
Masih menceritakan detik - detik proses persalinan Hanna melahirkan baby Hwan ke dunia ini.
Masih dengan posisi bibir saling menempel satu sama lainnya, Hanna yang tangannya sudah mulai di infus berpegangan pada besi ranjang, bukan karena merasakan sakit karena kontraksi di perutnya, tapi lebih karena merasa terkejut dengan perlakuan Aji yang secara tiba - tiba mencium bibirnya, setelah mencium keningnya.
Terkejut, tentu saja, keduanya merasakan hal yang sama. Aji bahkan seolah tidak mau mengakui bahwa hal itu di lakukan olehnya dengan penuh kesadaran. Alam bawah sadarnya nampaknya yang mendorong dirinya melakukan hal tersebut.
Dan untung saja sejak beberapa detik Aji menarik kembali bibirnya yang bertaut di bibir Hanna, seorang dokter dan dua orang perawat pun masuk ke dalam ruangan.
" Bagaimana bu Hanna, masih belum ada yang mengajak berjuang bersama - sama... ?" tanya dokter.
" Ma-maksudnya ?" Hanna masih belum menjadi waras kembali nampaknya hingga ia tidak paham akan pertanyaan yang di layangkan sang dokter padanya.
" Hehe... masih belum paham ya bu, kalo begitu saya periksa dulu yaa, yuk siap - siap yuk... " ucap sang dokter.
Aji pun mundur perlahan menjauhi ranjang Hanna ketika dua orang perawat menghampiri Hanna dan membantunya memperbaiki posisi dirinya di atas ranjang karena dokter akan memeriksa bagian bawah Hanna saat itu.
Dengan masih meringis menahan rasa sakit yang masih timbul tenggelam, Hanna pun bertanya...
" Dok, apa masih lama ?" tanya Hanna.
" Tidak kok bu, pembukaannya terus meningkat kok, sabar ya, berdoa saja supaya segera dan di lancarkan dan sehat selamat ibu dan bayinya " jawab sang dokter dengan penuh senyuman.
" Dok, saya takut ngantuk lagi, tenaga saya sudah hampir terkuras karena menahan sakit sejak tadi dok !" ucap Hanna dengan penuh perjuangan, karena rasa sakit yang mulai kembali dahsyat menghujaninya.
" Untuk mengurangi rasa sakitnya, bagaimana kalau saya sarankan ibu berendam di air hangat supaya lebih rileks, mau ? dari hasil tes pemeriksaan sebelumnya bu Hanna bisa melakukannya, bahkan ibu bisa melahirkan dengan proses water birth !"
" Gak, gak bisa... gak kebayang kayak gimana antara aku dan bli nantinya, aku pasti cuma pake pakaian dalam nanti, dia maupun aku pasti canggung banget, sedangkan ibu maupun bu Shinta tidak ada disini, hanya dia yang di percaya mendampingiku di situasi saat ini, apapun yang terjadi, dia pasti gak bakal ninghalin aku " batin Hanna menggumam.
" Tidak apa dok, begini saja, insyaalloh aku masih bisa bertahan " jawab Hanna.
Dan selesai melakukan pemeriksaan pada Hanna, sang dokter pun di ajak berdiskusi di salah satu sudut ruangan agak jauh dari posisi ranjang Hanna saat itu.
Terlihat dari kejauhan, Aji maupun sang dokter terlihat sangat serius saat itu.
Dan ternyata, Aji meminta solusi terbaik untuk Hanna dan bayinya, dia merasa khawatir melihat kondisi Hanna yang sudah terlihat lemas dan masih terus meringis dan menangis menahan sakit.
Obat terbaik sudah dokter berikan tentunya sejak kedatangan Hanna di rumah sakit, dan kini solusi lainnya adalah dokter menempelkan alat pada tubuh Hanna, semacam kabel EKG di beberapa titik.
Sebuah alat yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik, yang menimbulkan getaran yang di atur dengan frekuensi amplitudo guna mengurangi rasa sakit saat terjadi kontraksi dan mampu memberikan sensasi rileks pada sang calon ibu.
Beberapa menit kemudian...
Tetap saja, meskipun solusinya di pasang alat, Hanna merasa canggung karena tetap harus membuka baju bagian atasnya.
Namun, meskipun begitu, Aji tetap menjaga pandangannya agar terlihat sopan di depan Hanna, meskipun mereka sedang berkomunikasi satu sama lainnya, karena Aji selalu langsung membuang muka di hadapan Hanna karena tidak mau melihat bagian tubuh Hanna lainnya selain wajahnya.
