My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Penjelasan



Rayhan terlihat baru turun dari mobilnya di sebuah basement sebuah Mall terkenal di kota Bandung. Kemudian ia masuk ke dalam lift bersama beberapa orang yang hampir bersamaan baru sampai di basement tersebut.


Saat itu, Rayhan menuju lantai 2, sedangkan yang lainnya berbeda - beda tujuan mereka.


Sesampainya di lantai 2, ia berjalan melewati berbagau toko pakaian dan aksesories yang berjajar di sana.


Dan, kebetulan di lantai itu pula ada resto di salah satu sudut lantai 2.


Rayhan terlihat hendak masuk ke dalam lingkungan sebuah resto, namun, saat di depan pintu, ia berdiri mematung sambil memainkan gawainya, ia mencoba menelpon seseorang.


Namun, belum juga tersambung, seorang perempuan memanggilnya.


"Kak Rey !!" teriak Elsa.


Di tengah keramaian, suara Elsa yang sudah cukup tinggi pun hanya terdengar samar - samar di telinga Rayhan, namun untungnya, kedua matanya dapat menangkap gerakan tangan Elsa yang bergerak melambaikan tangannya.


Rayhan menutup teleponnya saat ia melihat Elsa, kemudian ia menghampirinya yang tengah berada di toko aksesories yang ada di samping kanan resto tersebut.


"Tunggu sebentar ya, aku lagi nunggu barangku masih di packing, !" ucap Elsa.


"Oke !" jawab Rayhan.


Selesai dari toko aksesories, mereka kemudian berjalan kembali menuju ke dalam resto yanh ada di dekat mereka.


Elsa berjalan di depan Rayhan, lalu mereka menghampiri sebuah meja dengan kapasitas kursi empat orang di salah satu sudut ruangan.


Di meja tersebut sudah ada seseorang yang duduk membelakangi area pintu masuk, menghadap pada tembok pembatas menuju dapur resto itu.


Elsa menghampirinya lebih dulu dan menyapa pria itu.


"Bli, maaf kita terlambat !" ucap Elsa.


Pria bertubuh atletis serta berwajah tampan namun berkulit Tan khas pria keturunan Jawa itu tersenyum dan berkata, "It's Okay, duduklah, !" ucap Aji.


Elsa duduk di sebrang Aji, di susul oleh Rayhan yang masih diam membisu. Bahkan raut wajah Rayhan saat itu terlihat sangat masam, ada segurat emosi yang terpancar dari sorotan matanya.


Rayhan duduk di samping Elsa, bersebrangan dengan Aji.


"Lama tidak berjumpa !" ucap Aji.


Rayhan hanya menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum sesaat lalu kemudian berwajah muram kembali.


"Ada perlu apa kau menemuiku ? seharusnya bukan aku yang kau temui, kau tahu itu !" ucap Rayhan, ketus.


"Kau sangat menyayangi mereka, sehingga kau marah padaku yang bajingan ini, aku minta maaf, " ucap Aji.


"Untuk apa kata maafmu kau ucapkan padaku, apa pengaruhnya untukku ?" Rayhan mengangkat sebelah alisnya dan raut wajahnya terlihat serius.


Elsa yang berada diantara mereka hanya bisa memperahatikan interaksi keduanya. Aji masih terlihat santai, sedangkan Rayhan, sejak ia menginjakkan kaki di resto itu, dia sudah memasang raut wajah menyeramkan baginya, baru kali ini Elsa melihat Rayhan menunjukkan raut penuh emosi di depannya. Berbeda dengan kemarahan yang pertama kali ia lihat ketika terpergoki tengah memotret kebersamaannya bersama Hanna. Saat itu raut wajahnya masih terbilang cukup santai, tidak seserius sekarang.


"Dia sudah kembali !" ucap Aji.


"Siapa maksudmu ?" Rayhan terlihat kebingungan.


"Dia masih hidup !" tegas Aji.


"Siapa yang maksudmu masih... " raut wajah penasaran Rayhan berubah menjadi raut wajah orang shock. "Katakan dengan jelas, apa maksudmu Siwan ?" sambung Rey.


Aji hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaan Rayhan sedikitpun.


Elsa menjelaskan pada Rayhan kalau sebenarnya Siwan masih hidup sampai saat ini, kecelakaan yang terjadi sekitar satu tahun yang lalu itu hanyalah rekayasa Austin, namun Siwan berhasil selamat bersama Tio orang yang mendampingi Siwan saat mereka pergi melakukan perjalanan bisnis saat itu.


