My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Akting



Hari itu...


Sabtu malam...


Siwan nampak seperti orang stress, ya stress karena rindu, rindu ingin bertemu kekasihnya...


Beberapa jam sebelumnya


Aji terpaksa meminta bantuan Bram untuk menemani Siwan kenanapun dan mengawalnya hingga kembali ke rumah dengan selamat karena ia takut tidak bisa mengendalikan Siwan sendirian. Ia takut Siwan mabuk - mabukan lagi.


Sore itu, Siwan harus menemui seorang klien yang ingin mengadakan sebuah kerja sama penting dengannya, sudah berbulan - bulan sebelumnya Siwan sangat menantikan kerjasama dengan orang tersebut karena prospek ke depannya akan saling menguntungkan.


Awalnya, selama proses meeting berjalan lancar, Siwan di temani Aji dan Bram di sampingnya dengan dalih dia kurang sehat makanya dia meminta seseorang menemaninya selain Aji, yaitu Bram sebagi supirnya.


Namun, kala meeting selesai, sang klien mengajaknya makan malam, Siwan yang sebetulnya malas, terpaksa harus menerima ajakannya karena merasa tidak enak hati.


Malam itu, selesai makan malam, kliennya mengajak Siwan, Aji dan Bram pergi ke klub malam. Siwan pun masih menerima ajakan kliennya itu.


Di klub malam, Siwan tidak terlalu banyak minum karena seperti yang Siwan katakan pada kliennya sebelumnya bahwa dia sedang kurang sehat, kliennya pun mau mengerti.


Namun kliennya malah mengirimkan seorang wanita penghibur duduk di samping Siwan. Seorang wanita yang tentu saja cantik dan sexy, bahkan kliennya sudah memiliki dua orang wanita lainnya yang tak kalah cantik dan sexy di samping kiri kanannya.


Wanita itu berusaha menggoda Siwan, padahal Siwan tidak meliriknya sama sekali. Kliennya berkata..


" Kenapa, kau tidak menyukai wanita Indonesia ? mau ku carikan wanita bule ?" tanya klien Siwan sebut saja mister Steve.


Siwan hanya tersenyum menatap Steve dengan tatapan biasa saja.


" Oh... atau mau ku bawakan wanita Korea, ku dengar ada beberapa yang bekerja disini, mungkin seleramu wanita negara asalmu bukan ?" tanya Steve.


Dan, tiba - tiba, wanita di samping Siwan seolah mendapatkan sebuah ide cemerlang otaknya.


" Chagiya, mau ku tuangkan lagi minumannya ?" tanya wanita penghibur itu dengan bahasa Korea.


Mendengar kata " chagiya " di kupingnya, Siwan seolah baru kembali tersadar dari mimpinya kala itu. Dia merasa seperti sedang bermimpi.


Siwan berdiri dari kursinya, " Steve, aku harus pergi, ada urusan penting yang belum ku selesaikan " Siwan pun pergi lebih dahulu di ikuti oleh Bram.


Sebelum pergi, Aji berkata sesuatu pada Steve.


" Maaf tuan Steve, kak Wan sudah mempunyai pasangan, lain kali, hal seperti ini, tolong jangan di ulangi !!" ucap Aji, lalu pergi menyusul Siwan dan Bram.


Di dalam mobil...


" Bram, bawa aku ke rumahnya !!" ucap Siwan.


" Kak, dia belum pulang, dia masuk shift siang " sahut Aji.


" Ayo ke tempat kerjanya !" ucap Siwan.


Bram pun memutar arah, menuju tempat kerja Hanna.


Malam itu, waktu menunjukkan pukul 21.09 wita.


" Dia belum pulang " ucap Aji.


" Kita tunggu saja disini !" sahut Siwan.


Hampir 1 jam lebih, mereka menunggu Hanna agak jauh dari parkiran dan titik jemput seperti biasa Siwan atau anak buahnya menjemputnya.


" Itu sepertinya motor Tio " tunjuk Bram pada sebuah motor yang akhir - akhir ini sering di pakai Tio untuk membuntuti Hanna.


" Telepon dia, suruh pulang dan berjaga di markas saja !" seru Siwan.


Bram pun menelponnya dan menyampaikan pesan Siwan pada Tio.


" Aish... kenapa gak bilang daritadi, tahu gitu gue boker dulu, perut gue mules banget " gerutu Tio. Dia lalu memutar balik motornya dan pergi dari dari lokasi pengintaiannya.


