
Hanna tidak bisa tertidur malam itu...
Setelah menidurkan Hwan seperti biasanya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan menelepon seseorang saat itu.
"Hallo, kak Oz... "
Lagi - lagi hanya Austin, orang yang ia ajak sharing tentang rasa gelisahnya selama ini.
"Ada apa Han ?"
"Aku ganggu gak ? ada yang mau aku obrolin, "
"Enggak, santai aja, aku lagi free kok, "
Hanna kemudian menceritakan tentang percakapannya dengan bu Shinta siang tadi.
"Kak, aku jadi mencurigai bu Shinta, apa mungkin, ibu yang berada di balik semua ini, "
"Hanna, mana mungkin lah bibi berbuat seperti itu, apa alasannya coba, "
"Ya, mungkin saja kan kak, dari awal kan ibu gak setuju anaknya menjalin hubungan denganku, mungkin ibu masih merasa kesal padaku, "
"Hanna, kalaupun memang seperti itu, pasti bibi gak bakal mau menyusulmu jauh - jauh ke Bandung, "
"Lalu, sekarang gimana kak, aku jadi merasa gak enak, aku jadi gak nyaman sendiri tinggal bersama mereka, aku jadi seperti orang yang gak tahu diri, numpang di rumah mereka seenaknya, aku harus gimana kak, "
"Yasudah, kamu pergi aja dari rumah itu, aku bakal bantu kamu kalo kamu mau, bahkan kalo kamu mau, tinggal aja di rumahku, dengan senang hati aku akan menyambut kalian dengan tangan terbuka, "
"Dih... jangan bercanda deh kak, apaan sih, "
"Hahaha... seriuslah, aku mana tega melihat kalian terlantar di Bali yang luas ini, "
"Ya kalau aku keluar dari rumah ini, aku bakal pulang ke Bandung lah kak, tapi... "
"Tapi apa ?"
"Uang tabunganku habis, aku gak punya ongkis pulang ke Bandung kak, uangku habis kupuakai bayar tes DNA Hwan kemarin, "
"Aku kan udah nawarin kamu semua biayanya, kamu sih gak mau aku bayarin, "
"Gak lah kak, aku gak mau punya hutang sama orang lain, "
"Jadi, aku ini cuma kamu anggap orang lain ?" Austin terdengar kecewa.
"Bukan itu maksudnya kak, aku gak mau punya hutang sama siapapun, gitu maksudku kak, " Hanna mencoba menjelaskan supaya Austin tidak salah paham.
"Oke, baiklah, terus, sekarang kamu maunya gimana ?"
"Hemh.. mungkin, aku coba bertahan lagi, sampai hasil tes DNA nya keluar," jawab Hanna.
"Sabar ya, satu minggu lagi kok, tenang ya, "
"Kak, kalau ternyata memang hasilnya ternyata cocok, bli Aji ternyata ayah Hwan, aku harus gimana ?" tanya Hanna, terlihat bingung.
"Hanna, kenapa kamu tanya sama aku, coba tanya sama dirimu sendiri, perasaan kamu, apa yang kamu rasakan, tidak akan ada yang lebih tahu kecuali dirimu sendiri, "
"Entahlah kak, aku gak tahu bakal kaya gimana, tapi, apa mungkin bli tega melakukan semua itu di saat aku tidak sadarkan diri, aku kecewa sekali rasanya kalau faktanya seperti itu, "
"Sudahlah Han, kau tenang saja, aku yang akan mengahadapinya, aku akan memberinya pelajaran kalau memang faktanya seperti itu, kau tenang saja, aku akan selalu berada di pihakmu, "
"Kak, kapan kau pulang, aku mau ketemu, "
"Mungkin dua minggu lagi, tugasku selesai akhir bulan ini Han, bersabarlah, kita akan segera bertemu, "
Saat itu, Austin sedang berada di luar Bali, dia sedang bertugas di pulau Nusa Tenggara Barat selama satu bulan.
Dan, hari yang di nantikan sudah tiba...
Satu minggu kemudian...
Hanna pergi ke rumah sakit untuk membawa Hwan imunisasi dan chekup kesehatannya.
Saat itu, Hanna di antar oleh bi Lastri dan Bram. Seperti biasa, Aji sibuk bekerja mengurus bisnis Siwan setiap harinya, sesuai perintah bi Shinta.