Dan, alasan Hanna melahirkan di rumah sakit adalah karena Hanna tidak mau proses persalinannya di tangani oleh dokter kandungan pria, karena di klinik tempat ia melakukan pemeriksaan selama ini di tangani oleh dokter pria bernama dokter Samayoga. Meskipun di klinik tersebut memang ada dokter wanita, namun Hanna tidak enak hati apabila meminta secara langsung pada sang dokter untuk menggantikan posisi dokter Yoga dengan dokter Pritta, dokter kandungan di klinik Permata Hati saat itu.
...***...
Dia curhat pada Aji, beberapa waktu sebelumnya, sekitar satu bulan yang lalu.
" Bli, apa aku bisa memilih tempat melahirkan nantinya ?" tanya Hanna yang saat itu sedang sarapan bersama Aji di suatu pagi.
" Kenapa memangnya ? apa kau tidak nyaman di tempat itu ?" tanya Aji.
" Bukan begitu bli, aku tidak masalah dengan sistem pelayanan mereka, sangat memuaskan, dokter maupun perawatnya sangat ramah, selalu mau mendengarkan keluh kesahku lalu memberikan solusi yang tidak memaksakan kehendak, selalu memberi option terbaik dan ternyaman untuk ku terima "
" Lalu, masalahnya ?" tanya Aji.
" Dokternya laki - laki, aku gak nyaman, aku malu, mana dokternya masih muda, ganteng lagi " ucap Hanna dengan lirih.
Sontak Aji yang mendengarnya merasa terkejut bahkan hampir tersedak.
" Cih... tinggal minta ganti saja lah, gampang kan, gitu aja kok pusing !"
" Bli, kau ini, enteng sekali bicara seperti itu, kau mana bisa mengerti betapa malunya aku, yang seorang wanita yang tidak terbiasa memperlihatkan bagian bawahku ke sembarang pria, aku bahkan belum menikah dengan ahjussi, dan juga meskipun dia seorang dokter kandungan, tetap saja aku kikuk sendiri, padahal selama kontrol dia hanya memeriksa dan memegang perutku, belum melihat bagian bawahku, bagaimana nanti jadinya saat proses melahirkan, hih.. aku malu... "
Aji menelan ludahnya sendiri.
" Ya... maksudku emh... ya... kita bicara saja pada petugas disana, minta ganti dokter saja, tinggal kita datangi saja kliniknya, kalau kau mau siang ini kita pergi kesana, bagaimana ?" tanya Aji dengan hati - hati.
" Aku gak enak bli masalahnya, dokter Yoga sudah sangat welcome dan perhatian padaku, bahkan dia sudah mengatur dan memberi tips dan trik padaku menjelang kelahiran bayiku nanti, aku mana sanggup bicara langsung minta di ganti oleh dokter Pritta, padahal dia sendiri masih ada dan praktek di klinik tersebut "
" Oke... baiklah, aku paham, nanti aku bicarakan dulu dengan bibi masalah ini, kau fokus saja pada kesehatanmu, oke ! jangan cemaskan hal ini " Aji berusaha menenangkan Hanna yang masih terlihat cemas, Aji tersenyum dengan manisnya.
Bagi sebagian wanita, meskipun sudah lumrah mendengar ada dokter obgyn seorang pria, namun, ada juga yang enggan untuk memeriksakan kandungannya terlebih lagi area intimnya oleh sang dokter pria, dengan berbagai alasan, ya... selama masih ada dokter obgyn seorang wanita, kenapa tidak, pilihan itu sebetulnya ada di tangan masing - masing pasien, karena urusan seperti ini masih bisa kita tentukan sendiri, bukan termasuk hal yang urgent.
Dua hari kemudian...
Hanna yang sedang bermeditasi di gazebo dekat kolam renang di sore hari, di kejutkan oleh kedatangan Aji yang mengendap - endap menjumpai nya.
Aji meniup wajah Hanna yang sedang menutup mata sekerasnya, bagaikan meniup lilin yang menancap pada kue tart ulang tahun.
" Hahaha... " Aji tertawa.
" Hih... bli, ganggu aja, ngapain sih... " ucap Hanna, terlihat kesal.
Aji duduk di dekat Hanna, di gazebo, sambil kesua tangannya menelusuk ke dalam saku jaket kulit berwarna hitamnya.
" Aku sudah berdiskusi dengan bibi, kau bisa lahiran di rumah sakit dan sudah di pilihkan dokternya wanita " ucap Aji.
" Serius ? apa ibu tidak keberatan ?" tanya Hanna.
