My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Syukuran



Pagi hari di kota Bandung di akhir bulan juli...


Udara di pagi hari yang terasa lebih dingin di saat memasuki musim kemarau, membuat para kaum rebahan semakin malas untuk bergerak dan beranjak dari dekapan selimut tebal mereka di dalam kamarnya.


Matahari sudah meninggi, memancarkan sinar dan kehangatan bagi siapa saja yang berada di bawah kungkungannya, menghilangkan hawa dingin dengan perlahan pada setiap tubuh para makhluk yang sudah mulai menyibukan diri di luar rumah di awal pagi hari mereka.


Hanna yang saat itu belum kembali beraktifitas seperti biasanya, bekerja normal sebagaimana mestinya, masih betah mengurung diri di dalam kamar bersama anak tersayangnya setiap paginya.


Tok... tok... tok...


"Teh... bangun... !!" suara wanita paru baya dari balik pintu terdengar samar-samar di telinga penghuni kamar berukuran 4x6 centimeter itu.


Terdengar suara indah makhluk kecil yang malah menyahutnya dengan kicauan merdu dari mulut sang makhluk tersebut, menanggapi panggilan seseorang dari balik pintu.


Bu Hani, yang merupakan orang yang mengetuk pintu kamar Hanna saat itu pun mencoba menarik handle pintu kamar yang berada di depan matanya, dan perlahan mendorongnya hingga ia bisa melihat kondisi bagaimana suasana di dalam kamar.


Sejurus kedua indera penglihatannya langsung tertuju pada ranjang sang empunya untuk mencari keberadaan seseorang. Namun, hanya ada wanita berambut ikal dengan sebagian rambut terjuntai ke bawah lantai di pinggiran kasur, dan bantal serta selimut yang sudah berhamburan tak karuan di atasnya.


Bu Hani menelaah dan mengedarkan pandangan kesetiap sudut demi mencari sosok mahluk yang hanya terdengar suaranya sedang tertawa sambil meracau ala - ala bayi yang sedang bercerita.


Bu Hani masuk ke dalam kamar, lalu mencari ke samping tempat tidur sisi satunya lagi untuk mencari apakah mahluk kecil yang ia cari itu berada di sana.


Dan, ternyata benar saja...


"Hwan, kamu lagi apa sayang di situ ?" bu Hani mendapatkan cucu kesayangannya tengah menggenggam foto seorang pria di tangannya sembari tiduran di atas sebuah playmate. Foto itu terlihat sudah mulai kusut dan basah berair liur, yang keluar dari mulut manis sang makhluk kecil, bayi berusia sebelas bulan itu.


Bu Hani pun mendapatkan beberapa foto dengan wajah yang sama berserakan di atas playmate secara acak, bahkan sebagian ada yang sudah terduduki oleh Hwan. Semenjak memiliki bayi, lantai kamar Hanna memang di lapisi oleh playmate yang cukup tebal demi keamanan bayinya yang sudah mulai aktif itu.


"Pa.. pa... "


Telinga bu Hani dapat menangkap dengan jelas apa yang baru saja bayi mungil itu ucapkan dari mulutnya.


"Pa... paw.. " Hwan kembali mengucapkan satu kata yang membuat kedua mata bu Hani membulat.


Bu Hani terlihat terkejut. Hwan sudah bisa mengucapkan kata lain selain bubu, nene, dan ake (kakek).


"Hwan, kau sedang melihat - lihat foto papamu ? ini papa, papa Hwan, kau sudah tahu nak ?"


Bu Hani bertanya tanpa mendapat jawaban apapun, namun, ia merasa tersentuh dengan apa yang ia lihat dan dengar pagi ini.


"Apa kau merindukannya nak ? kau pasti bertemu dengannya kan sewaktu di Bali sana, betul kan Hwan ?"


Lagi - lagi pertanyaan dari mulutnya hanya melayang di udara tanpa ada jawaban sedikitpun.


"Sini, kemarilah, kita makan dan berjemur sama nenek, kau pasti lapar kan ? ayo ikut nenek !!" Bu Hani menyimpan selembar foto dari tangan Hwan yang hampir saja foto itu kembali di gigit olehnya.


Sebelum benar-benar pergi, bu Hani sempat mengguncang tubuh anak sulungnya itu dengan kakinya.