Selesai dari ruang anak, Hanna menyuruh bi Lastri dan Bram untuk pergi lebih dahulu dan menunggunya di mobil, karena ia harus mengurus administrasi saat itu.
Tanpa kecurigaan apapun, bi Lastri dan Bram menurutinya.
Dan, ternyata, setelah mengurus administrasi, Hanna langsung pergi menuju ruang laboratorium untuk mengambil hasil tes DNA Hwan dan Aji saat itu.
Hanna masuk ke dalam sebuah ruangan, sudah ada seorang dokter di dalamnya.
"Silahkan bu Hanna, duduklah, "
Hanna duduk dengan rasa gugup, dadanya terus berdebar kencang, ia merasa begitu tegang, melebihi saat ia menunggu hasil tes DNA Hwan dan Siwan.
Setelah itu, dokter menyerahkan amplop pada Hanna, dan menjelaskan hasilnya.
"Terimakasih banyak ya dok, saya pamit sekarang, permisi dok, " ucap Hanna.
"Iya bu Hanna, silahkan, hati - hati di jalan, "
Hanna berjalan menuju tempat parkir dengan tergesa - gesa, dan masuk ke dalam mobil.
"Kok lama neng, antri banget ?" tanya bi Lastri.
"Iya bi, hari ini antri banget, hihi.. " Hanna tersenyum, "pak Bram langsung pulang aja ya, " sambungnya.
Di perjalanan pulang, Hanna sudah tidak sabar ingin segera sampai ke rumah, ia ingin bertemu dengan Aji.
Sesampainya di rumah, ternyata Aji sudah pergi, Aji pergi menuju salah satu resort milik Siwan karena ada sesuatu yang harus di urus, seperti itu yang di sampaikan bi Asih.
Hanna pun pamit dan menitipkan Hwan pada para bibi karena ia ingin menyusul Aji ke resort, ia ingin segera bertemu dengannya.
Di antarkan oleh Bram, Hanna benar - benar sudah tidak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan.
Sesampainya di resort xxx yang terletak beberapa meter di pesisir pantai yang cukup terkenal di Bali, Hanna langsung turun dan meninggalkan Bram yang masih memarkirkan mobilnya.
Hanna berjalan menuju pos sekurity dan bertanya pada salah seorang yang ada disana.
"Pak, bli Aji sudah pulang ?" tanya Hanna.
"Belum bu, masih di kantor sama... "
Ucapan petugas keamanan itu langsung terhenti kala Hanna kembali bersuara.
"Oke, makasih pak, "
Hanna terburu - buru masuk ke dalam untuk menghampiri Aji.
Para sekurity disana tentu saja tahu siapa Hanna, karena Aji sudah mengenalkannya pada para pegawai resort kalau Hanna adalah istri Siwan. Dan berkali - kali Hanna pergi berlibur ke resort tersebut sambil mempelajari bisnis yang berjalan di resort tersebut.
Aji terlihat sedang berbicara dengan beberapa orang di dalam kantor sambil duduk santai menikmati kopi di hadapannya.
Saat ia melihat Hanna dari kejauhan yang k iobi menghampirinya, ia langsung pamit pada para teman atau mungkin staffnya untuk bertemu dengan Hanna.
Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter.
"Han, ada apa ?" tanya Aji.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Aji, Hanna langsung menarik lengannya dan membawa Aji pergi dari area kantor resort tersebut.
"Han, kenapa ?" Aji menarik lengannya dari genggaman Hanna dan menghentikan langkahnya.
"Sssttt... " Hanna memberi isyarat pada Aji untuk tetap diam dan terus mengikutinya.
Sesampainya mereka di pinggiran pantai, kebetulan saat itu merupakan jam makan siang, jadi pantai sudah sepi pengunjung karena teriknya matahari siang itu, pantai pun terlihat kosong.
"Kenapa sih ?" Aji masih nampak kebingungan.
Hanna mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada Aji.
Aji menerimanya dan membuka amplop itu, kemudian dengan seksama ia membaca isi surat yang ada di dalam amplopnya.
"Apa ini ?" tanya Aji.
"Baca saja, " ucap Hanna dengan nada kesal.
