
Beberapa jam berlalu...
Kini, di dalam kamar hotel, hanya tinggal Hanna yang masih tertidur, Aji dan Austin yang sedang mengobrol di luar kamar, serta Patricia yang sedang mandi di dalam kamar mandi.
Sedangkan yang lain seperti Rama, Melly dan sang manajer hotel serta pegawainya sudah pergi dari kamar tersebut.
Aji memutuskan untuk menunggu Hanna sampai ia terbangun lalu pergi dari hotel tersebut.
Tanpa terasa, waktu sudah menujukkan pukul 23.55 wita, saat itu, mereka sudah mulai mengantuk.
Lalu, tiba - tiba, Patricia yang hanya memakai kimono handuk berlarian dari dalam kamar sambil membawa sebuah hp yang menyala.
" Aji, ini, bagaimana ini. " Pat menyerahkan hp itu pada Aji.
Saat Aji menerimanya, ia melihat di layar hp merupakan panggilan video call dari Siwan untuk Hanna.
Dia langsung panik, lalu menaruh hpnya di atas meja.
Austin yang hampir menuju alam mimpi pun kembali tersadar saat mendengar ada keributan di dekatnya.
" Ada apa sih ?" tanya Austin menatap Aji dan Patricia dengan raut waja kesal karena proses tidurnya terganggu.
Tidak ada jawaban dari keduanya, mata Austin langsung tertuju pada hp yang menyala di atas meja. Dia mendekat, lalu, langsung terpanting ke belakang. Raut wajahnya berubah menjadi tegang sama seperti Pat dan Aji.
" Bagaimana ini ?" tanya Pat menatap Aji dan Austin bergiliran.
Lalu, Austin menyusun strategi, ia menyuruh Pat mengangkat panggilan dari Siwan dan katakan Hanna sudah tidur.
" Kalau dia suruh bangunkan bagaimana ?" tanya Pat.
" Sudah, kamu angkat saja dulu, kau berakting lah senatural mungkin." Jawab Austin.
" Ini, pakai jaketku dulu." Aji melemparkan jaketnya pada Pat karena ia tidak mau Siwan menatap aneh pada Pat yang hanya mengenakan Handuk.
Pat langsung menutup badannya dengan jaket Aji dengan posisi bagian depan terbalik.
Namun, panggilan dari Siwan pun berakhir saat Pat sudah bersiap akan memencet tombol answer di hp Hanna.
Mereka bertiga merasa lega, hampir bersamaan menghembuskan nafas secara perlahan dan bersandar di sofa ruang tengah.
Namun, mereka kembali terperanjat saat hp Hanna kembali menyala. Siwan mencoba untuk menghubunginya kembali.
Pat langsung mengangkat hpnya lalu memencet tombol seraya menerima panggilan dari Siwan.
" Hai... kak Wan, how are you ?" tanya Pat bertingkah so imut, membuat Aji dan Austin geli.
" Hai Pat, i'm good. Kamu sedang bersama Hanna ?" tanya Siwan.
" No, dia sudah tidur karena kelelahan." Jawab Pat.
" Kalau begitu, apa kalian di rumah Hanna ? aku berada di depan pintu rumahnya saat ini. Aku akan masuk ke dalam sekarang !!" Ucap Siwan.
Aji dan Austin saling menatap dengan wajah tegang. Juga dengan wajah Pat saat itu.
" No.. no... no... kami sedang berada di hotel, tadi karena kami lelah setelah karaoke, jadi kami memutuskan menginap di hotel !!" Jawab Patricia.
Aji terkulai lemas membanting tubuhnya dan bersandar di sofa. Austin terlihat menepuk jidatnya dengan wajah yang pucat.
" Owh... oke, dimana ? aku akan kesana sekarang juga." Tanya Siwan.
" Owh... emh... o-oke, kami ada di hotel xxxxx di kamar 205 lantai 12." Ucap Pat terpaksa menjawab pertanyaan Siwan dengan tubuh gemetar.
Siwan lalu menutup panggilan telepon nya dan langsung masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan melaju menuju lokasi yang di sebutkan oleh Patricia.
" Bagaimana ini ?" tanya Pat pada Aji dan Austin.
Mereka saling bertatapan secara bergantian dengan wajah tegang.