"Heh, udah siang, bangun, anakmu sudah kelaparan ini, emaknya masih asik molor, males banget sih ya ampun... " Bu Hani mengomeli anaknya yang kini sedang meliuk - liuk di atas kasurnya, menggeliat dan meregangkan urat syarafnya dengan mata masih terpejam, mungkin ia mengira suara bu Hani hanyalah bagian dari mimpinya.


Beberapa menit kemudian...


Hanna keluar dari kamar dan berjalan lemas menuju kamar mandi sambil memegangi perutnya, juga pinggangnya secara bergantian. Wajahnya terlihat mengernyit seolah menahan rasa sakit.


Setelah dari kamar mandi, Hanna keluar menuju halaman belakang rumah dan mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang berada di atas jemuran kecil khusus handuk yang sudah nangkring di halaman belakang di bawah sinar matahari pagi.


Hanna melihat kini Hwan sedang duduk di kursi makan bayi tengah di suapi oleh bu Hani, sambil berjemur di bawah sinar mentari yang sebagian terhalangi oleh dedaunan pohon mangga yang menjulang tinggi di pekarangan belakang rumah mereka. Sambil melihat ikan-ikan berenang di kolam kecil yang belum lama di buat oleh pak Bagyo sebagai hobi barunya, yaitu memperindah area belakang rumahnya.


Hanna mendekat dan duduk di tembokan kolam ikan yang tingginya hanya selutut orang dewasa.


"Bu, badanku terasa sakit, pinggangku pegal, terasa panas dan sakit juga, rasanya aku tidak sanggup untuk sekedar berjalan, perutku tidak enak, kenapa yaa ?"


Hanna terlihat murung, dan sesekali mengernyit ketika rasa sakit itu menghampirinya kembali.


"Kau salah makan ? kemarin di rumah Yasmin kau makan apa ?" tanya bu Hani, keningnya berkerut.


"Aku cuma makan bakso, pedasnya hanya sedikit kok, aku belum berani makan pedas level setan lagi sejak keluar dari rumah sakit dulu," jawab Hanna.


"Terus, menurutmu kau Kenapa ? sebaiknya kau periksa ke dokter saja daripada salah diagnosa, dokter lebih tahu apa yang sedang kau derita saat ini sepertinya," pungkas bu Hani.


"Baiklah nanti a-..." ucapan Hanna terhenti ketika sesuatu terjadi pada tubuhnya secara tiba-tiba.


Hanna langsung berdiri dari duduknya dan memasang ekspresi wajah terkejut, mulutnya menganga dan bola matanya membulat sempurna.


Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.


"Ibumu aneh sekali belakangan ini, kadang tertawa dan tersenyum sendirian, kadang cemberut dan marah-marah tanpa alasan seperti wanita pms, labil sekali padahal sudah tua juga, " bu Hani berdecak dengan gigi terkatup rapat.


Tak lama kemudian Hanna kembali menghampiri bu Hani yang kini sudah berada di dalam rumah mereka, sedang menatap cucunya berlatih berjalan dengan berpegangan pada pinggiran meja di ruang tamu mereka.


"Bu, aku pms, ternyata nyeri badan yang kurasakan karena aku mau kembali merasakan haid bulanan, " ucap Hanna, tersenyum sambil merapatkan kedua barisan rapih giginya.


Setelah melahirkan, selesai dengan masa nifasnya, Hanna belum kembali kedatangan tamu bulanan seperti bulan-bulan sebelum ia hamil dan melahirkan. Ia bahkan berkali-kali konsultasi ke dokter kandungan karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan pada organ intimnya dan rahimnya.


Namun ternyata setelah penjelasan dokter bahwa hal itu normal saja karena perubahan hormon apalagi ia menyusui ASI secara ekslusif pada bayinya.


Namun saat bertanya pada Yasmin tentang hal ini, ia sempat ragu dengan jawaban Yasmin.


"Tapi aku enggak kok Han, selesai nifas aku langsung di kb alhamdulillah haidku lancar kok, "


Jawaban dari Yasmin sungguh membuat Hanna ketakutan. Ia takut bahwa ia hamil kembali.


