
Keesokan harinya...
Setelah pulang bekerja, sesuai janjinya, Hanna hanya pulang ke rumah untuk mengganti baju dan perdalamannya. Lalu menyiapkan baju ganti dan perlengkapan lainnya di tas lalu pergi lagi bersama Siwan menuju tempat latihan karate nya.
" Chagiya, apa kau tidak mau belajar menyetir ?" tanya Siwan.
Hanna merasa terkejut karena Siwan secara tiba - tiba bertanya seperti itu saat di perjalanan.
" A-aku, entahlah, kenapa memangnya ?" tanya Hanna.
" Kalau kau mau, ikutlah kursus mengemudi, nanti akan aku carikan untukmu !!" ucap Siwan.
" Emh... nanti saja, nanti aku pikirkan lagi !!" jawab Hanna.
Di dalam hati ia berkata, " ada apa sebenarnya dengan nya dan Aji, mereka... ?" Hanna merasa penasaran.
Mereka berdua menyuruh Hanna belajar ini itu, bela diri, menyetir mobil, bahkan Siwan sempat menawarkan Hanna untuk kursus memasak karena tahu masakan Hanna lumayan enak di lidahnya, Siwan akan mendukung Hanna untuk lebih mengembangkan bakatnya di bidang kuliner.
Lalu sebelumnya pun Aji sempat menyuruh Hanna belajar mengenali mimik muka orang lain supaya Hanna tidak mudah tertipu lagi oleh kepolosan seseorang. Dia mencontoh kasus yang terjadi pada Siska dan dirinya dulu.
Hanna sempat mempraktekannya sebulan yang lalu, namun hal itu malah membuatnya jadi selalu bersuudzon saat menatap wajah orang lain yang bertemu dengannya. Lalu dia memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.
Karena baginya, tak mengapa orang lain memiliki topeng di wajahnya, selama mereka tidak merugikan Hanna sendiri, maka ia tidak akan menganggapnya ancaman.
Lagi pula, dia tidak bisa terus - terusan berpikir negatif terhadap orang lain, seseorang bisa saja berubah seiring waktu dan kondisi. Dia berpikir hal itu bukan bidangnya. Pekerjaannya malah menuntutnya selalu berbuat ramah terhadap orang lain, selalu menebar senyuman saat menyambut konsumen di toko, baik yang loyal maupun tidak, baik yang jadi membeli barang atau hanya sekedar bertanya - tanya.
Tidak jarang orang yang berbelanja di konternya hanya sekedar menanyakan size ini itu, setelah di keluarkan dari pajangan yang di beli hanya satu, bahkan yang tidak jadi membelinya pun ada. Atau sekedar menanyakan diskon dan membandingkan kualitas dan harga.
Sebagai seorang karyawan di bidang pelayanan jasa, Hanna menjadi lebih memahami karakter lewat obrolan, mereka maunya apa dan bagaimana, mau yang seperti apa dan apa yang tidak di sukai. Semua ia simpulkan lewat sebuah percakapan bukan hanya sekedar menatap wajah seseorang lalu menyimpulkan nya begitu saja.
Ya mungkin bagi seorang psikolog hal tersebut sangat bermanfaat, karena memang mereka sekolah dan bekerja di bidang tersebut. Atau bahkan beberapa orang yang memiliki tujuan tertentu hal itu sangat berguna.
Namun sekali lagi, bagi Hanna, hal itu tidak bisa ia lakukan. Karena pertama, bukan bidangnya, lalu kedua, dia lebih tentram hidupnya saat selalu menilai seseorang dengan positif. Karakter seseorang tidak bisa di nilai hanya dari luar saja.
Hanna memasang muka mode antagonis sambil menghindari tatapan Siwan, tanpa di sadari keluar sebuah kata, " cih... " dari mulutnya yang membuat Siwan terkejut.
" Chagiya, kamu kenapa ?" tanya Siwan dengan tatapan aneh.
Seketika raut wajah Hanna berubah kembali menjadi ceria.
" Nothing !!" ucapnya sambil tersenyum lebar.
Padahal sedari tadi dia sedang memikirkan tentangnya dan Aji yang memintanya belajar ilmu - ilmu baru baginya.
" Kenapa mereka jadi selalu ikut mengatur kehidupanku !!" ucap Hanna di dalam hati.
Sesampainya di tempat latihan, Siwan menyuruh Hanna untuk pergi ke lantai 2 terlebih dahulu karena dia harus menemui beberapa staff dan karyawannya di lantai 1.
Hanna pun masuk menuju ruang latihan. Disana sudah ada Mina dan seorang muridnya, seorang remaja anak sma yang akan mengikuti kejuaraan nasional.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, kini giliran Hanna yang memulai latihannya.
Mina terlihat mulai kewalahan saat Hanna mulai mencoba menyerang dengan beberapa teknik dasar. Ia jadi lebih bersemangat mengajarkan Hanna yang kini sudah paham akan ilmu yang selama 2 bulan terakhir ia ajarkan.
