My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Media Sosial



WARNING mengandung adegan 18+


Beberapa jam berlalu, siang berganti sore. Pukul 15.00 wita, Siwan dan Hanna sudah berada di perjalanan untuk melihat sunset di sekitar Tanah Lot. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat tujuan.


Hanna sempat mengabadikan beberapa moment lewat foto di sepanjang perjalanan mereka.


Begitu pula saat moment sunset sudah tiba, dia sibuk memotret dengan kamera digitalnya maupun dengan kamera hp nya. Tak lupa, dia selalu mengupload beberapa foto terbaik ke instagrem pribadinya.


" Ahjussi, apa kau punya akun instagrem ?" tanya Hanna saat jari - jari tangannya sedang sibuk mengupload foto di hpnya.


" Emh... apa itu ?" tanya Siwan.


" Kau tidak tahu ? kalo faceb**k ? kau tidak tau juga?" tanya Hanna kembali.


" Emh.. efbi, kalo itu aku tahu, tapi, aku tidak punya akun efbi. Aku tidak ada waktu bermain media sosial seperti itu, aku tidak tertarik... " Hehe.. jawab Siwan sambil nyengir.


" Wah... kau tidak gaul rupanya. " Hanna berkata dengan polos dan tanpa dosa. Dan tetap melihat ke layar hp nya tanpa melirik Siwan sedikitpun yang saat itu matanya terlihat membelalak.


" Apa aku harus membuat akun seperti itu supaya terlihat gaul ? " tanya Siwan dengan muka datar tapi menyeramkan.


Hanna yang masih tidak menyadari perubahan wajah Siwan dan malah asyik mengotak atik hpnya pun menjawab..


" Tidak juga sih, itu hak masing - masing. Hanya saja, untuk sekedar menjalin silaturahmi dengan teman atau kerabat jauh saja. Niat awal ku sih hanya begitu, saat membuat media sosial itu. Emh.. tapi, lama - lama malah jadi ajang pamer kecantikan ataupun pamer lokasi mana saja yang pernah aku datangi. Hahaha.... " Hanna tertawa sendirian.


Lalu, sepersekian detik dia menghentikan tawanya dan menyadari bahwa dia tidak lucu. Dia melirik ke arah Siwan yang duduk di sampingnya yang ternyata sedari tadi sudah memasang wajah seram dengan mengangkat sebelah alis nya seperti biasa.


" Kenapa berhenti tertawa ?" tanya Siwan.


" Tidak ada yang lucu. " Jawab Hanna.


" Apa aku boleh melihat isi intsgrem mu itu ?" tanya Siwan.


Hanna pun menyodorkan hpnya pada Siwan.


" Ini, lihat lah.. karena kau tidak punya akun instagrem, aku pinjamkan hpku. "


Lalu Siwan melihat foto - foto yang sudah Hanna upload di akun instagram nya.


" Waw... siapa yang mengedit foto ini ? Ini pasti editan kan ?" Siwan menunjuk salah satu foto Hanna yang sedang memakai dress polos dan topi bundar bergaya bak model pro di sekitar taman bunga.


" Ih... itu karena aku memang cantik dan pandai bergaya bak model sungguhan. Rey hanya mengedit sedikit latar dan warna nya saja. Dia bahkan pandai mengambil angle terbaik, jadi tidak terlalu banyak editan.. " Hanna menjelaskan dengan ringan. Seolah tidak menyadari bahwa Siwan merasakan sesuatu yang berbeda saat mendengar nama Rey di ucapkan.


" Rey...? Maksudmu Rayhan ?" tanya Siwan.


" Iya, Rayhan, Rey... itu fotoku satu tahun lalu sebelum pergi ke Bali. Aku dan Rey, bersama beberapa teman juga, sedang bermain ke sebuah tempat wisata di Bandung. Kebanyakan fotoku, Rayhan yang memotretnya. " Ucap Hanna.


" Oh... begitu ya... " Siwan merasa cemburu mendengarnya.


" Ahjussi, kau cemburu ? " Hanna mulai merasa peka.


" Biasa saja. " Jawab Siwan singkat sambil masih melihat - lihat foto di instagrem milik kekasihnya itu.


" Bohong, wajahmu, kenapa seperti itu.. ? tidak usah malu padaku, jujur saja." Hanna menggoda Siwan.


" Iya, aku CEMBURU. " Dengan nada tegas Siwan melirik Hanna sebentar dan sibuk melihat foto - foto lagi.


" Hihi... lucu, kau lucu saat sedang cemburu seperti itu. " Hanna berhenti bicara terlihat seperti sedang berfikir.


" Emh... ahjussi, Rayhan hanya masa laluku. Aku memang masih berteman dengannya, tapi, mau kau percaya atau tidak, aku, maksudku, perasaanku padanya, sudah hilang begitu saja saat aku menerima mu. Asal kau tahu saja, hanya ada namamu di dalam hatiku saat ini. " Hanna tersenyum menatap Siwan yang ternyata sedang menatapnya juga.


" Baiklah, aku percaya. " Siwan mengelus kepala Hanna.


" Ini, fotomu, memakai baju adat, wajahmu sangat cantik. " Siwan menunjukkan lagi salah satu foto pada Hanna.


" Terlihat seperti bukan dirimu, tapi cantik, kau jarang memakai riasan mencolok seperti ini." Siwan memuji Hanna.