"Ah gila, jangan gegabah, mana bisa hamil lagi kalau gak begituan, deket sama pria lain aja enggak, jangan ngaco deh, coba tanyain lagi sama dokter sana, " pinta Yasmin, saat Hanna meluapkan rasa kekhawatiran pada dirinya saat itu.


Namun, lagi-lagi sang dokter mengatakan hal yang sama, dengan sikap tenang tetap melayani dan memberi penjelasan yang pada akhirnya bisa cukup di mengerti oleh Hanna.


Selama tidak melakukan hubungan suami istri, ataupun apabila melakukan tetapi sudah menggunakan alat kontrasepsi, hal tersebut tidak perlu di riasaukan, tidak akan terjadi kehamilan pada mereka, terutama pada wanita seperti Hanna yang tidak memiliki suami.


Sore harinya, Hanna yang sedang berbaring dan berguling ke kanan dan ke kiri di atas sofa ruang tamu merasa gelisah, bahkan ia tekadang bergerak bagaikan seekor ulat yang tengah meliuk-liuk di atas daun, menempelkan tubuh pada sofa dan melengkungkan bagian belakangnya ke udara secara bergantian.


Hwan yang sedang berdiri dan belajar berjalan mengelilingi meja di dekatnya menatap ibunya dengan wajah keheranan.


"Sayang, maaf ya, hari ini, bubu tidak terlalu fokus padamu, perut bubu sakit, bisakah kau jadi anak baik, ah tidak, kau memang selalu menjadi anak yang baik dan sholeh, " Hanna tersenyum cerah menyentuh pipi Hwan yang terlihat menggemaskan, putih dan kenyal seperti bakpau.


Dan, tiba-tiba, terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya.


"Itu pasti kakekmu Hwan, kau tidak akan kesepian lagi, " sambung Hanna.


Saat itu, bu Hani sedang pergi bersama adik Hanna berbelanja, sejak siang hari hingga sore hari menjelang petang mereka belum pulang.


"Assalamualaikum... " suara nyaring seorang pria menggema lewat pintu belakang rumah Hanna.


"Waalaikum salam !!" jawab Hanna setengah berteriak.


Terdengar suara gemericik air di area dapurnya, seperti biasa setiap orang yang baru sampai di rumah setelah pulang bekerja selalu wajib membersihkan kedua tangan mereka sebelum menyentuh apapun terutama Hwan, sumber kebahagian mereka di rumah.


Seseorang melangkah mendekat ke arah Hanna dan Hwan.


"Ibu sama si Dul belum pulang ?" tanya pak Bagyo yang baru pulang berdagang di pasar.


"Belum pak !!" jawab Hanna, menggerakan sedikit kepalanya untuk menoleh pada pak Bagyo, ayahnya.


Melihat anaknya yang terlihat mengernyit serta melihat peluh bercucuran di pelipisnya, pak Bagyo semakin mendekat pada Hanna dan memegang dahi anaknya itu mengecek suhu tubuh Hanna, mungkin ia mengira Hanna demam.


"Kau kenapa ? sakit apa ?" tanya pak Bagyo.


"Hanya datang bulan pak !!" jawab Hanna.


"Oh... " begitulah jawaban pak Bagyo yang kemudian bereaksi tenang kembali karena ternyata anaknya tidak sakit parah.


Kemudian pak Bagyo menemani Hwan sebentar bermain dan mengajari cucu tersayangnya itu cara berjalan tanpa bantuan. Berkali - kali Hwan terjatuh dan bangun kembali dengan semangat memperlihatkan kegigihannya melangkahkan kaki mungilnya dengan gerak yang masih terbatas seperti robot.


Tidak lama kemudian, datanglah bu Hani dan adik Hanna yang baru pulang berbelanja.


Pak Bagyo lantas memberikan Hwan kembali pada Hanna dan berlari menuju ke depan.


Hanna yang terlihat penasaran kemudian terbangun lalu menyusul ayahnya keluar sambil menggendong Hwan.


"Ya ampun... bu, banyak sekali belanjaannya, ini ada acara apa ?" Hanna terkejut melihat beberapa kantong keresek besar yang di bawa oleh tangan para pria di rumahnya dari dalam bagasi mobil menuju area dapur mereka.


