
Enam bulan kemudian....
Sudah enam bulan lamanya Siwan menanti kabar tentang Hanna, kekasihnya. Sampai detik itu pula Siwan masih menganggapnya sebagai seorang kekasih hatinya yang tak tergantikan oleh wanita manapun. Dia tidak merasa sudah memutuskan hubungan dengan Hanna.
Ada suatu perasaan yang mengganjal di hatinya. Siwan masih merasa bersalah dan berdosa, tentu saja.
Dia bahkan belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang melanggar kepercayaan Hanna padanya.
Seandainya saja waktu bisa di putar kembali, dia ingin menahan semuanya seperti sebelumnya. Apapun godaan yang melintas di depannya, ia harus bisa menahannya demi rasa cinta yang penuh hormat dan menghargai prinsip kekasihnya, Hanna, yang tidak ingin melakukan hal itu dengan pria yang bukan suaminya.
" Chagiya, dimana kamu berada ?" batin Siwan terus bertanya - tanya.
Di tengah kesibukan Siwan bersama timnya yang mengerjakan proyek desain pembangunan sebuah hotel terbaru di salah satu kota wisata terkenal di Bali, Siwan masih selalu menyempatkan diri untuk kembali pulang ke rumah yang pernah Hanna tempati dulu.
Dia selalu duduk di sofa selama bermenit - menit, bahkan berjam - jam tanpa melakukan aktivitas apapun selain kembali mengingat momen kebersamaannya denga Hanna di ruangan itu.
Malam itu, saat Siwan sedang bersandar pada sandaran sofa dengan menengadahkan kepalanya ke atas sambil menutup matanya, tiba - tiba sebuah pesan masuk ke hpnya.
Siwan tak bergeming, hanya bola matanya yang terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri masih di posisinya seperti semula.
Namun, tidak lama kemudian, seseorang mencoba menelponnya, Siwan mengerutkan kedua alisnya seiring suara dering hp memekik di telinganya.
Dengan rasa malas Siwan bangkit memperbaiki posisi duduknya, meraih hpnya yang ada di atas meja dan mulai memencet tombol answer di layar hpnya.
Siwan menyentuh ikon speaker di layar hpnya dan menaruh kembali hpnya di atas meja.
" Ada apa ?" tanya Siwan di seberang sana sambil melonggarkan dasinya.
" Benarkah ?" tanya Siwan kembali dengan mata membelalak.
Siwan langsung mematikan sambungan teleponnya bersama seorang pria lewat hpnya.
Siwan meraih hpnya secepat kilat dan mengklik pesan video yang seseorang kirim ke hpnya beberapa menit lalu lewat aplikasi whussup nya.
Beberapa detik Siwan menunggu video tersebut sampai selesai terunduh, dan... tada....
*
*
Malam itu, Austin bersama beberapa rekan dokter di rumah sakit tempatnya mencari nafkah, berencana pergi menuju sebuah kafe di pinggiran pantai untuk merayakan acara ulang tahun rekan sejawatnya.
Austin bersama dua orang teman pria dan dua orang teman wanitanya yang berprofesi sebagai perawat pergi bersamaan dengan mengendarai sebuah mobil.
Perjalanan selama satu jam menuju pesisir pantai cukup menguras tenaga mereka yang sebelumnya sudah lelah bekerja di rumah sakit.
" Ris, lu sebenernya mau ngajak kita kemana sih, jauh amat, masih lama gak ?" tanya Austin.
" Sabar Oz, bentar lagi nyampe kok !" jawab Haris, dokter spesialis THT di rumah sakit tempat mereka mencari sesuap nasi.
Begitu Haris memutar mobilnya di belokan depan, dia pun menghentikan laju mobilnya dan mematikan mesin mobilnya itu.
" Sudah sampai.... " ucap Haris dengan girangnya.
" Mana cafenya ?" tanya seorang wanita di kursi belakang mereka.
" Cafenya ada di ujung sana, kita jalan kaki lagi kesana, sabar ya... " jawab Haris.
