
Sesaat sebelum Rayhan datang ke rumah Hanna.
Elsa yang sedang melihat situasi lingkungan sekitar rumah Hanna lewat teropong di atap rumah kontrakannya, terlihat panik saat melihat seseorang masuk ke dalam pagar rumah Hanna.
Ya, Elsa tentu saja menyewa rumah juga di sekitar rumah Hanna, yang kebetulan memang ada rumah kontrakan bertingkat yang hanya terhalang oleh dua rumah yang tidak terlalu tinggi, memudahkan pengintaian menuju lokasi rumah Hanna.
Setiap pulang kerja, Elsa tidak pernah benar - benar pulang ke rumah kontrakannya yang ada di dekat kantornya bekerja, paling hanya berganti kostum dan membawa motornya untuk pergi menuju rumah kontrakan keduanya yang berada di dekat rumah Hanna.
Tetangga tidak ada yang mencurigai, meskipun ia pergi dari pagi dan pulang kadang malam hari, karena ia berkata bahwa ia hanyalah anak kuliahan yang selalu bekerja part time sepulangnya ia dari kampus.
Setelah melihat Austin masuk ke dalam rumah, Elsa langsung mengambil hpnya dari meja yang berada di sampingnya, kemudian ia menelepon seseorang yang di layar kontak hpnya tertulis nama EAGLE.
"Bli, dia disini !" ucapnya, berbisik lewat sambungan teleponnya.
"Siapa maksudmu ?" tanya Aji.
"Austin, dia ada di rumah Hanna, baru sekitar 15 menit yang lalu, " ucap Elsa.
"Shittt.... kenapa kau baru meneleponku sekarang ?" Aji yang sedang menunggu Siwan rapat bersama kliennya terlihat gusar. Bahkan Siwan sendiri sempat melirik ke arahnya di sela percakapannya dengan kliennya itu.
"Tapi bli, sepertinya aku tahu harus meminta bantuan siapa, nanti akan ku hubungi lagi, "
Elsa menutup sambungan teleponnya bersama Aji. Kemudian ia mencoba menghubungi seseorang kembali lewat hpnya.
Tuut... tuut... tuut...
Cukup lama ia menunggu seseorang mengangkat teleponnya saat itu. Dan, klik... teleponnya tersambung.
"Hallo assalamualaikum ... !" seorang pria menerima panggilan Elsa.
"Hallo, kak Rey, bisa minta tolong tidak, ini gawat sekali," ucap Elsa.
Rayhan menatap layar hpnya sesaat, sepertinya ia baru menyadari siapa wanita yang sedang berbicara dengannya saat ini, saking ia terlalu sibuknya pada layar laptopnya. Siang itu, Rayhan sedang berada di rumahnya dan mengecek laporan penjualan dan pengeluaram kedai dimsumnya.
"Eh, Elsa, ada apa ?" tanya Rayhan.
"Austin, dia ada disini, dia baru saja masuk ke dalam rumah Hanna, pliss bantu aku, kalau aku yang datang ke rumahnya sekarang, aku harus beralasan apa, dan nanti penyamaranku akan terbongkar," ucap Elsa.
"Oke, baik, aku kesana sekarang, nanti aku hubungi lagi," Rayhan langsung menutup teleponnya, mematikan laptopnya dan melipatnya, kemudian ia melangkah setengah berlarian keluar dari kamarnya dan rumahnya, ia berlari secepat mungkin menuju rumah Hanna.
Begitulah cerita yang sebenarnya mengapa Rayhan tiba - tiba sampai di rumah Hanna dengan nafas terengah - engah dan keringat bercucuran di pelipisnya.
...***...
Setelah Austin berpamitan, Rayhan tidak lantas buru - buru kembali ke rumahnya.
Ia menginterogasi Hanna tentang apa saja yang dia dan Austin bicarakan sejak pertemuan mereka tadi.
"Ih, kepo amat, apaan sih A Rey... !" ucap Hanna.
"Ya, cuma penasaran aja sih, kok tiba - tiba dia dateng kesini, dia tau rumah kamu darimana ?memangnya sebelumnya dia pernah berkunjung kemari ?" tanya Rayhan, penuh selidik.
"Dia lagi ada kunjungan ke rumah sakit ternama di kota Bandung, dia bilang sih cuma 4 hari disini, dan, aku pernah kasih tau dia alamat rumahku dulu, " jawab Hanna.
"Owh... begitu ya," Rayhan terdengar tidak percaya dengan alasan yang di katakan oleh Austin pada Hanna.
Sebelum pergi, Rayhan terlihat mengirim pesan pada seseorang. Di samping foto profilnya tertera nama PHOENIX.