1 jam berlalu, Hanna meminta sesi latihannya berakhir karena dia sudah merasa tidak nyaman dengan kondisinya yang sedang datang bulan. Ia terburu - buru menuju kamar mandi sebelum terjadi banjir yang akan membuat seragamnya berubah warna.
Selesai membersihkan dirinya, Hanna membuka hpnya untuk menghubungi Siwan, karena dia tidak datang saat Hanna sedang latihan selama 1 jam tadi.
Hanna merasa kesal, padahal ia ingin memperlihatkan progres latihannya selama ini kepada Siwan.
Dan, ternyata saat Hanna membuka hpnya, sudah ada pesan masuk dari Siwan. Dia memberi tahu Hanna bahwa dia sedang latihan tinju bersama Aji.
Lalu setelah membereskan barangnya kembali, Hanna bertanya pada Mina, dimana biasanya Aji latihan boxing. Dan, kebetulan karena Mina pun sudah selesai dan hendak pulang, Mina mengantarkan Hanna sampai ke dalam ruangan tersebut, bahkan Mina pun ikut masuk untuk melihat mereka.
Saat itu, Hanna melihat Siwan dan Aji sedang saling menyerang, beberapa kali Siwan terkena pukulan dari Aji, membuat Hanna meringis melihatnya.
Namun, Siwan mampu membalas serangan dari Aji, bahkan sampai Aji terpojok di salah satu sudut ring dan terkapar. Barulah Siwan mengakhiri serangannya.
Siwan lalu membuka sarung tinju, head guard dan pelindung giginya. Setelah meletakkannya di lantai ia lalu mengulurkan tangannya pada Aji yang masih terlentang di lantai ring tinju.
Aji pun menerima uluran tangan Siwan lalu terbangun dan berdiri.
" Kau tidak apa - apa ?" tanya Siwan pada Aji.
Aji membuka sarung tangannya dan pelindung giginya, lalu menjawabnya.
" Tidak, kali ini saja aku kalah darimu !!" ucapnya di iringi seringai senyum kecil.
Siwan tersenyum dan menepuk pundak Aji, lalu turun dari ring dan menghampiri Hanna dan Mina yang sedari tadi menjadi penonton mereka selain seorang pria yang sedang duduk manis menjadi wasit bagi mereka.
" Sudah selesai ?" tanya Siwan pada Hanna.
" Sudah, kenapa tidak datang dan melihatku latihan ?" tanya Hanna dengan nada jutek.
" Aku tadi melihatmu sebentar, hanya saja aku tidak mau mengganggu konsentrasi mu, jadi aku pergi lagi. Maaf yaa.. !!" jawab Siwan sambil mengelus - elus rambut Hanna.
Mina yang ada di samping mereka pun berdehem seperti sedang sakit tenggorokan. Dia merasa geli melihat sepasang kekasih saling menatap mesra di sampingnya.
Siwan yang menyadari kode dari Mina langsung pamit pada Hanna untuk ke kamar mandi hendak membersihkan dulu dirinya.
Dan, Hanna pun mengantarkannya sampai ke pintu kamar mandi.
Saat Hanna dan Siwan berjalan menjauh menuju kamar mandi. Aji menghampiri Mina.
" Bagaimana, apa ada kemajuan ?" tanya Aji.
" Tentu, dia sangat cerdas, tidak butuh waktu yang lama bagiku mengajarinya !!" jawab Mina.
Lalu Aji tersenyum penuh arti, membuat Mina menjadi curiga.
" Kenapa kau tersenyum seperti itu ?" tanya Mina dengan mata melotot.
" Apa, memangnya tidak boleh ?" Aji sewot.
" Sudahlah... !!"ucap Aji, lalu berbalik, menjauh meninggalkan Mina di belakangnya.
Namun ternyata Mina masih mengikuti nya dari belakang.
" Aku tahu, kau bahkan tidak biasanya kalah dari bosmu, kau selalu menjadi yang terhebat saat di ring bahkan saat berhadapan dengan bosmu !!" ucap Mina membuat Aji menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mina secara tajam.
" Tahu apa kau ?" tanya Aji menyolot.
" Ada sesuatu entah seseorang yang mengganggu pikiranmu !! kau, tidak mungkin menyukainya kan ?" tanya Mina yang sepertinya sudah tahu mengapa Aji sampai kalah saat tadi di serang oleh Siwan di atas ring tinju.
Mendengar pertanyaan Mina yang seperti itu, Aji terlihat terkejut, lalu berubah menjadi raut kesal.
" Kau ini, pelankan suaramu !!" ucap Aji.
" Bli, sadarlah, dia kekasih kak Wan, tidak bisakah kau menyukai wanita lain saja !!" ucap Mina terdengar sedih.
Aji tidak menanggapi perkataan terakhir Mina saat itu. Ia berbalik hendak melanjutkan perjalanan nya menuju kamar mandi.
Namun, saat ia berbalik, alangkah terkejutnya dia saat di hadapannya sudah berdiri seseorang.
" Hanna " ucap Aji perlahan. Dia lalu menelan ludahnya.
