My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Pengintaian berlanjut..



Setelah perjalanan yang cukup panjang, kini mobil yang di tumpangi Hanna mulai masuk ke sebuah basement lantai bawah untuk memarkirkam mobilnya di sebuah kawasan mall yang cukup terkenal di daerah Bandung.


Abdul merasa frustasi karena parkiran mobil dan motor berbeda lokasinya. Namun ia tidak kehilangan akal, dia mencari cara agar tetap bisa memantau kakaknya dari dekat. Dia berlarian ke basement parkiran mobil menghampiri kakaknya. Namun, dari jarak beberapa meter dia langsung berhenti, dia melihat Hanna kini sedang bersama seorang pria, ternyata dia adalah pria yang bernama Siwan itu. Mereka berjalan masuk ke dalam lift yang berada di sana. Abdul berlari menghampiri lift, namun terlambat, pintu lift sudah tertutup, dan kini ia hanya bisa melihat kemana tujuan mereka. Dia langsung berlari menaiki tangga darurat menuju lantai tujuan Hanna dan Siwan.


Setelah sampai di lantai tujuan, kini Abdul mengatur nafasnya sebentar beberapa meter di depan sebuah eskalator naik menuju lantai berikutnya. Lalu, beberapa detik kemudian datang Hanna dan Siwan lewat di depannya menaiki eskalator sambil mengobrol dan bercanda tawa.


" Tidak mungkin mereka cuma temen biasa, pasti ada hubungan spesial di antara mereka. " Ucap Abdul berbicara pada dirinya sendiri.


Abdul langsung naik eskalator tersebut dan terus membuntuti Hanna dan Siwan dari belakang. Kini, kakaknya itu masuk menuju sebuah resto bersama Siwan, mereka duduk dan memesan makanan disana.


Karena Abdul ingin tahu lebih jelas, dia pun masuk ke dalam resto tersebut dan duduk tepat di belakang meja Hanna dan Siwan, hanya terpisahkan oleh sekat kursi yang lumayan tinggi untuk bersandar. Suasana di dalam resto tersebut sangat cozy dan aesthetic, terlihat beberapa kali kakaknya dan Siwan berfoto bersama, mereka bahkan sempat menyuruh seorang waitress untuk mengambil foto mereka berdua.


Dan, karena Abdul malu kalau hanya duduk di dalam resto tersebut, maka dia pun memutuskan untuk memesan menu yang ada disana, namun, saat dia mulai membuka buku menu, dan melihat daftar harganya, waw, dia merasa tercengang, untungnya dia sempat membuka celengan ayamnya kemarin, tadinya untuk membeli headphone gaming nya, namun, ia harus merelakan uangnya terpotong untuk membayar pesanan makanannya saat ini. Lalu, dia mulai memesan menu yang harganya berada di pertengahan isi dompetnya.


Setelah sang waitress pergi dari meja Abdul, dia sempat melihat isi dompetnya terlebih dahulu, dia takut uang yang dia bawa itu kurang. Namun untungnya setelah di jumlahkan total pesanannya, uangnya masih tersisa banyak.


Kini, dia mulai menguping pembicaraan yang terjadi antara Hanna dan Siwan. Sejak awal mereka hanya membicarakan seputar Bandung, tempat Hanna dan sahabatnya nongkrong, dan beberapa lokasi mall yang sering ia kunjungi. Tidak ada yang menarik.


Abdul memutuskan untuk pergi mencuci tangannya sebentar, dia harus melewati meja kakaknya karena wastafel ada di belakang meja Abdul saat itu.


Namun, saat dia selesai mencuci tangannya dan akan kembali ke meja tempatnya duduk tadi, dia merasa tertohok, dia melihat Siwan terus memegangi kedua tangan Hanna sambil masih mendengarkan ocehan kakaknya itu, apalagi sesekali Siwan mencium tangan Hanna sambil mereka bercanda tawa.


Abdul buru - buru kembali terduduk di kursinya, untuk menghilangkan kecurigaan dia masih terus memakai masker medisnya itu. Hanya hingga saat pesanan makanan tiba, dia baru membuka maskernya dan melahap semuanya dalam seketika.


" Enak, pantas saja harganya wah banget. " Ucap Abdul perlahan dengan mulut penuh daging steik yang ia pesan.