" Busset dah... kebangetan lu mah, mau nraktir kita makan apa mau bikin kita mati kecapean nih... " sahut Austin yang segera turun menyusul ketiga temannya yang kini sudah berdiri di luar di samping mobil Haris.
Haris pun turun dan mengunci mobilnya lalu menghampiri teman - temannya.
" Engga dong Oz, pokonya lu bakal seneng deh makan sambil nongkrong disana, ada live musiknya juga, viewnya indah banget di jamin bikin kita betah " sergah Haris.
" Gue lebih betah diem di klub malam kali ah... " sahut Austin si tukang mabuk.
Mereka berjalan beriringan menuju lokasi sebuah kafe yang berjarak hampir 50 meter dari pinggiran pantai.
Mereka berlima duduk di meja terdekat namun berada di barisan kedua di ujung sebelah kiri kafe yang bernuansa outdoor itu. Kafe yang menyuguhkan konsep live musik di setiap hari kamis hingga sabtu itu bahkan memperbolehkan pengunjung bagi yang ingin menyumbangkan suara emasnya di atas mini stage yang berada kafe itu.
Saat mereka datang, musik dan suara merdu sang vokalis sudah terdengar di telinga mereka.
Austin malah duduk membelakangi panggung, karena dia merasa tidak tertarik dari awal sejak Haris merencanakan pesta ulang tahunnya di kafe ini.
Mereka duduk di kursi dengan meja berbentuk bundar. Austin dan seorang wanita bernama Ana duduk membelakangi panggung sambil fokus pada makanan mereka.
Berbeda dengan Haris yang nampak antusias kala pergantian sang vokalis di atas panggung di umumkan oleh sang pembawa acara.
" Eh... bentar ah, gue mau rekam dulu " ucap Haris mengeluarkan hpnya dari saku pantsnya.
" Oh... gue tahu, alesan loe ngajak kita makan disini, pasti loe lagi ngincer cewe sini kan ?" tanya Jo, dokter umum di rumah sakit mereka bekerja.
" Udah diem, dia udah mau mulai nyanyi " Ucap Haris menyuruh teman - temannya untuk menutup mulut mereka.
Austin yang merasa penasaran, menengok ke belakang untuk menatap sekilas wajah seorang wanita yang di taksir oleh temannya itu. Namun, dia hanya bisa melihat bagian belakang sang wanita karena vokalis wanita itu sedang melihat ke arah sampingnya, sedang berinteraksi bersama sang vokalis pria di atas panggung.
Kala itu, di atas panggung sepasang pria dan wanita bernyanyi sambil duduk di atas kursi bar menyanyikan lagu berjudul Best Part - Daniel Caesar feat H.E.R.
Austin yang fokus makan bersama yang lainnya memang cukup menikmati alunan musik dan suara merdu dari masing - masing vokalis yang sedang bernyanyi saat itu, namun Austin mengernyit dan bibir atasnya terangkat saat menatap wajah Haris yang menatap sang vokalis wanita di atas stage, dengan tatapan romantis dan penuh rasa kagum.
Saat lagu yang mereka bawakan sudah di puncaknya dan berakhir, sorak sorai dan tepuk tangan para penonton di bawah stage membuat suasana malam semakin hangat. Mereka sangat menikmati penampilan dan lagu yang di bawakan oleh para vokalis malam itu.
Terutama Haris, dia bertepuk tangan bahkan sampai berdiri dari kursinya dan melambaikan tangannya ke arah penyanyi wanita di atas panggung.
" Eh... bentar deh, kayak kenal, tapi dimana ya... " ucap Jo.
" Siapa ?" tanya Haris.
" Itu vokalis cewenya, kayak pernah liat, tapi dimana ya... " sahut Jo mencoba mengingat sesuatu sambil menekan telunjuknya pada pelipisnya.
" Mana sih, gue belum liat daritadi, mukanya ngadep kesana mulu !" timpal Austin yang sedang minum orange juice lewat sedotan pada gelasnya.
Saat Austin menoleh ke belakang untuk melihat kembali wajah sang vokalis wanita, sontak dia merasa terkejut, bahkan dia tersedak minumannya sendiri.
