
Setelah meninggalkan ruangan pribadi Austin, Siwan kembali menuju kamar rawat inap kekasihnya.
Saat itu, Hanna yang baru terbangun sedang mengganti bajunya di bantu oleh sang perawat.
" Bajumu basah ?" tanya Siwan pada Hanna.
Tapi malah perawat yang menjawabnya karena Hanna tidak kunjung menjawab pertanyaan dari Siwan.
" Iya pak, baju mbaknya basah, keringatnya keluar banyak " ucap sang perawat.
Setelah sang perawat selesai membantu Hanna, Siwan menyuruh nya keluar melanjutkan pekerjaannya.
" Aku mau ke toilet " ucap Hanna.
Siwan pun dengan sigap menggendong nya ala bridal style menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Hanna menyuruh Siwan menunggu di luar. Saat Siwan keluar Hanna langsung nongkrong di closet duduk, ternyata perutnya sangat sakit dia sedari tadi menahannya sampai menunggu Siwan kembali. Selesai nongkrong, Hanna berteriak pada Siwan dari dalam...
" Ahjussi... " teriak Hanna.
Siwan langsung masuk ke dalam karena merasa khawatir takut terjadi apa - apa pada kekasihnya.
" Ada apa ?" tanya Siwan.
" Aku butuh sesuatu, sudah mulai banjir bandang " ucap Hanna dengan lirih karena masih lemas.
" Dimana banjirnya ?" Siwan menelaah ke sekitar kamar mandi.
" Bukan itu, aku butuh pembalut, aku sedang haid " ucap Hanna dengan malu - malu.
Siwan menahan tawanya, " sebentar, aku minta tolong suster, kau duduk saja di sini " Siwan membantu Hanna kembali duduk di closet yang sudah tertutup, lalu buru - buru pergi keluar.
Setelah menunggu selama 5 menit, Siwan kembali dengan sebungkus pembalut yang dia bawa dari perawat di luar.
" Ini, untungnya ada yang membawa stock banyak, aku membelinya untukmu " ucap Siwan.
" Terima kasih, tunggulah di luar !!" ucap Hanna.
Beberapa menit Hanna ke luar dari dalam kamar mandi, setelah menggosok giginya dan mengganti perdalamannya, ia kembali ke ranjangnya.
Hanna merasa gelisah, dia selalu memeriksa bagian bawahnya setiap saat karena takut banjir di ranjangnya.
" Kau kenapa ? apa ada yang terasa sakit ?" tanya Siwan.
" Aku hanya cemas, aku takut tiba - tiba ranjangnya sudah berubah warna " ucap Hanna.
Percayalah, saat wanita sedang sakit apalagi sampai di rawat di rumah sakit begini, rasa cemas karena takut mengotori ranjangnya selalu menghantui. Sakit karena perut melilit, pikiran cemas, di tambah lemas karena sedang di landa tifus, badan tidak enak, nafasnya terasa panas dan berat, lidah pahit... ah.. rasanya ingin segera pulang ke rumah, ingin di rawat oleh keluarga sendiri terutama oleh seorang ibu. Ibu pasti lebih mengerti apa yang harus di lakukan pada anaknya yang sedang tidak berdaya.
Untungnya, Hanna sudah tidak merasa menggigil dan suhu tubuhnya sudah mulai normal, hanya tinggal lemasnya dan sedikit pusing di kepalanya.
Selama beberapa jam Hanna sering bolak - balik ke kamar mandi untuk mengganti perdalamannya. Hari kedua dan ketiga selalu mengalir deras bak air terjun niagara. Hanna meminta Siwan memapahnya saja, dia tidak mau Siwan kelelahan karena bolak - balik menggendong nya antara ranjang dan kamar mandi.
" Chagiya, makanlah, kau harus makan obat lagi " ucap Siwan.
" Lidahku terasa pahit... " sahut Hanna.
" Kau mau apa ? tapi kau hanya boleh makan bubur dan makanan lembut lainnya !!" ucap Siwan.
" Ahjussi, kau pasti belum makan kan ?" tanya Hanna.
" Tidak usah khawatir, nanti Austin kemari membawakanku makanan " ucap Siwan.
Hanna seperti mengharap jawaban lain dari Siwan. Dia terus menatap ke arah pintu masuk, dia seperti sedang mengharapkan seseorang datang.
Seseorang memang datang sore itu, ketika pintunya terbuka perlahan, mata Hanna terlihat melebar, tapi , langsung menjadi sayu karena yang datang hanyalah petugas rumah sakit yang membagikan makanan sore itu.
Siwan pun kembali menyuapi Hanna dengan telaten.
Selesai makan, kembali pintu terbuka. Namun, Hanna harus kembali Kecewa karena yang masuk adalah Austin.