Aji memperlihatkan foto Siwan saat pertama kali di temukan dan foto - foto saat di rumah sakit serta foto terbaru Siwan yang sedang latihan menembak.


"Lalu, apa tentang DNA itu, mungkinkah dia juga sengaja merekayasanya ?" tanya Rayhan.


"Ya, itu benar, dia berusaha memisahkan Hanna dari kehidupan kak Wan, ia melakukannya sangat rapih sehingga Hanna begitu mempercayai semua kebohongannya, " jawab Aji.


"Ya Alloh, sungguh, a-aku tidak percaya, takdir memang tak ada yang bisa kita ketahui sebelumnya,"


"Jadi, kau memang benar bukan ayah kandung Hwan kan ?" Rayhan masih ingin penjelasan.


"Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menyentuh Hanna, meskipun sebagai pria normal aku sangat mengaguminya, tapi aku masih tau diri, aku siapa, dan dia siapa !!" ucap Aji.


Rayhan menyenderkan punggungnya ke belakang kursi.


"Lagipula, Austin sudah mengakui semuanya, ia memang berbohong tentang DNA Hwan, mereka menemukannya di Australia," Elsa beralih menatap Aji. "Mereka sudah memberi Oz pelajaran, dia mungkin saat ini baru bisa berjalan kembali, " sambung Elsa.


"Jadi, kau memang orang suruhanya untuk memata - matai kehidupan Hanna dan keluarganya ?" tanya Rayhan.


"Ya, faktanya, untuk melindunginya," jawab Elsa.


"Untuk sekedar berjaga - jaga, aku takut Austin masih mengincar Hanna, tapi untungnya sejauh ini, tidak ada pergerakan apapun darinya, " sahut Aji.


"Tapi, kenapa dia tidak menemuinya, apa dia memang berniat berpisah dari Hanna dan anaknya, apa dia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Hanna ?" tanya Rayhan.


"Dia punya alasan tersendiri, katakan saja mungkin belum saatnya !!"


"Apa, belum saatnya katamu ?" Rayhan terlihat emosi, ia berdiri dan menarik kerah baju Aji.


Elsa mencoba menenangkan Rayhan, ia takut suasana resto yang sudah cukup ramai oleh orang yang hendak bersuka ria menyambut buka puasa itu berubah mencekam.


Rayhan kembali terduduk di kursinya dan melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Aji, ia di paksa oleh, Elsa.


"Kau tidak tahu, betapa dia menderita dan tersiksa, dia begitu bimbang dengan perasaannya sendiri, di sisi lain dia sangat merindukan Siwan, kenangannya bersama kekasihnya itu selalu menghantuinya di setiap malamnya, namun di sisi lain, dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena telah mengkhianati Siwan dengan kehadiran Hwan yang ternyata itu adalah anakmu, itu yang ia percayai sampai saat ini, apa kalian masih tega terus menyiksanya seperti ini, hah ?" Rayhan nampak sangat emosi dan gusar.


Untungnya saat itu adzan maghrib terdengar berkumandang, ia pun langsung berdoa dan meneguk satu botol air mineral yang sudah ada di meja mereka sejak tadi.


Aji pun mengajaknya dan Elsa untuk makan terlebih dahulu, agar tenaga mereka kembali terisi penuh.


Setelah itu, Aji kembali menceritakan apa alasan Siwan yang tidak ingin terburu - buti menemui Hanna dan anaknya, meskipun sebenarnya Aji pun sangat tidak sabar ingin mempertemukan mereka dengan segera.


Satu jam kemudian...


Rayhan dan Elsa berpisah bersama Aji di basement.


"Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi denganku," ucap Aji.


"Ck... sudahlah, ini semua kulakukan demi Hanna dan Hwan, " jawab Rayhan, lalu menyalakan tombol pengaman mobilnya dan masuk ke dalamnya. Elsa pun ikut menumpang dengan Rayhan, karena mereka satu arah.


Aji kembali ke hotel bersama supir yang selalu mengantar jemputnya saat berada di Bandung.


Di dalam mobil, Rayhan terlalu fokus menyetir dan memperhatikan jalanan di depan, sepertinya ia lupa kalau saat itu ada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Ekhem... " Elsa sampai pura - pura batuk memberi isyarat pada Rayhan kalau dirinya itu ada.


Rayhan menatapnya selintas.


"Kau sudah lama kenal dengan Aji dan Siwan ?" tanya Rayhan.


"Sejak usiaku 15 tahun, lebih tepatnya aku lebih dulu mengenal Aji, karena dia satu kampung denganku saat aku baru pindah dari London," jawab Elsa.