" Tidak, dia selalu memikirkan kenyamanan untukmu, tadinya dia merekomendasikan klinik itu karena kasihan kalau kau chek up di rumah sakit harus mengantri lama, jadi bibi carikan klinik terbaik di daerah sekitar ini, tapi kalau kau tidak nyaman, bibi minta maaf katanya, dia tidak bertanya selama ini padamu soal hal ini.. "
" Ah... syukurlah bli, padahal tidak harus di rumah sakit juga tidak apa, kalaupun di klinik lain ataupun di rumah bidan biasa pun aku gapapa sih sebetulnya "
" Yaa... tidak apa - apa bli, lebih cepat mungkin lebih baik, aku juga tidak ingin ada keraguan pada bu Shinta tentang kebenaran bayiku ini, jadi, aku setuju saja "
" Oke, besok kita chek up ke rumah sakit xxx, aku sudah daftar tadi siang, jadi besok tidak perlu antri lama !" ucap Aji.
" Tapi bli, dokter Yoga, aku harus bagaimana ya baiknya, aku gak enak juga sih sebetulnya "
" Kau aturlah sendiri, whatsapp saja, beri dia alasan apa saja yang penting masuk di akal, sudah lah, sudah senja begini masih di luar, masuk yuk, nanti kau bisa masuk angin " ajak Aji, meminta Hanna agar segera masuk ke dalam rumah saat itu.
...***...
Jelang menuju detik - detik proses persalinan...
Saat itu Hanna yang baru selesai bervideo call an bersama kedua orangtuanya merasa sedikit lebih tenang, selain bantuan alat yang menpel di tubuhnya.
Kedua orangtua Hanna baru bisa berangkat jam dua siang nanti, karena pihak maskapai yang menentukan jadwal pemberangkatan para penumpang.
Juga setelah kedatangan bu Shinta di rumah sakit, yang sempat memberi Hanna kekuatan lewat kata - kata dan pelukan hangat, membuat Hanna kembali bersemangat untuk menguatkan diri di tengah rasa sakit kontraksi perutnya yang semakin meningkat.
Aji sudah menawarkan pada bu Shinta maupun bi Asih, barangkali di antara mereka ada yang mau menemani Hanna di dalam ruangan saat proses persalinan nanti.
Akan tetapi, bu Shinta tetap membuat dirinya untuk menemani Hanna di dalam karena ia tahu, mungkin kehadiran Aji saja yang saat ini dia harapkan selain kedua orangtuanya.
Dan terpaksa, Aji pun kembali masuk ke dalam ruangan setelah bu Shinta keluar melihat kondisi Hanna.
Bukannya Aji tidak mau, sebetulnya, karena ia tidak tega melihat kondisi Hanna yang begitu pucat, lemas dan merintih kesakitan sepanjang waktu semenjak ia merasakan kontraksi di perutnya, ia tidak tega, dan ia merasa menyesal karena ia tidak bisa berbuat apa - apa, ia masih tahu diri, dia bukanlah orang terkasih bagi Hanna, pacar, atau bahkan suaminya, dia merasa harus tetap menjaga jarak dari Hanna.
Di detik - detik pembukaan akhir, Hanna yang kini sudah berpindah ruangan ke ruang persalinan, sudah di pandu oleh sang dokter yang di temani oleh dua orang perawat yang membantu jalannya proses lahiran.
Hanna dan dokter tetap mengusahakan agar proses lahiran berjalan normal, meskipun saat itu tenaga Hanna sudah hanya tinggal 50 persen saja, ia tidak ingin proses caesar menjadi jalan terakhir selama kondisi dirinya dan calon bayinya baik - baik saja.
Kedua kaki Hanna sudah naik di atas alat penyangga kaki supaya bagian bawahnya terbuka dengan leluasa.
Aji tidak melihat ke arah tersebut, ia hanya berdiri di samping kepala Hanna sebelah kanan.
" Ayo bu, tarik nafas panjang, keluarkan lewat mulut perlahan, otot perutnya dorong sekuat tenaga " ucap sang dokter.
Hanna menarik nafas, mengeluarkannya lewat mulut perlahan sesuai intruksi dokter lalu mengejan dan mengerang mencoba mendorong bayinya keluar sekuat tenaga.
Percobaan pertama gagal...
" Bu Hanna, jangan keluarkan suara, di tahan ya bu, supaya tenaganya tetap tersalurkan ke otot perutnya, ayo bu, pasti bisa, semangat... " ucap sang dokter.
Salah seorang perawat menahan tubuh Hanna supaya tidak bergerak terlalu lincah di sisi kiri, salah seorang lagi membantu mendorong perut Hanna perlahan ketika ia mengejan, sedangkan Aji bertugas mengusap air mata dan keringat Hanna yang bercucuran deras sambil terus menguatkan Hanna lewat kata - kata.