Beberapa detik kemudian, mereka bertiga kini sudah berada di kamar sedang menatap wajah Hanna penuh harap. Mereka berharap Hanna segera terbangun dari tidurnya sebelum Siwan datang.
Berbagai cara sesuai ilmu kedokteran yang Austin miliki untuk membangun kan Hanna saat itu.
Dan, akhirnya, Hanna pun mulai menggerakkan kepalanya perlahan, dia mulai merespon lalu membuka matanya perlahan.
" Syukurlah..." Ucap Pat yang sedang duduk di samping Hanna yang masih berbaring di atas ranjang.
" Pat... " Ucap Hanna saat itu, lalu mencoba untuk terduduk, namun, ia merasakan sakit di kepalanya.
" Sudah, kamu tiduran saja dulu !!" Ucap Patricia.
Aji buru - buru menuangkan segelas air putih dan menyodorkannya pada Hanna.
Hanna pun terbangun perlahan di bantu oleh Pat dari belakangnya. Lalu ia meneguk air di dalam gelas sampai habis.
" Kalian, ini dimana ?" tanya Hanna.
Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan nya saat itu.
Lalu, tidak lama kemudian, terdengar bunyi bel dari luar.
Wajah Aji, Austin dan Pat kembali panik. Mereka saling menunjuk satu sama lain untuk membuka pintu kamarnya saat itu.
" Kalian kenapa ? siapa yang datang ?" tanya Hanna kembali lalu mencoba untuk turun dari ranjang hendak membuka pintu ke luar.
Di antara mereka, tidak ada yang mencegahnya, mereka malah membantu Hanna yang masih terlihat pusing untuk berdiri tegak.
Bahkan mereka mendorong tubuh Hanna agar dia berjalan secepatnya untuk membuka pintu.
" Kalian ini kenapa sih ?" tanya Hanna masih dalam perjalanan membuka pintu kamar tersebut.
Saat Hanna sudah berada di ambang pintu, yang lain tiba - tiba mundur perlahan, lalu bersembunyi di balik dinding yang agak jauh dari pintu tersebut.
Hanna menatap mereka yang di belakang dengan tatapan keheranan. Ia jadi takut kalau - kalau yang berada di balik pintu saat itu adalah orang jahat atau jangan - jangan hantu...
Hanna sempat mundur selangkah. Tapi, saat mendengar kembali bunyi bel dari pengeras suara, ia kembali tersadar dari khayalannya.
Hanna mengintip sedikit dari lubang kaca pembesar yang ada di pintu. Dan... betapa terkejut nya dia saat melihat orang yang berdiri di pintu luar saat itu adalah...
Hanna dengan cepat membuka pintunya. Lalu dia memeluk orang tersebut.
" Ahjussi... !!" pekik Hanna lalu memeluknya penun kebahagiaan.
Siwan pun sama, ia begitu bahagia saat memeluk kekasihnya yang sudah lama tidak ia jumpai.
Kini mereka berdua mulai masuk ke dalam kamar masih dengan posisi saling memeluk, mereka berjalan perlahan sambil sedikit berbincang - bincang.
" Aku sangat merindukan mu, kenapa baru kembali sekarang ?" tanya Hanna.
" Aku juga sangat merindukan mu, maafkan aku yaa, aku sengaja datang tengah malam begini ingin memberimu sureprise !!" tukas Siwan.
Hanna masih tidak mengerti ucapan kekasihnya itu.
" Kau lupa ? ini kan hari ulang tahunmu !!" ucap Siwan yang kini membuat Hanna tersadar kembali.
Hanna menepuk jidatnya, ia sendiri lupa akan hari kelahirannya, bisa - bisanya dia begini, separah ini kah ingatannya saat ini.
" Ya ampun, aku sendiri tidak ingat, sumpah !!" ucap Hanna.
Siwan tertawa, kemudian ia kembali memeluk kekasihnya itu dan mencium keningnya.
" Happy birth day, chagiya !!" ucap Siwan.
" Thank you so much, beibs.. !!" jawab Hanna.
Saat mereka sedang saling menatap dan hendak berciuman, Siwan melihat ada bayangan seseorang di belakang, ia jadi mengurungkan niatnya untuk mencium kekasihnya saat itu.
