
Setelah resmi menjadi seorang mualaf, Siwan selalu menyempatkan diri mempelajari tentang ilmu agama islam di sela-sela kesibukannya, baik secara online maupun secara langsung bersama salah seorang ustadz yang ia kenal yang tinggal di Denpasar.
Siwan sekali-kali menelepon calon ayah mertuanya itu untuk bertanya kabar dan meminta maaf bahwa ia belum berhasil menyelesaikan misinya. Meskipun ia saat itu sudah berhasil menemukan Austin, namun ia masih belum mengetahui siapa dalang di balik insiden ini.
Pak Bagyo sejujurnya ingin sekali mempertemukan anak cucunya dengan Siwan, namun, ia tidak bisa memaksa.
Rayhan yang kebetulan berurusan dengan Elsa, akhirnya masuk ke dalam persekongkolan di belakang Hanna.
Saat ia baru mengetahui perihal Siwan yang masih hidup dari Aji dan Elsa, Rayhan pun di beritahu oleh Aji tentang Siwan yang sudah menjadi seorang mualaf di saksikan oleh kedua orangtua Hanna dan adiknya selain oleh Aji.
Rayhan pun mendatangi bu Hani di saat Hanna sedang bekerja, ia bertanya pada bu Hani apakah memang benar semua yang di katakan oleh Aji saat pertemuan mereka berlangsung di resto di sebuah Mall hari itu, yang Hanna mengira bahwa Rayhan dan Elsa sedang berkencan di belakangnya secara diam-diam.
"Ya, benar, kami sendiri yang menjadi saksi nak Siwan mengucapkan kalimat syahadat di masjid Al-Fathu pada tanggal xx bulan April kemarin, " ucap bu Hani.
"Lalu, kenapa, dia masih bersikeras tidak mau menemui Hanna dan Hwan, apa dia tidak kasihan pada Hanna yang terus menerus tersiksa dengan rasa rindunya padanya, " Rauhan nampak kesal.
"Ibu tahu, meskipun dia tidak menceritakannya, tapi ibu tahu dia sangat menderita, dalam tidurnya terkadang ia masih di hantui mimpi buruk di tengah malam, nak Rayhan, maukah kau menolongnya, ah tidak, maksudku, maukah kau menolong mereka untuk secepatnya bertemu ?" tanya bu Hani, menggenggam kedua tangan Rayhan, dan menatapnya penuh harap.
Namun, seketika bu Hani tersadar, ia pasti menyakiti Rayhan dengan permintaanya saat itu, "maafkan ibu, ibu terlalu egois, ibu tidak melihat kedasar hatimu, maaf kalau ibu menyakiti hatimu dengan permintaan yang konyol ini, " ucap bu Hani.
"Bu, tidak, ibu tidak bersalah, aku sudah menyerah tentang perasaanku terhadap Hanna, anggap saja mungkin aku sedang mendapatkan karma dari perlakuanku di masa lalu terhadap Hanna, aku harus dan sudah belajar melupakan perasaanku pada anak ibi, " Rayhan tetap bersikap tegar di depan bu Hani.
"Jangan berkata seperti itu, tidak baik, kau percaya takdir kan? termasuk salah satu rukun iman, mungkin takdirmu bukan sebagai pendamping Hanna, tapi kau sebagai orang yang menjadi kepercayaan Hanna, buktinya, ia selalu tidak lupa menghubungimu untuk meminta bantuan padamu, dia juga menyayangimu, dia pasti menganggapmu sebagai seorang kakak yang bisa dia andalkan, "
Ucapan bu Hani mampu menyejukkan hati Rayhan yang sebenarnya memang merasa terluka dengan kenyataan yang membuatnya tidak bisa memiliki Hanna, kesempatan itu sudah benar-benar hilang disaat ia mengetahui bahwa Siwan masih hidup.
Setelah itu, bu Hani pun bersekongkol dengan Rayhan dan para sahabat Hanna untuk bisa membawa Hanna ke Bali, dengan niat berlibur.
Rayhan pun memberitahu semua rencananya pada Aji lewat Elsa.
Dan, disanapun Aji nampaknya sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
Hingga satu kesalahan membuat rencana mereka hampir gagal, namun untungnya Hanna dan Siwan akhirnya bertemu kembali dengan cara yang tidak di inginkan oleh semua pihak.