"Kau dimana ?" tanya Rayhan
Dan, 'PHOENIX' pun membalasnya.
"Keluar dari pintu, kanan 45 derajat."
Setelah mendapat balasan, Rayhan pun pamit pada Hanna.
"Aku pulang dulu ya, masih banyak yang harus ku kerjakan, " Rayhan berdiri dari kursinya dan berpamitan pada bu Hani.
Hanna sempat mengantarnya ke depan pintu.
"A Rey, sebenernya ada yang ingin kutanyakan padamu, tapi, mungkin lain kali saja, kau kan sibuk, cepat sana pulang !!" Hanna mendorong tubuh Rayhan agar cepat segera melangkah keluar dari pintu rumahnya.
"Ish... ngusir, " Rayhan menggoda Hanna.
"Pulang sana, adzan maghrib masih lama, kita tidak boleh terus berduaan, bahaya tau, sana pergi, " tangan Hanna bergerak mengisyaratkan tengah menyuruh seseorang pergi.
"Oke, assalamualaikum !!" ucap Rayhan.
"Waalaikum salam, " Hanna pun menutup pintunya.
Rayhan tersenyum lalu berbalik arah membelakangi pinti rumah Hanna.
Dan, saat ia melihat ke atas, ke arah kanan 45 derajat, dia melihat sebuah kilatan di sela gorden sebuah rumah kontrakan bertingkat yang ada di seberang rumah Hanna.
Seserorangpun membuka sedikit tirainya di atas. Sepasang mata kini sedang menuju ke arah Rayhan.
Akhirnya Rayhan tau dimana posisi Elsa.
Dan...
"Heh, kau masih disini ?" Hanna yang masih belum mendengar suara langkah kaki dan orang membuka pintu pagarnya pun kembali membuka pintu rumahnya karena penasaran.
"Iya oke - oke, aku pergi, bye... !!" Rayhan pun melangkah menuju pintu pagar dan keluar dari rumah Hanna dengan gestur yang lucu.
Hanna pun sampai tertawa melihat kelakuan konyol Rayhan saat itu.
Rayhan tidak langsung pulang ke rumahnya, ia pergi ke sebuah gang kecil yang hanya masuk sebuah motor, sebuah jalan menuju rumah kontrakan Elsa.
Rayhan menaiki tangga lantai dua menuju rumah Elsa. Di atas terdapat dua buah kamar kontrakan, dan Rayhan yakin, yang di tinggali Elsa pasti kamar yang ada di ujung.
Tok.. tok.. tok..
Elsa yang mendengar suara ketukan di pintunya pun langsung membereskan peralatan mengintainya di dalam kamar, kemudian ia melangkah menuju pintu depan rumahnya.
"Kau... " Elsa tidak menyangka akan ada yang berkunjung ke rumahnya.
"Elsa, matamu !" ucap Rayhan yang terlihat terkejut ketika melihat mata Elsa yang berubah warna.
"Ah, sial, aku lupa memakai kontak lensa, " gumam Elsa sambil menutup sebelah matanya dengan tangan kanannya. Lalu ia menarik Rayhan ke dalam rumahnya dan kembali menutup pintu rumah.
"Kau, rahasiakan ini, oke, " pinta Elsa.
"Kenapa ? apa kau malu memiliki warna iris mata yang berbeda ?" tanya Rayhan.
"Bukan begitu, saat menyamar, aku selalu menutupi mata asliku agar tidak mudah di kenali orang, " jawab Elsa.
"Cantik... " ucap Rayhan, secara tidak sadar.
"Apa?" Elsa merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Apa kau tidak mau menyuruhku duduk ?" Rayhan mengalihkan pembicaraan.
Elsa memberi isyarat dengan tangan agar Rayhan duduk di bean bag chair nya yang berada di atas karpet berbulu.
Elsa duduk tidak jauh di sampingnya.
"Apa warna mata aslimu memang hijau ?" tanya Rayhan, masih membahas mata.
"Spektrum, this is spektrum, blue or green, tergantung apa yang kau lihat," jawan Elsa.
"Tapi aku melihat lebih dominan hijau, " ucap Rayhan.
Elsa merasa jengah.
"Katakan, ada apa kau kemari ?" tanya Elsa.
"Aih... apa memang seperti ini sifat aslimu ? kenapa jadi berubah dingin, aku jadi tidak mengenalimu, kau siapa ?" tanya Rayhan, sambil sedikit tersenyum.
Elsa terlihat sedang berusaha menahan rasa kesalnya dengan sedikit senyuman terpaksa tercetak di wajahnya.