" Hallo cantik, bagaimana kondisimu sekarang ?" tanya Austin yang datang sambil menjinjing sebuah kantong keresek berisi beberapa kotak makanan dan menyerahkannya pada Siwan.
Hanna tidak menjawabnya, matanya hanya mengerling.
Austin yang masih memakai jubah dokternya pun langsung memeriksa kondisi Hanna dengan teliti.
" Kak Oz, aku tidak mau makan bubur " ucap Hanna.
" Belum boleh cantik, mungkin besok siang baru boleh makan nasi tim " ucap Austin dengan lembut dan penuh senyuman.
" Cih... cantik cantik cantik, kau sedang merayuku ?" Hanna terlihat kesal.
" Orang sakit harus banyak di puji tahu, biar tambah semangat biar cepet sembuh " ucap Austin.
" Kak Oz, kau mencukur rambutmu, wah pantas saja memujiku, rupanya kau sendiri butuh pujian, cih.. tidak ikhlas kalau seperti itu caranya " sahut Hanna.
" Aku semakin tampan kan ?" ucap Austin dengan penuh percaya diri.
Hanna hanya menjulurkan lidahnya sedikit, meledek Austin. Siwan yang sedang makan di meja pun tersenyum melihat Hanna kembali bersemangat. Iya, bersemangat cekcok dengan Austin.
Austin pun memberitahu tentang kondisinya, juga apa saja makanan yang boleh dan tidak boleh ia makan setelah sembuh nanti, selama satu bulan harus benar - benar menjaga makanannya.
" Baik pak dokter, terima kasih banyak !!" ucap Hanna.
" Ah... tidak usah sungkan, itu sudah tugasku, aku seorang dokter profesional, meskipun kau dekat denganku, tapi aku tetap harus memperlakukanmu secara sama seperti pasien lainnya, tapi untukmu aku memberi pelayan spesial dan gratis konsultasi, ya maklum lah, tidak enak kan kalau aku tagih biaya konsultasi karena ini bukan di ruangan pribadiku... " terdengar seperti menyindir. Austin menoleh pada Siwan, dan orang yang dia maksudkan dalam pembicaraannya barusan kini sedang menatapnya tajam. Mata Austin seolah tertusuk duri, ia menutup matanya dan ia langsung kembali berbalik menatap Hanna demi menghindari sayatan dari tatapan tajam yang di layangkan oleh Siwan.
" Ngomong apa sih.. " Hanna sungguh tidak mengerti.
" Sudahlah, istirahat saja, kondisimu belum stabil, acuhkan saja orang di sekitarmu, kau harus banyak makan, minum obat dan tidur !!" ucap Austin.
" Iya, iya, aku akan tidur saat kau berhenti mengajakku berbicara " sahut Hanna.
" Oke, aku pergi dulu, tugasku sangat banyak, pasienku bukan cuma dirimu, tidurlah !!" Austin pun berjalan menuju pintu keluar setelah sebelumnya membungkuk di depan Siwan dan buru - buru keluar dari ruangan tersebut.
Siwan yang sudah selesai makan pun menghampiri Hanna.
" Sudah waktunya minum obat, ini minumlah !!" Siwan membantu Hanna mengambilkan obat dan air minumnya.
" Istirahatlah, aku tidak akan kemana - mana !!" ucap Siwan.
Hanna hanya menganggukan kepalanya dan dengan pasrah menerima perhatian dan perlakuan lembut dari Siwan.
Setelah membantu membaringkan Hanna dan menyelimutinya, Siwan mengecup kening Hanna dan tersenyum padanya.
" Ahjussi, aku ingin menyelesaikan masalah di antara kita, secepatnya... tunggulah sampai aku sembuh !!" gumam Hanna di dalam hatinya.
...***...
Keesokan harinya, pagi sekali Hanna sudah terbangun karena mendengar hpnya terus bergetar dan menyala, ibunya meneleponnya dari Bandung.
Ibunya bertanya tentang kondisi kesehatannya, karena dia merasa terus tidak enak hati dan memikirkannya seharian kemarin. Dan Hanna hanya berkata bahwa dia memang sedang merasa tidak enak badan karena masuk angin, terlebih lagi dia sedang haid, imun tubuhnya kadang selalu drop karena kekurangan zat besi.
Setelah ibunya menutup sambungan teleponnya, Hanna langsung terisak - isak, dia sungguh merindukan ibunya, dia ingin bercengkerama dengan keluarganya, dia ingin menceritakan segalanya, cerita hidupnya yang sedang di landa pilu.
Siwan yang terbangun karena mendengar suara tangisan pun buru - buru menghampiri Hanna.
" Chagiya, kau kenapa ? apa ada yang sakit ?" Siwan terlihat khawatir.
