
Beberapa waktu berlalu, setelah hari raya idul fitri tiba, dua minggu kemudian Hanna, Siwan dan Aji, kini sedang berada di pesawat menuju Jakarta, mereka hendak menghadiri upacara pemberkatan pernikahan antara Siska dan Austin.
Saat itu, kebetulan Hanna mengambil sisa cutinya selama enam hari, dan di tambah jadwal libur dua hari seperti cuti sebelumnya jadi total delapan hari. Dia berencana menghabiskan waktu tiga hari di Jakarta dan 5 hari pulang ke Bandung.
Siska pun sama, setelah libur lebaran usai, dia sempat pulang ke Bali untuk kembali bekerja, dan mengambil cuti untuk pulang ke kampung halamannya sebelum acara pernikahan nya di mulai. Dia memutuskan untuk tetap bekerja walaupun sudah menikah nanti. Dia dan Austin sudah menyewa sebuah apartemen untuk mereka tempati di salah satu daerah dekat dengan tempat Siska bekerja di Bali.
Di dalam pesawat, mereka berada di kursi kelas bisnis, Siwan dan Hanna duduk berdampingan, sedangkan Aji berada di sebrang mereka.
" Waw... mewah ya, beda sekali dengan yang biasa aku pesan kalau pulang pergi ke Bandung Bali." Ucap Hanna terlihat sangat norak.
Siwan tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya. " Apa ini pertama kalinya untukmu naik kelas bisnis ?" tanya Siwan.
" Tentu saja, uangku mana cukup untuk sekedar memesan tiket pesawat kelas bisnis, kau menyindirku..." Ucap Hanna dengan mata membesar.
" Tidak, kau sendiri yang bilang begitu. " Ucap Siwan tidak mau kekasihnya jadi salah paham.
Dari sebrang Aji yang melihat dan sedikit mendengar percakapan mereka berkata pada Hanna, " NORAK." Ucapnya dari kejauhan namun tanpa suara.
" Ish... " Hanna melotot pada Aji dan menyunggingkan bibirnya ke atas.
" Kau mau istirahat ? bukannya kau lelah ?" tanya Siwan.
Namun, tidak lama kemudian datang seorang pramugari menawarkan makan pada mereka.
" Daripada tidur, lebih baik aku makan saja. " Ucap Hanna pada Siwan lalu menjawab pertanyaan dari sang pramugari.
Setelah selesai makan, rasa kantuk baru muncul kembali, sebelum tidur, Hanna pergi ke toilet untuk membersihkan dahulu giginya. Setelah itu barulah dia kembali dan bersiap untuk tidur di kursinya. Seorang pramugari membantunya menyiapkan semuanya atas permintaan Siwan.
" Ahjussi, aku merasa canggung di layani terus seperti ini. " Ucap Hanna sebelum menutup matanya, padahal dia sudah pada posisi siap untuk tidur.
" Kau ini, itu sudah pekerjaan mereka, setidaknya kita harus membantu mereka menjalani kewajibannya. Sudah, kau tidur saja. " Ucap Siwan.
Berapa detik kemudian, Hanna sudah memejamkan matanya dan tertidur. Dia merasa lelah karena sebelumnya bekerja shift pagi pulang sore, setelah itu lanjut ke bandara bersama Aji dan Siwan.
Saat pesawat sudah tiba di Jakarta, Siwan membangunkan Hanna, perlahan kekasihnya itu terbangun dari tidur nyenyaknya, seakan enggan untuk turun dari kursinya, dia merasa belum puas hanya tidur selama satu jam saja. Tapi dia harus segera bangun dan turun, karena itu bukan pesawat milik nenek moyang nya. Haha.
Setelah itu, mereka mulai meneruskan perjalanan menuju villa tujuan mereka selanjutnya. Siwan menyewa villa terdekat dengan lokasi pernikahan Siska dan Austin. Dia memesan dua buah villa, yang satu untuk Austin dan keluarganya dari Australia, yang satu lagi untuknya, Hanna dan Aji.
Sesampainya di gerbang villa, Austin sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.
" Hallo, selamat datang di Jakarta !!" Ucap Austin pada mereka bertiga.
" Terimakasih, wahai penjaga villa.. " Ucap Aji menggoda Austin.
" Kenapa kau terlihat lemas begitu ?" tanya Austin pada Hanna yang terlihat lemas.
" Aku masih mengantuk, tidur satu jam mana cukup untukku, tolong jangan ajak aku berdebat dulu ya, aku mau melanjutkan mimpi indahku dulu. " Jawab Hanna.
" Ish... siapa yang mau mengajakmu berdebat, sini kemarikan tasmu, kau masuk saja ke dalam, biar aku yang bawakan. " Ucap Austin mengambil tas dan koper milik Hanna.
Setelah berada di dalam villa, Siwan mengantar Hanna dan barang - barangnya ke salah satu kamar tidur yang ada di dalam.
" Chagiya, kau tidur lah, besok aku akan membangunkan mu, aku ada di kamar sebelahmu. " Ucap Siwan sambil merangkul kekasihnya dari depan.
" Oke, aku mau membersihkan badan dan wajahku dulu. Kau jangan tidur terlalu larut ya. " Ucap Hanna.
" Iya, aku akan mengobrol sebentar dengan Austin. " Lalu mencium kekasihnya dan pergi meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
Setelah Siwan dan Aji menyimpan barang mereka ke kamar masing - masing, kini para three mas getir berkumpul di dalam ruang keluarga untuk membicarakan persiapan pernikahan Austin dan Siska.