"Baiklah, ada apa tuan Rayhan sudi datang berkunjung ke rumah kontrakanku yang butut dan sempit ini ?" tanya Elsa.
"Jangan menyindirku, aku juga sempat tinggal di ruangan lebih sempit dan butut seperti ini, " jawab Rayhan.
"Oke, iya, lalu, maksud kedatangan anda ?" tanya Elsa.
"Aku hanya ingin melapor padamu, tentang kedatangan Austin tadi, kau sendiri yang menyuruhku mengawasinya tadi, kau lupa ?" tanya Rayhan.
"Ya Tuhan, apa dia seorang reporter, terlalu banyak bertanya, aku malas meladeninya, " gumam Elsa.
Melihat Elsa diam saja, tidak menanggapi perkataannya, Rayhan pun lantas bersuara kembali, menyampaikan apa yang ia dengar dan ia lihat saat di rumah Hanna.
Elsa mendengarkannya dengan seksama.
"Oke, itu saja yang ingin ku sampaikan, kalau begitu aku pamit pulang dulu yaa, masih banyak pekerjaan yang menantiku di rumah," ucap Rayhan dengan penuh penekanan, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu depan rumah Elsa.
Saat ia baru saja memegang handle pintu...
"Terima kasih !" ucap Elsa, lalu berdiri juga dari posisinya.
Rayhan tidak menjawabnya, ia juga tidak berbalik menatap Elsa, ia hanya tersenyum tanpa Elsa ketahui.
"Terima kasih banyak !!" sekali lagi, ucap Elsa.
"Demi Hanna, demi keluargaku, kau bisa mengandalkanku selanjutnya !!" ucap Rayhan, lalu pergi melangkah keluar dari rumah kontrakan Elsa.
Elsa masih mematung di posisinya.
"Demi keluarganya, Hanna, keluarganya, dia sangat... " Elsa tidak melanjutkan ucapannya, ia langsung menepis apa yang ada di dalam pikirannya.
"Ish... apa ini, tidak... aku tidak boleh jatuh hati pada siapapun, titik !"
Elsa pun melanjutkan kembali tugasnya di sela kesehariannya itu.
...***...
Beberapa hari kemudian...
Saat hari raya idul fitri telah tiba, seluruh keluarga dari masing - masing umat muslim biasanya berkumpul bersama dan saling mengunjungi sanak saudara.
Saling mencicipi aneka hidangan khas lebaran, ketupat, opor ayam, rendang, tumis kentang, dan masih banyak lainnya.
Kue kering mulai dari nastar, kastangel, putri salju, sagu keju, dan masih banyak jenisnya juga.
Namun, tidak lupa, yang selalu ada dan menemani berbagai masakan dan camilan itu semua adalah orson alias minuman syrup berperisa beraneka rasa, dan ada pula minuman bersoda lainnya dari mulai warna hitam, putih, merah dan biru. Sudah pasti selalu ada hampir di setiap rumah.
Rayhan berkunjung ke rumah Hanna sekitar pukul 10.00 wib pagi itu.
Dengan mengenakan baju koko yang merupakan hadiah pemberian Hanna, ia nampak serasi saat berdiri di sampingnya.
"Wuah... kak Rey, kau terlihat sangat pas memakai baju koko desainku ini, tidak salah aku menjadikanmu modelnya," ucap Hanna.
"Ish, baru juga bersalaman dan bermaafan, kau sudah berani mengejekku lagi," sahut Rayhan.
"Asli kok, aku tidak berbohong, suudzon terus sih bawaannya," Hanna cemberut.
"Udah - udah, nak Rey, ayo makan dulu ketupat mumpung opornya masih hangat, "
"Makasih banyak bi, tapi aku sudah kenyang di rumah, ibu selalu menceramahi kalau ada anaknya yang keluar sebelum makan, bibi tau sendiri kan bagaiman ibuku, hihi... "
Bu Hani pun tersenyum, "semua ibu pasti begitu nak Rey... "
"Eh, kita foto yuk, mumpung ada yang fotoin," ucap Abdul, adik Hanna, lalu menyerahkan kameranya dan hpnya pada saudaranya yang sudah ada di rumah mereka sejak beberapa menit yang lalu.
"Wah... Hwanku tampan sekali ya, pakai peci dan baju koko terlihat seperti haji cilik, sini biar om yang gendong, " Rayhan mengangkat tubuh Hwan yang sedang berdiri pada baby walkernya.
Pak Bagyo dan bu Hani duduk di kursi, sedangkan Rayhan, Hanna dan Abdul berdiri di belakangnya. Hanna berdiri di tengah, dan Hwan di pangku oleh Rayhan.