" Tidak ahjussi, barusan ibu menelponku, dan aku hanya berbohong padanya, aku merasa berdosa terus membohonginya, tapi aku tidak mau dia stress memikirkan keadaanku yang seperti ini...hiks... " Hanna kembali menangis.
Siwan memeluknya erat. Dia mengusap kepala dan punggung Hanna.
Setelah beberapa menit, Hanna mulai merasa tenang. Dia pun ingin membersihkan dirinya dan mengganti bajunya di kamar mandi. Siwan membantu menyiapkannya dan memapahnya ke kamar mandi.
Hanna melakukannya sendiri di dalam, sedangkan Siwan menunggunya di pintu luar kamar mandi.
Saat Hanna sedang mengganti bajunya, Siwan mendapat telepon dari seseorang, raut wajahnya nampak serius mendengarkan orang yang berbicara di seberang sana.
Tanpa Siwan ketahui, Hanna sudah berdiri di belakangnya sambil memegang botol infusan miliknya.
Saat Siwan berbalik, ia terkejut ternyata Hanna sudah menunggunya di ambang pintu. Dia pun segera mengakhiri sambungan teleponnya dan memapah Hanna kembali ke ranjangnya.
" Ahjussi, kalau kau ada pekerjaan penting, pergilah, aku tidak apa - apa, kondisiku sudah mulai stabil sekarang " ucap Hanna.
Siwan tidak menjawabnya, dia hanya mempersiapkan makan pagi untuk Hanna yang sudah di kirim pegawai rumah sakit saat Hanna sedang di kamar mandi tadi.
Selesai makan, Siwan berpamitan pada Hanna, dia berjanji akan kembali, dia harus mengurus sesuatu dan sangat mendesak. Dia menugaskan seorang perawat untuk menemaninya di dalam karena Siwan tahu, Hanna tidak pernah nyaman berada di dalam kamar inap sendirian.
" Baiklah, hati - hati ya, jangan khawatirkan aku !!" ucap Hanna. Dan menyambut pelukan Siwan yang hangat dan erat. Siwan bahkan sempat mencium keningnya sebelum pergi.
Untuk sesaat Hanna lupa kalau dirinya sedang kesal dan marah pada Siwan. Namun di sisi lain dia juga merasa bahwa dia sedang di posisi yang patut juga untuk di benci oleh Siwan. Meskipun ia belum tahu kebenarannya, tapi Hanna pun merasa terpojok dengan foto ciumannya bersama Aji.
Satu jam kemudian...
Siwan kini sedang berada di markasnya, bersama Aji Bram dan Tio. Mereka baru selesai membahas tentang siapa orang yang berhasil mengambil foto - foto yang berada di amplop coklat itu.
Secepat itu Aji mendapatkan informasinya, dia bahkan hampir tidak tidur semalaman karena terus memburu orang yang terlibat dengan kasus ini bersama Bram dan Tio.
" Aku akan pergi menemuinya, secepatnya aku akan kembali " ucap Siwan.
" Kak, jangan menyetir sendirian, biarkan Bram menemanimu !!" sahut Aji.
" Ji, kau temuilah dia, sepertinya dia menunggumu " ucap Siwan.
" Tapi kak... " ucapan Aji terhenti saat Siwan memberinya isyarat lewat tatapannya.
" Aku percaya padamu, pergilah, dia ingin mendengar nya langsung darimu "
Setelah itu Siwan pun pergi di ikuti oleh Bram di belakangnya.
Aji masih mematung di posisinya. Sedangkan Tio kembali melakukan pekerjaannya di depan komputernya.
Beberapa jam kemudian, Aji kini sudah berada di ruang rawat inap dimana Hanna berada. Dia sedang duduk di sofa menatap Hanna dari kejauhan yang sedang tertidur di ranjangnya.
Saat Aji datang satu jam yang lalu, perawat yang menunggu Hanna langsung pamit pergi dari kamar tersebut.
Dan... saat Hanna membuka matanya, ia merasa kehausan. Dengan susah payah ia mengambil gelas yang ada di nakas sendiri karena dia tidak melihat perawat di sampingnya. Saat ia berhasil meraihnya, tiba - tiba gelasnya hampir jatuh karena tangannya basah oleh keringat, untungnya, Aji dengan sigap menggapainya.
" Bli... " Hanna terkejut karena tidak menyadari ada kehadiran Aji di ruangan itu.
Aji mengambil gelasnya dan mengisi kembali air ke dalamnya lalu menyerahkannya pada Hanna.
" Te-terima kasih " ucap Hanna lalu meminum airnya sampai habis.
Setelah itu, Hanna yang merasa ingin pergi buang air ke kamar mandi. Dia mencoba turun perlahan, Aji dengan sigap ingin menolongnya, namun Hanna seolah merasa risih di sentuh oleh Aji.