Mina yang sepertinya sudah tahu bahwa Hanna sudah mendekat pada mereka sedari tadi hanya tersenyum kecut. Lalu dia pergi meinggalkan Hanna dan Aji saat itu.
" Emh... bli, k-kau mau ke kamar mandi ?" tanya Hanna terdengar kikuk.
Aji hanya menganggukan kepalanya lalu pergi melewati Hanna yang sedang berdiri di hadapannya.
Saat Aji melewatinya, Hanna masih berdiri mematung di posisinya semula tanpa beranjak sedikitpun. Ia sungguh merasa tidak percaya akan apa yang ia dengar tadi. Ia lalu menyentuh dadanya, yang tanpa di sadari sedari tadi sudah berdetak tidak beraturan.
Beberapa menit berlalu, kini Siwan sudah keluar dari kamar mandi dan menghampiri Hanna yang sedang duduk di lobi, menunggunya.
Siwan lalu mengajak Hanna makan bersama sebelum pulang ke rumah. Hanna pun setuju, karena ia sudah mulai merasa lapar.
Namun, Siwan malah duduk di sampingnya. Dan Hanna berdiri.
" Ahjussi, kenapa malah duduk, ayo kita pergi sekarang !!" ajak Hanna.
" Sebentar, kita tunggu Aji, kita ajak dia makan bersama !!" jawab Siwan.
Hanna terpaku, dia masih teringat akan obrolan Aji dan Mina beberapa menit yang lalu saat di ruang latihan tinju.
Lalu tidak lama datanglah Aji menghampiri mereka berdua.
" Ayo, kita pergi sekarang !!" ucap Siwan lalu menggandeng tangan Hanna dan berjalan beriringan.
Aji mengikuti mereka dari belakang dengan raut wajah menyedihkan. The next sad boy sepertinya.
Sesampainya di rumah makan, tidak terlalu jauh dari lokasi latihan, Hanna dan Siwan sudah sampai duluan dan kini sedang menunggu Aji.
Setelah Aji sampai, barulah mereka memesan makanan saat itu.
Namun, saat Siwan membuka mulutnya dan akan mengeluarkan kata - kata sambil menatap Hanna, ada seseorang yang memanggilnya.
Ternyata dia rekan bisnis Siwan yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka berpelukan dan saling menyapa dengan akrab. Lalu Siwan memperkenalkan nya pada Hanna, sedangkan pada Aji, rekannya sudah mengenalnya pula, terlihat dari jabatan tangan mereka dan sapaan pria itu terhadap Aji.
" Siapa ini, kekasihmu ?" tanya pria bernama Boby itu menatap Siwan sambil sesekali melirik Hanna.
Siwan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
" Wah, cantiknya... " ucap pria itu lalu menyapa Hanna dan berjabat tangan.
Lalu, pria bernama Boby itu mengajak Siwan untuk menyapa seseorang sebentar saja, lokasinya tidak terlalu jauh dari meja mereka saat itu.
Karena Siwan merasa tidak enak hati, ia menuruti permintaan pria itu setelah meminta izin pada Hanna.
Kini, di meja tinggalah Hanna dan Aji berduaan. Mereka nampak sangat canggung tidak seperti biasanya.
Dan, akhirnya mereka berdua mulai membuka obrolan.
Mereka saling memanggil nama masing - masing secara bersamaan.
" Kau dulu saja... " ucap Aji.
" Tidak, bli saja dulu, ada apa ?" tanya Hanna.
Aji nampak berpikir sebentar, lalu mulai berkata... " kalau kau mendengar semuanya tadi, lupakanlah, Mina hanya salah paham terhadapku, aku tidak mungkin seperti itu !!" ucap Aji.
" Aaah... begitu ya, syukurlah kalau memang seperti itu." Jawab Hanna sambil tetap tersenyum. Kini, ia tidak ada alasan kembali untuk merasa kikuk di depan Aji.
Lalu Hanna membuang muka dari hadapan Aji.
" Emh... bli, tapi, aku penasaran...." ucap Hanna.
" A-apa ?" tanya Aji.
" Apa kau pernah jatuh cinta ?" tanya Hanna.
Aji terlihat seperti sedang berpikir. Dia menatap Hanna secara dalam hingga membuat Hanna merasa kikuk kembali.
Untungnya, datang dua orang pramusaji menghampiri meja mereka dan menaruh pesanan makanan mereka di meja.
Setelah para pramusaji pergi, Aji mempersilahkan Hanna untuk makan terlebih dahulu saja, maksudnya tidak usah menunggu Siwan karena pasti Hanna sudah sangat lapar.
Beberapa menit, setelah mereka berdua hampir menyelesaikan makannya, datanglah Siwan menghampiri dan duduk kembali di kursinya.
" Maaf ya, aku baru kembali !!" ucap Siwan.
" Tidak apa, ahjussi, cepat makan, kau pasti sudah lapar !!" ucap Hanna.
Siwan pun mulai melahap nasi di piringnya sambil menceritakan pertemuan nya dengan beberapa rekan bisnisnya pada Aji.