Setelah membacanya dengan teliti.
"Apa, ini hasil tes DNA Hwan dan a... "
Aji menatap Hanna, kemudian kembali membaca sekali lagi apa yang tertera di atas kertas tersebut.
"Haha... gak mungkin, " Aji tertawa ketir, "gak mungkin Han, ini gak bener, mana mungkin Hwan darah dagingku, " ucap Aji.
PLAAAAKKK....
Hanna menampar pipi Aji cukup keras.
"Lalu ini apa ? apa ini hanya prank menurutmu ?" ucap Hanna dengan masih menahan emosi dan air matanya agar tidak menetes keluar.
"Tunggu Han, kapan, kapan kamu pergi ke rumah sakit dan mengurus semua ini ?" tanya Aji, kemudian mencoba mengingat kembali, "oh ya, aku tahu, sebulan lalu kau bilang periksa ke rumah sakit karena kram perut kan, tapi ternyata itu hanya alibi, "
"Kenapa memangnya ? apa aku gak boleh berbuat seperti itu ? demi kejelasan status anakku, aku rela melakukan semuanya, tanpa sepengetahuanmu aku pergi melakukan semua ini, dan, ini... ini buktinya.. " Hanna berteriak, emosi, sambil menunjuk kertas yang masih ada di tangan Aji.
"Ternyata kecurigaanku selama ini terbukti adanya kan, ternyata kamu tega sekali ya bli, melakukan ini semua padaku, kecewa aku bli, hatiku mencoba menyangkalnya, tapi apa, buktinya sekarang sudah jelas, lihatlah, 99,9 persen DNA kalian cocok bli, kau ayah Hwan, "
Hanna terduduk lemas di atas pasir sambil menangis tersedu - sedu.
Aji kembali membaca isi suratnya, kemudian ia melipat dan memasukkan kembali ke dalam amplop dan menyimpannya di saku celananya.
Aji lalu merunduk mencoba mengangkat Hanna agar bangkit.
"Hanna, dengarkan aku dulu Han, a-aku bahkan masih shock dengan fakta ini, Han, a-aku..." Aji nampak bingung harus berkata apa lagi.
Hanna bangkit, dengan wajah yang sudah terlihat sembab, derai air mata tak berhenti mengalir membasahi pipinya.
"Bli, jawab sejujurnya pertanyaanku, kapan ? kapan kau menyentuhku ?"
"Han, a-aku... "
Dan, tiba - tiba, seseorang meninju pipi Aji sangat keras dari samping hingga Aji tersungkur di atas pasir.
"Brengsek, pengkhianat, biadab kau Ji,"
Hanna nampak terkejut, melihat seorang pria berdiri di sampingnya dengan penuh amarah dan menahan rasa sakit di kepalan tangannya karena berhasil melayangkan tinjuan pada rahang keras seorang petinju profesional seperti Aji.
"Kak Oz... " ucap Hanna.
Aji mendongkak ke atas menatap Austin, sambil menyentuh ujung bibirnya yang terlihat berdarah.
"Bajingan, beraninya kau menyentuh Hanna saat dia tidak sadarkan diri, kau berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan hah, " Austin menghampiri Aji dan mencengkeram kerah kemejanya lalu berniat meninju Aji kembali.
"HENTIKAN, " teriak seorang wanita yang berada di belakang mereka.
Tangan Austin yang sudah hendak kembali mendarat di pipi Aji pun tertahan mendengar suara familiar di belakangnya berteriak menahan amarahnya.
"Bibi... " ucap Austin dan Aji bersamaan.
"Ibu... " Hanna pun menatap bu Shinta sambil berderai air mata.
Bu Shinta di temani oleh Bram dan supir pribadinya, menghampiri dan melerai Aji dan Austin yang tengah bersitegang.
Beberapa menit kemudian, mereka semua kini sudah berada di salah satu ruangan, berkumpul dan duduk bersama di salah satu kamar yang ada di resort tersebut.
Bu Shinta mulai bertanya tentang apa yang terjadi pada mereka saat itu.
Aji mulai mengeluarkan amplop yang ada di saku celananya dan menyerahkannya pada bu Shinta.
Bu Shinta nampak berkerut, ketika ia mencoba menelaah isi dari surat tersebut.
