air mata di pipi Hanna.
"Hwan kita, dia sangat sehat kan ? aku sangat merindukannya !! aku ingin sekali menyentuhnya, aku benar - benar ingin memeluk dan menciumnya !!" ucap Aji.
Hanna hanya menangis sambil menatap Aji.
Meskipun ia masih marah dengan kenyataan yang ia percaya bahwa Hwan ternyata adalah darah daging Aji, meskipun Hanna masih marah dengan fakta bahwa Aji lah yang berhasil menghamilinya, sesuai apa yang ia percayai selama ini, namun Hanna tetaplah Hanna, seorang wanita berhati lembut dan pemaaf.
Sisi jahat dalam dirinya ingin sekali meninju, memukul dan mencakar bahkan mencabik wajah pria yang ada di hadapannya kini, tapi tidak dengan hati kecilnya.
Aji mengambil sesuatu dari saku jaketnya, sebuah amplop, lalu menyerahkannya pada Hanna.
"Lihatlah, kau harus mempercayai apa yang ada di kertas ini, karena ini fakta yang sesungguhnya !" tegas Aji.
Hanna membuka amplop itu, lalu membaca dengan perlahan apa yang tertera di atasnya.
"Ini, apakah ini hanya rekayasa mu untuk membersihkan nama baikmu ?" tanya Hanna.
"Tidak, aku tidak perlu hal seperti itu, namaku sudah tercoreng di matamu, tidak ada pembelaan dariku, dan ini 'menunjuk selembar kertas yang di pegang oleh Hanna' ini adalah hasil tes DNA Hwan yang pertama kalinya, dan ini sangat sah dan akurat, Hwan adalah anakmu dan kak Wan !!" ucap Aji.
"Apa ? benarkah ?" tanya Hanna.
"Maaf, karena aku terlalu lama membiarkanmu berlarut dalam kebimbangan dan kesedihan selama ini, aku benar - benar minta maaf !!"
Hanna menghapus sisa air matanya dan berdiri dari kursinya.
"Sudah cukup bli, aku tidak ingin tertipu lagi, kau pasti merekayasa semua ini kan, agar aku percaya kembali dengan fakta bahwa Hwan adalah darah daging Ahjussi, lalu kau ingin ku maafkan, begitukan ? hey... aku tidak akan tertipu lagi oleh mu !!"
Hanna melemparkan amplop dan kertas itu pada Aji dan berjalan meninggalkan Aji.
"Hey... Hanna, tunggu..." Aji tentu saja mengejarnya, dan berhasil menangkap tangan Hanna.
"Lepaskan, aku tidak butuh penjelasan darimu lagi, kau sangat melukai hatiku, kalau kau memang tidak mau mengakuinya aku tidak masalah, hanya saja kau itu sangat... " ucapan Hanna terhenti.
"Dia masih hidup !" sela Aji.
Hanna yang sedang berbicara panjang lebar seketika terdiam mendengar ucapan Aji.
Hanna mengkerutkan keningnya.
"Dia sudah kembali !! dia ada disini !!" sambung Aji.
"Siapa, siapa maksudmu ? dia siapa ?" tanya Hanna dengan nada tinggi.
"Dia berada di villa, bersama Hwan, anaknya !!" ucap Aji.
Hanna mundur perlahan setelah Aji melepaskan genggaman tangannya dari Hanna.
Ada rasa tidak percaya dari Hanna saat itu mendengar ucapan Aji, namun, ia ingin memastikan sendiri apakah ucapan Aji saat ini benar atau tidak.
Hanna pun berbalik arah dan berlarian sekencangnya menuju villa sewaannya saat itu juga.
Di susul oleh Aji, Rayhan dan Audrey tentunya.
Hanna berlari sambil terus mengeluarkan air mata.
"Bohong, dia pasti bohong, Aji, kau seorang penipu ulung, dasar brengsek, awas saja kau, aku pastikan kau akan mati di tanganku kalau kau berbohong.. !" batin Hanna menggumam.
Sesampainya di depan pintu pagar villa, Hanna tidak menghiraukan ada orang lain yang berjajar di depan gerbang. Mereka adalah anak buah Siwan tentunya.
Hanna menerobos masuk ke dalam villa, ia membuka pintunya secara kasar.
Saat membuka pintu depan villa, pemandangan apa yang ia lihat kini ?
Ia tidak melihat ada orang lain selain Gani, suami Yasmin, yang tengah menggendong Hwan sambil memperhatikan Jani, anaknya bermain di sampingnya.
"Itu bubu mu sudah pulang !!" ucap Gani.
"Hanna, kau kenapa ?" tanya Yasmin yang datang dari arah samping sambil membawa semangkuk bubur untuk Hwan.
"Aku udah buatkan Hwan bubur nih, aku baru aja mau suapin dia !!" sambung Yasmin.