Pukul 22.10 wita, Hanna baru keluar dari tempat kerjanya bersama rekan kerja yang lainnya. Siwan langsung bisa mengenali kekasihnya dan motor yang ia tumpangi meskipun dari kejauhan.


" Bram, ikuti dia, jaga jarak, jangan sampai ketahuan " ucap Siwan.


Saat Hanna sudah sampai di depan rumahnya, terlihat Hanna sedang memasukkan motornya ke garasi samping rumahnya, namun Siwan tidak melihat Hanna keluar lagi dari pintu garasi.


" Dia pasti masuk lewat pintu samping " ucap Aji.


Mobil yang mereka tumpangi saat itu berada di halaman rumah orang lain yang menjadi tetangga depan rumah Hanna. Untung yang punya rumah sedang tidak ada, sehingga garasi mobilnya kosong. Hahaha.


" Kak, temui saja dia, pasti dia belum tidur " ucap Aji.


Siwan tidak menghiraukan Aji.


Hampir 10 menit mereka diam di dalam mobil melihat ke arah belakang, pintu rumah Hanna.


Komplek perumahan tersebut merupakan komplek yang tiap penghuninya tidak memasang pagar rumah sama sekali, keamanan di komplek tersebut cukup terjamin, makanya untuk mempermudah akses keluar masuk mobil, mereka tidak memasang pagar di halaman rumahnya.


" Kak, kita harus pergi dari sini, nanti yang punya rumah keburu pulang !" ucap Bram.


" Baiklah, ayo ke markas !" seru Siwan.


Di markas, Siwan terus menatap layar yang merupakan rekaman cctv di sekeliling luar rumah Hanna.


" Kak, temui saja, dia pasti belum tidur " ucap Aji kembali.


" Apa dia mau membukakan pintu untukku ?" tanya Siwan.


" Kau kan tahu pasword rumahnya, kalau dia tidak mau buka pintunya kau langsung masuk saja sendiri " jawab Aji.


" Kalau dia mengganti paswordnya ?" Siwan kembali bertanya.


" Belum, masih sama seperti yang terakhir kau beritahu padaku, aku sempat mengeceknya bersama Tio saat dia tidak di rumah " jawab Aji.


" Lalu, kalau dia mengusirku bagaimana ?" tanya Siwan dengan polosnya.


Aji nampak kesal, " aish... itu kan rumahmu, kau saja yang usir dia " Aji mulai tidak sabaran.


Siwan menggeplak kepala belakang Aji " bodoh, dia akan semakin marah padaku " sahut Siwan.


" Bos, pura - pura mabuk saja, atau pura - pura sakit, dia pasti akan menerimamu dan tidak akan mengusirmu " Bram mulai mengeluarkan ide cemerlang.


" Orang sakit seperti apa, aku tidak bisa berakting, kalau mabuk dia pasti tambah kesal padaku " ucap Siwan.


Dan, malam itu Bram memberi arahan apa yang harus di lakukan Siwan saat berakting menjadi orang yang sedang sakit, mulai dari menggigil, atau terlihat lemas, bahkan memberitahu Siwan suara orang sakit harus terdengar lemas.


Aji dan Tio yang melihatnya malah tertawa, Bram malah terlihat seperti orang yang sedang melawak, bukannya minta di kasihani malah minta di tertawakan.


Tak terasa, malam sudah semakin larut, namun Siwan masih belum juga melakukan pergerakan.


" Kak, jam segini sepertinya dia sudah tidur, besok saja, kau istirahatlah dulu di kamar " ucap Aji.


Karena benar - benar mengantuk, Aji dan yang lainnya pun tertidur, Aji tidur di sofa, sedangkan Tio dan Bram tidur di kamar belakang.


Siwan masih fokus menatap layar kaca di depannya, namun lama kelamaan diapun lelah dan mengantuk, Siwan tertidur dengan posisi duduk, kepalanya di atas meja di alasi oleh kedua lengannya yang terlipat.


Mereka berpikir Hanna sudah tidur karena waktu saat itu menunjukkan pukul 00.05 wita, padahal pada kenyataannya Hanna sedang tegang menonton drakor adegan action kapten Yoo Si Jin yang sedang berhadapan dengan musuhnya di drama tersebut.


Keesokan harinya...