" Siapa di belakang ?" tanya Siwan pada Hanna yang sudah terlihat memejamkan matanya, sudah siap menerima ciuman dari kekasihnya saat itu.
Hanna membuka matanya, terlihat canggung, dan ia baru ingat, bahwa ada orang lain selainnya di sana.
Sepersekian detik, tiga orang yang tadi Hanna panggil kini keluar dari tempat persembunyian mereka.
" Hai... kak, apa kabar ?" tanya Austin dengan nada kikuk.
" Kalian sedang apa ?" tanya Siwan.
" Tidak ada, kami hanya tidak mau mengganggu pertemuan romantis kalian. Hihi... " ucap Austin dengan raut tidak karuan.
" Aku, mau pakai baju dulu ya !!" Pat langsung berlari ke dalam kamar menghindari Siwan kala itu.
Dan kini, Hanna pun menyusul Pat ke dalam kamar, seolah dia memberi kesempatan pada Aji dan Austin untuk menyambut Siwan saat itu.
Di dalam kamar....
Pat nampak sangat terkejut saat seseorang membuka pintu kamarnya.
" Pat... ada apa ?" tanya Hanna.
" Tidak ada, hihi... aku mau pakai baju dulu ya, tadi aku habis mandi belum sempat pakai baju saat pacarmu datang kemari. " Ucap Pat menghindari kontak mata dengan Hanna dan bergegas memakai bajunya.
" Bukan itu Pat, maksudku, kenapa sekarang kita di sini ? kau, bli Aji dan kak Os, kenapa kita bisa berkumpul di sini, aku tidak paham, padahal seingatku.... " Hanna mencoba mengingat kejadian semalam.
Lalu....
Di sisi lain...
Aji, Austin dan Siwan kini, mereka sedang duduk di sofa.
Siwan menatap kedua orang kepercayaan nya dengan penuh tanya.
" Apa kalian sedang berpesta tanpaku disini ?" tanya Siwan dengan raut wajah penasaran.
" Tidak... anu, itu... kami... " Aji ingin mencoba menjawabnya dengan karangannya sendiri, tapi dia tidak bisa berbohong di depan Siwan.
" Katakan, ada apa ?" tanya Siwan kembali mengintimidasi mereka berdua dengan tatapannya.
Lalu, tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dan tangisan dari dalam kamar saat itu, membuat ketiganya berhamburan, berlari menuju kamar.
Kembali pada suasana di dalam kamar beberapa menit yang lalu...
" Hanna, tolong, aku pun masih tidak yakin, tapi... " Pat menghentikan perkataannya saat melihat hp milik Hanna di atas nakas menyala.
Hanna langsung menggapai hpnya saat itu, lalu, ia terlihat mengangkat telepon dari seseorang.
" Hallo, kak Mel, ada apa ?" tanya Hanna pada seseorang di sebrang sana.
" Iya, aku baru bangun, kalian dimana ? apa acaranya sudah selesai ?" tanya Hanna.
Pat saat itu hanya memandang Hanna yang sedang menerima telepon dengan tatapan aneh di sudut kamar.
" Apa ? Satria !!" Pekik Hanna.
Hanna lalu mencoba mengingat kembali kejadian semalam, dia teringat saat itu, kepalanya tiba - tiba menjadi sakit, lalu ia merasakan pusing yang sangat hebat semalam, dan dia merasa sangat sulit untuk membuka matanya.
Namun, yang dia ingat kembali saat itu, dia memang sedang bersama Satria masuk ke dalam sebuah lift menuju lantai 12. Hanna masih dapat mengingatnya Satria memencet tombol angka 12 saat itu.
Seketika, Hanna langsung lemas, hpnya yang sedang ia genggam kini terjatuh dari tangannya.
Pat buru - buru menghampiri Hanna, meraih hpnya lalu mematikan panggilan teleponnya.
" Pat, apa ini di kamar hotel xxxxx ?" tanya Hanna menatap Pat tajam.
Pat hanya menganggukkan kepalanya.
" Apa ini lantai 12 ?" tanya Hanna kembali.
Dan Pat tetap menganggukkan kepalanya.
Hanna tiba - tiba tertawa, lalu terhenti, dan, raut wajahnya berubah menjadi sedih.