" Iyuh.... dokter Oz kenapa sih, hati - hati dong " ucap Ana yang duduk di sampingnya.
" Hanna... " ucap Austin yang masih terbatuk - batuk karena tersedak minumannya.
" Iya, aku Ana, ada apa ?" tanya Ana tidak mengerti maksud ucapan Austin.
" Ah.. iya, aku baru inget, Hanna, pacarnya kak Siwan, betulkan Oz... " ucap Jo, lalu menatap Hanna kembali yang masih bernyanyi di atas mini stage.
" Ris, liat rekaman lu tadi, cepet..." pinta Austin.
" Beneran dia udah punya pacar ?" tanya Haris dengan nada lemas merasa sedih karena kecewa wanita yang di taksirnya sudah memiliki pasangan.
" Buruan liat... " Austin menggerakkan tangannya meminta Haris menyerahkan hpnya.
Saat Austin melihat rekaman video di hp Haris, dia langsung mengirimkannya pada hpnya terlebih dahulu.
Setelah berhasil terkirim, kemudian dia mengirim video tersebut pada Siwan. Setelah itu dia memutar tubuhnya menatap ke arah stage, ke arah Hanna yang sedang menyanyikan lagu Flashlight - Jessie J.
Penonton kembali bertepuk tangan setelah Hanna selesai membawakan lagunya, Austin melihat Hanna turun dari stage setelah mengucapkan salam perpisahan pada para penonton, lalu dia pergi menuju belakang stage.
Austin bangkit dan pergi menyusul Hanna ke belakang stage.
" Oz, mau kemana ?" tanya Haris.
" Udah, biarin aja, paling mau ngobrol sama pacar kakaknya " sahut Jo.
" Beneran Hanna pacarnya kakak si Oz ?" tanya Haris yang masih tidak percaya.
" Tanya aja si Andien nih, dia beberapa kali jagain si Hanna di rumah sakit " jawab Jo.
" Beneran dokter Haris, mereka pasangan romantis, aku sampai iri melihat pacarnya yang selalu perhatian sama mbak Hanna, seandainya aku punya pasangan seperti kak Siwan, bahagia banget pasti aku " ucap Andien sambil tersenyum geli.
" Yah... she broke me first ini mah judulnya " ucap Haris dengan nada lemah.
" Sabar, masih banyak ikan di lautan yang lebih segar, sabar ya... " Jo mengusap - usap punggung Haris yang nampak patah hati.
*
*
Di belakang stage...
" Hanna.... " teriak Austin.
Namun, wanita yang beberapa meter berada di depan Austin tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan langkahnya meskipun dia sempat berhenti sesaat.
Austin hendak berlari mengejarnya saat itu, namun, dua orang waitress membawa nampan yang penuh dengan makanan dan minuman untuk pelanggan menghalangi langkah Austin.
" Excuse me, mister " sapa seorang waitress, meminta Austin untuk menyingkir dari jalan sebentar, dengan sopan.
Austin terpaksa memberi jalan pada para waitress yang nampak tergesa - gesa itu. Dan, saat para waitress sudah pergi, ia kembali berlari mengejar Hanna.Namun sayang, dia tidak bisa menemukannya sama sekali. Entah Hanna memang sudah pergi, atau bersembunyi di suatu tempat.
" Aish... sial, padahal sangat dekat tadi.. " Austin nampak frustrasi karena kehilangan jejak Hanna.
Dia pun mengeluarkan hpnya dari saku pants nya dan menelepon seseorang.
" Hallo, kak... " ucap Austin pada pria di seberang sana.
" Kak, lihat video yang ku kirim, itu Hanna tadi menyanyi di kafe xxx, tapi aku kehilangan jejaknya " ucap Austin sambil menutup telinganya sebelah karena sound musik kembali menyala, seseorang kembali bernyanyi di atas stage.
Setelah itu Austin menyimpan kembali hpnya ke dalam saku dan mencoba mencari Hanna kembali.
*
*
Satu jam kemudian....
Austin masih berada di kafe tersebut, namun dia hanya duduk sendirian, teman - teman yang tadi pergi bersamanya mungkin sudah pulang karena mereka tidak terlihat ada disana.