Siwan di bangunkan oleh Aji pada pukul 05.30 wita, masih di posisinya di depan layar komputer Siwan tertidur dengan kedua tangan terlipat di atas meja.


Saat Siwan terbangun, dia langsung pergi ke kamar mandi lalu ke dapur karena merasa haus.


" Kak, sarapan dulu " ucap Aji.


" Betul kak, kau harus kuat supaya bisa berakting dengan total " sahut Bram.


Siwan yang awalnya malas makan, mendengar ucapan Bram yang ada benarnya juga akhirnya dia pun duduk di sebuah kursi dan bergabung makan bersama mereka.


" Kau harus makan banyak dulu, kalau kau nanti ceritanya sakit, kemungkinan mbak Hanna hanya akan menyuapimu bubur " ucap Bram kembali.


" Iya, sebelum makan bubur yang rasanya hambar, lebih baik perutmu penuh dulu dengan makanan yang enak - enak " sahut Aji.


Siwan menatap ke arahnya dengan menyipitkan matanya.


Selesai makan, Siwan lalu membersihkan dirinya terlebih dahulu. Namun, dia masih merasa tidak percaya diri akan menemui kekasihnya dengan berpura - pura sakit seperti itu.


Nampaknya Siwan mengubah rencananya. Dia mencari sesuatu di lemari dapur.


Aha... botol miras...


Siwan mengambilnya satu botol, lalu membuka penutupnya.


Aji, Bram dan Tio yang melihatnya merasa keheranan.


" Kak, orang sakit tidak mabuk !" ucap Aji.


" Aku tahu, aku ubah rencana " ucap Siwan yang lalu meminum miras dari botolnya sedikit, lalu membasahi bajunya setelahnya dengan minuman tersebut supaya lebih meyakinkan terlihat seperti orang mabuk, Siwan mengacak - acak rambutnya.


" Aku pergi dulu !" ucap Siwan menatap Aji, Bram dan Tio.


" Semangat !" ucap Bram.


" Ciayoo !" ucap Aji menirukan Bram mengangkat lengannya yang di kepal.


" Fighting !" timpal Tio.


Akhirnya Siwan berjalan keluar markasnya dengan menenteng satu botol miras. Di ikuti oleh ketiga anak buahnya dari belakang yang mengantarkannya hingga halaman depan markas mereka.


Karena takut tetangga ada yang melihatnya, botol miras yang ia bawa ia sembunyikan di dalam t-shirtnya.


Saat sampai di depan rumah Hanna, sebelum memencet bel, Siwan kembali meminum miras itu dan membasahi bajunya lagi supaya terlihat lebih meyakinkan.


Cukup lama dia memencet bel pintu rumahnya namun Hanna tidak kunjung membukanya, dia hampir menyerah karena merasa frustrasi, dia pikir Hanna memang sengaja tidak ingin membuka pintu untuknya.


Siwan kembali meneguk miras di tangannya, dan akhirnya pintu pun terbuka perlahan. Secepat kilat Siwan membuang botol mirasnya ke dalam tong sampah yang berada di sampingnya.


" Hai, chagiya... " ucap Siwan sambil mencoba tersenyum aneh.


" Ahjussi... k-kau... " Hanna menyahut, namun belum juga selesai ia berbicara, Siwan langsung mendekat dan ambruk di pelukannya. Dia pura - pura tak sadarkan diri untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Gengsi yang terlalu besar menjadikan Siwan mengambil cara yang bodoh seperti itu untuk menemui orang yang ia cintai dan ia rindukan.


Saat itu Siwan pura - pura terlihat mabuk hanya untuk menutupi rasa gugup yang menimpanya karena takut, takut di tolak oleh Hanna.


Siwan sangat merindukannya, dia saat itu masih berharap hubungannya bersama Hanna masih bisa di perbaiki dan mereka akan kembali bersama seperti hari - hari sebelumnya. Siwan belum benar - benar menganggap hubungan mereka sudah berakhir saat itu.


Namun, ia bahkan mendapatkan hal lebih, di luar dugaannya, Hanna meresponnya begitu cepat. Meskipun di awal Hanna terlihat seolah menghindarinya, namun Siwan merasa bahwa Hanna pun masih begitu peduli padanya.