" Apa yang terjadi padaku Pat ?" tanya Hanna.
" Hanna, tolong, tenanglah dulu... aku... aka... " ucapan Pat terhenti saat Hanna kembali memangkasnya.
" Katakan ada apa ? apa yang terjadi denganku semalam ?" tanya Hanna tidak sabaran.
" Hanna... dengarkan aku... " ucap Pat.
" Keluar..." Hanna menyuruh Pat untuk meninggalkan nya sendirian. Tanpa terasa air mata sudah mengalir dengan deras di pipinya.
" Hanna... " Pat mencoba memeluk Hanna namun dia di tolak olehnya.
Hanna berubah menjadi beringas, dia tidak ingin di sentuh oleh Pat, lalu berteriak " KELUAR " tegas Hanna sambil menangis.
Sepersekian detik, Siwan menerobos masuk ke dalam kamar di susul oleh Aji dan Austin.
" Ada apa ?" tanya Siwan menghampiri Hanna yang sedang duduk dan menangis di atas ranjang lalu mencoba memeluknya.
" Tidak, pergi... jangan sentuh aku, pergi... " Hanna kembali beringas di depan Siwan. Ia tetap tidak mau ada yang menyentuhnya bahkan Siwan sekalipun.
" Kalian, tunggu lah di luar !!" seru Siwan.
Saat ketiganya sudah keluar dari kamarnya, Siwan mencoba menenangkan kekasihnya yang sedang menangis itu.
" Chagiya, katakan saja padaku, aku akan mendengarkan mu di sini, hemmm... " Siwan menatap mata Hanna sambil menganggukan kepalanya.
" A-aku, aku sudah kotor, aku kotor... jangan sentuh aku, aku tidak pantas lagi kau sentuh, aku kotor, aku jijyik dengan diriku sendiri." Ucap Hanna lalu menangis sejadinya.
Siwan dengan sigap merangkul tubuh kekasihnya itu, kali ini tidak ada perlawanan dari Hanna.
Siwan mencoba menenangkan Hanna dan menidurkannya kembali di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian, setelah memastikan Hanna tertidur dan menyelimut nya, Siwan dengan raut wajah yang terlihat marah bergegas keluar dari kamar saat itu.
Siwan menghampiri Aji dan menarik kerah bajunya.
" Ada apa dengannya ?" tanya Siwan menatap tajam Aji.
Austin berusaha menjadi penengah di antara mereka. Dia membujuk Siwan untuk tetap tenang dan duduk terlebih dahulu.
Kini, Aji mencoba menjelaskan duduk permasalahan nya pada Siwan, di bantu oleh Pat dan Austin.
" Satria... !!" ucap Siwan.
" Kau masih ingat, orang yang membuat kaki Hanna terluka, orang yang menabraknya !!" ucap Aji.
" Breng**k, berani - beraninya dia !!" ucap Siwan mengepalkan tangannya dengan raut wajah penuh amarah.
" Dimana dia sekarang ?" tanya Siwan.
" Aku, sudah menyuruh seseorang mengawasi nya kak !!" jawab Aji.
Beberapa jam kemudian, kini waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wita.
Hanna terbangun dari tidurnya, ia melihat Pat sedang tertidur pulas di sampingnya.
Hanna turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Dia mencuci mukanya, berkumur - kumur dan membuangnya. Berkali - kali hal tersebut ia lakukan untuk menyadarkannya dari mimpi buruk nya semalam.
" Ya, mungkin semalam hanya mimpi buruk !!" ucap Hanna sambil menatap cermin di hadapannya.
Namun, tidak lama kemudian, dia menangis, karena ia sadar betul bahwa semalam, apa yang terjadi padanya bukan mimpi, melainkan kenyataan.
Pat yang baru terbangun menyadari bahwa Hanna sudah tidak ada di sampingnya, ia buru - buru terbangun dari duduknya dan matanya beredar ke seluruh ruangan kamar.
Tidak lama kemudian ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi. Pat langsung menghampiri dan masuk ke dalamnya. Ia menemukan Hanna sedang terduduk di lantai sambil menangis. Pat langsung merangkulnya, lalu membawa Hanna keluar dari kamar mandi.