
Ketika Hanna memeluk seorang pria di pagi hari itu, ada seorang pria lainnya melihatnya dan menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan tidak suka dan seperti marah, dia mengepalkan tangannya sambil mendengus kesal lalu pergi dari lokasi tersebut yang tidak jauh dari taman rumah bu Shinta, pagi itu.
" Kemana saja kau selama ini ? aku sangat merindukanmu.... !" ucap Hanna sambil menangis.
" Maaf... " ucap pria itu, yang ternyata adalah Aji.
" Tidak apa, aku bersyukur kau sudah kembali dengan selamat !" sahut Hanna sambil menyeka air matanya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah lagi masih melingkar di tubuh Aji.
Deg...
Dada Aji berdebar kencang, mendengar Hanna berkata seperti itu, mana bisa ia tidak goyah.
" Kakak... "
Ketika mereka berdua tengah bercakap sambil berpelukan, seorang anak yang sejak tadi bersama Hanna melihat ikan - ikan di kolam kini mendekat pada mereka dan menarik baju Hanna.
" Kakak... " ucap Bisma.
Hanna dan Aji langsung tertuju padanya.
" Eh... iya sayang, maafkan kakak, ada apa ? " tanya Hanna yang baru saja melepaskan pelukannya dari tubuh Aji.
" Kak, aku mau pulang dulu ya... " ucap Bisma.
" Baiklah, jangan lupa mandi yaa.. !" sahut Hanna, membungkuk sambil mengacak - acak rambut Bisma.
Seperti biasa Bisma selalu menjadi anak yang sopan, sebelum pergi ia memberi salam pada keduanya.
Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Aji sedang duduk di bangku taman sambil menghangatkan tubuh mereka di bawah sinar mentari pagi yang belum terlalu menyengat.
" Bli, kenapa nomormu tidak bisa di hubungi ?" tanya Hanna.
" Sinyal disana jelek parah, aku harus naik ke perbukitan untuk mendapatkan sinyal " jawab Aji.
" Apa lokasi konstruksinya memang sangat jauh dari perkotaan ?" tanya Hanna.
" Ya, begitulah kiranya. Eh... bagaimana kabar kalian, apa bayimu sudah menunjukan eksistensinya di dalam sini " Aji mengusap - usap perut Hanna dengan lembut.
" Heemh ' Hanna menganggukkan kepalanya ' dia sudah mulai bergerak di dalam sini " sambungnya.
" Maaf, aku tidak bisa memberikan kabar seperti yang kau harapkan " sahut Aji, memperbaiki posisi duduknya yang kini kembali menatap lurus ke depan lalu menunduk.
" Tidak apa, aku mengerti, lagipula aku sudah benar - benar mengikhlaskannya, aku justru takut, kau bernasib sama sepertinya, aku jadi merasa sangat berdosa kalau sampai hal itu terjadi padamu, semuanya gara - gara aku... "
" Sssttt... sudahlah, yang penting aku sudah pulang kan... " sahut Aji.
Beberapa menit kemudian, kini mereka berdua sudah berada di dalam rumah. Aji menemui bu Shinta untuk melapor sedangkan Hanna pergi ke lantai 2 dan istirahat di sofa ruang tengah yang ada di lantai 2.
Seperti biasa rutinitas paginya selalu membaca buku dan bersantai setelah sarapan dan jalan - jalan pagi. Barulah kadang siang atau sore pergi ke panti untuk membantu menjaga anak - anak disana.
Ketika Hanna tengah asyik membaca buku, Aji datang menghampirinya dan duduk tidak jauh di sofa depan Hanna.
" Apa kau sering membaca buku itu ?" tanya Aji.
" Yap... akhir - akhir ini aku sering membaca seputar ilmu parenting dan buku - buku tentang bayi " jawab Hanna.
" Bagaimana kabar orangtua mu, masih sering telepon kan ?" tanya Aji kembali.
" Yap... ibuku semakin sering menanyakan kabar calon cucunya, aku jadi lebih sering di nasehati belakangan ini " jawab Hanna, mendengus dan cemberut.
" Kenapa ? bagus lah ibumu sangat memperhatikanmu dan calon cucunya " sahut Aji.
" Tapi masalahnya, ibuku terlalu banyak melarangku ini dan itu, banyak sekali, apa wanita hamil memang begitu, aku jadi pusing " ucap Hanna, ketus.
" Hihihi... sabar lah, kau jangan cemberut begitu, harus tetap bahagia... " timpal Aji sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari, kini mereka sedang saling memandang dengan tatapan mesra, selama beberapa detik, hingga membuat suasana menjadi canggung.
" Emh... Ekhem " Aji mengusap tengkuk lehernya kemudian lehernya, lalu pura - pura kehausan, minum air dari segelas aqua cup.
Setelah itu...
" Han, aku pulang dulu ya, masih banyak yang harus ku kerjakan " ucap Aji.
" Yah... kenapa buru - buru sih, aku masih kangen ngobrol sama kamu bli, cuma kamu yang paling deket sama aku di Bali, sebetulnya masih banyak hal yang mau aku ceritakan " ucap Hanna.
" Nanti aku akan datang lagi kemari ya, nanti kalau aku sedang senggang aku akan menginap disini, oke !!" sahut Aji.
" Emh... baiklah, kau boleh pergi, tapi, nanti, setelah aku tidur, pliss... " Hanna memohon pada Aji.
" Oke, kalau begitu cepat sana, kau lekaslah tidur " ucap Aji.
" Kalau begitu bli, tolong aku, mendekatlah !" pinta Hanna.
" Ada apa ? kau mau apa ?" tanya Aji dengan nada gugup.
" Tolong usap pinggangku, aku sedang merasa pegal sekali, usapkan sampai aku tertidur, yaa !!" pinta Hanna.