"Oke siap, kamera siap, satu... dua... senyum... " ucap saudara Hanna.
Ceklek... cekrik... jepret...
Berbagai gaya mulai dari formal hingga absurd sudah berhasil di abadikan lewat kamera dan hp adik Hanna.
Saat Hanna sibuk mengupload foto terbarunya edisi lebaran kali itu ke sosial media instagremnya, ia terlihat sibuk membalas komentar dari para netizen di akunnya.
"Cie... papa baru Hwan... "
"Ekhem... udah halal kah ?"
"Uwh... so sweet... ganteng kali calon papa Hwan"
"Akhirnya, Hwan tampan di gendong papa tampan"
"Ya ampun, Hwan lucu banget, buat aku aja yaa !"
"Di tunggu undangannya zheyeng... vizz"
"Aku titip salam buat adik kak Hanna aja, boleh yaa ??"
"Ya ampun, bajunya keren banget sih, nyesel deh kehabisan stocknya, huhuhu.. (emoticon menangis) "
"Hwan, angkat aku aja jadi papamu !!"
"Hanna, aku mau baju couple ini, restock dong !!"
"Ya ampun... pegel aku lama - lama balas komentar mereka !!" ujar Hanna.
"Ya gak usah di bales lah, ngabisin waktu aja !" pungkas Rayhan.
"Yeee.... gak pernah punya fans ya, iri... bilang bosss... !" timpal Hanna.
Rayhan hanya tersenyum melihat Hanna yang asyik sendiri dengan sosmednya, sedangkan Rayhan pun kembali mengobrol dengan pak Bagyo maupun keluarga Hanna lainnya yang baru berdatangan.
Banyak orang mengira Rayhan merupakan ayah Hwan, namun bagi yang sudah tahu siapa ayah Hwan, mereka malah mengira Rayhan adalah calon ayah baru bagi Hwan, alias calon suami Hanna.
Kedekatan mereka sudah bukan rahasia lagi, bahkan para tetangga sudah sering menghosipkan mereka, bahkan keluarga Rayhan sendiri pun nampaknya sudah mulai membuka hati pada Hanna dan Hwan.
Ibu Rayhan terutama sangat gemas melihat Hwan, ia selalu ingin menggendong dan membawa Hwan berjalan - jalan meski hanya berkeliling kampung.
Beberapa jam kemudian...
"Hanna, aku pamit dulu ya, mau mengantar keluargaku pergi ke Bogor !!" ucap Rayhan.
"Berapa lama di Bogor ?" tanya Hanna.
"Paling besok sore juga kembali kemari, setelah aku pulang, ayo kita pergi berlibur, aku sudah bertanya pada genk KERANG lainnya, mereka bisa dan sudah siap dengan segala keperluan, ada sisa cuti 5 hari lagi katanya, kau harus setuju !" tegas Rayhan.
"Apa, mereka kenapa tidak ada yang memberitahuku, dadakan sekali !!" Hanna terlihat kaget.
"Taraaa.... sureprise... hehehe... " Rayhan mentertawakan wajah kesal Hanna.
"Di belakangku ternyata kalian bersekongkol, "
"Habisnya, kau selalu saja banyak alasan saat di ajak berlibur, ayolah Han, kau harus menikmati waktu liburmu sebaik mungkin, kau terlalu lelah bekerja, kau harus mulai merefleksikan tubun dan pikiranmu meski hanya sesaat, healing your self, and your soul, "
Ucapan Rayhan membuat Hanna agak tersadar, selama ini, semenjak ia bekerja membangun bisnisnya, ia memang selalu sibuk. Bahkan, waktu berlibur bersama Hwan dan keluarga pun hanya hitungan jari.
"Oke, kita mau berlibur kemana ?" tanya Hanna.
"Nanti aku kabari lewat whutsupp, oke !" ucap Rayhan, lalu pergi meninggalkan Hanna yang sedang menidurkan Hwan di pangkuannya. Sebelumnya Rayhan bahkan sempat mencium pipi tembem Hwan.
...***...
Berlibur kemana yaa enaknya ???
Masih pada sabar kan readers ku tercinta...
Kalian luar biasa, begitu sabar menanti detik - detik pertemuan Hanna dan Siwan.
Makasih banyak loh yaa, aku sangat terharu !!
Jangan lupa komen, like, dan dukungan lainnya ya, seikhlasnya aja gapapa gak maksa kok tapi haru yaa, biar othor makin semangat, mumpung tugas daring anak belum di mulai nih, hehehe...
Annyeong !!