My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 PANIK



Melayang...


Seperti itulah rasanya orang yang di landa resah, gelisah dan kebingungan.


Bagaikan terpelanting dari puncak gunung tertinggi ke dasar jurang bebatuan, kepercayaan diri Hanna seketika runtuh hanya karena secarik kertas.


Pada akhirnya Hanna melihat hasil tes DNA anaknya dengan mata kepalanya sendiri.


Seketika air mata mulai kembali membobol tembok pertahanan dirinya.


Aji terlihat panik.


"Han, mungkin ini salah, mungkin dokter atau pihak lab melakukan kesalahan, mungkin saja tertukar, tenanglah, besok kita pergi kembali ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter dan bla bla bla bla.... "


Ucapan Aji seterusnya tampak kurang jelas terdengar di telinga Hanna, kepalanya terasa pusing, kedua bola matanya seakan berputar berlawanan arah jarum jam, dan seketika tubuh Hanna terasa lemas, lalu... dia pingsan, untung saja Aji dengan sigap menahan tubuhnya.


Aji membaringkan Hanna di atas sofa, masih di ruang kerja. Kemudian ia memanggil bi Asih dan bi Lastri agar mrmbawakannya minyak angin dari kotak obat yang ada di lantai bawah.


Para bibi berlarian ke atas. Untung saja saat itu Hwan sudah tertidur pulas di kamar, di atas ranjang bayinya.


"Kenapa neng Hanna, ada apa ini ?" tanya bi Lastri yang juga terlihat panik.


Berbeda dengan bi Asih, seakan sudah tahu akar permasalahannya, ia hanya terus mencoba membangunkan Hanna agar kembali tersadar.


Ketika Hanna tersadar, perlahan ia bangkit dan bersandar pada sofa.


"Minum dulu neng !" bi Lastri menyerahkan segelas air putih.


Setelah meneguknya, Hanna berdiri.


Dan ketika ia hendak melangkahkan kakinya, Aji pun berniat memapahnya.


"Stop... aku masih bisa berjalan sendiri !" ucap Hanna, dengan nada arogan juga dengan sorot mata penuh amarah.


Aji menarik kedua lengannya menjauhkannya dari tubuh Hanna.


Bi Asih memberi isyarat padanya agar jangan membantah Hanna kali ini, juga menahan bi Lastri yang ingin melontarkan kata - kata dari mulutnya agar tertahan dalam angan saja.


Hanna berjalan dengan gontai menuju kamarnya.


Ketika ia masuk ke dalam kamar, hal yang pertama kali ia lakukan adalah mendatangi bayinya, lalu membawanya dalam dekapannya hingga mereka duduk di bibir ranjang.


"Apapun yang terjadi, kau anakku, anak yang ku kandung selama sembilan bulan lamanya, siapapun ayahmu, aku tidak peduli, kau anakku, hanya anakku, " ucap Hanna dengan sorot mata tajam.


Namun, air mata kembali menetes di pipinya.


Sambil terisak - isak ia mencium anaknya yang begitu tenang dan terlelap dalam tidurnya, tidak merasa terusik sekalipun sang ibu membuat kegaduhan dengan tangisan dan air mata yang menetes di keningnya.


Keesokan harinya...


Sudah pukul 08.00 wita, Hanna masih belum juga keluar dari kamarnya, pintu kamarnya terkunci rapat.


Penghuni rumah merasa cemas, bi Asih dan bi Lastri berkali - kali mengetuk pintu kamar Hanna, namun jawaban yang mereka dapat selalu sama.


"Aku belum mau sarapan,"


Hanya kata - kata itu yang keluar dari mulut Hanna, lalu kembali menutup pintu kamarnya.


Belum sempat menanyakan keduanya menanyakan kondisi Hwan, Hanna sudah mengunci kamarnya kembali.


Membuat keduanya kembali di landa resah dan gelisah karena mereka takut Hanna mengabaikan Hwan di saat ia kembali bersedih hati.


Aji sebetulnya sudah terbangun sejak ketukan di pintu kamar Hanna pertama kalinya. Bahkan sepertinya Aji tidak tidur sejak semalam, kantung matanya menghitam dan sorot matanya terlihat begitu lelah.


Ketika pintu kamar Hanna di ketuk untuk pertama kalinya, sekitar pukul 05.15 wita, Aji menyelidik dari kejauhan, dari ambang pintu kamarnya.


Hatinya begitu resah, mengingat kejadian semalam, pikirannya menjadi kacau, ia belum bisa mencari solusi untuk masalah yang ia hadapi ini. Situasinya sungguh membuatnya bingung.


Dan, ketika ketukan di pintu kamar Hanna yang entah ke berapa kalinya terdengar kembali di telinga Aji, ia yang sudah mulai terlihat tidak sabar pun melangkahkan kakinya menuju kamar Hanna.


"Bi, biar aku saja !" Aji menahan bi Asih yang hampir melontarkan kata dari bibirnya.


Tok... tok... tok...


"Hanna, ini aku, Han, keluarlah, kita harus bicara, " ucap Aji.


Masih belum juga ada jawaban dari dalam kamar.


Tok... tok... tok...


Aji kembali mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.


"Han, buka pintunya, kalau tidak, aku akan mendobraknya sekarang juga, " ujarnya.


Namun, belum juga ia mengeluarkan tenaganya, pintu kamar perlahan di buka.


Hanna yang sudah berpakaian rapih terlihat menggendong bayi Hwan dengan memakai gendongan bayi ala koala dan menjinjing sebuah tas besar di tangannya dan satu tas gandong di punggungnya.


"K-kau, mau kemana ?"


Aji bertanya dengan sorot mata dan raut wajah terkejut.