Selesai makan, kini Siwan dan Hanna pergi berkeliling sebentar di dalam lokasi mall, melihat - lihat pernak pernik wanita dan beberapa make up dan skincare disana.


" Cih... dasar cewe, hobi melihat - lihat saja, beli kagak." Ucap Abdul.


Namun seketika dia menelan ludahnya karena melihat kakaknya kini sudah menjinjing beberapa tas dengan merek - merek yang tadi mereka datangi.


" Ya ampun, matre sekali kakaku ini." Ucap Abdul karena dia melihat Siwan lah yang membayar semua barang belanjaannya.


Selang beberapa menit kini mereka sudah berada satu lantai di bawah. Mereka menuju sebuah toko cake and pastry yang terkenal karena rasanya yang enak, wanginya saja sudah tercium dalam jarak beberapa meter. Abdul hanya bisa menelan ludah melihat kakaknya sibuk memilih beberapa cake disana bersama kekasihnya itu.


Beberapa jam kemudian, karena mall sudah akan tutup, kini mereka pun mengakhiri tour mereka berkeliling toko di setiap sudut mall. Mereka pun masuk ke dalam lift menuju basement. Lift terlihat agak penuh, namun untungnya Abdul masih bisa nyempil di antara mereka. Di dalam lift tidak ada percakapan apapun, karena banyak orang yang berada di dalamnya. Hanna pun tidak menyadari bahwa adiknya ada di antara kerumunan orang di dalam lift saat itu.


Sesampainya di parkiran, Abdul buru - buru menaiki motornya dan keluar duluan dari basement, dia menunggu di sebuah titik di luar mall dan menunggu mobil Hanna dan Siwan lewat di depannya.


Sepanjang perjalanan pulang, Abdul melajukan motornya perlahan, membuntuti kakaknya dari belakang. Dia khawatir pria itu akan membawanya ke sebuah hotel, maka, Abdul bersiap - siap akan menyeret kakaknya kalau hal itu terjadi.


Namun, ternyata dugaannya salah, kini setelah perjalanan yang cukup panjang, ia melihat kakaknya di antarkan dengan selamat sampai ke depan pintu gerbang rumahnya.


Abdul masih menjaga jaraknya, dia belum berani pulang ke rumahnya sebelum mobil yang Siwan tumpangi kembali melewatinya dan pergi dari lokasi sekitar rumahnya. Baru setelah itu dia mulai membuka pagar rumah dan masuk ke dalam, memarkirkan motornya di garasi lalu menutupinya dengan jas penutup motor supaya tidak ada yang tahu bahwa motornya kini sudah berubah bentuk.


Juga, sebelum masuk ke dalam, dia membuka jaket temannya dan menyimpannya di gudang bersama helm milik temannya itu. Barulah setelah keadaan cukup aman, dia mulai masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.


Di dalam, suasana sudah nampak sepi, ayahnya pasti sudah tidur, setelah sholat isya ayah biasanya langsung tidur karena lelah. Ibu, biasanya juga sudah tidur karena hari minggu tidak ada sinetron favoritnya di tv. Lalu, di atas meja dekat tv Abdul melihat satu kotak berisi cake dan pastry yang tadi ia lihat di mall, namun ia jadi tidak berselera untuk menyentuhnya.


Ketika hendak masuk ke dalam kamarnya, tiba - tiba Hanna yang berada di ambang pintu kamar mandi mengejutkannya.


" Heh, lu juga baru pulang ?" tanya Hanna.


" Ish... anak muda, banyak urusan lah.. " Ucap adiknya lalu masuk ke dalam kamarnya.


" Dul, jangan lupa kunci pintu sama pagar, gua gak kuat ngantuk." Ucap Hanna di depan pintu kamar Abdul.


" Iya... " Abdul pun kembali keluar dari kamarnya dan mengambil kunci gembok pagar dan memastikan semuanya sudah terkunci, baru ia kembali masuk ke dalam kamar.


Keesokan harinya, pagi - pagi sekali, Abdul sudah bersiap - siap hendak pergi, biasanya setelah sholat subuh dia selalu kembali tidur dan bangun siang hari.


" Dul, mau kemana ? itu motor siapa di belakang ?" tanya ibunya.


" Mau ke rumah temen mah, nuker motor, kemarin ketemu terus motor aku lagi di bersihin sama temenku di rumahnya." Jawab Abdul.


