My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 SAYONARA



Hari ini, Hwan tepat berusia tiga bulan, dan, semakin dekat waktunya memperingati satu tahun kepergian Siwan.


Namun, Hanna masih juga di pusingkan oleh masalah pribadinya. Rasa bimbang selalu menghinggapinya kala ia menyendiri setiap harinya.


Sepi, rasanya sangat sepi, di tinggalkan oleh orang - orang yang ia sayangi satu persatu, membuat kemelut di hatinya semakin membengkak.


Kali ini, ia benar - benar harus mengambil sebuah tindakan, keputusan yang benar - benar harus bisa mengubah masa depan dan kehidupannya.


Selesai makan malam, ia pergi menemui bu Shinta yang sedang menonton tv di ruang tengah.


Hanna duduk perlahan di sofa lainnya yang berada di ruangan itu.


"Hwan sudah tidur ?" tanya bu Shinta.


"Sudah bu " jawab Hanna singkat. Raut wajahnya terlihat pucat dan bingung.


"Harus mulai darimana yaa... " gumamnya di dalam hati.


Bu Shinta seolah sudah menangkap sinyal yang di layangkan oleh Hanna, ia pun mengecilkan volume tv dan kemudian kembali bertanya pada Hanna.


"Ada apa ?" tanya bu Shinta.


"Emh... anu, itu bu, a-aku.... " ucapan Hanna mulai terbata - bata.


...****...


Beberapa jam kemudian...


Tepat pukul 02.00 wita, Hanna mulai kembali bermimpi buruk, mimpi itu muncul kembali.


Dalam tidurnya dengan posisi terlentang, dari kedua sudut matanya, terlihat air mata mengalir, kedua bola matanya terlihat lincah bergerak ke kiri dan ke kanan.


Dan, tiga menit kemudian ia pun terbangun dan langsung bangkit dengan posisi terduduk di atas ranjangnya.


Mulutnya terlihat menganga, keringat mulai terlihat bercucuran dari pelilpisnya, tangan kanannya langsung menyentuh dada sebelah kirinya.


Sakit, ia kembali merasakan sakit yang dulu pernah ia rasakan lewat mimpinya.


"Astagfirullah..."


Suara tangisan Hwan membuyarkan lamunan Hanna. Ia langsung terbangun dan bergegas menghampiri box bayi Hwan dan menggendong anak tercintanya.


Seperti biasa, Hwan terbangun karena popoknya sudah penuh. Setelah mengganti popoknya, Hanna lalu mengasihinya dan menidurkan Hwan kembali.


Saat itu, ia merasa kehausan, hanya saja ia lupa mengisi ulang galon kecilnya yang ada di dalam kamar. Ia pun harus mengambil air putih ke dapur.


Dan, ternyata, di meja makan, ia melihat seseorang sedang duduk sambil menundukkan kepala.


Dari belakang tentu saja ia sudah bisa menebak, siapa yang berada disana.


"Bu... " ucap Hanna dengan lirih.


Bu Shinta buru - buru menghapus air matanya.


"Ada apa Han ?" tanya nya.


"Aku mau mengambil air minum, di kamar habis bu !"


Hanna pun mengganti galon mini kosongnya dengan galon mini yang masih penuh dengan air.


"Han, kemari sebentar !" seru bu Shinta, menyuruh Hanna duduk di kursi sampingnya di meja makan.


"Aku sudah memikirkan keputusanmu, aku tidak bisa memaksa lagi, meskipun aku ingin, tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi, kembalilah kemari kalau kau ingin, rumah dan tanganku akan selalu terbuka untuk kalian !" ucap bu Shinta.


Perkataannya kini lebih membuat Hanna merasa sedih di bandingkan penolakannya di percakapan malam tadi.


Hanna meminta izin untuk kembali ke Bandung, ia merasa sudah tidak sanggup menerima seluruh kebaikan bu Shinta lagi, ia merasa kembali terpukul semenjak mengetahui bahwa hasil tes DNA Hwan dan Aji ternyata cocok.