"London?" Rayhan terlihat tidak percaya.


"Apa kau bisa menjaga rahasia ?" tanya Elsa.


Rayhan terlihat berpikir sejenak.


"Itu tergantung pandanganmu tentangku !!" tegas Rayhan.


"Baiklah, tidak jadi, karena aku belum sepenuhnya mempercayaimu, " sahut Elsa.


"Ish... kau malah membuatku penasaran," Rayhan menautkan kedua alisnya.


Tidak lama kemudian...


"Sudah sampai, rumah mu sebelah mana ?" tanya Rayhan.


"Rumahku masuk ke dalam gang besar itu, tapi mobil tidak akan masuk, sudah sampai disini saja, terimakasih banyak yaa, " Elsa membuka seatbeltnya lalu turun dari mobil Rayhan.


Dan, saat Elsa mulai berjalan menjauh dari mobil Rayhan, saat ia menengok ke belakang, betapa terkejutnya dia karena Rayhan ada di belakangnya, mengikutinya. Elsa pun berhenti seketika.


"Kak Rey, tidak usah mengantarku, kau pulang saja !" pinta Elsa.


"Kau itu perempuan, kulihat jalannya sepi dan pencahayaan sekitar kurang maksimal, aku khawatir ada orang berniat jahat padamu, cepat sana lanjutkan langkahmu, aku akan mengantarmu sampai depan rumah, " ucap Rayhan.


Deg... hati Elsa tiba - tiba berdebar. Ia pun melanjutkan langkahnya, Rayhan kembali mengikutinya.


"Ya Tuhan, perasaan macam apa ini ? baru kali ini ada laki - laki yang begitu mengkhawatirkanku," gumam Elsa.


Rayhan belum tahu saja kalau sebetulnya Elsa itu sangat pandai berkelahi.


Sesampainya di depan pintu rumah kontrakan Elsa.


"Terima kasih banyak ya kak Rey, hati - hati di jalan, " ucap Elsa.


"Baiklah, aku pergi ya, kau, cepat sana masuk !!" ucap Rayhan.


Elsa baik Rayhan pun tersenyum saat keduanya berbalik dan berlawanan arah.


Akankah benih - benih cinta muncul di hati kecil mereka ??


...****...


Kini, Hanna sedang duduk di ruang tamu bersama Hwan, di seberangnya ada seorang pria tengah duduk santai dan tersenyum melihat Hwan yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Kemana saja kau ini, nomormu tidak aktif, tidak ada kabar sama sekali darimu sejak aku pulang ke Bandung," Hanna cemberut setelah menceramahi pria yang duduk di hadapannya kini.


"Iya, maafkan aku, hpku hilang, dan aku belum kembali ke Bali, jadi aku belum mencari tahu kembali nomormu, dan yang lainnya juga !!" jawab Austin.


Ya, pria yang berkunjung siang itu, saat Hanna dan ibunya sedang membuat kue lebaran adalah Austin Will Smith.


Bu Hani datang ke ruang tamu, menyela pembicaraan mereka membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat satu cangkir teh dan satu toples kue nastar.


"Nak Austin, silahkan di minum, kau kan sedang tidak berpuasa, ayo silahkan di cicipi juga kue buatan kita berdua, " ucap bu Hani.


"Aduh bu, makasih banyak loh, maaf aku ngerepotin !!" sahut Austin.


"Ah, enggak kok ini gak seberapa, eh... kalian lanjut aja ngobrolnya yaa, ibu masih harus nunggu nastar yang belum mateng di dapur, " ucap bu Hani, lalu kembali ke dapur.


Hanna dan Austin saling bertanya kabar satu sama lain, terutama tentang perkembangan Hwan, mereka mengobrol seperti biasanya, terlihat akrab dan sangat seru.


Austin bersikap seperti biasanya, seolah dia tidak memiliki kesalahan sama sekali pada Hanna.


Di sisi lain...


Elsa menelepon seseorang...


"Bli, dia disini !" ucapnya, berbisik lewat sambungan teleponnya.


"Siapa maksudmu ?" tanya Aji.


"Austin, dia ada di rumah Hanna, baru sekitar 15 menit yang lalu, " ucap Elsa.


"Shittt.... kenapa kau baru meneleponku sekarang ?" Aji yang sedang menunggu Siwan rapat bersama kliennya terlihat gusar. Bahkan Siwan sendiri sempat melirik ke arahnya di sela percakapannya dengan kliennya itu.