"Apa maksudnya ini ?" tanya bu Shinta.
"Hanna diam - diam melakukan tes DNA ulang Hwan, namun kali ini mencocokkan dengan sampel rambutku bi, " jawab Aji.
"Benar begitu, Han ?" tanya bu Shinta.
"Iya bu, itu karena aku sangat penasaran, hanya bli dan kak Oz yang selalu berada di dekatku selama ini sejak kepergian ajjushi," Hanna menunduk dan kembali bersedih.
Kali ini Aji tidak banyak berbicara untuk menyangkalnya.
"Austin, kenapa kau tiba - tiba ada disini ? bukankah kau sedang bertugas di NTB ?" tanya bu Shinta.
"Sejujurnya, aku sudah pulang sejak kemarin, aku juga sangat penasaran dengan hasil tes Hwan kali ini, makanya aku pulang, dan aku ingin bertemu Hanna, tapi tadi aku terlambat dan Hanna memberitahuku kalau dia tadi sedang berada di resort ini, makanya aku kemari, "
"Jadi, kau tahu, kalau Hanna melakukan tes diam - diam di belakang kami ?" tanya Aji.
"Aku yang menyarankannya, aku mana tega membiarkannya terus merasa penasaran tentang siapa ayah dari anaknya, " jawab Austin.
"K-kau... " Aji terlihat emosi.
"Ji... " Bu Shinta menahan Aji, dan memberinya isyarat supaya tetap diam dan tenang.
"Hanna, apa kau percaya dengan hasil DNA Hwan kali ini ?" tanya bu Shinta.
"Aku tidak tahu bu, aku tidak tahu mana yang harus ku percaya," jawab Hanna.
"Oz, kau seorang dokter, apakah ada kemungkinan bahwa hasil DNA ini palsu atau tertukar ?" tanya bu Shinta.
"Aku berani menjamin bu, hasilnya pasti akurat, mereka sudah di sumpah untuk bekerja secara profesional di rumah sakit," jawab Austin.
"Baiklah, kalau begitu, Hanna, ayo kita pulang, Hwan sudah lama kau tinggalkan, kita selesaikan di rumah saja, " ajak bu Shinta, menarik lengan Hanna.
Aji, Austin pun keluar mengikuti mereka hingga ke depan parkiran. Hanna dan bu Shinta kembali pulang ke kediaman Siwan di antarkan oleh Bram.
Setelah mobil yang di tumpangi oleh mereka pergi.
"Apa maksud loe ? loe nuduh gue macem - macem sama dia hah ? loe nuduh gue yang perkosa dia ?" Aji meremas kerah baju Austin.
"Terus, gue mesti nuduh siapa lagi ? selama ini kan memang loe yang selalu jagain dia brader, hah, mestinya loe sadar, ngaku aja deh loe, selama ini loe ngincer harta kak Wan bahkan Hanna juga kan, iya kan ?"
"Anj*ng loe, bangs*t," Aji meninju Austin, membalaskan tinjuan yang mendarat di pipinya beberapa menit yang lalu.
Untung saja saat itu ada sekurity yang melerai mereka, kalau tidak, mungkin saja saat itu salah seorang dari mereka masuk igd karena babak belur.
Austin meninggalkan Aji yang masih di tahan oleh sekurity, sambil mengatur nafasnya saat itu, Aji menepis tangan sekurity itu dan hendak menyusul Austin.
"Pak Aji, tolong, tahan emosi, bu Shinta titip pesan, katanya pak Aji jangan dulu pulang ke rumah untuk saat ini, " ucap sekurity itu.
Hahahaha....
Aji tertawa, terlihat sangat aneh, hingga sang sekurity pun merasa kebingungan.
"Pak, bapak baik - baik saja kan ?" tanya sekurity itu.
"Udah, pergi aja sana, aku masih waras !" ucap Aji.
Kemudian Aji pergi menuju pinggiran pantai, ia menelepon seseorang, entah siapa.
Lalu, setelah menutup teleponnya, ia kembali menuju resort. Dan, ia tertawa sepanjang perjalanan menuju ke dalam, sambil sesekali memegang pipinya yang nampak kesakitatan dan membiru akibat tinjuan Austin tadi.