Saat keluarga Hanna mendengar apa yang terjadi di Bali pada Hanna dan cucunya, mereka sempat bimbang dengan keputusan untuk menyetujui hubungan anaknya dengan Siwan, namun Siwan berhasil meyakinkan kembali hati pak Bagyo dan bu Hani. Tanpa sepengetahuan Hanna, mereka kembali bertemu, Siwan menemui kedua orangtua Hanna dan merencanakan acara lamaran yang sudah di tetapkan waktu dan tanggalnya.
Dengan mengenyampingkan keegoisan hati mereka, mencoba mengusir rasa takut dan khawatir yang berlebih, kedua orangtua Hanna pun setuju untuk melaksanakan acara pertemuan kedua belah pihak keluarga serta lamaran Siwan pada Hanna.
Flashback End
...***...
Hanna menyeka air mata di pipinya, kemudian membuka mulutnya dan berkata, "TIDAK, aku tidak mau !!" jawab Hanna.
Siwan masih bereaksi dengan santai saat mendengar Hanna menolak lamarannya yang padahal akan di laksanakan sore nanti. Saat ini, ia hanya menganggap sedang melakukan simulasi saja.
"Kamu kenapa kak?" bu Hani berbisik di telinga Hanna sambil mencubit perut anaknya.
"Aww.. sakit bu !!" lirih Hanna, mendelik pada ibunya.
"Maaf nak Siwan, mungkin anak saya shock dengan keadaan yang membingungkan ini, beri dia waktu untuk berpikir hingga sore hari nanti !!" ucap pak Bagyo.
"Iya Han, jangan mengambil keputusan saat sedang emosi, pikirkan saja dulu dengan matang," sela paman Rudy.
Semua orang mengira Hanna marah dan memang ingin menolak ajakan Siwan saat itu.
"Buka, bukan begitu, maksudku, aku tidak mau menunggu lama lagi, aku tidak mau hanya acara lamaran saja, aku maunya langsung akad nikah !!"
Cie.... suara saling sahut - sahutan terjadi di area dapur, pelakunya tak lain para anak muda, adik Hanna dan para sepupunya yang menguping pembicaraan mereka.
"Sstt.... " bibi Hanna melirik ke arah dapur dan menatap para pelaku keributan dengan tajam.
Suasana kembali hening sesaat. Dengan menahan tawa, pak Bagyo kembali buka suara.
"Nak Siwan, bagaimana tanggapannya ?" tanya pak Bagyo.
"Baiklah, saya juga tidak mau membuat kekasih saya menunggu lagi terlalu lama, mungkin pada detik ini, saya anggap bahwa saya sedang melamar anak bapak, apakah bapak dan ibu merestui hubungan kami ini ?" tanya Siwan.
"Ya Alloh, ahjussi ku, dia sangat terlihat gentleman, dia benar-benar meminta restu dari kedua orangtuaku di depan mata kepalaku sendiri, moment yang selalu aku nantikan sepanjang hubunganku dengannya, aku sangat bahagia, eh tapi, aduh, bagaimana ini, dia kan tidak seiman denganku, bagaimana mungkin kedua orangtuaku setuju, " gumam Hanna.
"Kami merestui, kami akan mendukung kebahagian yang anak dan cucu kami inginkan, semoga kalian berjodoh hingga akhir hayat !!" pak Bagyo dengan lantang menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Siwan.
"Alhamdulillah... !!" ucap Siwan dan semuanya secara serentak.
"Tunggu..." Hanna kembali terkejut mendengar Siwan mengucapkan kata 'alhamdulillah'.
"Kenapa ?" tanya pak Bagyo kembali menatap Hanna terheran-heran.
"Pak, dia itu, anu, emh... dia tidak seiman denganku, apa tidak masalah?" bisik Hanna di telinga ayahnya.
"Siapa bilang, nak Siwan sudah menjadi seorang mualaf, bapak dan ibu yang jadi saksinya, si Dul juga... " pak Bagyo terlihat menahan tawa, karena berhasil bersekongkol di belakang anaknya selama ini.
"Apa... benarkah? kapan? kalian ternyata di belakangku merencanakan hal-hal seperti ini, ck... " Hanna berdecak, raut wajahnya muram, ia berhasil di tipu oleh keluarganya sendiri, dan juga kekasihnya itu.
Yang lain terlihat ingin tertawa, hanya saja melihat mata Hanna yang membulat sempurna dengan raut wajah kesal, semuanya menghindari tatapan Hanna yang seperti ingin menerkam mangsanya.
"Chagiya, nanti aku akan menjelaskan semuanya, maafkan aku !!" ucap Siwan.
Hanna hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ah, Hwanku tidur, sepertinya sudah nyenyak, berikan padaku, aku akan menidurkannya di kamar !!" pinta Hanna pada Siwan.