" Bagaimana, semua persiapannya, apa masih ada yang belum selesai ?" tanya Siwan pada Austin.
" 99 persen sudah, Siska dan keluarga pun sudah siap, tinggal pelaksanaannya saja. " Ucap Austin.
" Kalau masih ada yang kau butuhkan, katakan saja, aku siap membantumu. " Ucap Aji.
" Lalu, apa kau mengundang nya ?" tanya Siwan.
" Tidak, tapi aku memberitahu nya, dan menyarankan supaya dia jangan datang." Jawab Austin.
" Sudahlah, berbahagialah untuk kehidupanmu selanjutnya, aku yakin Pat pasti akan menemukan jodohnya juga kelak." Ucap Aji.
" Aamiin. Oh iya, malam ini, aku tidur disini ya, aku pusing terlalu banyak orang di villa sebelah. " Ucap Austin.
" Ish... kau tidur saja dengan kak Wan, aku tidak mau tidur denganmu saat kau mabuk seperti itu. " Ucap Aji.
" Rrrrrr... kau ini, memangnya aku akan menodaimu, cuih... aku masih normal tahu.. " Ucap Austin.
" Wah... kau lupa ya, beberapa tahun lalu, kelakuanmu padaku seperti apa, gara - gara kebanyakan minum kau melihatku seperti seorang wanita cantik yang sedang menggoda mu. " Ucap Aji.
" Ish... sudahlah, jangan kau ungkit lagi. " Sahut Austin.
" Kau bahkan sempat menggerayangiku di ranjang, untung saja aku cepat - cepat tersadar, kalau tidak, bibir ku akan kehilangan kesucian karena mu. "
" Ish.. najis, kau pikir aku mau, ih.. tak sudi.. " Ucap Austin sambil bergidik geli.
Siwan yang berada di tengah mereka hanya tersenyum dan tertawa sambil meneguk minuman di gelasnya. Dia merasa sebagai seorang kakak yang sedang menengahi kedua adiknya yang sedang adu mulut.
" Eh.. tapi, apa benar, kau belum pernah berciuman ?" tanya Austin mendadak serius.
" Kau ini, pertanyaan macam apa itu, memangnya aku ini seorang buaya seperti mu ? tak sudi ya... " Jawab Aji.
" Pacaran pun tidak pernah, dia seperti takut terhadap wanita. " Ucap Siwan.
" Bukan begitu... " Sahut Aji.
" Apa kau normal ? jangan - jangan kau.. " ucap Austin.
" Enak saja, aku normal ya, aku juga pernah menyukai seorang wanita.. " Jawab Aji.
" Siapa ? mana ? kau bisanya hanya adu jotos dan membuat orang masuk rumah sakit, mana bisa kau menaklukan hati perempuan." Sahut Austin.
" Kau... awas ya, kalau saja lusa bukan hari pernikahanmu, wajahmu sudah ku tinju sedari tadi. " Ucap Aji kesal karena Austin mengolok - oloknya.
" Hahaha.. sudah ku bilang, kau bisanya hanya membuat orang babak belur. " Austin tertawa merasa senang.
" Sudah, kalian cepat istirahat, jangan sampai bergadang, nanti mata kalian menghitam seperti panda. " Ucap Siwan mencoba menyudahi perdebatan mereka berdua.
" Kak, terima kasih banyak ya, kau sudah membiayai keluargaku selama di Jakarta, aku sangat berhutang budi padamu. " Ucap Austin menatap Siwan.
" Sudahlah, bahkan jika kau perlu biaya yang lainnya, aku akan memberinya untukmu. " Jawab Siwan.
" Tidak kak, ini pun sudah cukup bagiku. Kau selalu menjagaku selama ini, kau benar - benar seperti seorang kakak yang aku idamkan. " Ucap Austin yang terlihat begitu melow menatap Siwan.
Siwan pun menepuk pundak Austin, " semoga hidupmu menjadi lebih baik dan bahagia setelah berkeluarga, jagalah keutuhan keluargamu, kelak, mereka yang akan selalu mendampingi mu." Ucap Siwan lalu beranjak dari duduknya. " Aku akan istirahat, kau tidur saja di sofa. " Ucap Siwan pada Austin.
Siwan pergi meninggalkan Austin dan Aji, dengan mata berkaca - kaca, namun menahan air matanya supaya tidak keluar membasahi pipinya, ia lalu bergegas ke kamar tidurnya.
Di dalam kamar, dia mengganti bajunya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Sesudah itu, ia kembali keluar dari kamarnya untuk mengecek apa Hanna sudah tertidur pulas di kamarnya, dan dia melihat Austin yang sudah dengan posisi berbaring di atas sofa.
" Os.. kau sudah tidur ?" tanya Siwan menghampiri Austin.
" Apa.. aku belum tidur. " Ucap Austin lalu terbangun dan terduduk kembali di atas sofa.
" Kau tidur di kamarku saja, cepat sana !! Seru Siwan.
" Lalu kau... ?" Dan Austin kini menyadari sesuatu, " Oohhh... oke, oke, aku mengerti, yasudah aku pinjam kamarmu." Austin berdiri dari kursinya. Dan sebelum melangkah dia kembali mundur berhadapan dengan Siwan. " Jangan lupa pakai pelindung, supaya aman. " Ucap Austin berbisik pada Siwan, lalu pergi menuju kamar tengah milik Siwan.