" Apa kau butuh sesuatu yang lain untuk mengobatinya ?" tanya Aji, merasa segan.
" Astaga... permintaan ibu hamil selalu merepotkan " gumam Aji.
Dan, karena dia ingat perkataan bi Lastri beberapa menit yang lalu, akhirnya Aji pun menuruti kemauan Hanna. Dia mendekat dan duduk di sofa yang Hanna duduki sejak tadi.
Lalu, saat Aji duduk di sampingnya, Hanna langsung menaruh bantal kecil di pangkuan Aji, dan dia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa itu dengan dan membenamkan kepalanya di atas pangkuan Aji.
Sejujurnya Aji merasa terkejut dengan tingkah Hanna saat itu. Dadanya semakin berdebar kencang, terutama saat ia tanpa sengaja melihat wajah berseri Hanna di pangkuannya yang kini sudah memejamkan mata menghadap ke arah perut Aji.
Dan selama beberapa detik, Aji yang masih menatapnya semakin tercengang kala mata Hanna kembali terbuka dan balik menatapnya tajam.
" Bli... cepat, lakukan " ucap Hanna sambil mengerutkan kedua alisnya.
" I-iya baiklah... " lalu Aji mulai mengelus punggung dan pinggang Hanna dengan lembut dan perlahan.
Hanna pun kembali menutup mata dan kini mulai merasa nyaman. Nafasnya mulai melambat, merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang telah lama ia nantikan.
Dengan telaten, tangan Aji terus mengusap bagian belakang Hanna sambil sesekali menatapnya.
Beberapa menit kemudian, Hanna pun nampaknya sudah berpindah ke alam mimpi.
Tangan Aji mulai menghentikan kegiatannya yang sejak tadi sibuk mondar mandir di punggung Hanna bak setrikaan.
Kini, tangannya mulai mengelus pipi Hanna, menyibak rambut - rambut kecil yang menutupi wajahnya kemudian menatapnya dengan mesra lalu tersenyum sambil mengingat perkataan bi Asih sekitar satu jam yang lalu.
Flasback On
Selesai mengobrol dengan bu Shinta, Aji pun menghampiri bi Lastri yang masih berada di dapur.
" Bi... "
" Eh nak Aji "
" Bagaimana kondisinya selama ini ?"
" Mereka baik baik saja, tapi sepertinya ibunya sangat mencemaskan nak Aji, setiap hari dia menunggu kedatanganmu "
Aji terlihat menyunggingkan sudut bibirnya, namun tetap berekspresi biasa saja di hadapan bi Lastri.
" Mau sampai kapan kalian saling menahan, takdir kalian mungkin sedang di depan mata kali ini, lupakanlah dan ikhlaskan saja den Siwan, baru kalian bisa hidup bahagia " ucap bi Lastri.
" Aku tidak bisa !" sahut Aji.
" Kenapa ? bukannya kau juga menyukainya, apa salahnya, bibi lihat juga neng Hanna begitu, jangan saling menyiksa diri " ucap bi Lastri.
Aji terlihat berpikir sejenak, kemudian ia pamit untuk menemui Hanna di atas.
" Aku memang menyukaimu Han, sangat menyukaimu, tapi, aku tidak bisa meneruskan perasaanku padamu, maafkan aku " gumam Aji yang menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Hanna sebelum akhirnya ia menghampirinya yang tengah asik membaca buku.
Flashback off
...***...
Setelah melihat Hanna tertidur pulas, Aji pun dengan perlahan bangkit, lalu memangku tubuh Hanna dan membawanya ke dalam kamar.
Ia menidurkan Hanna di atas ranjang kemudian menyelimutinya.
Setelah itu Aji duduk di bibir ranjang sambil menatap Hanna dan mengusap puncak kepalanya.
" Aku akan selalu menjagamu, meskipun hanya dari kejauhan, tapi ku pastikan kau akan selalu baik - baik saja !" ucap Aji, kemudian mencium kening Hanna dan pergi meninggalkan Hanna yang sedang tertidur lelap siang itu.
Aji turun ke bawah dan pamit pulang pada bu Shinta dan bi Lastri.
Di perjalanan pulang, di pikirannya selalu terbayang momen kebersamaan bersama Hanna tadi hingga ia kurang fokus menyetir mobilnya.
" Astaga... kenapa aku ini, hampir saja... " ucap Aji yang baru saja mengerem mobilnya di tengah zebra cross karena baru menyadari lampu sudah berganti merah ketika berada di setopan jalan raya.
Sore harinya...
Ketika Hanna terbangun, ia baru menyadari kalau kini ia sudah berada di dalam kamarnya. Dan ia tersenyum senang karena tahu pasti Aji yang membawanya masuk ke dalam kamar.
Sebelum turun ke bawah, Hanna sempat minum satu gelas air putih dan memakan ubi rebus karena sudah merasa sangat lapar.
Saat turun ke bawah, ia mencari keberadaan Aji. Namun ia hanya menemukan bi Lastri yang sedang menyapu di ruang tengah.
" Bi, kemana bli... ?" tanya Hanna.
" Sudah pulang neng, tadi siang pas neng tidur " jawab bi Lastri.
Hanna cemberut, merasa sedih karena Aji tidak berpamitan padanya.
Satu minggu kemudian....
Hanna merasa kesal, karena Aji tidak juga berkunjung menemuinya, bahkan membalas pesan yang ia kirim pun tidak pernah, apalagi mengangkat telepon darinya.
" Cih... dia kemana lagi sih, aku cuma mau tau kabarnya aja, emangnya gak boleh... " Hanna mendengus kesal, lalu pergi ke lantai 2 dan kembali beristirahat di ruang tengah sambil menunggu waktu maghrib tiba. ''