" Aku lebih suka make up natural, kalau sedang bekerja pun hanya lipstik dan blush on ku saja yang terlihat mencolok. Hanya di moment tertentu aku memakai make up mencolok seperti ini. "


" Ini, aku sudah selesai melihatnya, kau tidak terlalu banyak mengupload foto ternyata, ku kira pasti sudah ribuan foto yang kau upload ke akun media sosialmu ini. "


" Aku hanya mempost beberapa foto yang terlihat aesthetic ataupun dalam moment tertentu, tidak sesering orang lain sih. Sebelum mem post fotoku, aku pasti harus banyak mempertimbangakan foto itu di segala aspek. Supaya terlihat lebih rapih saja. "


" Ternyata kau orangnya penuh perhitungan ya." Ucap Siwan.


" Tidak juga sih, kadang ada juga foto yang aku post karena spontan. Tapi saat sadar dan ingin menghapusnya, sudah banyak komentar dari teman dan followers ku, jadi kadang aku mengurungkan niatku dan membiarkannya saja. "


" Banyak sekali komentar pria memuji fotomu, apa kau senang ?"


" Ih.. kenapa bertanya seperti itu ? Kau merasa cemburu lagi ? " tanya Hanna.


" Entahlah.. sudah yuk, kita pulang saja. " Dengan nada kesal, Siwan berdiri dan menarik lengan Hanna.


Hanna hanya tersenyum sambil mengikuti Siwan dari belakang. Mereka pun pulang berjalan kaki menuju villa.


Sesampainya di villa, mereka langsung bersiap - siap untuk pulang menuju ibu kota.


" Yah, sayang sekali tidak bisa menginap, suasana malam pasti terasa sangat sejuk di sini. " Ucap Hanna seperti enggan pulang.


" Kau mau menginap di sini ? kita berdua, malam ini? kau mau ?" tanya Siwan.


" A-a-ku mau saja sih, tapi tidak kalau hanya kita berdua, tidak boleh berdua, lain kali ajak teman - teman yang lainnya oke, lain kali saja. " Hanna langsung membalikkan badannya dan berniat menjauh pergi ke luar menghindari Siwan.


Tapi, baru selangkah pergi, Siwan menarik lengan Hanna. Dan Hanna menghentikan langkahnya. Lalu, tiba - tiba, Siwan memeluk Hanna dari belakang. Hanna langsung merasa terkejut. Siwan semakin memeluknya dengan erat dan berkata,


" Apa kau takut, aku akan berbuat macam - macam padamu ?" tanya Siwan sambil mencium leher Hanna.


Seketika Hanna berubah dari raut tegang menjadi lemah dan bergairah. Hanna lalu membalikkan badannya menghadap Siwan, dan tanpa menunggu lama mereka langsung berciuman, Hanna melingkarkan tangannya di leher Siwan, lalu Siwan mengangkat kedua kaki Hanna, menggendong nya dari depan seperti koala dan membawanya menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Siwan membawa Hanna ke atas kasur, mereka berdua semakin merasakan gairah yang tak tertahankan. Hanna mulai merasakan area intimnya menjadi basah.


Siwan melepaskan ciuman bibirnya, dia mulai mencium ke bagian area sensitif Hanna lainnya, Siwan mencium leher Hanna kiri dan kanan, dia mulai mencium dada besar Hanna, dan saat menuju ke bagian bawah, Siwan berhenti dan dia tersadar. Dia lalu kembali menatap Hanna dan berkata,


" Maafkan aku, kita memang tidak bisa berduaan seperti ini. Aku takut terus - terusan khilaf saat di sampingmu. Aku sudah berjanji padamu. " Siwan lalu mencium kening Hanna dan merebahkan dirinya di samping kekasihnya itu.


" Aku yang minta maaf, aku tidak bisa melakukannya sebelum ada ikatan. Kau pasti sangat kesulitan menahannya. Ahjussi, aku tidak bisa seperti wanita lainnya. Aku tidak bisa... " Hanna kemudian memeluk Siwan yang berada di sampingnya.


Tanpa di sadari, mereka berdua pun tertidur. Sambil tetap berpelukkan. Mereka tertidur lelap hingga malam hari.


Pukul 19.15 wita, Siwan terbangun dari tidurnya. Dia melihat Hanna berada di sampingnya masih tertidur lelap. Dia mengubah posisi tidurnya, menyamping, menghadap pada Hanna. Dia mengelus - elus wajah Hanna sambil berkata,


" Aku menyukai mu, aku ingin melindungi mu, aku akan bertahan demi cintaku padamu. Tetaplah di sisi ku, aku sangat menginginkan mu lebih dari yang kau tahu. " Lalu Siwan mencium kening Hanna.


Tidak lama kemudian, Hanna membuka matanya, dia melihat Siwan masih berada di sampingnya, lalu, melalui jendela dia melihat hari sudah gelap. Hanna langsung terbangun dan terduduk di kasur.


" Jam berapa ini ? " tanya Hanna sambil mengangkat lengan Siwan yang terlihat memakai arloji.


" Apa ? sudah malam. Ahjussi, kenapa tidak membangunkan ku ?" Hanna merasa terkejut.


" Aku juga belum lama terbangun. Kau mau pulang sekarang ?" Siwan terbangun dan terduduk di atas kasurnya.


" Iya, ayo kita pulang, sudah malam perjalanan lumayan jauh kan. " Hanna turun dari kasur lalu merapihkan rambutnya.


Beberapa menit berlalu, Hanna dan Siwan sudah berada di perjalanan pulang dengan mengendarai motor yang tadi mereka pakai. Hanna memeluk Siwan dengan erat dari belakang. Mereka sempat berhenti di salah satu restoran untuk sekedar makan malam di sekitar jalan yang mereka lalui. Lalu, setelah selesai, mereka meneruskan perjalanan menuju tujuan mereka.