"Hah.... hahahahaha.... " Hanna malah tertawa seperti orang gila.
Yasmin, Gani dan bahkan Jani serta Hwan pun menatap Hanna dengan tatapan aneh.
"Brengsek, Aji, kau benar - benar menipuku, sialan !!" gumam Hanna kembali.
Beberapa detik yang lalu...
"Bos, dia pulang !" ucap salah satu anak buah Siwan, memberitahu lewat handsfree yang terhubung pada Siwan.
Secepat kilat Siwan memberikan Hwan pada Gani, suami Yasmin, dan berlari menuju pintu belakang villa, dan menyelinap keluar lewat samping villa itu yang kebetulan pagarnya tidak terlalu tinggi.
Siwan benar - benar belum siap untuk bertemu dengan Hanna sepertinya.
"Kau kenapa ? datang - datang langsung tertawa seperti kuntilanak, apa kau kerasukan ?" tanya Gani.
Hanna pun duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut setelah membuka sepatunya.
Rayhan dan Audrey baru sampai di villa juga saat itu.
Mereka keheranan melihat Hanna yang tertawa sendirian di atas sofa.
Rayhan meminta penjelasan lewat isyarat pada Yasmin dan Gani, namun Yasmin seolah tidam ingin membahasnya saat itu, lewat isyarat pula ia berhasil membungkam mulut Rayhan agar tidak banyak bertanya dulu.
"Ah, sudahlah, aku harus mandi dulu, tubuhku terlalu lengket, Hwan sayang, bubu mandi dulu ya, nanti giliranmu yang ku mandikan," Hanna mendekat pada Hwan dan mencium pipinya.
Hanna pun berjalan menuju lantai atas, kamarnya. Di dalam kamar, ia masih melihat Karina tertidur pulas di atas ranjangnya.
Hanna masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuknya.
Sementara itu, di lantai bawah...
"Gimana, apa Siwan tadi kemari ?" tanya Rayhan, setengah berbisik.
"Ya, dia kemari, dia masih hidup, benar - benar nyata, " ucap Gani.
"Lalu, mereka bertemu tidak ?" tanya Audrey.
Dan lagi - lagi, Gani yang menjawabnya, karena Yasmin sedang sibuk menyuapi makan pagi Hwan.
"Tidak, Siwan pergi sesaat sebelum Hanna masuk, dia keluar lewat pintu belakang !!"
"Sumpah, gue kesel, gue gemes dengernya iiiii.... !!!" Audrey memasang ekspresi seolah ingin menghajar seseorang saat itu juga.
"Siwan, dia ternyata hanya seorang pengecut !!" ucap Rayhan.
Di sisi lain...
Siwan yang sudah kembali ke villa dan sedang beristirahat di sofa kini sedang fokus menatap fotonya bersama Hwan, anaknya pada layar hpnya.
Flashback On
Setelah Hanna keluar bersama Rayhan dan Audrey untuk berolahraga pagi itu, Siwan yang kebetulan melihat mereka pun langsung bersembunyi di antara pepohonan besar yang ada di dekatnya, kebetulan karena saat itu masih agak gelap, dengan mudahnya Siwan berkamuflase menjadi batang pohon dalam sekejap.
Siwan dapat mendengar dengan jelas suara canda dan tawa Hanna bersama kedua orang yang menemaninya.
Siwan kembali ke villa secepatnya dan membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya yang bau minuman dengan pakaian baru yang wangi parfum miliknya.
Ia kemudian memberi pesan pada Aji, sesaat sebelum ia pergi menuju villa sewaan Hanna dan para sahabatnya.
"Tahan dia, aku akan menemui Hwan !!"
Begitulah isi pesan yang Aji terima saat ia tengah membuntuti Hanna dari kejauhan.
Tok... tok... tok...
Berkali - kali Siwan berusaha mencoba mengetuk pintu villa yang Hanna tempati. Namun masih belum ada juga yang membukakan pintunya.
Ia bahkan sempat berpikir untuk membobol pintunya dan menyelinap masuk ke dalam. Tapi untung saja, Yasmin yang saat itu belum tidur kembali segera membuka pintunya.
"Ya Alloh... !" Yasmin sangat terkejut melihat sesosok pria yang di ketahuinya telah meninggal kini tengah berdiri di hadapannya.
"Aku ingin bertemu Hwan !!" ucap Siwan.
"Emh... itu, a-anu, kak, apa ini benar kau ?" tanya Yasmin, agak ragu.
"Sentuh saja tanganku, kau bahkan bebas kalau ingin mencubit dan memukulku !!" Siwan melayangkan lengannya ke depan wajah Yasmin.
"Astagfirullah, maaf, aku hanya terkejut !" ucap Yasmin yang baru tersadar. Sebenarnya ia sudah tahu tentang Siwan karena Rayhan yang memberitahunya.