Hanna pun membawa Hwan yang sudah terlelap tanpa ia ketahui. Hwan mungkin merasa lelah setelah energinya habis ia kerahkan pada saat belajar berjalan pagi tadi.
Setelah menidurkan Hwan, Hanna kembali bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga mereka.
Dan, Siwan pun berpamitan, karena ingin mempersiapkan segalanya untuk acara sore nanti.
Dengan berat hati, Hanna harus merelakan kembali berpisah dengan Siwan, padahal begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan padanya, terlebih lagi, itu karena ia sangat merindukan kekasihnya itu.
Hanna (Terima kasih banyak atas kejutannya, aku sangat terkejut hingga nyaris jantungku keluar dari sarangnya)
Siwan yang baru beberapa meter menjauh dari rumah Hanna hanya tersenyum memandangi layar hpnya di dalam mobil.
Siwan (Sesuai permintaanmu, kejutan dengan cara yang lebih hangat)
Setelah membaca pesan balasan dari Siwan, ia teringat moment pertemuannya dengan Siwan untuk pertama kalinya saat di Bali.
Kenapa kita harus bertemu kembali dalam situasi seperti ini, kau bahkan bisa saja memberiku kejutan dan membuatku shock dengan cara lain yang lebih hangat meskipun penuh haru, " ucap Hanna dengan lirih.
Hanna mengucapkannya saat ia berada dalam dekapan Siwan di atas pijakan tangga villa yang mereka sewa dan menuju ke dalam kamar.
...***...
Hanna tidak memiliki banyak waktu untuk kembali bertanya-tanya tentang apa yang terjadi selama ini di belakangnya, persekongkolan apa saja yang mereka lakukan tanpa sepengetahuannya.
Ia kemudian mengirim pesan di grupnya yang bernama GENK KERANG (Ketemu Jarang) untuk memberi kabar pada mereka tentang rencana pernikahan dadakannya dengan Siwan. Dan, Rayhan pun sudah di tambahkan sebagai anggota grup obrolan KERANG sehingga Hanna tidak perlu repot-repot mengirimnya pesan secara pribadi.
Hanna (Aku akan menikah sore ini, kalian semua harus datang ke rumahku menjadi saksinya)
Rayhan (Aku pasti datang)
Yasmin (Congratulation cintaku, aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu)
Hanna tersenyum sarkas membaca pesan yang di kirimkan oleh Yasmin.
"Cih... bahkan kalian pun tega ikut andil dalam persekongkolan ini, jahat, kalian bahkan tifak bertanya siapa calon mempelai prianya," ucap Hanna menyunggingkan senyum devil.
Audrey dan Karina baru membalas beberapa menit kemudian. Pasti mereka membalas pesan saat jam istirahat makan siang tiba karena mereka pasti sedang bekerja.
Audrey (Untungnya aku lagi shift pagi, aku akan langsung meluncur ke rumahmu, aku akan bawakan hadiah juga untukmu, tunggulah... )
Karina (Aku akan izin pulang lebih awal, aku akan datang bersama calon imamku juga, kyaaa.... )
Dan, selebihnya, obrolan di grup KERANG di penuhi oleh pertanyaan tentang siapa kekasih baru Karina.
Selesai sholat dzuhur, Hanna di ajak oleh sepupunya untuk pergi ke rumah spa and sauna terdekat di daerah tempat tinggalnya.
"Apa aku harus melakukannya?" tanya Hanna.
"Kau calon pengantin baru, kau harus membersihkan tubuhmu sebelum suamimu nanti menikmatinya, kau akan mendapatkan pahala kalau menyenangkan suamimu, ingat itu !!" Vanya menceramahi Hanna.
Wajah Hanna seketika memerah, malu.
"Bisa-bisanya kau yang lebih muda dariku membahas hal itu,"
"Meskipun aku lebih muda darimu, tapi aku lebih berpengalaman dalam menjalin rumah tangga, ingat itu !!" sahut Vanya.
"Aku kan setiap hari mandi, lagipula baru minggu kemarin aku pergi spa, tidak mau ah, aku malas pergi kemana-mana, kau tidak lihat kegugupan yang aku rasakan saat ini, aku bahkan belum bisa mencerna semuanya di pikiranku tentang apa yang menimpaku hari ini, " Hanna terlihat jengah.
"Cepatlah, aku sudah mereservasi dua kamar untuk kita, bibi Hani juga sudah memberikan izin, tenang saja, Hwan pasti akan di jaga oleh bibi, lagipula pekerjaan sudah hampir selesai, banyak saudara yang juga kembali berdatangan, ayolah jangan mempersulit tugasku, eh.. oopss... " Vanya tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangannya.