Dan, tidak lama kemudian, datanglah Siwan menghampiri Austin yang tengah duduk sambil menahan rasa kantuknya, menahan kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja agar tetap tegak.
" Oz... bagaimana ?" tanya Siwan.
Austin terperanjat mendengar suara Siwan, matanya mengerjap beberapa kali dan.. " kak, aku tadi bertanya pada beberapa orang yang ada di stage, tapi mereka hanya bilang kalau Hanna hanya penyanyi dadakan, maksudnya hanya pengunjung yang menyumbang lagu di kafe ini " jawab Austin.
" Sebentar, sepertinya aku tahu siapa pemilik kafe ini.. " ucap Siwan.
Lalu dia menjegal seorang waitress yang berjalan di sampingnya.
" Eriko, dimana dia ?" tanya Siwan.
" Oh... bos ada di ruang kerjanya mister " jawab sang waitress.
" Antarkan aku padanya " ucap Siwan.
Beberapa menit kemudian, kini Siwan dan Austin sudah berada di dalam ruangan Eriko sang pemilik kafe yang ternyata adalah teman Siwan.
" Siwan, apa kabar, kau sengaja datang kesini ? sudah makan atau baru sampai ?" tanya Eriko, pria keturunan Tionghoa bertubuh tinggi dan kurus serta berambut panjang bergelombang.
" Aku baru sampai, ada yang ingin kutanyakan " ucap Siwan.
" Kalau begitu duduklah, ayo silahkan " Eriko mempersilahkan Siwan dan Austin duduk di sofa yang ada di ruangannya.
" Kalian mau minum apa ? aku siapkan dulu !" seri Eriko.
" Tidak usah, duduklah, ini mendesak " ucap Siwan.
" Ada apa memangnya ?" tanya Siwan.
" Hanna, apa kau tahu dia tadi menyanyi disini ?" tanya Siwan.
" Hanna, pacarmu yang waktu itu menyanyi di sini saat pergi bersamamu kan ?" tanya Eriko.
" Iya, dia !" jawab Siwan.
" Ah.. itu, aku juga baru tahu dari penyanyi kafe tetapku tadi, katanya tadi ada pengunjung yang menyumbang suara emasnya, bahkan penonton ada yang request lagu padanya, makanya dia sampai bernyanyi 2 lagu di stage, dan aku baru ingat loh kalau dia pacarmu " jawab Eriko.
" Jadi, kau tidak tahu kalau dia tadi ada disini ?" tanya Siwan.
" Sayangnya aku tidak tahu, kalau aku tahu mungkin aku akan memberinya souvenir karena berhasil membuat pengunjung kafe ku merasa betah mendengar suaranya " jawab Eriko kembali sambil tetap tersenyum.
Siwan berdecak kesal.
" Ada apa memangnya ?" tanya Eriko.
" Tidak ada, tapi, kalau dia datang lagi kemari, bisakah secepatnya kau menghubungiku ?" tanya Siwan.
" Of course, tapi, memangnya ada apa sih Wan, kau masih berhubungan dengannya, atau sudah berakhir atau dia kabur dan kau sedang mencarinya ?" tanya Eriko.
" Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku sangat butuh informasi darimu, kalau dia datang lagi kemari, hubungi aku jam berapapun itu, cegah dia pergi sebelum aku datang kemari, bisa kan, kau menolongku kali ini ?" tanya Siwan.
" Tentu saja, kau sangat berjasa dalam hidupku, aku akan membantumu sebisaku !" ucap Eriko.
Dan, setelah berpamitan Siwan dan Austin pun pergi meninggalkan ruangan Eriko.
Setelah mereka berdua keluar, seorang wanita keluar dari balik pintu yang berada di ruangan Eriko saat itu.
Eriko menatapnya dengan tatapan bingung, sambil menggelengkan kepalanya dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Mau sampai kapan kau bersembunyi darinya ?" tanya Eriko pada wanita itu.
Wanita berambut hitam pendek sebahu itu hanya menatap Eriko dengan tatapan sendu serta berkaca - kaca.