Siwan yang sudah tidak dapat menahannya lagi bergegas menyusul Hanna ke dalam kamarnya kala itu. Dia ingin memeluk Hanna dan mengungkapkan isi hatinya yang begitu merindukannya dan masih mencintainya seperti sebelumnya.


Namun apa yang terjadi...


Saat dia berhadapan langsung dengannya, tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar itu, tubuh Siwan bereaksi berlebihan, rasa rindu yang menggebu di barengi oleh nafsu kala menatap bare face kekasihnya itu sudah tak tertahan lagi.


Ia begitu menginginkan Hanna dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Bukan cuma hatinya yang ingin ia kuasai, tapi juga tubuhnya.


Akhirnya, dia tetap berdusta di depan kekasihnya, berakting layaknya orang mabuk yang tak ingat apa yang tengah di perbuatnya saat itu.


Di tengah - tengah Siwan sempat ingin menghentikan semuanya sebelum terlambat, saat berkali - kali Hanna bertanya padanya bahwa " apakah kau mabuk?" Siwan hanya bisa menatap kedua netra kekasihnya dengan tatapan sendu.


Siwan tahu, Hanna pasti tahu jawabannya.


Namun, mengapa Hanna tetap meneruskan semua kegilaan mereka pagi itu, dia berkata seolah menjadi salam perpisahan untuknya dan Siwan.


Dan, Siwan yang sudah terselimuti nafsu tidak mengindahkan ucapan kekasihnya saat itu. Dia malah terus menjalankan aksinya setelah Hanna memberinya lampu hijau. Antara cinta dan nafsu, atas dasar apa Siwan melakukannya, melanggar sumpahnya untuk melindungi kekasihnya barang sejengkalpun, mencegah persatuan dirinya dan kekasihnya yang berkali - kali hampir terjadi sejak dulu.


Ia sudah gagal, saat suara jeritan akibat kesakitan yang dirasa oleh Hanna dan cakaran kuku - kuku tajam Hanna menandai area punggungnya, Siwan sudah melanggar janjinya sendiri.


Ucapan dan perbuatannya sungguh tak bisa di ajak seirama lagi.


...***...


Siang harinya, Siwan terbangun dari tidurnya lebih dulu di banding Hanna. Pukul 10.00 wita Siwan membuka matanya, dan melihat Hanna tertidur begitu lelapnya di pelukannya.


Perlahan, ia menyentuh pipi kekasih hatinya itu, lalu mencium keningnya, membelai lembut wajahnya, dan memeluknya dengan erat sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Hanna yang masih tertidur sendirian tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.


Hanya selimut tebal berwarna broken white yang menyelimuti tubuhnya.


Siwan perlahan menarik tubuhnya dari Hanna yang memeluknya begitu mesra. Hanna nampak masih sangat terlelap hingga Siwan bergerak pun ia tak bergeming sedikitpun.


Siwan mengambil celananya yang berserakan di lantai, bergegas memakainya lalu mencari baju miliknya di dalam lemari di kamar Hanna saat itu.


Namun, seketika dia merasa heran, mengapa lemari baju bagian bawahnya terlihat kosong.


Kala itu Siwan berpikir mungkin Hanna belum menyertika bajunya, karena Siwan sudah tahu kebiasaan kekasihnya yang selalu mengosongkan lemari karena malas menyetrika baju. Hanna selalu menyetrika baju saat dia membutuhkan baju tersebut. Setelah mencuci dia hanya merapihkannya di keranjang setrikaan dan di buffet tempat setrika di lantai 2 rumahnya.


Setelah memakai bajunya, Siwan membereskan baju Hanna yang berserakan di lantai.


Ia melipat dan menyimpannya di atas nakas. Lalu ia pergi meninggalkan Hanna setelah sebelumnya mengecup kening Hanna kembali.


Faktanya, saat itu, Siwan harus segera pergi setelah mengingat bahwa ada pertemuan kembali dengan kliennya sekitar pukul 12 siang di lokasi konstruksi yang akan menjadi proyek baru Siwan bersama rekan bisnisnya.


Dengan berat hati ia melangkah pergi keluar rumahnya saat itu juga. Sebelum pergi ia sempat menoleh ke belakang, menatap ke arah pintu sambil tersenyum gembira.


" Tunggu aku, aku akan membawamu pergi secepatnya " gumam Siwan, lalu berjalan dan pergi meneruskan langkahnya dengan perasaan yang begitu gembira hingga ke markasnya.