"Tapi bli, sepertinya aku tahu harus meminta bantuan siapa, nanti akan ku hubungi lagi, "


Elsa menutup teleponnya.


Aji langsung mencoba menghubungi seseorang dan dari percakapannya ia terdengar bertanya tentang Austin.


Sepuluh menit kemudian...


Setelah menidurkan Hwan yang sudah lelap di pangkuan Hanna ke kamar, Hanna kembali ke ruang tamu menemani Austin yang masih berada di rumahnya.


"Dia sangat menggemaskan, aku tidak tahan ingin mencubit pipinya, mulus dan lembut seperti bakpau, hihihi... " ucap Austin.


"Ish... langkahi dulu mayatku !!" sahut Hanna.


"Emh... Han, apa kau sudah tahu berita tentang... " ucapan Austin terhenti kala ia mendengar suara ketukan di pintu rumah Hanna.


Hanna dan Austin melirik ke arah pintu secara bersamaan. Mereka melihat seorang pria berdiri di depan pintu yang sudah terbuka sejal kedatangan Austin.


"Assalamualaikum...!" Rayhan datang, nafasnya terlihat tersengal - sengal, terlihat keringat pun bercucuran di pelipisnya.


"Waalaikum salam, a Rey, habis olahraga atau habis ngapain ?" tanya Hanna.


"Ini, emh... a-anu, itu, a-aku, Hanna, aku ikut ke kamar mandi, pliss... !" ucap Rayhan.


"Ya udah masuk... " ucap Hanna.


Rayhan langsung berlarian ke kamar mandi, dan sempat menyapa bu Hani yang ada di dapur.


"Kenapa itu si Rey ?" tanya bu Hani, pada Hana yang menyusulnya namun berhenti di dapur.


"Kebelet kali bu !" jawab Hanna, ngasal.


Di dalam kamar mandi...


Rayhan hanya diam menatap cermin, sambil menyalakan air keran mengisi ember yang ada supaya terdengar ada aktifitas di dalamnya. Padahal ia hanya mencuci muka dan mengeringkannya dengan tissue.


Lima menit kemudian, Rayhan keluar dari kamar mandi, dan menyapa bu Hani kembali, mengajaknya mengobrol sebentar dan lalu menghampiri Hanna di ruang tamu yang sedang mengobrol kembali dengan Austin.


"Kak Oz, kau masih ingat kan Rayhan, dia pernah tinggal di Bali juga, dan ini kak Austin, ka Rey masih ingat kan, dokter Austin,"


Rayhan menjulurkan tangannya pada Austin, kemudian Austin pun berdiri dan menjabat tangannya.


"Tentu saja, saya masih sangat mengingatnya, apa kabar dokter Austin ?" tanya Rayhan, terdengar penuh penekanan.


"Baik, senang sekali bisa bertemu denganmu," sahut Austin.


Mereka berdua pun kembali duduk, Rayhan duduk di samping Austin.


"A Rey, kamu habis darimana ampe ngos - ngosan gitu ?" Hanna masih penasaran dengan kedatangan Rayhan yang tidak seperti biasanya.


"Itu, aku habis dari rumah si Riki yang di belokan deket masjid itu, terus perutku sakit, aku malu dong mau ikut ke kamar mandi dia, istrinya ada di rumah soalnya, " ucap Rayhan, memberi alasan yang cukup bisa di terima di telinga Hanna dan bu Hani tadi saat di dapur pun Rayhan berkata seperti itu.


"Ck, dasar... !" Hanna berdecak.


"Kalo pulang ke rumah kan jaraknya lebih jauh, kalo ikut di masjid pun gak ada sabun, nanti tanganku gak higienis, " timpal Rayhan kembali.


"Udah ah, jangam di bahas, malu sama dokter Oz tau," ucap Hanna.


"Tidak apa Han, santai saja, lagi pula aku udah mau pamit kok, udah kelamaan disini gak enak kan, kamu tadi lagi sibuk juga aku gangguin," ucap Austin.


"Loh... mau kemana dok, kok buru - buru, saya jadi gak enak nih, ganggu waktu kalian !!" ucap Rayhan.


"Saya sudah lama disini, Hanna mungkin butuh istirahat, mungkin lain waktu saya akan berkunjung lagi kalau saya sedang ada di Bandung," sahut Austin.


"Baiklah, kalau begitu hati - hati di jalan ya dokter Oz !!" Rayhan tersenyum selebar mungkin.


Austin pun pamit pada bu Hani.


Austin pulang ke villa yang ada di Lembang, bersama supir yang ia bayar untuk mengantarnya kemanapun ia pergi selama di Bandung.