"Siapa yang menugaskanmu?" Hanna menelisik wajah Vanya semakin dalam dan penuh curiga.
Dan, tiba-tiba dari ambang pintu kamar Hanna, seseorang berkata, "ibu yang menyuruhnya, cepat sana pergi, sebelum jam 3 nanti kalian sudah harus ada di rumah lagi, acaranya akan berlangsung setelah ashar nanti, jangan lupa berdandan yang cantik nanti, kau pinjam saja baju untuk akad nikah dari perias," ucap bu Hani.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 12.30 wib, secepat kilat Hanna dan Vanya pergi dengan mengendarai motor berboncengan. Mereka memburu waktu yang tersisa untuk acara dadakan ini. Bagaikan mengikuti sebuah acara reality show tv yang harus menghabiskan sekoper uang dalam waktu satu jam, mereka nampak terburu-buru karena takut waktu mereka tidak cukup untuk menyelesaikan challengenya.
"Assalamualaikum..." ucap Vanya dan Hanna, kemudian motorpun melesat keluar dari pagar rumah mereka.
"Waalaikum salam, hey... hati-hati... !!" teriak suami Vanya yang baru saja mengantar Hanna dan istrinya ke depan pagar.
Waktu sebanyak dua jam itu mereka manfaatkan untuk menyegarkan badan mereka di rumah spa and sauna, tidak lupa mereka mampir ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan wajah pada Hanna sebelum polesan makeup menempel di wajahnya nanti.
Untuk urusan makeup dan baju akad, Hanna sudah menghubungi teman SMA nya yang sudah menjadi seorang MUA dan memiliki bisnis Wedding organizer yang cukup terkenal di kota Bandung. Kebetulan sekali karena hari itu adalah weekday, temannya sedang tidak ada acara jadi bisa secepatnya datang ke rumah Hanna bersama asistennya.
Pukul 15.30 wib, Hanna yang baru selesai sholat, langsung di dandani oleh tangan teman masa SMAnya dulu, mereka dulu memang tidak dekat, namun, belakangan ini, karena terikat urusan bisnis, keduanya nampak lebih akrab dari sebelumnya.
"Han, mau gaya make up seperti apa ?" tanya Asya, sang MUA.
"Natural saja Sya, aku gak mau terlihat terlalu wah, biasa saja, cuma acara akad ini kok, " jawab Hanna.
Bahkan pakaian yang akan di kenakan oleh Hanna hanya sebuah pakaian adat kebaya berwarna putih dengan kain batik berwarna coklat dengan motif khas sunda, rambutpun hanya ia sanggul secara modern dengan sedikit hiasan rambut.
Meskipun nampak sederhana, namun, di tangan sang ahlinya, semua jadi terlihat begitu berbeda.
"MasyaAlloh, cantiknya pengantin kita hari ini, " goda Asya.
Hanna mulai bangkit dari kursinya dan beranjak menuju cermin kaca yang menempel pada pintu lemarinya yang tinggi.
"Ini semua berkat tangan ajaibmu Asya, terimakasih banyak atas waktumu dan kerja kerasmu, " ucap Hanna, sambil masih berdiri di depan cermin memandangi wajah cantiknya bagaikan pengantin sungguhan.
"Ish... tidak, itu semua karena wajah cantikmu dari lahir, aku hanya menonjolkan sedikit bagian-bagian indah dari wajahmu, dengan sedikit polesan pun kau sudah nampak luar biasa," Asya kemudian mengeluarkan hp dari dalam tasnya dan mulai memotret Hanna.
"Nanti kalau kau mau mengadakan acara resepsi, kabari aku saja, aku akan memberimu diskon yang besar, aku akan meluangkan waktuku untuk meriasmu lagi, oke !! sambung Asya.
Hanna hanya tersenyum mendengar ocehan temannya itu.
Sambil masih bergaya di depan kamera hp dengan arahan temannya, Hanna bergumam, "benarkah semua ini? ini bukan mimpi kan? semua nampak begitu terlalu cepat, apa aku bahagia? ya.. tentu saja aku bahagia, ini semua hari yang selalu kunantikan selama ini, kau berpikir apalagi sih Hanna... "
...****...
Akankah acara akad nikah Siwan dan Hanna berjalan lancar dan tanpa halang rintangan yang menghadang kembali.
Semoga saja othornya lagi dalam keadaan mood yang baik, jangan sampai othornya menggagalkan acara pernikahan sakral mereka. Hahaha....