Aji pun mundur, merasa sadar diri bahwa tatapan Hanna kini berbeda. Dia hanya mengikuti Hanna dari belakang saat menuju ke dalam kamar mandi.
Hanna lumayan lama berada di dalam kamar mandi karena mengganti perdalamannya dan mengganti bajunya selain membersihkan wajahnya. Hanna bahkan memakai kupluk penutup kepalanya karena rambutnya sangat lengket dan bau. Dia sendiri ingin menangis mencium bau keringat di rambutnya. Karena Siwan lupa membawa dry shampoo miliknya yang sempat ia gunakan saat terakhir kali dia rawat di rumah sakit. Dia hanya menyemprotkan parfum di sekitar kepalanya lewat kupluknya.
Aji merasa khawatir karena Hanna begitu lama berada di dalam kamar mandi. Namun, ke khawatirannya akhirnya berhenti saat melihat Hanna membuka pintunya sambil memegangi botol infusannya.
Aji merasa terpana melihat wajah pucat Hanna yang masih terlihat cantik di matanya. Apalagi saat dia lewat di depannya, bau parfumnya yang khas sungguh membuat hidung Aji kembang kempis di buatnya.
Hanna kembali duduk di ranjangnya dan menyelimuti kakinya.
" Kau butuh sesuatu ?" tanya Aji.
" Tidak bli... " jawab Hanna.
" Kak Wan akan secepatnya kembali setelah urusannya selesai " ucap Aji terlihat gugup.
" Iya... " Hanna pun merasakan hal yang sama.
Selama beberapa saat mereka berdua nampak terdiam dan membisu.
Hanna yang duduk di atas ranjangnya mencoba menyalakan tv di depannya, sedangkan Aji yang duduk di dekat ranjangnya pun ikut - ikutan menatap layar tv yang terus di pindahkan channelnya oleh Hanna.
Merasa tidak ada tayangan yang menarik siang itu, Hanna pun mematikan kembali tvnya.
" Kau kenapa, apa kau merasa pusing ?" tanya Aji menoleh pada Hanna, khawatir.
" Bli... aku ingin penjelasan tentang foto kita, kau paham kan ?" Hanna nampak begitu frustrasi.
" Akhirnya dia mau menatapku " gumam Aji.
Dan, Aji pun mulai menceritakan semuanya tentang kejadian malam itu. Dia bahkan memperlihatkan rekaman asli video yang ia dapatkan langsung dari sumbernya setelah ia menelusuri kasus ini kemarin.
Hanna merasa malu dan menyesali perbuatannya sendiri karena dia sendiri yang mencium Aji saat itu.
" Maafkan aku bli, aku sempat berpikir negatif padamu !!" ucap Hanna.
" Itu bukan sepenuhnya salahmu, aku paham kau pasti merasa mengkhianati kak Wan, tapi semua bisa di tolerir karena kau mabuk malam itu, kak Wan pun mengerti, aku sudah menceritakan semuanya, dan rekaman ini, dia juga tadi melihatnya " ucap Aji.
" Lalu, apa orang yang memotret ahjussi dan nona Seo juga orang yang sama ?" tanya Hanna.
" Mereka orang yang berbeda karena kejadiannya di malam yang sama, tapi dalangnya orang yang sama, orang yang mencoba membuat fitnah itu, orang yang sama " ucap Aji.
" Fitnah... jadi, malam itu, ahjussi dan nona Seo... "
" Tentu saja tidak, kak Wan tidak mabuk, meskipun malam itu dia minum hanya sedikit untuk menghangatkan tubuhnya saja, malam itu kak Wan memarahi Jihye karena berani menyentuhnya secara tiba - tiba, dia berani bersumpah di depanku dan Austin, dia bukan orang yang pandai berbohong, aku dan Austin sudah paham betul sifatnya " ucap Aji.
Hanna pun merasa bersyukur dan lega, mudah - mudahan apa yang di ucapkan Aji benar adanya. Dia berharap seperti itu, dia berharap Siwan memang tidak mengkhianatinya malam itu.
" Lalu, siapa dalangnya ? yang mencoba memfitnahku dan ahjussi ? siapa dia ?" tanya Hanna.
Aji terdiam, dia tak mampu menjawabnya. Dia tidak mau menjawabnya lebih tepatnya.
" Sudahlah, itu bukan urusanmu lagi, yang penting kau sudah tahu kalau foto - foto itu semua fitnah !!" jawaban Aji terdengar mengecewakan di telinga Hanna.
Hanna menghembuskan nafasnya secara kasar. Namun di sisi lain dia merasa lega, meskipun dia belum mendengar penjelasannya langsung dari mulut Siwan.