"Emh... itu, anu, ibu belum cerita ya, pokonya intinya ibu mau masak banyak buat besok sore, ada acara syukuran," jawab bu Hani dengan ekspresi membingungkan bagi Hanna.


"Syukuran, dimana ? disini ? di rumah kita ?" Hanna masih belum puas dengan jawaban ibunya.


"Iya, disini, di rumah kita, udah deh kau minggir sana jangan menghalangi adik dan ayahmu yang sedang bolak-balik mengambil belanjaan ibu, " bu Hani berkerut dan melambaikan tangannya mengusir Hanna supaya menjauh dari area dapur.


"Tapi bu, ibu sanggup masak sendiri ? sebanyak ini ? lagipula dalam keadaan aku sedang sakit begini tidak akan sanggup membantu ibu secara optimal !!"


"Ish... cerewet banget sih, nanti setelah maghrib bakal datang bala bantuan kok, ibu sudah merencanakan ini matang - matang, udah ya, ibu mau ngurus belanjaan dulu, habis itu mau mandi sebelum sholat," pungkas bu Hani yang kini kedua tangannya mulai sibuk mengeluarkan barang belanjaan dari tiap kantong kresek yang sudah mulai memenuhi sebagian lantai dapur.


"Acara syukuran apa sih sebenarnya, kenapa ibu tidak berunding denganku sebelumnya, " bisik Hanna sambil menjauh dari area dapur.


"Acara syukurannya dadakan kak, aku juga gak tahu apa-apa langsung di ajakin belanja tadi siang," sahut adiknya yang kini sudah berada di belakangnya sedang menggoda Hwan dalam pelukan Hanna.


"Syukuran apa sih Dul ?" tanya Hanna kemudian.


"Katanya sih ya... syukuran aja, berterimakasih sama Alloh atas segala berkah dan nikmat yang telah di berikan selama ini pada kita, jadi kita mau mengadakan pengajian dan makan bersama, gitu aja sih !!"


"Sudah ah, aku mau mandi, lengket banget nih badanku, "


Abdul pun buru - buru pergi. Tanpa sepengetahuan Hanna, di belakangnya ia baru bisa bernafas dengan lega saat berhasil menghindarinya.


"Hampir saja aku keceplosan, " batin Abdul sambil mengelus dadanya.


Malam itu, di rumah Hanna, terlihat kesibukan yang tidak seperti biasanya. Beberapa orang saudara datang untuk membantu bu Hani mengerjakan tugasnya sebagai juru masak untuk acara syukuran besok, bahkan mereka menginap di rumahnya membuat suasana malam hari itu sangat ramai bahkan Hwan pun susah memejamkan matanya kembali karena ada teman bermain yang seumuran dengannya yang merupakan cucu dari paman dan bibinya Hanna.


Sekali-kali Hanna ikut bergabung di dapur saat Hwan tengah bermain bersama para paman dan kakeknya di ruang tengah.


Dan, saat waktu menunjukkan pukul 22.30 wib, saat jadwal Hanna dan Siwan berkomunikasi setiap harinya telah tiba, handphone Hanna yang berada di depannya di atas sebuah tumpukan tissue bergetar, dan di layarnya tertera sebuah panggilan video call dari seseorang yang bernama 'Hwan Appa' yang artinya ayah Hwan, dalam bahasa Korea.


Wajah Hanna seketika pucat pasi, karena saat itu bukan hanya dia saja yang melirik ke arah getaran hpnya, kedua mata bu Hani beserta kedua bibinya dan sepupu Hanna ikut tertuju pada layar hp Hanna yang menyala.


Lalu, bu Hani dan saudaranya itu langsung melirik ke arah Hanna secara bersamaan.


Secepat kilat Hanna mereject panggilan tersebut.


"Kenapa tidak di angkat Han ?" tanya salah seorang bibinya.


"Ah, itu, biarkan saja bi, aku sedang asik membantu kalian mengupas kentang ini !!" Hanna memicingkan matanya sambil tersenyum.


Bu Hani yang sepertinya sudah tahu siapa yang mencoba menghubungi anaknya saat itu hanya menatapnya dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya sambil tersenyum.


...*****...


Kira-kira ada apa yaa di rumah Hanna besok ?? Hmmm...


Maafkan baru sempet update !!