" Gak sarapan dulu ?" tanya ibunya.


" Engga mah, nanti aja pulangnya, sebentar kok." Jawab Abdul lalu pergi keluar mengeluarkan motornya dari garasi dan pergi menuju rumah temannya.


Pagi sekali, Hanna pun sudah terbangun dari tidurnya, dia sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi, satu piring nasi dan ayam serundeng buatan ibunya, sarapan berat. Padahal biasanya sebelum pergi bekerja saat di Bali dia hanya sempat sarapan dua lembar roti dengan berbagai jenis olesan selai.


" Tumben jam segini udah sarapan, mau pergi juga ?" tanya ibunya pada Hanna.


" Iya, aku mau nganter temen ke bandara bu, dia mau pulang ke Bali." Ucap Hanna lalu menyendok kembali makanan ke mulutnya.


" Kenapa gak di ajak kesini, gak di kenalin ke ibu ?" tanya ibunya.


Hanna langsung kaget dan tersedak, ibunya membantunya menepuk pundaknya dan menyodorkan gelas berisi teh hangat pada Hanna.


" Makanya kalau mau makan tuh berdoa dulu. " Ucap ibunya.


" Dih, aku berdoa kok." Jawab Hanna.


" Eh iya teh, itu kue darimana ? kemarin bukannya main ke rumah Yasmin ?" tanya ibunya.


" Iya, ke rumah Yasmin kok, tapi cuma sebentar, temenku yang dari Bali ngajak jalan, aku ajak aja ke mall xxx terus itu kue juga dari dia." Jawab Hanna.


" Iya, nanti aku sampein. Yaudah bu, aku mau mandi dulu ya." Hanna pun pergi ke dapur menyimpan piring kotornya lalu masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Satu jam kemudian, dia sudah siap untuk pergi, kini dia sedang menunggu jemputan di halaman rumahnya.


Saat mobil Siwan lewat, lalu melaju ke depan untuk memutar arah, kebetulan saat itu ibunya sedang berada di luar, baru pulang belanja dari warung. Hanna merasa panik, karena pasti ibunya menyuruh temannya itu untuk mampir dulu.


Dan benar saja, ia menyuruh Hanna memperkenalkan temannya itu padanya. Hanna lalu menelpon Siwan dan memintanya turun dari mobil dan masuk ke rumahnya.


Siwan merasa heran, namun ia langsung turun dari mobil menuruti permintaan kekasihnya itu.


Ibunya merasa terkejut saat melihat Siwan untuk pertama kalinya. Ibunya sempat berpikir bahwa teman anaknya itu seumuran dengan Hanna, namun ternyata, waw, ibu berpikir dia pasti seusian dengan paman dan bibinya Hanna.


Kini Siwan sudah berada di halaman rumah Hanna berdiri di hadapan Hanna dan ibunya yang mematung menatapnya dari atas sampai bawah.


" Mah.. " Hanna menyenggol ibunya. Lalu ibunya mulai tersadar kembali.


" Hallo bu, selamat pagi, saya Siwan." Ucap Siwan sambil mengulurkan tangannya.


" Ah iya, pagi, saya ibunya Hanna. Ibu menjabat uluran tangan Siwan ' kenapa tidak mampir dulu dari kemarin - kemarin, mumpung lagi di Bandung kan, sekarang mau pulang lagi ke Bali ya ? " tanya ibunya dengan ramah.


" Iya, maafkan saya bu, lain kali saya akan mampir saat kembali ke Bandung." Jawab Siwan.


" Iya mah, ahjussi soalnya sibuk selama di Bandung juga, sekarang mau pulang lagi ke Bali ada rapat penting, udah ya, takut kesiangan sampai di bandara, soalnya macet mah. " Ucap Hanna berpamitan menyalami ibunya.


" Loh, gak masuk dulu, minum teh dulu yuk.. " Ucap ibunya pada Siwan.


" Mohon maaf sekali bu, lain kali saja ya, saya harus segera pergi. Sebetulnya saya sangat ingin sekali mengobrol dengan ibu dan bapak. " Ucap Siwan.


" Owh... yasudah, kalau begitu hati - hati ya, semoga selamat sampai tujuan, lain kali kalau mau ngobrol sama bapak juga, kesininya sore atau malam, bapak pasti ada di rumah." Ucap ibunya membuat Hanna melotot karena terkejut.