"Aku tidak bisa tinggal disini lagi, aku tidak bisa dengan enaknya hidup nyaman, menumpang hidup, membesarkan anakku di rumah orang yang bukan ayahnya, aku tidak akan mungkin menjadi tidak tahu diri, aku harus pergi, maksudku, kami," jawab Hanna.


Bi Asih dan bi Lastri kembali shock.


Shock terapi di pagi hari mereka kali ini sungguh membuat keduanya tak kuasa menahan air mata.


Aji merentangkan lengannya menahan langkah Hanna agar tidak keluar dari kamarnya sati langkah kaki pun.


"Tidak, kau tidak bisa pergi kemana - mana, tidak boleh, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini, bahkan dari kamar ini sekalipun, " ucap Aji.


"Neng, istigfar neng, mau kemana, jangan bikin bibi khawatir neng, orang tua neng udah nitipin kalian sama bibi, jangan bikin bibi jadi ngerasa bersalah, " ucap bi Asih.


"Iya neng, betul, masih bisa di bicarakan lagi semuanya neng, bibi mohon, jangan terburu - buru mengambil keputusan," sahut bi Lastri.


Hanna mulai terisak - isak, air matanya jatuh seiring dadanya yang mulai kembali sakit, hingga membuatnya merasa sesak.


Rasa sakit apalagi ini, setelah sebelumnya antara hidup dan mati melahirkan buah hatinya, rasa perih jahitan di bagian intimnya yang belum juga pulih seratus persen, rasa sakit area PD nya karena terkadang merasa lecet saat mengasihi bayinya. Kini, harus di tambah kembali rasa sakit yang baru, karena harus kecewa menerima kenyataan bahwa Hwan, bayinya, ternyata bukan anak Siwan, kekasih ya.


Lalu siapa, siapa ayah biologis sebenarnya bayi Hwan, bayinya ini ?


"Hanna, ayo kita pikirkan kembali, ayo kita bicara dulu, " Aji mencoba membujuk Hanna.


Melihat air mata kembali berderai dari kedua bola matanya, kedua tas yang berada dalam genggaman Hanna terjatuh ke lantai, bi Lastri pun langsung berinisiatif mengambil alih Hwan dari dekapan Hanna.


Hanna pun di bawa ke ruang kerja oleh Aji dan bi Asih.


Beberapa menit kemudian, kini mereka bertiga sedang terdiam, masing - masing masih mengatur emosi yang bergejolak di dalam dada mereka.


Hingga akhirnya Aji pun mulai mengucapkan pernyataan yang keluar dari mulutnya.


"Ayo kita tes ulang," ucap Aji.


Kedua katup mata Hanna sudah membengkak, serta kedua bola matanya yang sudah memerah bergulir menatap Aji, nyalang.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit, aku masih menyimpan sampel kak Wan sebagian, mungkin hasilnya tidak akurat karena ada kerusakan sampel, atau... "


"Atau apa ?" tanya Hanna, terlihat sangat penasaran. Begitu pula dengan bi Asih.


"Ah tidak, itu tidak mungkin, pasti hanya karena ada kesalahan dari sampel dna kak Wan saja, " jawab Aji.


Bi Asih menaruh curiga, tidak puas dengan jawaban Aji barusan.


"Katakan, apa yang sebenarnya ingin kau katakan ?" tanya bi Asih.


"Itu, aku hanya berpikir kalau ada seseorang yang mungkin berniat jahat dan mengacaukan hasil tes dna kali ini, ini hanya firasatku saja, "


Hanna mencoba berpikir sesaat.


"Siapa ?" tanya Hanna.


"Entahlah, kupikir saingan bisnis kak Wan dulu, sejak mereka tahu kak Wan kecelakaan, banyak sekali yang ingin mengambil alih bisnis kak wan, secara selama ini kak Wan selalu berhasil mengambil hati para investor dan konsumen kita sebelumnya, sampai bibi sendiri yang turun tangan karena mereka tidak mempercayaiku, mereka pikir aku hanya orang kepercayaan kak Wan yang tidak berguna sama sekali, dan bisa mereka bidohi," ucap Aji.


Hanna terhentak, merasa tidak enak hati mendengar hal tersebut. Ia pun terdiam sambil mengusap air matanya.


Ia memang tahu persis tentang kondisi bisnis yang di kelola oleh Siwan belakangan ini setelah kepergiannya, itu karena Aji selalu menceritakan hal apapun padanya tanpa ada yang di sembunyikan. Sekalian mengajarkan Hanna bagaimana cara menyikapi masalah yang terjadi selama bisnis yang di kelolanya nanti apabila tersandung masalah.


"Hanna, kumohon, percayalah padaku, beri aku waktu untuk memecahkan masalah ini, bertahanlah, " pinta Aji.


"Tapi, bagaimana dengan bu Shinta ?"


Hanna menundukkan kepala, menutup mata dan menahan wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku belum memberitahunya, nanti saja setelah bibi pulang dari Australia," jawab Aji.


"Semua masih bisa di bicarakan baik - baik neng, bersabarlah, jangan terburu - buru mengambil keputusan, lagipula neng mau perfi kemana, kasihan Hwan, masih terlalu rentan di bawa pergi keluar, " sela bi Asih.


"Baiklah, aku akan mengikuti saran kalian, "


Akhirnya Hanna mau mendengarkan Aji dan bi Asih.


"Huft... untung saja dia masih melunak, apa jadinya kalau sampai dia pergi, pekerjaanku semakin bertambah, rusak sudah rencanaku nantinya, hemh.. " gumam Aji, sambil menghela nafas dan membuangnya perlahan karena merasa lega.