"Bisakah, kau membawa Hwan padaku ?" tanya Siwan, dengan penuh harap.
"Masuklah, tunggu disini !" pinta Yasmin.
Yasmin pun secepatnya menuju ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk membangunkan suaminya agar menemaninya bersama Hwan di bawah karena ada Siwan. Setelah itu Yasmin mengangkat tubuh Hwan yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya dalm pelukan Karina.
Yasmin, Hwan, Gani dan Jani yang saat itu sudah bangun pun turun menemui Siwan yang sedang menunggunya di bawah.
Air mata Siwan langsung mebgalir tanpa aba - aba saat ia melihat putranya yang kini benar - benar berada di depan mata kepalanya.
"Dia masih tidur ! apa aku boleh menggendongnya ?" tanya Siwan.
Yasmin tanpa banyak bicara langsung menyerahkan Hwan pada Siwan.
Siwan menatap wajah Hwan kecil dengan penuh Haru, ia menghapus air matanya dan mencium Hwan untuk pertama kalinya.
Yasmin sempat mengabadikan moment tersebut dengan hpnya.
"Maafkan papamu ini Hwan, papa belum bisa membawamu dan ibumu untuk tinggal bersama - sama !!" Siwan kemudian duduk kembali di sofa sambil memeluk Hwan erat - erat.
Dan, bayi Hwan pun terbangun dari tidurnya.
Dia sempat rewel karena menyadari kini dia berada dalam pangkuan orang yang wajahnya tidak ia kenali.
Namun Siwan terus mencoba menenangkannya, "ini papa nak, aku papamu !!" ucap Siwan.
"Bu-bu... !!" Siwan yang sudah mulai belajar mengeluarkan suara pun hanya baru bisa mengucapkan kata bubu dengan begitu jelasnya.
"Bubu ? apa kau sedang memanggil ibumu ?" tanya Siwan.
"Ya, dia selalu memanggil Hanna bubu !!" sahut Yasmin.
Siwan menatap Yasmin dengan penuh senyuman.
"Tolong fotokan kami !" Siwan menyerahkan hpnya pada Gani.
"Aku buat susu dulu ya buat Hwan dan Jani !!" ucap Yasmin, kemudian pergi ke dapur.
Setelah cukup lama bercengkerama dengan Hwan, Siwan mendapat panggilan dari seseorang. Ia memencet tombol handfreenya dan mendengar seseorang berbicara padanya.
"Bos, dia pulang !!" ucap salah seorang anak buahnya Siwan.
Lalu Siwan pun menyerahkan Hwan secepatnya pada Gani.
"Aku harus pergi, maafkan aku !" ucap Siwan, ia bahkan sempat mencium kening Hwan.
Siwan lalu berlari ke belakang melewati pintu belakang villa dan kemudian memanjat pagar untuk keluar dari lokasi tersebut.
flashback Off
Gani menceritakan tentang keberadaan Siwan selama bersama Hwan pada Rayhan dan Audrey.
Mereka berempat nampak sibuk berdiskusi merencanakan langkah selanjutna untuk mempertemukan Siwam dan Hanna.
"Trus, gimana ini, tinggal sehari lagi kita disini, jangan sampai usaha kita sia - sia !! ucap Audrey.
"Apa kita langsung grebek aja villa di seberang itu, Aji bilang Siwan semalampun menginap disana dengannya," ucap Rayhan.
"Lebih baik begitu Rey, kita tutup mata Hanna, lalu kita bawa dia kesana, dan taraaaa... sureprise... begitu !!" jelas Gani, suami Yasmin.
"Yang ada Hanna bisa pingsan kali, dia kan belum tahu kalau kak Siwan masih hidup, " sela Yasmin.
"Apa kita sandiwara aja gitu, kita buat seolah Hanna di culik, lalu kita laporkan sama kak Siwan, biar dia yang jadi pahlawan buat nyelametin Hanna, gimana ?" tanya Audrey.
"Iya, boleh juga tuh ide, tapi, habis itu loe yang bakal beneran kak Siwan culik terus di siksa ampe ngaku salah dan minta maaf, mau loe ?" tanya Yasmin.
"Ih... ogah... " Audrey bergidik ngeri.
Dan, diskusi pun berlanjut sampai Hanna turun ke bawah setelah mandinya selesai, baru yang lainpun bubar dan menghentikan acara rapat unfaedah mereka.
...***...
Masih nungguin...
Hehehe...
Mohon jangan marah - marah readersku zeyeng, nikmati saja dulu alur ceritanya yang sangat bertele - tele ini.
Di balik kejengkelan kalian, othor jamin ada kebahagian yang tertunda menanti Hanna dan Siwan. Hahahaha... viss
Love u all
Selamat Hari Raya Idul Adha
Selamat nyate !!! Jangan lupa cek kalori !!!
Jangan lupa juga dukungan buat othornya yaa readersku tercinta