Meskipun ia belum mendengarkan penjelasan langsung dari mulut Aji, tapi ia sudah benar - benar merasa yakin dengan hasil tersebut. Tidak ada alasan lain untuknya untuk tidak mempercayai hasil tes DNA mereka kali ini.


Tanpa terasa, air mata di pipinya menetes membasahi pipinya.


Sungguh, ia begitu dilema harus hidup dengan kenyataan yang begitu berlawanan arah dengan apa yang ia ekpektasikan selama ini.


...***...


Siang harinya, Hanna pergi keluar untuk menemui seseorang. Ia berkata akan berpamitan dengan teman - temannya. Seperti biasa, dia di antar oleh Bram, namun kali ini, ia membawa Hwan dan bi Lastri ikut serta bersamanya.


Hanna pergi ke sebuah cafe and resto yang sudah sering ia kunjungi sebelumnya.


Dia duduk bersama Hwan berdua, sedangkan bi Lastri dan Bram duduk di meja lainnya memantau dari kejauhan.


Hanna sedang menunggu seseorang, siapakah dia ??


Seorang pria mendekat ke meja mereka, sebelum duduk, ia mengetuk mejanya terlebih dahulu dengan kepalan tangannya.


Tuk - tuk - tuk


"Bli... "


Ternyata Hanna sedang menunggu Aji.


Aji mulai duduk dan membuka jaketnya.


Tatapan matanya terus fokus pada bayi mungil yang berada dalam pangkuan Hanna.


Tanpa terasa matanya mulai berkaca - kaca.


"Aku ingin menggendongnya, bolehkan ?" tanya Aji.


Hanna hanya menganggukan kepalanya dan menyerahkan Hwan pada Aji saat itu.


Tak di pungkiri, rasa haru menghinggapi diri Hanna melihat percakapan Aji dan Hwan saat itu.


Tak kuasa ia melihatnya, ia memalingkan wajanya sambil menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Oke, bli, aku tidak akan banyak bertanya apapun lagi, aku takut, semakin mendengar semua perkataanmu malah akan memperkeruh suasana hatiku, aku kemari hanya ingin berpamitan, aku, ingin mempertemukan kalian mungkin untuk terakhir kalinya, aku akan membawa Hwan tinggal di Bandung "


Seketika Aji terpaku dan menatap Hanna dengan tatapan mata shock.


"Han, kenapa ?"


"Kenapa ? pertanyaannya apa harus seperti itu ? Kenapa ?"


"Aku, jujur, aku shock, aku gak tahu harus bertanya seperti apa, menurutmu aku harus bagaimana, a-aku... " ucapan Aji terhenti, ia menundukkan kepalanya, menatap Hwan dengan sekilas, lalu memeluknya dengan lembut sambil menutup matanya.


Setelah menghembuskan nafas, Aji melanjutkan perkataannya.


"Bukankah kau sudah berjanji padaku, untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis ini, untuk apa selama ini kau susah payah belajar dan bekerja keras "


"Bli, apa kau masih belum paham, dengan apa yang terjadi kemarin, apa aku masih mempunyai hak melanjutkan semua ini, bahkan kau tahu, Hwan bukan darah daging Ajjushi, dia anakmu, kenapa kau masih belum paham, apa mungkin sebenarnya memang selama ini tujuanmu seperti itu "


"Hanna, kau salah paham padaku, beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya "


"Membuktikan apa, kalau kau bukan ayah dari anakku ?" Hanna mulai tersulut emosi.


Ia menundukkan kepala dan menahannya dengan kedua lengannya yang bertumpu di atas meja.


"Hwan adalah anakku, dengan ada atau tidak adanya hasil tes DNA tersebut, dia tetap anakku, aku sudah pernah katakan kepadamu sebelumnya, tolong, jangan mempersulit keadaan, aku ingin menjaga kalian, kalian selalu menjadi prioritas utama dalam hidupku sejak beberapa waktu kebelakang, tidak bisakah kau tetap mempercayaiku, Hanna ??"