" Kau pasti bisa, kau kuat, jangan menyerah... !!" Aji terus mensupport Hanna.
Setelah percobaan kedua gagal, Hanna kembali menangis, karena ia khawatir akan kondisi bayinya.
" Jangan putus asa bu Hanna, sedikit lagi kok, ayo kumpulkan tenaganya, bayinya sudah mau peluk ibunya nih, sudah gak sabar, ayo yang semangat bu Hanna " ucap sang dokter yang sambil mengawasi dan melakukan tindakan pada **** ***** Hanna saat itu.
Hanna yang saat itu merasa kembali bersemangat mendengar ucapan sang fokter pun sudah bersiap dengan perjuangannya, karena sudah tidak sabar pula ingin bertemu dengan bayinya di dunia ini.
Dan, akhirnya, pada percobaan ketiga, di iringi teriakannya yang menyebut nama " Ahjussi...." sambil sebelah tangannya menggenggam erat lengan Aji, Hanna berhasil mendengar suara tangisan sang bayi yang nampak nyaring di telinganya.
Otot - otot tubuhnya terasa putus, tubuhnya menjadi lemas, namun sekaligus lega ketika mendengar suara bayinya yang memekik di telinganya begitu keras.
" Alhamdulillah... " ucap Hanna dengan lemah, menutup matanya sesaat, lalu ketika membuka matanya, ia melihat Aji sudah berkaca - kaca.
" Selamat ya Han... bayimu laki - laki, sehat dan selamat !" ucap Aji, lalu mengusap air matanya, dan melingkarkan lengannya di leher Hanna, ia memeluk Hanna dengan penuh rasa haru.
Hanna yang masih nampak lemas hanya bisa tersenyum senang, rasa khawatir dan sakitnya mendadak menghilang ketika mendengar tangisan penyemangat hidupnya kali ini.
" Bu Hanna, bersiaplah, kita coba tidurkan bayinya di pelukan bu Hanna untuk pertama kalinya " ucap salah seorang perawat yang memangku bayi Hanna di tangannya.
Dan, salah seorang perawat lainnya membuka kancing - kancing baju yang di kenakan oleh Hanna. Hampir seluruhnya terbuka.
Sedangkan sang dokter, masih nampak sibuk melakukan tindakan pada bagian bawah Hanna.
Aji langsung membuang wajah dari pemandangan tersebut, pemandangan dimana seluruh bagian atas, dada Hanna terbuka lebar dan kedua gunung kembarnya menyembul tanpa penghalang sedikitpun, karena saat tadi masuk ruang persalinan, seluruh perdalaman Hanna di lepas oleh perawat, dan ia hanya di perbolehkan memakai baju bersalin berjenis kemeja.
Perawat menaruh bayi Hanna di dekapan Hanna saat itu, melatih insting sang bayi untuk bergerak mencari sumber asupan energinya nanti.
Kepala bayinya yang masih terlihat sangat lengket berhasil membuat jantung Hanna berdebar sangat kencang karena rasa haru dan bahagia.
" Bli, tolong fotokan moment ini, pliss... " pinta Hanna.
Dan, dengan terpaksa Aji pun mengeluarkan hp di saku celananya lalu memotret pemandangan asyik di depan matanya.
Fokusnya kali ini bukan pada kedua gunung kembar milik Hanna, tapi pada tingkah lucu sang bayi yang nampak nyaman bergelayut di dekapan sang ibu yang harus ia abadikan secepatnya. Meskipun rasa awkward masih sedikit menyelimutinya.
Hanna pun sudah tidak merasa malu - malu lagi seperti sebelumnya. Masa bodoh baginya kali ini Aji mau melihat tubuhnya yang terekpos di bagian atas maupun bawah, yang penting kini ia sudah merasa lega dan bahagia, berhasil melahirkan anak tercintanya ke dunia ini dengan sehat dan selamat.
...Flashback off ...
Hallo readers...
Mohon maaf lahir dan batin yaa
Maafkan kalo othor bikin kalian kesel, mood kalian anjlok karena tidak sesuai ekpektasi para readers semua, maafkan othor yang bikin ceritanya jadi membosankan begini, maafkanlah diriku ini yang hanya manusia biasa dengan banyak kekurangan dan kesibukan jadi jarang update.
Happy Eid Mubarak
Jangan lupa tetap mengikuti protokol kesehatan ya bagi yang mau bersilaturahmi dengan sanak saudara !!
Love You....