" Iya, baik bu. Saya permisi dulu, assalamualaikum." Ucap Siwan sambil kembali bersalaman bersama ibunya Hanna.


Siwan dan Hanna pun berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan di luar rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam dan pak Adi mulai menyalakn mesin mobilnya.


Ibunya masih berdiri di depan pagar, menunggu saat mobilnya lewat di depannya dan pergi menjauh. Lalu, baru saja saat hendak masuk ke dalam, ada tetangga yang sedari tadi memperhatikan mereka, kini bergerak mendekat pada ibunya.


" Bu Siti, ya ampun, siapa itu, calon mantu ya ?" tanya tetangganya itu.


" Ah, bukan bu Darmi, hanya temannya saja, dari Bali, kebetulan habis menghadiri undangan temannya makanya pergi ke Bandung barengan. " Jawab ibunya Hanna.


" Oalah... gitu toh, tak pikir calon mantumu, gagah sekali ya, sangat kharismatik, kelihatan sangat macho bu, kelihatan serasi sama anakmu." Ucap bu Darmi.


" Ah, bu Darmi ini ada - ada aja, hehe.. " Jawab ibunya Hanna dengan senyum terpaksa, terlihat malas menjawab pertanyaan dari tetangganya itu.


" Terus itu mau pada kemana, masih pagi, pasti mau pada kencan ya... ?" tanya bu Darmi kembali sangat penasaran.


" Bukan bu, itu temannya mau pulang ke Bali, katanya ada rapat penting jadi harus segera pulang, jadi Hanna cuma mau nganterin ke bandara aja." Jawab ibunya.


" Owh... begitu toh, tak kira mau kencan." Ucap bu Darmi.


" Bukan bu, saya kan sudah bilang, mereka hanya berteman, Hanna memang banyak temannya dari dulu. Emh... maaf ya bu Darmi, saya lupa belum matiin kompor. Assalamualaikum. " Ucap ibunya Hanna lalu masuk ke dalam rumahnya terburu - buru.


" Waalaikum salam." Ucap bu Darmi dengan raut wajah yang berubah masam sepertinya merasa tidak senang di tinggalkan oleh ibunya Hanna sendirian di luar pagar.


Beberapa menit kemudian, saat ibunya sedang asik memotong sayuran di dapur, datanglah Abdul baru pulang menukar motornya.


" Assalamualaikum. " Dia lalu duduk di meja makan dan mulai menyendok nasi ke piringnya.


" Wa alaikum salam. " Jawab ibunya.


" Mah, si teteh belum bangun ?" tanya Abdul merasa penasaran karena pintu kamar kakaknya masih tertutup dan nampak sepi.


" Si teteh mah udah pergi, nganterin temennya ke bandara, katanya mau pulang ke Bali." Jawab ibunya.


" Siapa ? Om Siwan ?" tanya Abdul.


" Iya, lah, kamu udah kenal ? kapan ketemu ?" tanya ibunya penasaran.


" Emh... pulang dari pasar baru, pas lagi makan siang di resto xxx, malah di kasih gratis loh sama yang punya resto soalnya punya temennya Om Siwan." Jawab Abdul.


" Wah... enak dong. " Jawab ibunya.


" Terus, mamah kenapa tahu ? teteh cerita soal om Siwan ?" tanya Abdul penasaran.


" Tadi dia kesini dulu, jemput si teteh terus pamitan sama mamah. " Jawab ibunya dan membuat adiknya terkejut.


" Terus, cerita gak dia itu siapa ?" tanya Abdul.


" Iya katanya sih cuma temennya, tapi kok, umurnya kayanya seumuran si bibi sama mamang mu, kok si teteh temennya yang udah mapan gitu ya, kelihatannya orang sibuk, dia katanya mau pulang soalnya ada rapat penting di Bali." Ucap ibunya.


Seketika ibunya menghentikan aktifitas memotong sayurnya dan mencoba berpikir sesaat, entah apa yang di pikirkannya saat itu, ibunya langsung menggelengkan kepalanya, menepis pikiran aneh di dalam isi kepalanya itu.


" Ah.. tidak, tidak mungkin, pasti bukan, Hanna bilang mereka cuma teman, tidak, aku harus tetap percaya sama anakku." Ucap ibunya perlahan lalu meneruskan kembali aktifitasnya di dapur.