"Kau mengecewakanku bli, kau menyentuhku tanpa izin dariku, bahkan kau tega melakukannya saat aku tidak sadarkan diri !"


"Maaf, sungguh, aku minta maaf, aku khilaf !"


"Akhirnya kau mengakuinya, oke, semua sudah clear, aku harus membawa Hwan pergi "


"Hanna, tidak bisakah kau tetap berada di Bali, tinggallah bersamaku, aku ingin membesarkan Hwan bersamamu beri aku kesempatan !"


"Egois, kau hanya mementingkan keinginanmu tanpa memperdulikan perasaanku, aku sudah tidak bisa lagi berbagi kepercayaan denganmu, aku akan membesarkan anakku sendiri, dia hanya anakku, darah dagingku, aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi lagi disini, setelah aku pergi, aku akan benar - benar menghapus semua kenangan yang pernah aku lalui selama disini "


Hanna merebut Hwan dari pangkuan Aji, dan pergi meninggalkan Aji yang masih duduk dan bersedih hati karena harus berpisah kembali dengan anaknya.


Tiga hari kemudian...


Setelah mendiskusikan semua dengan bu Shinta, berpamitan dengannya dan orang - orang di rumah, membereskan semua barang dan perlengkapan dirinya dan Hwan, akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Kini mereka semua berada di bandara untuk mengantarkan kepergian Hanna dan Hwan.


Hanna ditemani oleh bi Lastri, ia tetap di tugaskan menemani Hanna dan Hwan hingga mereka tiba di rumah kedua orangtua Hanna dengan selamat.


"Hanna, biaya tes DNA kemarin, aku sudah mengganti dan mentransfernya ke rekeningmu, pergunakanlah uang itu untuk kebutuhanmu dan Hwan "


"Bu, tidak perlu repot - repot, semua itu karena kemauanku, ibu tidak usah mengganti segala biaya yang sudah aku keluarkan, ibu sudah sangat baik padaku dan Hwan, bagaimana bisa aku menerima pemberian ibu lagi "


"Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu, dengarkan saja perkataanku, hiduplah dengan bahagia, aku akan selalu mendoakan kalian diamanapun kalian berada, hiduplah dengan nyaman dan damai, aku akan menjenguk kalian di lain waktu "


Hanna memeluk erat bu Shinta, juga bi Asih yang sudah berlinang air mata.


Bram yang turut mengantar pun tak luput dari kesedihan, ia merasa berat melepas kepergian Hanna kali ini, terlebih lagi karena kali ini ada Hwan, yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Dari kejauhan, seseorang menatap mereka di balik topi hitam dan kacamata hitamnya.


Terlihat air mata mengalir di pipinya, kedua tangannya sibuk mengusap air mata tersebut dan mencoba tetap berdiri tegak.


Setelah memastikan Hanna, Hwan dan bi Lastri chek in dan masuk ke area gate masuk pesawat, bu Shinta pun kembali pulang bersama bi Asih dan Bram.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, bu Shinta berderai air mata. Merasakan kesedihan karena berpisah dengan cucu tercintanya.


Ia masih yakin bahwa Hwan adalah cucunya, darah dagingnya, namun, dengan adanya hasil tes DNA yang mematahkan keyakinannya, ia tak bisa berbuat apa - apa lagi. Terlebih lagi melihat Hanna yang berada di bawah tekanan, tidak baik baginya untuk tetap mempertahankan Hanna untuk tetap di sampingnya, melihat kondisi metalnya, ia takut Hanna malah akan depresi. Makanya, ia tidak bersikuku mempertahankan Hanna dan Hwan di sampingnya saat ini.


Pesawat melesat di atas langit melintasi mobil yang di kendarai bu Shinta saat itu.


Dari jendela, ia melihat ke atas langit, melihat pesawat yang semakin menjauh yang menyisakan hanyalah kepulan asap panjangnya memecah awan di atas langit siang itu.


SAYONARA